
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
“Aku tidak butuh kerajaanmu. Tanpa kerajaanmu, aku sudah menjadi ratu. Yang aku butuhkan hanya belaian dan cinta darimu,” kata Cucum Mili, setelah Pangeran Sugang Laksama mengungkapkan penghalang utama bersatunya cinta mereka.
“Jadi kau bersedia menjadi istri keduaku?” tanya Sugang Laksama.
“Sudah aku katakan, aku akan membunuh istrimu itu!” tandas Cucum Mili sambil terus berjalan melewati semak belukar dan pepohonan besar.
Ia dan Pangeran Sugang Laksama memutuskan untuk mengambil jalan memutar dan sukar, karena jalan itu tidak pernah dilalui manusia, ditambah harus menyisir bibir jurang. Di belakag mereka ada sepuluh prajurit berseragam kuning kunyit. Para prajurit itu adalah personel Pasukan Keluarga Kerajaan.
Ada sebanyak tiga puluh prajurit khusus Pasukan Keluarga Kerajaan yang mengawal Sugang Laksama sebagai putra mahkota. Dua puluh prajurit lainnya ditugaskan menyergap posisi bajak laut di tebing batu.
“Jika kau melakukan itu, kau akan berhadapan dengan Kerajaan, sebab istriku itu adalah pilihan Gusti Prabu,” kata Sugang Laksama. “Kau mau jika cinta kita berakhir dengan kematian?”
“Kau tetaplah menjadi bajak laut, tapi untuk sementara jangan berkeliaran dulu di lautan. Ayahku sudah memerintahkan untuk membunuh semua kelompok bajak laut. Aku akan mencarikanmu tempat aman dari buruan armada angkatan laut Kerajaan Singayam,” ujar Sugang Laksama.
“Lalu kapan kau akan menikahiku?” tanya Cucum Mili.
“Menunggu situasi lebih tenang dan aku bisa leluasa bertemu denganmu,” jawab Sugang Laksama.
“Aku curiga kau hanya berusaha menghindariku. Di depanku kau berwajah dan berlidah manis, tetapi dibelakangku kau akan terus berusaha tidak bertemu denganku,” tukas Cucum Mili.
“Kau jangan menuduhku sekejam itu. Hatiku jadi sedih,” kata Sugang Laksama dengan wajah sedih.
“Huh! Dasar buaya laut!” dengus Cucum Mili. Lalu katanya, “Kita harus mendaki untuk menyergap dari belakang.”
Cucum Mili lalu kembali menutup wajah cantiknya dengan cadar. Sebagai sesama bajak laut, dia tidak mau dikenali karena membantu pasukan kerajaan.
Mereka mulai mendaki medan menanjak yang berhutan. Sepuluh prajurit khusus terus mengikuti sepasang kekasih ilegal itu.
Mereka mendaki tanpa berbincang lagi karena mereka sudah mendekati posisi kelompok bajak laut, yang sebelumnya telah membunuh tiga ratus lima puluh prajurit dengan penyergapan maut.
Sementara ratusan prajurit lainnya diberhentikan jauh dari lokasi penyergapan.
Pangeran Sugang Laksama dan Cucum Mili sudah bisa melihat asap pekat yang membumbung dari mayat-mayat dan kayu gelondongan yang di bakar di bawah tebing. Bau sangit dari mayat-mayat itu tercium jelas.
Pada akhirnya, Pangeran Sugang Laksama dan Cucum Mili melihat keberadaan Rumput Laut dan dua temannya sedang memantau jauh ke ujung jalan. Sangat jelas bahwa mereka sedang menunggu kedatangan Pasukan Pamungkas pimpinan Sugang Laksama, yang mereka ketahui ada di belakang pasukan yang sudah mereka bantai.
“Seraaang!”
__ADS_1
“Hiaat! Ciat! Hup hup hup!”
Tiba-tiba terdengar suara ramai teriakan dari atas tebing seberang, disusul suara teriakan-teriakan pertarungan dan peraduan senjata.
Terkejutlah Rumput Laut dan kedua rekannya. Sebentar kemudian, mereka bisa melihat ketiga rekan mereka di atas tebing batu sedang dikeroyok oleh para prajurit berseragam kuning kunyit.
“Mereka disergap!” sebut lelaki bersenjata panah yang bernama Taring Lumut.
Perkataan Taring Lumut membuat Rumput Laut cepat menduga. Ia cepat menengok ke belakang.
“Awaas!” teriak Rumput Laut sambil cepat melompat naik ke atas pohon di dekatnya.
Set! Blar blar blar!
“Akk! Akk!” jerit Taring Lumut dan seorang rekannya lagi dengan tubuh terlempar, ketika tiga butir benda melesat meledakkan tanah tempat mereka berpijak.
Apesnya bagi Taring Lumut dan rekannya, kedua terlempar terjun bebas ke bawah. Kedua tubuh mereka jatuh menghantam kemiringan tebing berumput, lalu jatuh bergulingan masuk ke dalam kobaran api yang menutupi jalan di bawah sana.
Maka tinggallah Rumput Laut seorang diri.
Set! Brusk!
Namun, para prajurit khusus berseragam kuning kunyit berkelebatan mengejar lompatan Rumput Laut. Pemuda bertubuh kurus itu langsung diserang dan dikeroyok. Rumput Laut pun melawan dengan senjata rantai berbandul bola besi berduri.
Mendengar suara pertarungan di atas dua tebing, Karang Genit dan rekannya segera keluar dari dalam semak belukar tempat mereka bersembunyi.
“Alis Kuning, sepertinya Rumput Laut disergap di atas, lebih baik kita mundur!” seru Karang Genit kepada rekannya, wanita berkulit sawo matang yang nyaris tidak memiliki alis. “Kita sudah pasti akan habis!”
“Ayo!” ucap Alis Kuning sepakat.
Kedua wanita bajak laut itu lalu berlari pergi meninggalkan posnya.
“Aaak!” jerit Keong Racun yang tubuhnya meluncur jatuh dari atas tebing dengan dua pedang menancap di perutnya.
Karang Genit dan Alis Kuning masih sempat menengok melihat Keong Racun jatuh. Jika Keong Racun saja yang bersenjatakan racun bisa dibunuh, maka itu sudah alamat pasti bahwa teman-teman mereka di atas sana tidak akan selamat.
Di saat sepuluh prajurit Pasukan Keluarga Kerajaan mengeroyok Rumput Laut, Sugang Laksama dan Cucum Mili malah menonton sambil berpacaran.
Bolehlah Rumput Laut tokoh penting di dalam Bajak Laut Ombak Setan, tetapi para prajurit yang dilawannya bukan prajurit biasa. Kehebatan bandul besi berdurinya yang bisa membara panas tidak begitu berfungsi, karena para pengeroyoknya bisa bertarung jarak jauh.
“Eksekusi Pedang!” seru salah satu prajurit.
__ADS_1
Kesepuluh prajurit itu segera bergerak mengambil posisi yang mengurung posisi Rumput Laut. Mereka lalu melempar pedangnya ke udara.
Set set set …!
Sepuluh pedang yang dilempar lalu berlesatan terbang dikendalikan oleh tuannya masing-masing.
Tang trang tang!
Rumput Laut berlompatan sambil bandul besi berdurinya mengibas menangkis beberapa pedang sekaligus yang menyerangnya. Namun, pedang yang terpental itu kembali bisa dikendalikan dan melanjutkan serangannya.
Set set set! Tseb tseb tseb!
“Ak! Akk! Akhr!”
Kesaktian Rumput Laut belum sampai ke tahap bisa mengatasi keroyokan sepuluh pedang terbang seperti itu. Sehebat apa pun dia, tetap saja gerakan dan senjatanya tidak banyak menolong. Terbukti ketika kesepuluh pedang itu datang bersamaan dari segala arah.
Pedang kesatu dan kedua bisa Rumput Laut hindari, hingga akhirnya pedang ketiga melintas menyayat paha kanannya. Kemudian menyusul sayatan pedang keempat dan kelima pada betis dan lengan. Menyusul tiga pedang berikutnya menusuk tembus badannya.
Cras! Cras!
Dua pedang terakhir kemudian mengeksekusi leher Rumput Laut. Dua sayatan dalam kanan dan kiri cukup untuk memisahkan kepalanya dari leher. Maka berakhirlah riwayat hidup Rumput Laut.
Melihat kemenangan itu, Sugang Laksama merangkul bahu Cucum Mili yang duduk rapat di sisinya, di atas batang pohon yang tumbang. Ia tersenyum bahagia sambil memandangi akhir pengeroyokan itu.
Cucum Mili hanya melirik kepada pemuda yang dicintainya itu.
Keduanya lalu bangkit berdiri dan memandang ke atas tebing batu di seberang. Di sana telah berdiri berbaris dua puluh prajurit berseragam kunyit menghadap ke arah tebing bukit. Saat Sugang Laksama memandang kepada mereka, mereka serentak menjura hormat.
“Lihat, ada yang masih hidup!” tunjuk Cucum Mili sambil menunjuk jauh ke bawah.
Sugang Laksama dan yang lainnya segera melihat ke arah jalan yang agak jauh dari pusat kebakaran di bawah.
Ternyata mayat Balingga dan Ujang Barendo yang memimpin Pasukan Pertama. Bergerak bangun dengan gerakan yang lemah. Keduanya bahkan berdiri dan melihat keadaan sekitar. Mereka pun sempat melihat ke arah atas tebing yang menjadi maut bagi mereka.
Namun kemudian, Balingga dan Ujang Barendo kembali tumbang dan tidak sadarkan diri. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil menunggu up dari Om Rudi, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!
__ADS_1