
*Episode Terakhir (PITAK)*
Anggota Pasukan Sayap Laba-Laba yang bernama Segara datang berlari menghadap kepada Ratu Siluman yang sudah berkumpul kembali bersama pasukannya.
“Lapor, Gusti Ratu! Kami menemukan wanita berdada cantik …,” lapor Segara penuh semangat sambil berlutut menghormat. Namun, ia mendadak mengerem kata-katanya sambil menempeli bibirnya dengan jari tangannya, sementara matanya melirik kepada para pendekar wanita yang juga berdiri memandanginya.
“Apa? Berdada cantik?” tanya Pangeran Sugang Laksama dengan ekspresi yang tidak jelas, apakah ekspresi terkejut, ataukah ekspresi antusias.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara dan Anjengan.
“Hihihik …!” tawa Gagap Ayu juga.
Sementara yang lain menatap Segara dengan rasa penasaran.
“Apa maksudmu menemukan wanita berdada cantik? Apakah kau menemukan wanita tidak berpakaian dan dadanya memakai gincu?” tanya Alma Fatara setelah tawanya berhenti.
“Maafkan hamba, Gusti Ratu. Aku keceplosan, hehehe! Maksud hamba adalah kami menemukan seorang wanita dalam kondisi tulang-tulangnya patah. Dan kami juga menemukan satu lelaki yang juga terluka parah!” kata Segara lancar, agar Alma Fatara dan yang lainnya melupakan “dada cantik” tadi.
“Di mana kedua orang terluka yang kau maksud?” tanya Alma Fatara.
“Sedang dibawa ke mari, Gusti Ratu,” jawab Segara.
Baru saja Segara menjawab, dari balik jalan berbatu muncul rombongan Pasukan Sayap Laba-Laba pimpinan Arung Seto. Dalam rombongan itu, terlihat tiga orang berjalan kompak dengan kondisi sedang menggotong satu sosok wanita berpakaian putih.
Dari jauh sudah bisa dikenali bahwa orang yang digotong oleh Arung Seto, Kolong Wowo dan Kudapaksa itu adalah wanita, terlihat dari tonjolan dada, besarnya pinggul dan rambutnya yang terurai panjang.
Sementara itu, Kura Pana menggendong seorang lelaki di punggungnya, seperti sedang menggendong adik kesayangannya.
Adapun anggota yang lain berjalan mengiringi sambil tertawa-tawa karena bersenda gurau.
Melihat formasi Pasukan Sayap Laba-Laba seperti itu, Nining Pelangi jadi panik dan darahnya memanas. Ia lalu berlari pergi menyongsong rombongan tersebut.
“Kakang Arung!” panggil Nining Pelangi dengan mata mendelik kepada kekasihnya.
“Panglima, jika kau tidak melepaskan bebanmu, maka kiamat akan terjadi!” bisik Juling Jitu yang berjalan di dekat Arung Seto.
“Kalau begitu, cepat ambil alih, Jitu!” bisik Arung Seto pula sambil memberi gestur bermaksud memberikan beban angkatannya.
“Baik,” ucap Juling Jitu bersemangat lalu mengambil alih belakang leher dan punggung wanita berjubah putih. Dengan demikian, maka wajah Juling Jitu yang kini berhadapan langsung dengan dada Cantik Kuku Hijau.
Ingin rasanya Juling Jitu bersorak girang, karena akhirnya air liurnya tidak menetes lagi. Namun, bola matanya selalu memandang ke arah lain, tetapi itu tidak demikian. Semua sudah tahu tentang “kelicikan” dari kejulingan mata Juling Jitu.
“Kakang Arung!” sebut manja Nining Pelangi sambil menarik tangan Arung Seto dan menunjukkan ekspresi merajuknya sebagai tanda bahwa ia sedang marah sayang.
“Kakang Jitu!”
Giliran Penombak Manis yang tenggelam air cemburu melihat suaminya berada pada posisi menggantikan Arung Seto. Dia berjalan cepat menyongsong kedatangan para batangan itu.
“Kakang Kalang Kabut, tolong gantikan aku!” kata Juling Jitu panik, masalahnya istrinya itu bisa membaca kejahilan mata julingnya.
“Oh, iya, iya!” ucap Kalang Kabut agak terkejut, tapi ia buru-buru mengambil peran Juling Jitu.
“Hahaha …!” tawa para pendekar lelaki, demikian juga para pendekar wanita melihat adegan yang terjadi.
Jika Arung Seto diberi sikap manja merajuk oleh Nining Pelangi, maka Juling Jitu berbeda cerita. Di depan umum telinganya dijewer oleh Penombak Manis.
__ADS_1
“Benar-benar lelaki tidak pernah puas. Sudah punya yang lebih cantik, tetapi masih saja mau yang lain!” omel Penombak Manis.
“Aduh-aduh! Bukan seperti dugaanmu yang kau lihat, Manisku Sayang. Aku hanya melakukan tindakan rasa kemanusiaan,” kilah Juling Jitu.
“Mata saktiku tidak bisa dibohongi!” tandas Penombak Manis.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara menyaksikan adegan tersebut.
“Itu Cantik Kuku Hijau, salah seorang komplotan Pawang Tengkorak dan Si Golok Kuda yang menyerang Gua Ular!” sahut Badak Ireng.
Alma Fatara jadi memandang sejenak kepada Badak Ireng.
“Kondisinya sedang butuh pertolongan. Dia jadi tanggung jawabku,” kata Alma Fatara kepada Badak Ireng.
“Eh, bukankah itu Songgor Getok?” ucap Badak Ireng terkejut kepada dirinya sendiri, saat mengenali lelaki terluka yang digendong oleh Kura Pana.
Badak Ireng segera pergi menyongsong rombongan tersebut.
“Bawa keduanya kepada Belik Ludah! Hahaha!” perintah Alma Fatara kepada para pembawa orang terluka itu, lalu tertawa karena melihat wajah ketiga pengangkat tubuh Cantik Kuku Hijau, terutama Kalang Kabut yang berhadapan langsung dengan dua sembulan yang memang cantik, menurut Alma Fatara.
Ketiga lelaki itu jelas tidak mau menunjukkan gelagat bahwa mereka adalah lelaki yang mata bakulan.
“Bagaimana, Kakang Sugang?” tanya Alma Fatara kepada Pangeran Sugang Laksama.
“Kita berangkat ke Kadipaten,” jawab Pangeran Sugang Laksama.
“Panglima Besar, siapkan pasukan untuk berangkat!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” sahut Anjengan lantang. Dengan gagah seraya membusungkan dada, ia berjalan untuk pergi menyiapkan pasukan.
Sementara itu, Cantik Kuku Hijau dan Songgor Getok sudah dibaringkan di hadapan Belik Ludah.
“Ayo bubar, bubar!” kata Aliang Bowo sambil mengusir pelan rekan-rekannya.
Mereka pun berbalik dan melangkah pelan, seolah ragu meninggalkan wanita itu di tangan Belik Ludah. Terbukti mereka sesekali masih menengok ke belakang.
“Beruntung sekali Belik Ludah,” ucap Gendut Gempar sambil berjalan maju dengan wajah menengok ke belakang. Ia seolah tidak rela jika Cantik Kuku Hijau diurus oleh Bocah Tabib.
“Awas jika Belik Ludah jadi Tabib Cabul!” ucap Kolong Wowo pula.
Bdak!
“Aak …!” pekik Cantik Kuku Hijau tiba-tiba karena tahu-tahu dahinya dipentung dengan batok kelapanya Belik Ludah. Padahal sebelumnya, ia sangat sulit untuk menjerit kencang, meski menderita sakit yang teramat.
“Waw! Hahahak …!” pekik para batangan itu terkejut, lalu tertawa ramai-ramai, terutama Aliang Bowo yang pernah merasakan pentungan batok kelapa itu.
Bdak!
“Aaak!” Giliran Songgor Getok yang menjerit setelah jidatnya juga digetok oleh Belik Ludah.
“Hahahak …!” tawa terbahak lagi para pendekar lelaki itu, termasuk Badak Ireng yang mendampingi Songgor Getok.
Sementara pasukan pendekar wanita hanya tersenyum-senyum mendengar dua jeritan histeris tersebut.
Alma Fatara yang dikawal oleh Kembang Bulan yang membawa Pedang Sepuluh Siluman mendatangi Belik Ludah.
“Bagaimana, Bocah Tabib?” tanya Alma Fatara.
__ADS_1
“Bibi cantik ini lukanya terlalu parah. Banyak tulang utama yang patah. Jadi masa penyembuhannya paling cepat selama satu purnama, Gusti Ratu,” jawab Belik Ludah.
“Maafkan hamba, Gusti Ratu,” ucap Badak Ireng. Lalu tanyanya kepada Belik Ludah, “Lalu bagaimana dengan anak buahku ini, Tabib?”
“Kalau dia, tidak sampai sepekan akan sembuh,” jawab Belik Ludah, lalu tiba-tiba kembali memukul dahi Songgor Getok.
Bdak!
“Aakk …! Sakiiit!” jerit Songgor Getok, tapi kali ini dia bisa berkata.
“Dia sudah bisa berbicara. Satu pukulan lagi, maka tinggal istirahat dan makan obat,” kata Belik Ludah.
“Kungkang, Betok, Jungkrik!” panggil Alma Fatara.
“Hamba, Gusti Ratu!” sahut trio gendut yang berada di sekitar kereta kuda.
Ketiganya segera berlari balapan untuk sampai ke hadapan sang ratu.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara melihat kelucuan tiga orang gendut itu berlari senggol-senggolan seperti berebut jalan, padahal jalan yang ada begitu luas.
“Bawa pendekar cantik ini ke kereta kudaku!” perintah Alma Fatara sebelum ketiga orang gendut itu menghormat kepadanya. “Angkat pelan-pelan karena tulang-tulangnya patah!”
“Baik, Gusti Ratu!” uca ketiga orang gendut tersebut semangat.
Ketiganya lalu buru-buru menghampiri tubuh Cantik Kuku Hijau. Jungkrik dan Kungkang rebutan pada posisi leher yang sama saja rebutan posisi badan atas.
“Kau angkat pinggangnya yang bolong. Eh ealah, maksudku kau angkat pinggang dan bokongnya. Aku lebih dulu di sini!” kata Kungkang kepada Jungkrik.
“Iya, iya!” ucap Jungkrik dengan wajah merengut.
“Dasar mata bakul!” ejek Betok yang kebagian angkat kaki.
“Hehehe!” kekeh Kungkang.
“Pasukaaan, siapa kita?!” teriak Anjengan kepada pasukan yang sudah berbaris teratur.
“Pasukan Genggam Jagad!” teriak seluruh Pasukan Genggam Jagad.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi berkomando.
“Hua hua hua!”
“Wik wik wik wik wik!”
“Wik wik wik wik wik!”
“Berangkaaat!” teriak Anjengan penuh semangat.
Pasukan Genggam Jagad pun bergerak dengan langkah yang bersemangat. Kemenangan telak ratu mereka atas Wulan Kencana yang bersenjatakan Kipas Raja Dunia membuat mereka kian percaya diri.
Alma Fatara lalu melesat berkelebat di udara lalu mendarat di kereta kudanya, di mana di sana sudah terbaring Cantik Kuku Hijau. Sementara Songgor Getok ikut kuda Badak Ireng.
Rombongan pun berangkat meninggalkan area atas tebing.
Pasukan Genggam Jagad yang dipimpin oleh Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara berangkat menuju Kerajaan Singayam untuk merebut kembali tahta yang direbut oleh Pangeran Derajat Jiwa. Sejumlah peperangan besar dipastikan akan mereka hadapi. (TAMAT)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Novel “Perjalanan Alma Mencari Ibu” Author nyatakan TAMAT sampai di sini.
Kelanjutan perjalanan Alma Fatara dalam mengungkap siapa jati diri dan orangtuanya, akan dilanjutkan dalam novel “Alma Ratu Siluman”. Namun, novel ini baru akan dibuat setelah novel “Putra Mahkota Sanggana” tamat.