
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
“Aku bisa mati jika beradu kesaktian dengan siluman dari pedang itu,” pikir Alma Fatara, ketika Siluman Tingkat Empat keluar dari Pedang Sepuluh Siluman.
Makhluk sinar biru menyeramkan yang bersuara aneh itu melesat terbang menyerang ke arah Alma Fatara, yang tangan kanannya telah bercokol sinar emas menyilaukan mata.
Belajar dari tiga peraduan sebelumnya, Alma Fatara yang sudah menderita luka dalam, memilih menghindari makhluk siluman pedang itu.
Clap!
Hanya dengan kecepatan sangat tinggi yang mampu menghindari serangan makhluk sinar terbang tersebut. Alma Fatara tahu-tahu menghilang, membuat makhluk sinar biru itu menerabas ruang kosong.
Clap! Swess! Bluarr!
Tiba-tiba Alma Fatara muncul satu tombak di atas kepala Tengkorak Pedang Siluman yang terkejut. Tanpa menimbang-nimbang lagi, Alma Fatara membanting sinar emas menyilaukan di tangan kanannya.
Ledakan dahsyat menghancurkan tanah halaman, membuat tanah terbongkar naik ke atas dan menciptakan kubangan besar.
Namun ternyata, serangan Alma Fatara hanya menghantam tanah kosong. Tengkorak Pedang Siluman bisa menghindari serangan super cepat itu.
“Hurgrr!”
Swess! Blass!
“Fukrr!”
Bertepatan dengan ketika kedua kaki Alma Fatara mendarat di tanah, Siluman Tingkat Empat ternyata masih gentayangan dan menyerang Alma Fatara. Mau tidak mau, Alma Fatara harus beradu kesaktian lagi. Ia mengadu makhluk sinar biru itu dengan ilmu Pukulan Bandar Emas.
Ledakan dahsyat terjadi, bahkan sampai membuat tanah terbongkar rusak.
Makhluk sinar biru hancur dan hilang. Sementara Alma Fatara terpental deras dan jatuh bergulingan mendekati gerbang pagar halaman. Para penonton harus bergerak bergeser agar tidak terhantam oleh pentalan tubuh Ratu Siluman.
“Gusti Ratu!” pekik sejumlah orang yang melihat kekalahan Alma Fatara.
“Hihihi …!” Tengkorak Pedang Siluman tertawa kencang melihat kondisi Alma Fatara.
“Pertarungan semakin jelas arahnya, siapa yang lebih unggul. Ayo, siapa lagi mau memasang taruhan!” teriak Geranda semakin bersemangat mempengaruhi para pendekar.
“Tidak! Gusti Ratu tetap pasti akan menang!” teriak Arung Seto keras, ekspresinya penuh emosional. Dia tegang melihat pertarungan tersebut.
“Kau belum memasang taruhanmu, Panglima Arung!” teriak Geranda.
“Satu kantung kepeng!” sahut Arung Seto akhirnya.
“Luar biasa. Ayo, siapa lagi? Hahaha!” teriak Geranda yang menikmati ajang perjudian tersebut.
Alma Fatara masih bisa bergerak bangun. Gerakannya tidak secekatan sebelumnya. Ia kembali menyeka darah yang belepotan di dagunya dengan lengan jubahnya.
Sebagian besar personel Pasukan Genggam Jagad mulai memperlihatkan wajah kecemasan.
“Pasukaaan! Siapa ratu kitaaa!” teriak Anjengan demi menghibur hatinya yang gundah gulana melihat Alma sangat jauh dari kata unggul.
“Ratu Siluman!” teriak seluruh Pasukan Genggam Jagad, termasuk mereka yang bertaruh untuk kekalahan Alma Fatara.
__ADS_1
“Siapa penguasa Kerajaan Siluman?” teriak Anjengan lagi.
“Ratu Siluman!” teriak Pasukan Genggam Jagad lagi.
“Hua hua hua!”
“Hua hua hua!”
“Wik wik wik wik wik!”
“Wik wik wik wik wik!”
Terdengar begitu ramai, seolah-olah Pasukan Genggam Jagad sudah siap berperang.
“Hahahak!” tawa pendek Alma Fatara mendengar keramaian pasukannya.
Semangat Alma Fatara memang terdorong naik mendengar dukungan dari pasukannya.
“Ratu kalian masih bisa melawan!” teriak Alma Fatara sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad merespons gembira teriakan Alma Fatara.
“Holeee!” sorak pasukan prajurit dan centeng kademangan pula turut gembira.
“Hahahak! Uhhuk uhhuk!” tawa Alma Fatara jika mendengar sorakan pasukan Demang Mahasugi yang terdengar lucu seperti orang cadel. Tawanya membuatnya harus terbatuk darah dua kali.
Setelah itu, hening. Alma Fatara berjalan maju dengan gagah ke tengah halaman yang sudah terlihat porak-poranda. Semoga saja Demang Mahasugi tidak menuntut ganti rugi kerusakan.
“Berapa siluman lagi yang dimiliki oleh pedangmu, Nenek?” tanya Alma Fatara agak berteriak.
“Hihihi! Kuat juga kau, Anak Siluman,” puji Tengkorak Pedang Siluman setelah menertawakan Alma Fatara. “Masih ada enam siluman!”
“Sombong!” maki Tengkorak Pedang Siluman.
Wosh!
“Hoark!”
Tengkorak Pedang Siluman kembali mengeluarkan makhluk sinar biru dari dalam pedang pusakanya, menyeramkan dengan raungan yang aneh. Makhluk sinar itu berbeda wujud dari sebelumnya dan lebih besar, tapi sama, tidak punya kaki dan badan bawah.
Siluman Tingkat Lima itu melesat cepat menyerang Alma Fatara yang tidak bergerak menghindar, tetapi ia memasang ilmu perisainya.
Bruss!
Makhluk sinar biru itu dengan keras menghantam dinding sinar ungu tebal yang melindungi tubuh depan Alma Fatara.
Biasanya, kesaktian lawan akan dipantulbalikkan jika menghantam Tameng Balas Nyawa. Namun berbeda kali ini, Siluman Tingkat Lima hancur di tempat setelah menghantam Tameng Balas Nyawa. Akibatnya, Alma Fatara tersurut tiga tindak dengan wajah mengerenyit, menahan kekuatan lawan.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara karena ternyata ilmu perisainya bisa menahan kekuatan dahsyat Siluman Tingkat Lima.
“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad senang.
“Holeee!” sorak pasukan Demang pula.
“Jangan senang dulu!” teriak Tengkorak Pedang Siluman.
__ADS_1
Wosh!
“Arggr!” raung Siluman Tingkat Enam yang keluar dari badan Pedang Sepuluh Siluman.
Siluman Tingkat Enam melesat cepat dan kembali menghantam dinding sinar ungu milik Alma Fatara.
Bruss!
“Hukh!” keluh Alma Fatara dengan tubuh terjungkal ke belakang. Ada darah yang kembali merembes di sela bibirnya, menunjukkan luka dalamnya kian parah.
Pemandangan itu membuat Pasukan Genggam Jagad kembali cemas. Namun, Alma Fatara masih bisa bangkit dengan cepat. Seiring itu pula, Tengkorak Pedang Siluman sudah mengeluarkan Siluman Tingkat Tujuh, yang pastinya lebih kuat dari sebelumnya.
“Graurr!”
Siluman sinar biru itu melesat lebih cepat dan lebih terlihat bertenaga menghantam dinding sinar ungu tebal. Siluman Tingkat Tujuh juga hancur. Kembali tubuh Alma Fatara terlempar lebih jauh. Tubuhnya jatuh dan memantul dua kali di tanah, lalu diam dalam kondisi tengkurap.
Suasana berubah hening. Pasukan Genggam Jagad terdiam. Mereka ragu, apakah Alma Fatara masih bisa bertahan.
Namun, tiba-tiba Alma Fatara mengangkat tangan kanannya, menunjukkan bahwa dia belum mati.
“Gusti Ratu masih kuat! Hihihi!” teriak Alis Gaib histeris penuh kegirangan.
“Bangun, Alma! Dunia belum kita taklukkan dan jagad belum berada di genggaman kita!” teriak Anjengan penuh semangat, memberi spirit kepada adik angkatnya.
“Benar, aku tidak akan mati sebelum Kerajaan Siluman membentang di seluruh negeri!” teriak Alma Fatara keras, sambil bergerak bangun, meski gerakannya sudah terlihat lambat.
“Gusti Ratu! Gunakan Bola Hitam!” teriak Cucum Mili.
“Benar, Gusti Ratu. Gunakan Bola Hitam!” teriak Juling Jitu pula.
“Gu-gu-gunakan Bo-bo-bola Hitaaam!” teriak Gagap Ayu pula.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara karena mendengar kegagapan sahabatnya. Lalu teriaknya, “Tenanglah kalian semua!”
“Sial, anak ini terlalu kuat. Bisa-bisa aku mengeluarkan semua siluman dalam pedangku!” gerutuh Tengkorak Pedang Siluman. “Namun, harus dilakukan!”
Wosh!
“Huarrk!”
Siluman Tingkat Delapan melesat lebih ganas.
Kali ini, Alma Fatara ternyata merubah taktik.
Swess! Blass!
Alma Fatara melesatkan satu sinar emas menyilaukan mata. Namun setelah itu, dia langsung memasang Tameng Balas Nyawa.
Maka yang terjadi adalah Siluman Tingkat Delapan hancur bersama sinar emas menyilaukan. Ledakan dahsyat yang ditimbulkan membongkar tanah halaman ke udara. Daya ledak yang menyerang Alma Fatara justru terhadang oleh Tameng Balas Nyawa, mengurangi efek serangnya.
Terbukti Alma Fatara hanya terjajar tiga tindak.
“Hebaaat!” teriak Anjengan tiba-tiba. “Hua hua hua!”
“Hua hua hua!”
__ADS_1
“Tunjukkan kehebatanmu, Gusti Ratu!” teriak Tampang Garang yang juga mulai tidak sabar berteriak, tidak peduli bahwa saat itu dia diapit oleh para wanita cantik berpanah.
“Kurang ajar!” teriak Tengkorak Pedang Siluman memaki. Ia terbawa oleh kekesalannya sendiri. “Tidak aku sangka harus mengeluarkan Siluman Tingkat Sembilan!” (RH)