Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 13: Tamu yang Banyak


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


 


Inilah Bukit Selubung, sebuah bukit berumput hijau yang indah. Di puncak bukit ada dua bangunan kayu sederhana. Hanya dua, tidak ada yang lain. Di salah satu sisi badan bukit ada sebatang pohon tinggi, tapi tumbuh terlalu miring, seolah mau rubuh terjun bebas ke kaki bukit.


Namun, untuk mencapai puncak bukit, seseorang harus menaiki tangga tanah yang memutari badang gunung. Jika tidak, mereka akan sulit mendaki karena kontur tanah yang licin dan terjal.


Di kala hari menjelang siang itu, banyak orang berseragam kuning hitam, sementara yang lainnya banyak berpakaian hitam, mendaki tangga menuju puncak bukit. Tangga yang lebarnya hanya sedepa itu membuat mereka naik satu per satu, sehingga membentuk barisan yang mengular naik.


Rombongan itu tidak lain adalah rombongan Golono yang bermaksud meminang Ineng Santi.


Golono berjalan paling depan. Di belakangnya adalah dua pendekar centengnya. Setelahnya, ada sepuluh centeng yang memikul peti-peti kayu, baik yang ukuran kecil maupun yang agak besar. Setelahnya adalah pasukan pengiring.


Sementara itu di teras pondok bambu duduk seorang kakek berjubah putih dengan rambut kepala semua berwarna uban, tapi rambut alis, kumis dan jenggot berwarna hitam. Mungkin alis, kumis dan jenggotnya disemir.


Lelaki bermata sipit itu memiliki kulit berjenis terang dan bersih seperti warna susu, tapi tidak jelas apakah susu manusia atau binatang. Jadi meski tua menjelang ajal, wajahnya tetap teduh jika dilihat.


Saat itu, si kakek sedang duduk bersila menekuni serangkai lontar yang memiliki tulisan nan padat. Lontar itu dihamparkan di atas sebuah meja kecil. Lelaki tua inilah penguasa Bukit Selubung yang ternama dengan nama Raja Tanpa Gerak. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu nama aslinya.


Di depan pondok bambu itu adalah halaman luas tanpa pagar, hanya ada tepian yang berujung pada jurang. Jadi, jika ada orang yang memilih terjun ke jurang, maka dia akan berguling tanpa henti sampai ke kaki bukit. Meski tanahnya berumput, tapi tetap saja tidak menjamin akan hidup jika berguling dari puncak ke bawah.


Jika ada orang yang datang dari bawah, maka kepalanya yang akan muncul dan terlihat lebih dulu oleh penghuni rumah. Dan itulah yang terjadi ketika rombongan Golono mencapai puncak, setelah menaiki ratusan anak tangga yang melingkari bukit.


Maka, kepala Golono yang pertama kali timbul di ujung halaman. Kemudian terus naik memperlihatkan anggota badannya satu demi satu. Kemudian muncul kepala pendekar centengnya. Lalu kepala centeng yang lain, kemudian kepala para centeng yang memikul peti-peti kayu berukir bagus dengan berbagai warna.


Ketika mereka sudah naik ke halaman depan pondok satu demi satu, mereka mulai terlihat berkumpul dan terus bertambah banyak, sampai semuanya naik.


Raja Tanpa Gerak memandang mereka untuk sepuluh hitungan lamanya, lalu kembali beralih membaca tulisan di lontarnya.


Golono berjalan dan berhenti dua tombak di depan teras pondok bambu. Sementara rombongannya berhenti dan berdiri berkumpul di belakang majikan mereka dengan jarak dua tombak pula.


Saat itu, Golono sudah tidak segagah ketika ia baru meninggalkan kediamannya. Wajah dan penampilannya terlihat jelas kekusutannya. Kusut karena tidak rapi, karena lelah, berkeringat, dan sepasang matanya sayu. Sejak berangkat dari rumahnya, Golono memang tidak pernah beristirahat, meski separuh jalan dia berkereta kuda.


“Salam hor ….”

__ADS_1


Golono seketika menghentikan kata-katanya, ketika Raja Tanpa Gerak mengangkat tangan kanannya dengan telapak ke arah wajah tamunya itu. Itu tanda bahwa pendekar tua itu tidak mau diganggu konsentrasinya.


Mau tidak mau, Golono terpaksa diam dan menunggu.


Sepuluh hitungan, dua puluh hitungan, lima puluh, hingga seratus hitungan, barulah Raja Tanpa Gerak mengakhiri bacanya. Ia menggulung rangkaian lontarnya. Dengan rapi pula ia letakkan gulungan lontar itu di pinggir kanan meja kayunya, sehingga terlihat lebih enak di mata.


Raja Tanpa Gerak lalu fokus memandang Golono dengan senyum yang ramah.


“Siapa yang datang bertamu ke rumahku ini?” tanya Raja Tanpa Gerak dengan tetap tersenyum lebar, membuat sepasang matanya membetuk dua garis pendek.


“Namaku Golono, Tetua. Aku putra demang terkaya di Kerajaan Singayam ini. Aku putra Demang Mahasugi,” jawab Golono dengan lantang.


“Oooh. Hehehe!” Raja Tanpa Gerak terkekeh sambil manggut-manggut halus. “Lalu, ada apa bertamu ramai-ramai seperti ini? Aku tidak punya cukup jamuan untuk orang sebanyak ini.”


“Aku datang ingin meminang Ineng Santi,” tandas Golono sambil menyemangatkan dirinya, baik jiwa dan raga.


“Oooh. Apakah cucuku itu mengenalmu juga?” tanya Raja Tanpa Gerak tanpa terlihat terkejut.


“Iya. Kami berdua pernah bertemu. Karena itulah aku datang untuk meminangnya,” jawab Golono.


“Letakkan peti-peti itu di teras!” perintah Golono kepada para centeng yang memikul peti.


Kesepuluh centeng bergerak maju dan meletakkan kesepuluh peti di teras dengan posisi berjejer panjang. Raja Tanpa Gerak hanya memandangi. Para centeng kembali ke barisan.


“Apa ini?” tanya Raja Tanpa Gerak tanpa berdiri dari duduknya.


“Ini tiga peti kepeng perunggu, dua peti kepeng perak, satu peti kepeng emas, dan empat peti perhiasan emas perak dan mutiara. Jika pinanganku ini diterima, maka semuanya akan menjadi milik Ineng Santi,” jelas Golono.


“Oooh. Jadi, semuanya untuk cucuku?” tanya Raja Tanpa Gerak untuk lebih memperjelas keterangan Golono.


“Benar, Tetua,” jawab Golono sambil tersenyum senang, seolah yakin bahwa niatannya akan diterima.


“Hehehe! Karena aku tidak mendapat apa-apa, jadi aku tidak bisa menentukan apakah pinanganmu diterima atau tidak,” kata Raja Tanpa Gerak.


Terkejutlah Golono mendengar perkataan Raja Tanpa Gerak.

__ADS_1


“Karena yang ingin kau pinang adalah cucuku, jadi jawabannya harus dari cucuku. Kecuali jika kau meminangku, maka aku yang mengambil keputusan. Apakah kau mengerti, Anak Muda?” tambah Raja Tanpa Gerak.


Golono terdiam sambil menatap Raja Tanpa Gerak tanpa berkedip. Otaknya mencoba mencerna kata-kata orang tua di depannya. Namun, dia sadar bahwa dirinya akan malu jika harus meminta Raja Tanpa Gerak untuk mengulang kata-katanya.


“Aku akan memberikan satu peti harta ini jika Tetua mau menerima pinanganku,” kata Golono akhirnya, setelah terdiam karena otaknya sedang loading mencoba memahami kata-kata yang tidak ia mengerti maksudnya.


“Hehehe!” kekeh Raja Tanpa Gerak. “Tadi kau mengatakan bahwa semua peti itu untuk cucuku jika dia menerima pinanganmu. Kau tidak boleh menguranginya hanya karena berniat menyuapku. Kau harus membawa satu peti besar kepeng yang baru untuk menyuapku. Hehehe!”


“Jadi aku tidak diterima, Tetua?” tanya Golono dengan wajah yang siap marah.


“Tanyakanlah kepada cucuku. Jika kau bertanya lagi kepadaku, maka aku pasti akan menolaknya, karena kau bukan lelaki yang baik untuk cucuku,” tandas Raja Tanpa Gerak.


Mendengar kalimat terakhir Raja Tanpa Gerak, naik pitamlah Golono. Namun, ia masih mencoba tidak meluapkan kemarahannya. Raja Tanpa Gerak bisa membaca dengan jelas suasana hati Golono.


“Kang Aden harus menanyakan, di mana Ineng Santi berada,” tiba-tiba pendekar centeng yang bernama Buritan maju dan membisiki Golono. Tampaknya ia tahu masalah yang sedang dialami oleh majikannya.


“Iya,” ucap Golono mengangguk mengerti.


Raja Tanpa Gerak hanya tersenyum. Ia mendengar apa yang dibisikkan oleh Buritan. Golono lalu bertanya kepada Raja Tanpa Gerak.


“Di mana Ineng Santi, Tetua? Aku ingin menemuinya dan meminangnya.”


“Jika kau ingin menemuinya, kau harus menunggu sampai sore hari, karena saat ini cucuku sedang bersemadi di kamarnya. Jadi bersabarlah. Cinta memang membutuhkan pengorbanan,” ujar Raja Tanpa Gerak.


“Aaah, kenapa harus menunggu selama ini?!” rutuk Golono kesal sendiri.


Clap!


Tiba-tiba Raja Tanpa Gerak menghilang begitu saja dari tempat duduknya. Entah ke mana dia pergi. Gulungan lontar yang ada di meja pendek itu juga menghilang.


Terkejut Golono dan pasukannya melihat hal tersebut. Maka bingunglah Golono di tempat. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


YUK BANTU cerpen baru Om Rudi yang berjudul "Pacaran Tanpa Bersentuhan" dengan like dan komenmu. Cari di profil, ya.

__ADS_1


__ADS_2