
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
“Akkr!” erang Tengkorak Pedang Kilat sambil berusaha bergerak bangkit.
Ketika dia hendak menggerakkan tangan kanan, ternyata tangan kanannya itu menjadi lumpuh. Lumpuh karena sakit, bukan karena hilang rasa. Namun, dia masih bisa bangkit berdiri, meski tangan kanannya tidak berfungsi dan seluruh badannya seolah remuk.
Tengkorak Pedang Kilat sudah tidak bisa memegang pedang berkepala macannya. Jadi ia memilih mencabut pedang berkepala tengkoraknya dengan tangan kiri.
Sementara di titik lain, Alma Fatara belum bergerak bangun dalan posisi meringkuk menyamping. Namun, para penonton yang dekat bisa memastikan bahwa Alma masih memiliki gerak napas.
“Gusti Ratu, bangun!” teriak Mbah Hitam dengan suara tuanya, mengejutkan sejumlah orang.
“Gusti Ratu!” teriak Penombak Manis pula, turut khawatir.
“Gusti Ratu Dewi Dua Gigi, banguuun!” teriak Anjengan mulai histeris.
Tengkorak Pedang Kilat sudah berdiri gagah dengan tangan kanan terjuntai lemah. Penonton bisa melihat bahwa sekitar mulut dan dagu si kakek berlumuran darah.
Tangan kiri Tengkorak Pedang Kilat yang menggenggam pedang kepala tengkorak bergetar kuat, menunjukkan bahwa pedang itu sedang difungsikan kesaktiannya. Pedang itu terlihat menyeramkan dengan bilahnya yang berwarna hitam kusam dan memiliki garis hijau menyala di sepanjang sisi matanya.
Tengkorak Pedang Kilat lalu menempelkan sisi datar ujung pedang ke dahinya.
Zerzt!
Tiba-tiba ada aliran listrik sinar hijau yang keluar dari pedang dan menjalari tubuh si kakek. Jika bukan praktik pengobatan, kemungkinan Tengkorak Pedang Kilat sedang memasukkan tenaga atau kesaktian tambahan ke dalam dirinya.
Meski pertarungan belum dilanjutkan, tetapi suasana berubah tegang. Pasalnya, Alma belum juga bergerak bangun.
“Gusti Ratuuu!” teriak Kembang Bulan nyaring untuk pertama kali berteriak sendiri.
“Ra-ra-ratu Si-si-siluman tidak akan ma-ma-mati!” teriak Gagap Ayu.
“Hahaha!” tawa sebagian penonton mendengar kelucuan Gagap Ayu.
“Hei! Ka-ka-kalian pikir aku lu-lu-lucu?!” teriak Gagap Ayu kepada orang banyak. Dia tampak marah.
“Hahahak …!”
Terkejut semua orang mendengar suara tawa perempuan khas itu. Bersamaan dengan tubuh Alma yang terguncang-guncang karena tertawa.
Sambil tertawa terbahak-bahak, Alma bergerak bangun seperti orang sehat. Ia sampai memegangi perutnya karena tertawa, yang justru membuat penonton kesal dan heran.
Sebenarnya Alma Fatara tidak apa-apa. Ia hanya usil untuk memancing reaksi musuh dan penonton, tetapi ia tidak kuat menahan tawa ketika mendengar Gagap Ayu menyemprot penonton yang tertawa.
“Gusti Ratu Setan! Tidak peduli kau ratuku atau adikku! Awas nanti kalau pertarungan ini selesai, aku cekik kau!” teriak Anjengan emosi bukan main kepada Alma.
“Hahahak …!” Kian tertawa Alma mendengar kemarahan kakak angkatnya.
“Kurang sopan!” maki Cucum Mili pula.
“Kurang sopan!” teriak semua anggota Pasukan Genggam Jagad, membuat suasana yang berubah mengesalkan menjadi agak lucu.
Lega bercampur kesal, itulah yang dirasakan oleh Mbah Hitam dan Pasukan Genggam Jagad.
“Berhentilah tertawa, Ratu Siluman! Lihat Tengkorak Pedang Kilat akan menghabisimu!” teriak Setan Jangkung Sepuluh Nyawa yang kesal melihat ulah Alma.
“Hahaha! Sabar, Kek. Aku sedang tertawa! Hahaha!” kata Alma sambil melambaikan tangan kepada Setan Jangkung Sepuluh Nyawa.
Alma pun beralih memandang kepada lawannya yang sudah bersiap. Ia masih tertawa,
__ADS_1
“Tunggu sebentar, Kek. Tawaku belum habis. Jika aku bertarung sambil tertawa, biasanya aku sangat ganas. Hahaha!” kata Alma.
Namun, Tengkorak Pedang Kilat tidak mengindahkan candaan Alma.
Zerzzz!
Dengan satu tangan, Tengkorak Pedang Kilat membacok pedang ke bawah, tepat membacok lantai batu di depannya. Dari bacokan ke lantai itu, melesat aliran sinar hijau yang menjalar lurus di atas lantai ke arah Alma.
Serangan itu sontak mengejutkan Alma dan menghentikan tawanya. Namun, dengan cepat dia hanya berpindah tempat berdiri ke samping, membiarkan sinar hijau lewat tidak begitu jauh di dekat kakinya.
Sinar itu akhirnya padam dengan sendirinya di ujung lesatannya. Pada lantai Arena Tulang telah tercipta garis besar dan dalam yang tadi menjadi trek sinar hijau.
Set set set …!
Zeng zeng zeng …!
Bset bset bset …!
Tengkorak Pedang Kilat lalu melakukan sabetan-sabetan di ruang kosong di depan tubuhnya. Dari setiap sabetan pedang tengkoraknya berlesatan sinar-sinar hijau yang melengkung tipis.
Alma Fatara cukup memasang ilmu perisai Tameng Balas Nyawa. Hasilnya, semua sinar hijau tipis melengkung itu mengenai dinding sinar ungu, langsung berbalik lurus menyerang tuannya sendiri.
Mau tidak mau, Tengkorak Pedang Kilat menangkis sinar-sinar miliknya dengan pedang tengkoraknya. Setiap tangkisan membuat Tengkorak Pedang Kilat harus termundur sehingga punggungnya rapat dengan tulang pagar.
Bahkan sinar terakhir membuat si kakek harus terlempar jatuh keluar dari panggung. Namun, keluar dari panggung bukan berarti kalah.
Tengkorak Pedang Kilat cepat melompat kembali naik ke panggung. Tanpa ada jeda, dia langsung kembali menebas udara dua kali, berujung dengan lesatan dua sinar hijau tipis melengkung. Alma Fatara masih mengandalkan Tameng Balas Nyawa sebagai perisai. Sepertinya gadis belia itu malas bergerak banyak.
Clap!
Setelah menyerang dua kali, tiba-tiba Tengkorak Pedang Kilat lenyap dari tempatnya.
Sets sets!
“Penonton cepat menjauh!” teriak Alma yang langsung tersadar bahwa efek pantulan serangan itu bisa mencapai penonton jika tidak menemukan sasaran.
Clap! Set set!
Tiba-tiba Tengkorak Pedang Kilat memunculkan dirinya di arah belakang Alma dan dia langsung menebas-nebaskan pedangnya.
Rupanya Tengkorak Pedang Kilat melihat ada celah pada ilmu perisai Alma, yaitu dinding sinar tidak mengurung Alma secarah penuh, tetapi hanya separuh lingkaran. Jika Alma memasang tamengnya di depan badan, berarti sisi belakang akan terbuka. Karena itulah si kakek mencoba menyerang mendadak dari belakang.
Namun, Tengkorak Pedang Kilat tidak tahu sepenuhnya tentang ilmu Tameng Balas Nyawa. Tanpa berbalik, Alma Fatara ganti memasang tamengnya melindungi area belakang tubuhnya.
Lagi-lagi sinar-sinar itu memantul balik saat menghantam dinding sinar ungu Alma. Karena Tengkorak Pedang Kilat telah menghilang kembali, sinar-sinar hijaunya bablas menyerang ke area penonton. Namun beruntung, saat itu para penonton sedang bergerak pindah lebih menjauh.
Sinar-sinar hijau hanya menghancurkan kursi batu penonton yang keburu kosong.
“Tengkorak! Lihat sekitarmu!” teriak seorang pendekar tua marah.
Clap! Set set set!
Namun, Tengkorak Pedang Kilat masih bertahan dengan strategi serangnya. Kali ini dia muncul di langit, di atas kepala Alma. Gadis itupun tinggal memindahkan tameng sinar ungunya ke atas kepala. Sinar-sinar hijau kembali memantul dan menebas langit-langit ruangan batu yang tinggi itu.
Ketika sinar hijau itu dipantulkan, Tengkorak Pedang Kilat telah menghilang untuk berpindah tempat dan arah serang.
Clap! Set set!
Sezt sezt!
Tengkorak Pedang Kilat menyerang dari sisi kanan Alma. Namun, kali ini Alma tidak memasang Tameng Balas Nyawa yang efeknya bisa membahayakan penonton. Kali ini dia cukup mengibaskan kedua tangannya bergantian menyambut serangan lawan.
__ADS_1
Dari kibasan itu melesat dua sinar kuning tipis melengkung, tapi lebih besar dari sinar hijau lawan meski modelnya mirip.
Bzet bzet!
“Huakr!” pekik Tengkorak Pedang Kilat keras dengan tubuh terlempar dan jatuh dengan punggung menghantam lantai batu. Banyak darah yang tersembur dari dalam mulut si kakek.
Sepersekian detik sebelumnya, dua sinar kuning melengkung Alma beradu tebas dengan sinah hijau di tengah jarak. Hasilnya, sinar kuning dari ilmu Sabit Murka milik Alma menebas hancur sinar hijau. Sementara sinar kuning terus melesat menyerang Tengkorak Pedang Kilat yan tidak sempat menghilang.
Tengkorak Pedang Kilat hanya bisa menangkis kedua sinar kuning itu dengan bilah pedangnya. Jika pedang tengkorak itu pedang sakti biasa, mungkin akan patah dan bisa berujung memotong tubuh si kakek. Namun, karena pedang itu kuat, jadi Tengkorak Pedang Kilat hanya terlempar dengan mengalami luka yang dalam. Pedang tengkorak tersebut terpental jauh keluar arena.
“Hua!” teriak Cucum Mili tiba-tiba memecah ketegangan,
“Hua hua hua!” teriak Anjengan cs.
“Hua hua hua!” Lucunya, sebagian penonton justru jadi menirukan teriakan Pasukan Genggam Jagad.
“Jangan kasih cinta, Gusti Ratu!” teriak Juling Jitu.
“Ka-ka-kasih dia gigi om-om-ompong!” teriak Gagap Ayu yang tidak mau ketinggalan menunjukkan dukungannya.
“Hahaha!” tawa Alma dan sejumlah menonton.
“Tidak ada harapan,” kata Kunilam kepada Setan Jangkung Sepuluh Nyawa.
“Benar. Selain memiliki ilmu pertahanan yang kuat, ilmu serang Ratu Siluman tergolong tinggi-tinggi,” kata Setan Jangkung.
“Hebat sekali Ratu Siluman, Ibunda,” komentar Surken pula kepada ibunya.
“Benar. Makanya Ibunda ragu jika harus bertarung dengannya. Tanpa berpindah tempat saja dia dengan mudah menjatuhkan Tengkorak Pedang,” kata Nyai Wening Sukma.
Terlihat, Tengkorak Pedang Kilat masih bisa bangkit dengan kedua kaki gemetar. Gerakannya pelan dan wajahnya meringis sambil menatap tajam kepada Alma.
“Bagaimana, Kek?” tanya Alma sambil berjalan lebih mendekatkan jarak.
“Sudah aku katakan, mati pun akan menjadi kebanggaan bagiku, asalkan aku mati di tanganmu, Gusti Ratu,” desis Tengkorak Pedang Kilat dengan wajah menahan rasa sakit yang sangat pada dalam tubuhnya, terutama pada jantungnya.
Ia lalu berteriak kepada khalayak ramai.
“Wahai para pendekar! Saksikanlah kematianku yang penuh kebanggaan, di tangan Ratu Siluman yang masih sangat muda dan sakti. Aku tidak menyesal!” teriaknya. Lalu tiba-tiba, “Frukrr!”
Tengkorak Pedang Kilat langsung menyemburkan darah banyak usai berteriak.
Namun kemudian katanya kepada Alma, “Ayo kita akhiri, Gusti Ratu! Hiaat!”
Tengkorak Pedang Kilat berteriak keras sambil melesat maju dengan tinju kiri bersinar merah berpijar seperti kembang api.
Seeet! Tusk!
Anehnya Alma Fatara tidak bergerak bersiap atau mencoba mengadu ilmu.
Para penonton tidak bisa melihat, pada saat Tengkorak Pedang Kilat maju, Benang Darah Dewa juga melesat secepat kilat. Kali ini, benang sakti itu mengeluarkan dirinya dalam jumlah banyak. Dia melesat jauh menyongsong tinju Tengkorak Pedang Kilat.
Benang Darah Dewa menusuk masuk, jauh ke dalam lengan kiri si kakek.
Jika di USG, maka akan terlihat bayangan benang yang menusuk cepat ke dalam tangan kiri Tengkorak Pedang Kilat, terus sampai ke bahu, kemudian berbelok menusuk ke jantung.
“Aaak …!” jerit panjang Tengkorak Pedang Kilat.
Sementara penonton tidak bisa mengerti, apa yang membuat Tengkorak Pedang Kilat tiba-tiba terhenti di tengah jarak, lalu menjerit panjang seiring sinar di kepalannya padam. Seolah-olah Alma Fatara menyerang tanpa menyentuh.
Hingga kemudian Alma menarik pulang Benang Darah Dewa yang tanpa putus kembali ke balik pakaiannya, para penonton tidak tahu tentang keberadaan senjata benang itu.
__ADS_1
“Fruuut!”
Seiring Tengkorak Pedang Kilat menyemburkan darah yang lebih banyak dari dalam mulutnya, tubuh tuanya tumbang ke belakang. Dan saat itu pula, nyawa sang pendekar tua melayang. (RH)