
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
“Hahahak …!” tawa terkakak Alma Fatara melihat jatuh Galah Larut yang mengenaskan.
Ketika Cucum Mili meneriaki Galah Larut yang mua kabur, Alma Fatara yang sedang bertarung melawan Kebo Pute, menyempatkan diri melesatkan ilmu Sabit Murka, yang menghancurkan pohon mati target pijakan kaki Galah Larut.
Makanya Alma Fatara tertawa keras karena dialah yang membuat Galah Larut jatuh tak indah.
Mau tidak mau, Galah Larut buru-buru bangkit berdiri.
“Hahahak …!” Alma Fatara yang masih sempat-sempatnya mencuri pandang kepada Galah Larut, kembali tertawa keras. Pasalnya, bibir si kakek bengkak.
Set!
Namun, tawa Alma Fatara berhenti ketika anak panah sinar merah dari Kebo Pute mengancam dirinya. Ia sigap mengelak.
Set set set!
Blar blar blar!
Cucum Mili yang berkelebat di udara melesatkan beberapa butir benda sebesar gundu kecil. Galah Larut masih bisa mengelak dengan melompat mundur, membuat tempat berdiri tadi dilanda beberapa ledakan yang merusak tanah.
Sess! Sess! Sess!
Ketika Cucum Mili mendarat di tanah, Galah Larut melakukan tendangan-tendangan mengibas di tempatnya berdiri. Sebanyak tiga tendangan mengibas melahirkan tiga kali pula lesatan sinar merah seperti meteor berekor.
Blar! Blar! Bsaar!
Cucum Mili mampu menghindari dua sinar merah berekor itu sehingga lolos menghancurkan dua tiang panggung, yang tanpa berdosa berdiri agak jauh di belakang Putri Angin Merah. Namun, satu sinar merah terakhir tidak bisa Cucum Mili hindari. Jadinya, wanita bajak laut itu memilih menangkis dengan sarung pedang bagusnya, tentunya ditambah tenaga sakti guna mengurangi risiko kematian.
Yang terjadi adalah Cucum Mili terlempar mundur sejauh dua tombak, tapi ia bisa mendarat dengan baik tanpa terluka. Nasib mujur. Sementara Galah Larut hanya mendelik.
Tanpa musik tanpa lagu, tiba-tiba Galah Larut menari di tempatnya dengan menghentak-hentakkan kedua kakinya bergantian di tanah, seperti tarian jig and reels Irlandia.
Melihat hal itu, bisa saja Cucum Mili ikut menari menjadi pasangan, tetapi pertarungan lebih seru baginya.
Bress!
Tiba-tiba sepasang kaki Galah Larut bersinar kuning membara. Cucum Mili lalu memasang pedangnya di punggung. Ia yang sudah lama tidak bertarung, segera berlari maju dengan kedua tangan diletakkan di belakang pinggang, seperti lari gaya ninja.
Dengan kedua kaki yang sudah bersinar kuning membara, Galah Larut bergerak maju dengan langkah yang mantap menyongsong kedatangan si gadis anggun menantang.
Ketika mereka bertemu, tapi bukan mengadu kemesraan maksudnya, Galah Larut langsung mengelebatkan kaki panjangnya yang seolah-olah sepanjang galah menjangkau. Cucum Mili yang tidak bisa mendekat lebih rapat, menangkis dengan kedua telapak tangan yang membara merah.
Das! Das! Das!
Namun, Cucum Mili bisa merasakan bahwa kekuatan tangan panasnya masih kalah kokoh dengan tendangan yang bertenaga sakti lebih tinggi.
Terpaksa Cucum Mili mundur setombak, membuat Galah Larut kian bersemangat memburu. Namun, Cucum Mili mundur bukan karena tersudut, tetapi mau upgrade kesaktian.
__ADS_1
Terbukti, ketika tendangan-tendangan Galah Larut berdatangan, seolah lebih dari dua kaki, Cucum Mili menangkis dengan dua telapak tangan bersinar ungu.
Das! Das! Das!
Mendelik Galah Larut saat merasakan peraduan kakinya dengan tangan Cucum Mili yang mengerahkan ilmu Telapak Roh Laut. Ia merasakan kakinya seperti membentur tangan sekeras baja. Meski terlihat tidak terjadi apa-apa dari peraduan dua kesaktian itu, tetapi Galah Larut bisa merasakan, lama kelamaan kakinya jadi melemah dan persendiannya terancam bermasalah.
Seess! Broks!
“Aakkh!” jerit Galah Larut dengan tubuh terlempar mundur dan terjengkang.
Itu terjadi karena tanpa pengumuman lebih dulu, Cucum Mili melesatkan sinar ungu dari telapak tangan kanannya yang berwujud telapak tangan. Dekatnya jarak membuat Galah Larut tidak bisa menghindar atau menangkis, kecuali memusatkan tenaga saktinya pada dadanya yang terkena hantaman sinar.
Galah Larut tidak menyangka bahwa kesaktian itu bisa juga dilepaskan selain berfungsi sebagai penangkis.
Kini Galah Larut terlentang dengan dada hangus. Namun, dia ditakdirkan belum mendekati sang ajal.
Set set set! Blar blar blar!
Melihat kondisi lawan sudah terkapar, Cucum Mili dengan tenangnya melesatkan tiga bom kelerengnya. Tiga ledakan melanda tubuh Galah Larut.
Namun, Cucum Mili harus terklejut, meski jelas-jelas ketiga senjatanya itu meledak di tubuh Galah Larut, tetapi tidak ada luka yang tercipta selain pakaian yang rusak.
Perlahan Galah Larut bergerak bangun dengan sepasang mata yang sangat memerah, seolah-olah ada pembuluh darah matanya yang pecah. Namun jelasnya, Galah Larut bangkit seolah dengan kekuatan setan.
Seess! Broks!
Cucum Mili melesatkan sinar ungu berwujud bayangan telapak tangan dan Galah Larut tidak berusaha menghindar. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Galah Larut tiba-tiba berubah kebal. Ia tidak apa-apa dihantam kesaktian yang sebelumnya membuat dadanya hangus.
“Ayo! Keluarkan semua kesaktianmu!’ teriak Galah Larut mulai berkoar.
“Keong congkak!” maki Cucum Mili lagi.
Seess seess!
Cucum Mili yang penasaran, kembali melesatkan ilmu Telapak Roh Laut-nya. Kali ini dua sinar. Galah Larut dengan sombongnya membiarkan dirinya dihantam oleh kedua sinar ungu itu. Jangankan terpental dan hangus kembali, Galah Larut tidak terdorong setindak pun.
Ilmu yang kini ditampilkan oleh Galah Larut bernama Bangkit Mayat. Ilmu itu baru bisa aktif ketika si pemilik berada di ambang kematian. Namun, ilmu itu tidak membuat pemiliknya kebal terhadap semua kesaktian.
Cucum Mili lalu melakukan gerakan pelan bertenaga untuk mengeluarkan ilmu tertingginya yang bernama Gelang-Gelang Laut.
Tiba-tiba sepasang mata Cucum Mili bersinar merah. Setelah itu, tubuh Cucum Mili diselimuti oleh gelang-gelang sinar merah dari ujung kaki hingga atas kepala.
Melihat kesaktian yang tampak mengerikan, Galah Larut Rupanya tidak mau berspekulasi. Ia juga menghentak-hentakkan kaki kanannya saja ke tanah. Kaki itu jadi bersinar biru dan berlidah-lidah api. Kaki celana bagian kanan habis terbakar, jadi Galah Larut bercelana tinggal sebelah kaki.
Ziuuzz ziuuzz ziuuzz!
Swesss! Blar blar blar …!
Ketika Cucum Mili menghentakkan kedua lengannya ke depan, gelang-gelang sinar merah dalam jumlah yang banyak berlesatan menyerang. Pada saat yang bersamaan, Galah Larut juga menyepakkan kaki kanannya, seolah menendang bola ke arah lawan. Dari sepakan itu melesat sinar biru seperti golok api raksasa yang melengkung, menerabas semua gelang-gelang sinar merah yang datang.
Ledakan beruntun dalam jumlah besar terjadi begitu rapat seperti petasan pengantin. Meski golok api biru raksasa itu tidak sampai mengenai Cucu Mili, tetapi peraduan dua kesaktian itu memberi daya dorong yang kuat. Namun, hanya Cucum Mili yang terlempar satu setengah tombak.
__ADS_1
Cucum Mili jatuh terjengkang. Ia segera bangkit dengan mata yang sudah tidak bersinar lagi. Ia menggunakan cadarnya untuk menyeka bibirnya, seolah ada air liur yang menetes.
“Kepiting busuk! Kenapa ilmu Gelang-Gelang-ku selalu kalah?” heran Cucum Mili.
Sweesss!
Serangan kaki api biru kembali datang menyerang dalam kondisi Cucum Mili tidak mengeluarkan kesaktiannya. Buru-buru Cucum Mili berkelebat cepat menghindar sambil berpikir keras cara untuk mengalahkan kesaktian Galah Larut.
“Kesaktian tertinggiku saja tidak sanggup mengalahkannya …,” pikir Cucum Mili. “Ah, Pedang Tengkorak Malam.”
Cucum Mili teringat kehebatan Pedang Tengkorak Malam saat berhadapan dengan Alma Fatara. Ketika mendarat dari lompatannya yang cukup jauh, Cucum Mili segera mencabut Pedang Tengkorak Malam yang tersemat di punggungnya.
“Pedang Tengkorak Malam!” sebut Galah Larut agak gentar.
Meski dia pernah melihat kehebatan pedang itu di tangan Tengkorak Pedang Kilat, tetapi dia belum pernah merasakan sekuat apa kesaktian pedang tersebut.
Sreek! Zerzzz!
Bermodal ingatan pertarungan Alma Fatara melawan Tengkorak Pedang Kilat di Arena Tulang, Cucum Mili pun mencontoh apa yang dilakukan mendiang Tengkorak Pedang Kilat dengan pedang pusakanya.
Cucum Mili membacok tanah dengan pedangnya. Dari bacokan itu melesat sinar hijau yang menjalar cepat di permukaan tanah. Tanpa berani berspekulasi, Galah Larut melompat menghindari jalaran sinar hijau.
Set set set …!
Bacokan pedang disusul oleh tebasan-tebasan pada udara. Setiap tebasan melesatkan sinar hijau tipis melengkung.
Sebanyak empat sinar hijau tipis melesat bersusulan, menyerang tubuh Galah Larut yang sedang mengudara menghindari serangan pertama. Itu jelas posisi empuk menjadi mangsa.
Bset bset bset …!
“Ak ak ak!” jerit Galah Larut berulang kali setiap sinar hijau tipis mengenai tubuhnya di udara. Ternyata ilmu Bangkit Mayat tidak kebal terhadap kesaktian Pedang Tengkorak Malam.
Jjeg! Blukk!
Ketika Galah Larut mendarat di tanah, hal mengerikan terjadi. Tahu tempe, tubuhnya langsung terbelah-belah menjadi beberapa bagian dan jatuh ke tanah sudah sebagai onggokan-onggokan daging manusia. Daging berserak, darah pun bersimbah.
Cucum Mili tersenyum memandangi pedangnya. Ia merasa jauh lebih hebat dengan memiliki Pedang Tengkorak Malam.
“Pemerkosa ketiga sudah tewaaas! Hua hua hua!” teriak Cucum Mili keras yang didengar oleh banyak orang, termasuk Suraya Kencani.
“Hua hua hua!” teriak personel Pasukan Genggam Jagad di mana pun mereka berada.
“Hihihi! Setelah ini adalah giliranmu, Sapi Setan!” teriak Suraya Kencani kepada Perkasa Rengkah.
“Kau salah, Perempuan Lacur. Aku memiliki Kuncup Mawar Putih!” bantah Perkasa Rengkah.
Mendelik Suraya Kencani mendengar nama pusaka itu. (RH)
__ADS_1
Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.