
*Setan Mata Putih (SMP)*
“Jangkrik, bangun! Bangun, Jangkrik!”
Kungkang menggoyang-goyangkan badan Jungkrik yang masih tertidur pulas. Namun, teman gendutnya tetap mendengkur seperti binatang berhidung lemper.
“Dasar mayat manis. Eh eala, mayat mati, maksudku,” maki Kungkang karena Jungkrik tidak juga bangun. “Biar tahu rasa dia.”
Kungkang lalu usil mencubit paha kiri Jungkrik.
“Jiaaak!” jerit Jungkrik panjang sambil sontak terbangun. Ia langsung memegangi paha kirinya yang berdenyut-denyut. “Aduuuh, kenapa ini pahaku?”
“Pasti digigit Setan Mata Putih. Tadi ada Setan Mata Putih,” jawab Kungkang separuh berdusta.
“Mana, mana?” tanya Jungkrik sambil memandang mencari ke sana dan ke sini. Jungkrik sudah tahu Setan Mata Putih karena dialah orang pertama yang pernah melihat makhluk itu.
“Kau mau melawannya?” tanya Kungkang kagum.
“Biar aku tahu arah untuk kabur,” jawab Jungkrik tegang.
Mereka kian terkejut ketika mendengar suara ramai orang berlari mendekati posisi mereka. Ternyata yang muncul adalah Betok dan keempat prajurit penjaga pintu kandang.
“Ayo, kita harus cepat melapor ke Kanjeng Gusti!” kata Betok.
“Jangan lapor ke Kanjeng Gusti, nanti kita dimarahi. Waktu kejadian Gurdin dibunuh oleh setan itu, sepertinya Kanjeng Gusti sedang naik kasur, jadi aku dimarahi. Lebih baik lapor ke Ronga Kamboja,” kata Jungkrik.
“Apa itu naik kasur?” tanya Betok lugu.
“Naik kasur itu, Kanjeng Gusti menaiki istrinya. Ehek ehek, hahaha!” jelas Jungkrik.
“Hahaha!”
Akhirnya mereka bisa tertawa di saat sedang takut seperti itu.
“Eeeh, buruan, lapor Ronga Kamboja!” kata Kungkang.
Mereka lalu berlari kecil menuju ke tempat Ronga Kamboja tidur. Ronga Kamboja adalah pendekar wanita yang selalu mengawal Demang Mahasugi.
“Nanti kalau Ronga Kamboja sedang tidak pakai baju, bagaimana?” tanya Betok.
“Asal tidak sedang naik kasur,” kata Jungkrik.
“Kita lapor kepada Begar saja,” usul Kungkang.
“Iya, kita lapor kepada Begar saja.” Jungkrik setuju.
Setibanya di markas para centeng, Betok dan rekan-rekan langsung berteriak-teriak, sebab di sana ada beberapa centeng yang berjaga. Centeng yang berjaga tidak sebanyak biasanya, karena sebagian centeng yang dimiliki Demang Mahasugi sedang ikut Golono pergi ke Bukit Selubung.
“Ada Setan Mata Putih! Ada Setan Mata Putih!” teriak Kungkang kepada para centeng yang berjaga.
__ADS_1
Keenam centeng yang berjaga seketika heboh.
“Di mana?” tanya salah satu centeng.
“Di kandang duda. Eh eala, di kandang kuda, maksudku,” kata Kungkang.
“Kenapa kalian tidak membunyikan kentongan?” tanya centeng yang lain sambil bergerak mendekati kentongan kayu yang menggantung.
“Iya ya, kenapa aku tidak terpikirkan,” kata Jungkrik seperti salah satu lakon di sinetron Tragedi Ojek Pengkolan.
Tong tong tong …!
Kentongan pun dipukul bertalu-talu. Suara kentongan yang berkepanjangan itu membangunkan Demang Mahasugi serta prajurit dan centeng yang tertidur.
Sejumlah prajurit dan centeng yang tidak punya tugas jaga segera keluar dan berdatangan. Mereka berkumpul di depan kamar tiga pemimpin centeng. Dari ketiga pemimpin centeng, yang lebih dulu keluar adalah Begar.
Begar adalah pendekar bayaran yang mengabdi kepada Demang Mahasugi. Ia memiliki tubuh yang tinggi besar. Ia keluar dengan bertelanjang dada tapi bercelana jingga. Rambutnya gondrong terurai.
“Ada apa?” tanya Begar sebagai Ketua Satu Centeng Demang.
“Ada Setan Mata Putih!” jawab Jungkrik, Kungkang, dan Betok bersamaan.
“Di mana?” tanya Begar.
“Di kandang kuda, Ketua,” jawab ketiga orang gendut itu lagi bersamaan.
“Tunggu apa lagi, cepat kalian semua periksa!” perintah Begar.
Mereka segera pergi dengan berbondong-bondong membawa obor dan senjata.
Pintu kamar lain yang bersebelahan dengan kamar Begar terbuka. Muncullah sosok wanita muda berambut sebahu. Tidak seperti Begar, wanita yang tergolong cantik itu tidak bertelanjang dada. Ia berpakaian lengkap warna kuning. Ia memegang senjata berupa pedang warna hitam. Ia bernama Nuri Glatik. Ia Ketua Dua Centeng Demang.
Nuri Glatik berpaling memandang Begar.
“Kenapa kau masih berdiri? Ambil senjatamu, Begar!” kata Nuri Glatik kepada rekannya.
Nuri Glatik lalu berlari pergi lebih dulu, kemudian berkelebat pergi menyusul para centeng dan prajurit.
Begar mengambil sesuatu di belakang pintu. Ternyata ia mengambil sebatang tombak, tapi matanya berbentuk tiga besi runcing.
Dari arah lain, Ketua Prajurit Kademangan Gentar Boro juga telah berkelebat menyusul Nuri Glatik.
Para centeng dan prajurit yang berbekal senjata pedang atau golok dan obor menyerbu kandang kuda. Mereka masuk ke dalam kandang ramai-ramai dan menyebar menggeledah dalam kandang. Namun, mereka tidak menemukan makhluk yang tadi dilihat oleh Betok dan Kungkang.
Betok langsung mengarahkan para centeng ke kandang belakang. Di sana mereka tidak menemukan Setan Mata Putih, tetapi mereka menemukan sebangkai kuda yang kondisi lehernya sudah rusak oleh cakaran dan sudah berlumur darah.
“Coba periksa di kandang kambing!” perintah Nuri Glatik.
Sebagian centeng dan prajurit segera bergerak ke kandang sebelah.
__ADS_1
“Aaak!” tiba-tiba terdengar jeritan seorang centeng atau prajurit di sebelah luar depan kandang.
Jeritan itu mengejutkan semua yang mendengar. Seketika ketegangan meliputi mereka. Begar dan Nuri Glatik segera berlari kembali ke luar kandang. Para centeng dan prajurit mengikuti pimpinan mereka.
“Setan keparat!” Terdengar teriakan dari Gentar Boro sambil menyerang.
Ketika Begar dan Nuri Glatik sudah keluar dari dalam kandang bersama anak buahnya, mereka melihat Gentar Boro telah menyerang sesosok lelaki bermata bersinar putih. Sosok berpakaian hitam-hitam itu memiliki sepuluh kuku yang panjang.
Pengepungan yang dilakukan oleh para prajurit berobor membuat wajah lelaki aneh itu terlihat jelas. Dia adalah seorang lelaki yang masih muda, tapi menyeramkan karena ia memiliki gigi-gigi atas yang agak panjang dan runcing-runcing seperti gergaji.
Trang ting ting!
Gentar Boro menyerbu Setan Mata Putih dengan serangan pedang. Rupanya, Setan Mata Putih juga jago bertarung. Terbukti dia menyambut serangan pedang itu dengan kuku-kuku panjangnya yang berlumuran darah, karena dia baru saja membunuh satu orang prajurit dengan kuku-kukunya.
Tiba-tiba kesepuluh jari Setan Mata Putih menyala merah.
Tang!
Cras!
“Aaakh!”
Ketika Gentar Boro menebaskan pedangnya, Setan Mata Putih mengadu dengan jari-jari membaranya, bukan dengan kuku-kukunya. Pedang Gentar Boro patah jadi dua, membuat ketua prajurit itu terkesiap.
Jeritan Gentar Boro melengking ketika cakaran Setan Mata Putih begitu cepat menyambar bahu kanannya, menciptakan luka robek dan bakar yang parah.
Melihat Gentar Boro terluka, Begar cepat melesatkan tombak garpunya kepada Setan Mata Putih.
Sets!
Namun, sambil mengelak, Setan Mata Putih menebaskan cakarannya yang memotong batang tombak yang melintas menjadi dua bagian.
“Keparat!” maki Begar sambil melompat maju dengan tangan kanan telah bersinar biru berpijar.
Suuurs! Blar!
Sinar biru itu melesat menghancurkan pagar karena Setan Mata Putih lebih dulu berkelebat melabrak pengepungan.
Cras cras!
“Akk! Akh!” jerit dua prajurit yang terkena serangan cakar Setan Mata Putih yang berusaha kabur.
Setan Mata Putih berhasil keluar dari pengepungan dan berkelebat pergi ke dalam kegelapan malam.
“Kejaaar!” teriak Begar.
Para prajurit dan centeng segera berlarian mengejar Setan Mata Putih. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
YUK BANTU cerpen baru Om Rudi yang berjudul "Pacaran Tanpa Bersentuhan" dengan like dan komenmu. Cari di profil, ya.