
*Setan Mata Putih (SMP)*
Di dalam sebuah ruangan batu yang nyaris di setiap sudutnya ada obor penerang, Demang Mahasugi berdiri bersama istrinya yang bisa dikatakan masih muda, sekitar usia di bawah empat puluh tahun.
Pasangan penguasa itu sedang menikmati pemandangan indah di dalam ruangan itu, yaitu deretan rak-rak kayu yang berisi banyak peti-peti harta. Di beberapa sudut, bertumpuk beberapa karung yang dalam kondisi terbuka berisi kepeng. Uang sudah seperti buah-buahan hasil panen dengan jumlah berkarung-karung.
Selain peti-peti dan karung-karung harta, ada pula sejumlah perhiasan barang pecah belah dari emas, perak, atau perunggu, dan porselen bernilai mahal dengan segala pesona kemewahannya. Bahkan ada emas yang masih berwujud gumpalan batu kuning dan masih membutuhkan proses peleburan.
Itu benar-benar harta yang begitu banyak bagi seseorang saja, bahkan bagi satu keluarga. Pantas saja Demang Mahasugi tidak keberatan sedikit pun jika putranya meminta harta sepuluh peti untuk meminang Ineng Santi.
Ya, itu adalah ruang penyimpanan harta benda Demang Mahasugi. Mungkin kekayaannya tidak terhitung jumlahnya karena dia tidak memiliki catatan pembukuan akuntansi. Demang Mahasugi hanya memiliki tukang ambil uang yang akan menghitung jumlah sesuai yang diperintahkan olehnya atau istrinya tercinta.
Demi keamanan hartanya yang melimpah, Demang Mahasugi sudah mengadopsi sistem keamanan yang ketat dan rapi. Semua orang yang boleh bersentuhan dengan harta itu adalah orang-orang yang tidak memiliki kesaktian ilmu olah kanuragan, tetapi mereka mengetahui semua selak beluk sistem keamanan rahasia di dalam dan luar ruang penyimpanan harta.
Selain sistem keamanan rahasia, ruang penyimpanan harta itu juga dijaga oleh sepuluh pendekar bayaran terpilih dan puluhan centeng pilihan. Namun, mereka dilarang keras masuk mendekat ke ruang penyimpanan harta. Tugas mereka, selain melindungi ruang penyimpanan harta dari perampok luar, mereka juga wajib menggeledah luar dalam tubuh semua orang yang keluar dari ruang penyimpanan harta dengan cara ditelanjangi, maksudnya ditelanjangi pakaian luarnya saja. Aturan itu bertujuan agar karyawan pengurus ruang penyimpanan tidak ada yang menyelundupkan sepotong pun kepeng.
“Mohon maaf, Kanjeng Gusti,” ucap seorang lelaki dari belakang Demang Mahasugi dan istrinya.
Suami istri itu menengok ke belakang. Dilihatnya seorang lelaki separuh baya berkepala botak plontos, mengenakan pakaian warna putih, sedang berlutut satu kaki sambil menghormat dalam. Semua karyawan pengurus ruangan itu wajib berkepala botak dengan tujuan tidak bisa menyelipkan kepeng di balik rambutnya.
“Ada apa, Mungirang?” tanya Demang Mahasugi yang sudah berbalik arah.
“Ronga Kamboja menunggu di atas, ingin menghadap, Kanjeng Gusti!” lapor lelaki yang bernama Mungirang. Dialah tukang hitung harta Demang Mahasugi yang membawahi sepuluh karyawan tetap.
__ADS_1
“Ayo, Nyai Putri!” ajak Demang Mahasugi. Dia menikahi seorang putri, tetapi putri yang sudah agak jauh dari Keluarga Istana di Kerajaan Singayam.
Demang Mahasugi dan istrinya, Putri Cicir Wunga, berjalan pergi menuju pintu yang merupakan satu-satunya pintu yang terbuka, karena pintu yang tertutup ada beberapa di ruangan tersebut. Pintu yang terbuka itu menuju ke tangga yang mengarah naik.
Ternyata, tangga itu mengantar ke sebuah dinding batu. Pada dinding itu ada wujud kepala babi hutan berbahan batu yang kuat. Demang mencaplok moncong kepala hewan itu, lalu menariknya.
Clak! Gregeg!
Ada suara ketika patung kepala babi itu bisa ditarik hanya sejauh dua jari. Tiba-tiba dinding batu samping kanan mereka berdua bergerak naik membuka sebuah ruang. Ternyata ada tangga yang menuju ke atas.
Keduanya melanjutkan naik tangganya. Ternyata buntu lagi dan kali ini ada patung kepala kerbau. Demang kembali mencomot moncong patung kepala itu, tetapi tidak menariknya, melainkan menggesernya ke kanan.
Gregeg!
Dinding batu di sebelah kanan kembali bergerak terbuka lebar, menunjukkan tangga berikutnya.
Di dinding ketiga, Demang Mahasugi harus menekan patung kepala macan ke dalam dinding untuk membuka pintu keluar. Setelah dinding terbuka, ada tangga naik yang terang karena terkena langsung cahaya siang.
Semua karyawan ruang penyimpanan harta hapal cara membuka ketiga pintu batu tersebut.
Di atas tidak ada pintu lagi, sudah langsung permukaan bumi. Setibanya di tanah atas, Demang dan istrinya melihat seorang pendekar wanita berpakaian merah sedang berdiri di depan pintu pagar batu setinggi dada. Wanita berusia matang bersenjata pedang itu tidak lain adalah pengawal pribadi Demang Mahasugi, namanya Ronga Kamboja.
Di depan pagar batu, tepatnya di sisi pintu, ada sebuah pos yang dijaga oleh tiga dari sepuluh pendekar sakti bayaran. Sementara itu, di depan sepanjang pagar batu, berjejeran puluhan centeng bersenjatakan golok di pinggang. Mereka berseragam warna merah gelap, berbeda warna baju dengan centeng pengawal biasa. Tugas mereka adalah berdiri seharian seperti patung hidup. Pada waktu magrib, mereka ganti sif.
“Lapor, Kanjeng Gusti Demang!” ucap Ronga Kamboja saat majikannya sudah ada di depannya.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Demang Mahasugi sambil berjalan menuju kereta kudanya yang diparkir di dekat pos jaga.
Ronga Kamboja segera mengikuti di belakang majikannya.
“Raja Buru dan Ratu Kejar ingin bertemu, Kanjeng Gusti!”
“Oh,” ucah Demang singkat.
Ia dan istrinya naik ke atas kereta kuda. Kusir yang siap sejak tadi segera memecut pelan kudanya setelah ada perintah dari majikannya. Sementara Ronga Kamboja yang mengikuti di belakang, naik berdiri di bemper belakang kereta kuda, sepertinya dia mantan kernek bus.
Mereka menuju ke rumah Demang Mahasugi yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari area ruang penyimpanan harta. Jadi, posisi ruang harta itu ada di belakang rumah besar Demang Mahasugi.
Ketika kereta kuda sampai di halaman, dua orang centeng lelaki dan dua orang centeng perempuan yang sudah menunggu di posnya, segera berlari mengiringi kereta kuda.
Setibanya di depan rumah panggung, kereta berhenti. Dua centeng lelaki segera memegangi tali pada kepala kuda. Satu centeng perempuan berlutut satu kaki di depan pintu kereta dan perempuan lainnya berdiri di depan rekannya.
Putri Cicir Wunga menurunkan kaki kanannya menginjak tautan kedua telapak tangan centeng perempuan yang berlutut, sambil tangannya berpegangan pada tangan centeng perempuan yang berdiri. Seperti itulah cara turun Nyonya Besar dari kereta kuda, meski sebenarnya bisa turun sendiri, terlebih Putri Cicir Wunga termasuk wanita berkesaktian.
Namun, hanya istri Demang yang turun, suaminya tetap duduk di kursinya. Ronga Kamboja tetap berdiri di bemper belakang.
Ternyata kereta kuda kembali berjalan. Dua centeng lelaki kembali berlari mengiringi lari kereta. Dua centeng perempuan mengawal Putri Cicir Wunga.
Kereta kuda kemudian berhenti di depan sebuah pendapa kecil tanpa dinding yang dijaga oleh empat prajurit kademangan. Di tengah-tengah pendapa itu sudah duduk dua orang gemuk berperawakan pendekar. Pakaian keduanya terbuat dari kulit harimau dan beruang.
Kedua orang itu tidak lain adalah Raja Buru dan Ratu Kejar. (RH)
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Audio Book Om Rudi "MARANTI" sudah up loh, yuk putar, dengar, like, dan komen! Sambil nunggu Alma Fatara up.