Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 33: Demang Sungkara


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)* 


 


“Kalian dapat kuda dari mana?” tanya Alma Fatara berbisik kepada Ireng Gempita. Dia sengaja mendekatkan kudanya.


“Kami mencurinya dari warga,” jawab Ireng Gempita jujur.


“Pasukan Genggam Jagad dilarang mencuri. Kalian harus mengembalikannya atau membelinya,” bisik Alma Fatara lagi.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Ireng Gempita patuh.


Alma Fatara lalu menjauhi kuda Ireng Gempita dan mendekat kepada Cucum Mili dan Kembang Bulan.


Tidak seperti tadi, kini rombongan yang ikut dengan Alma Fatara hanya sedikit. Mereka di antaranya Panglima Besar Anjengan, Cucum Mili, Kembang Bulan, Pembawa Bendera Gede Angin, Bendahara Geranda, Tiga Penjaga Emas, Mata Dewi Kerajaan Siluman Penombak Manis, Begar, Nuri Glatik dan tiga pendekar Demang Mahasugi lainnya, serta tiga trio gendut pengurus kuda.


Pasukan yang lain sudah disebar oleh Anjengan ke berbagai pelosok Kademangan Nuging Muko.


Langkah rombongan Alma Fatara harus berhenti menjelang memasuki pusat kademangan. Sejumlah prajurit kademangan telah berdiri menghadang di tengah jalan. Satu orang berkuda, sementara belasan lainnya tanpa tunggangan.


“Siapa kalian dan mau ke mana?” tanya lelaki gagah berbadan lumayan berotot di atas kuda.


“Gede Angin, perkenalkan siapa aku. Ingat, dengan lemah lembut!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” sahut Gede Angin.


Lelaki yang lebih besar dari kudanya itu lalu menjalankan kudanya ke depan, mendekati si pemimpin prajurit. Jantung berdebar tidak bisa dielakkan oleh si pemimpin prajurit.


“Hihihi! Dia ciut!” ucap Penombak Manis sambil tertawa. Dia sangat bisa membaca warna muka pemimpin prajurit itu.


Bagaimana tidak ciut jika yang mendatanginya adalah anak raksasa dengan tampang yang beringas?


“Aku peringatkan kau, Prajurit. Kau menghalangi jalan Ratu Siluman. Jika kau tidak mau dibuat jadi siluman, tinggal antar kami ke rumah Demang Sungkara,” ujar Gede Angin mengancam tapi sambil tersenyum-senyum palsu kepada pemimpin prajurit yang wajahnya seketika berpeluh panas.


“I-iya,” ucap pemimpin prajurit itu dengan ekspresi wajah yang mengenaskan.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara melihat lakon Gede Angin yang lucu.


“Ma-ma-maafkan hamba, Gusti Ratu!” ucap pemimpin prajurit itu tergagap. Untung Gagap Ayu sedang tidak ada dalam rombongan tersebut. “Akan hamba antar Gusti Ratu ke-ke-ke kediaman Gusti Demang.”


“Ayo jalan!” bentak Gede Angin tiba-tiba yang membuat pemimpin prajurit dan anak buahnya jadi terkejut, seolah mendengar petir di dalam mimpi.


“I-i-iya, Pendekar!” sahut pemimpin prajurit itu.

__ADS_1


Pemimpin prajurit itupun berbalik dan memberi isyarat kepada anak buahnya agar berbalik. Ia menjadi penuntun arah mengawal rombongan Alma Fatara.


Tidak berapa lama, mereka sampai di depan sebuah rumah mewah untuk ukuran di masa itu. Terlihat ada keramaian di dalam halaman yang tidak seluas halaman rumah Demang Mahasugi.


Itulah kediaman Demang Sungkara. Keramaian yang ada di dalam halaman adalah keramaian orang yang sedang menonton pertarungan unik.


Dibilang unik karena pertarungan dua lelaki dilakukan di atas tonggak kayu setinggi satu setengah kepala orang dewasa. Tebal kayu seukuran dua pelukan terhadap istri tercinta.


Pertarungan di pucuk tiang kayu itu adalah pertarungan tangan kosong dan sangat rapat. Kedua petarung tidak berpakaian atas bawah, hanya mengenakan cawat tebal tanpa embel-embel sablonan Doraemon atau si burung kuning Tweety.


Di bagian bawah melingkar orang-orang yang bertaruh, baik yang prajurit bebas tugas ataupun warga kademangan yang doyan judi.


Ada pula sebuah panggung pendek beratap. Di atasnya ada deretan kursi dan meja. Kursi-kursi diduduki oleh para lelaki berpakaian bagus dan terkesan borjuis, terlihat dari penampilan serta gaya duduk dan bicaranya. Sementara deretan meja ditempati oleh kaum buah dan sekumpulan kepeng, baik yang berkantung ataupun yang diletakkan di baskom. Formasi satu kursi satu meja menunjukkan bahwa apa yang ada di atas meja adalah milik orang duduk di kursi.


Di belakang deretan kursi berdiri berjejer wanita-wanita pilihan yang berdandan cantik dan hanya mengenakan kemban berwarna hitam, membuat sembulan-sembulan bukit yang cerah-cerah jadi pemandangan indah bagi para lelaki. Mereka memang bertugas melayani para penduduk kursi.


Para penonton dan petaruh begitu berisik berteriak-teriak menyemangati jagonya dan juga memaki jagonya bila bertarung dengan jelek. Di depan panggung ada sejumlah lelaki yang hanya bercawat ria duduk berbaris di tanah, sehingga mereka tidak menghalangi pandangan para tuan besar yang ada di panggung.


“Ayo Kumis Kalong, jangan sampai jatuh, malu sama kumismu!” teriak pendukung petarung berkumis Mas Adam Inul Daratista.


“Woi, Jenggot Sejenggut! Itu Kumis Kalong tinggal disikut biar jatuh!” teriak pendukung petarung berjenggot pendek.


“Kalau ditinju tidak goyang, cubit saja dada besarnya Jenggot Sejenggut itu!” teriak yang lain.


“Kentuti saja, nanti akan jatuh sendiri! Hahaha!”


Perhatian para lelaki di panggung agak teralihkan kepada rombongan yang datang dan masuk ke dalam halaman rumah Demang Sungkara.


Perhatian Alma Fatara dan rombongan lebih tertarik melihat ke pusat pertarungan di atas tiang kayu.


“Wuaaah! Ladang bertaruh yang hebat!” pekik Geranda gembira. Otak judinya langsung belingsatan ingin ikut bertaruh.


Sementara itu, prajurit berkuda yang menuntun rombongan Alma Fatara segera turun dari kudanya dan berlari pergi menuju panggung. Dia berhenti dan menghormat di depan meja yang posisinya paling tengah.


Orang yang dihormati oleh si prajurit adalah lelaki yang tergolong masih muda berpakaian putih cemerlang. Pakaiannya pasti dicuci dengan pemutih merek King Clong. Usianya kisaran empat puluh tahun. Ketika mendengar laporan pemimpin prajurit itu, cukup terkejut dirinya. Dialah orang yang bernama Demang Sungkara.


Terlihat Demang Sungkara buru-buru bangkit dan berjalan meninggalkan kursinya. Tiga orang lelaki berperawakan pendekar segera mengawal di belakang.


Buk! Dak!


Satu tinju menghantam dada petarung berkumis tebal yang disusul dengan sikutan ke dagu. Dua serangan itu cukup untuk mendorong petarung berkumis tebal ke belakang. Ia pun oleng ke belakang dengan kaki masih berpijak pada pinggiran atas tiang.


“Jatuh saja kau!” bentak petarung bernama Jenggot Sejenggut sambil mendorong jidat Kumis Kalong dengan ujung jari telunjuknya.

__ADS_1


Daripada jatuh terjengkang ke belakang, Kumis Kalong lebin memilih melepaskan pijakannya dari atas tiang sehingga ia jatuh lurus. Namun, tangan kanannya tetap menggapai mencari pegangan saat jatuh. Bermaksud menarik tangan Jenggot Sejenggut agar jatuh bersama, tetapi Jenggot Sejenggut mengelakkan tangannya.


“Setan alas!” maki Jenggot Sejenggut karena tangan Kumis Kalong malah lewat dan tersangkut pada cawatnya. Ia pun tertarik dalam kondisi cawat yang berantakan.


“Hahahak …!” Pecahlah tawa semua orang yang melihat insiden tersebut.


“Hahahak …!” tawa Alma Fatara begitu kencang bersama pasukannya.


Ledakan tawa itu sampai membuat Demang Sungkara berhenti berjalan dan memandang ke pusat lelucon yang tidak dikehendaki itu.


“Hasil seimbang!” teriak wasit pertandingan itu dengan lantang.


“Kurang ajar kau, Kumis Kalong! Kau mempermalukanku!” teriak Jenggot Sejenggut naik pitam setelah merapikan cawatnya. Ia langsung menyerang Kumis Kalong dengan beringas.


“Hentikan! Hentikan!” teriak wasit dan banyak orang yang segera bergerak memisahkan keduanya agar tidak lanjut bertarung.


Di saat pertandingan berubah rusuh, Alma Fatara dan pasukannya turun dari kudanya menyambut kedatangan Demang Sungkara.


“Satu kehormatan, satu kehormatan aku dikunjungi oleh seorang yang tidak aku kenal, tapi aku yakin bahwa Ratu Siluman adalah orang yang sangat ternama!” kata Demang Sungkara ramah menyambut Alma Fatara. Ia menduga Alma Fatara adalah seorang pendekar biasa yang hanya bergerlar Ratu Siluman.


“Hahaha!” tawa renyah Alma Fatara pula menyikapi sambutan bersahabat Demang Sungkara. “Aku Ratu Siluman, Ratu Kerajaan Siluman, Kakang Demang!”


“Oh, Ratu Kerajaan Siluman? Hormat sembahku, Gusti Ratu!” kejut Demang Sungkara lalu buru-buru turun berlutut menghormat.


Tiga pendekar yang mengawalnya juga segera berlutut menghormat.


“Bangunlah, bangunlah! Hahaha!” perintah Alma Fatara lalu tertawa akrab.


Demang Sungkara dan para pengawalnya segera bangkit kembali. Ia segera berbisik kepada salah satu pengawalnya.


“Cepat beritahu pelayan untuk menyiapkan jamuan yang terbaik!”


“Baik, Gusti!”


Satu orang pendekar pengawal segera berlari pergi.


“Ada apa gerangan Gusti Ratu berkunjung ke kediamanku?” tanya Demang Sungkara kepada Alma Fatara dengan sikap yang lebih santun dan merendah. Ia lebih menundukkan wajahnya.


“Kami sebagai tamu di Kademangan Nuging Muko ini, hanya ingin melapor kepada Kakang Demang yang memiliki wilayah. Pasukanku sedang menyebar di kademangan untuk memburu Bandar Bumi. Jadi, jika ada kekacauan yang terjadi, aku mohon maaf,” ujar Alma Fatara.


“Oooh, tidak mengapa, Gusti Ratu!” ucap Demang Sungkara cepat.


“Sepertinya ada pertandingan menarik di sini,” kata Alma Fatara sambil memandang ke pusat pertandingan.

__ADS_1


“Iya, pertandingan kecil-kecilan sekedar hiburan, Gusti Ratu,” kata Demang Sungkara merendah.


Alma Fatara melihat Gendara sudah berada di pusat pertandingan. Seiring naiknya dua petarung baru, Geranda sudah mulai beraksi bermain judi. Namun dia menggunakan uang pribadi, bukan harta milik Kerajaan Siluman. (RH)


__ADS_2