Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 31: Jajal Ratu Siluman


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


 


Sebagai seorang Panglima Besar Pasukan Genggam Jagad, pantang bagi Anjengan jika hanya dengan berguling-guling ria dia langsung menyerah.


Setelah dihempas oleh angin pukulan Ireng Gempita, wanita berjuluk Dewi Laut itu segera bangkit dengan tatapan tajam.


Wes wes wes!


Anjengan mengibas-ngibaskan Pedang Macan Setan dengan gerakan yang lebih lihai. Rupanya permainan pedangnya sudah ada peningkatan.


Zerttr!


Tiba-tiba pada bilah pedang itu muncul aliran sinar hijau yang munculnya lebih konsisten, tidak seperti ketika bertarung di Perguruan Bulan Emas yang sinar hijaunya hanya muncul sekejap.


“Wahahaha! Kakak Anjeng sudah mulai menguasai Pedang Macan Setan,” kata Alma Fatara senang melihat perkembangan ilmu pedang kakaknya.


“Akan aku buat kau daging cincang bumbu kunyit! Hua hua hua!” teriak Anjengan.


Wuuut! Blet!


Namun, baru saja Anjengan sesumbar, ujung selendang Ireng Gempita sudah datang membalut bilah Pedang Macan Setan. Hebatnya, selendang itu tidak robek oleh ketajaman pedang pusaka tersebut.


Adegan tarik selendang pun terjadi. Yakin bahwa ia akan kalah tarik, Anjengan cepat melakukan agresi berbahaya.


Wuss!


Anjengan menghentakkan lengan kirinya. Dari lengan kiri itu bermunculan bola-bola kecil sinar hijau yang banyak, melesat menyerang ke arah Ireng Gempita.


Wut wut!


Namun, Ireng Gempita punya selendang lain yang dimainkan dengan cara dikebut-kebut, sehingga selendang itu membentuk pola meliuk-liuk. Selendang itu menyambar semua bola sinar kecil yang tidak langsung hancur. Bola-bola sinar hijau dari ilmu Ubur-Ubur Hijau itu menempel pada kain selendang.


Ctar ctar ctar …!


Detik berikutnya, puluhan ledakan kecil terjadi menghancurkan kain selendang di udara. Hal itu ternyata membuat Ireng Gempita terjajar dan agak oleng.


Breet!


Kondisi itu ternyata membuat Pedang Macan Setan bisa merobek selendang yang membalutnya.


Set! Tep!


Dalam kondisi nyaris hilang keseimbangan itu, tiba-tiba wajah gembul Ireng Gempita tersentak cepat.


Bluk!


Gerakan itu ternyata membuat Ireng Gempita jadi benar-benar hilang keseimbangan dan jatuh seperti seonggok jelly raksasa. Ireng Gempita meringis dengan gigi yang menggigit sekeping kepeng.


Ternyata, pada saat dia oleng, ada serangan senjata rahasia dari dalam kegelapan berupa sekeping kepeng, yang kemudian ditangkap dengan gigi.


“Hiaaat!” pekik Anjengan yang tubuhnya sudah melambung tinggi di udara dengan pedang yang berselimut aliran sinar hijau mengerikan.


Ireng Gempita adalah pendekar sakti yang sudah matang di dunia persilatan. Kondisi seperti itu bukan hal rumit atau mengancam baginya.


Blelet blelet!


Wuss!


Dalam posisi setengah terbaring di tanah berumput, Ireng Gempita melesatkan dua selendangnya yang seakan-akan tidak pernah habis. Kali ini kedua selendang itu melesat dengan mode spiral menyambut kedatangan tubuh Anjengan di udara. Lesatan kedua ujung selendang itu begitu cepat, bahkan membuat Anjengan terkesiap di udara.

__ADS_1


Namun, sebelum kedua ujung selendang maut itu menghantam tubuh Anjengan, tiba-tiba ada serangkum angin dahsyat dari samping yang menyambar tubuh berat itu. Anjengan pun terhempas jauh ke samping dan kedua ujung selendang menusuk angin.


Blugk!


Anjengan jatuh keras ke tanah kosong lalu bergulingan di dalam gelap.


“Geranda, cepat kejar, jangan sampai jatuh ke bawah!” teriak Alma Fatara selaku orang yang melepaskan ilmu angin Sedot Tiup terhadap Anjengan.


Geranda yang sejak tadi bersembunyi di dalam gelap, buru-buru mengejar gulingan tubuh Anjengan. Ia tidak mau wanita yang disayanginya itu jatuh ke kaki bukit. Dialah orang yang sempat menyerang Ireng Gempita dengan sekoin kepeng.


Ireng Gempita cepat bangkit dan kini berdiri menghadap ke arah Alma Fatara yang duduk di teras pondok.


“Kita kalah, Gempita,” kata Ireng Kemilau sambil datang menghampiri sahabat seprofesinya tersebut.


Ireng Gempita menatap wanita bertubuh tinggi besar itu.


“Ketua dan Segaris sudah mati. Aku dan Cadas dalam kondisi terluka,” tambah Ireng Kemilau.


“Lalu?” tanya Ireng Gempita.


“Kita gagal menyelesaikan tugas,” tandas Ireng Kemilau.


“Jika demikian, aku penasaran dengan bocah pemilik Bolah Hitam itu!” seru Ireng Gempita tiba-tiba.


Blet!


Ireng Gempita mendadak melesatkan satu ujung selendangnya kepada Alma Fatara.


“Hahaha!” tawa terbahak Alma Fatara.


Clap! Ctar!


“Jika Bibi hanya penasaran denganku, aku tidak akan menjatuhkan tangan jahat,” kata Alma Fatara yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang tubuh Ireng Gempita.


Alangkah terkejutnya Ireng Gempita. Ia tidak menyangka bahwa gadis sebelia Alma Fatara sudah sesakti itu.


Tus tus tus …!


“Ak! Aw aw aw!” jerit Ireng Gempita dengan tubuh terlompat-lompat kecil saat ia merasakan kedua bokong seksinya dihujani tusukan jarum beruntun.


Buru-buru wanita gemuk itu berlari menjauhi Alma Fatara.


“Hahahak …!”


Tawa terbahak Ratu Siluman itupun tidak terbendung. Sampai-sampai dia membungkuk memegangi perutnya.


Alma Fatara telah menghujani bokong “indah” Ireng Gempita dengan tusukan Benang Darah Dewa dalam kecepatan mesin jahit.


Ireng Gempita meringis menahan sakit yang perih. Ingin rasanya dia memeriksa bokongnya. Ia ingin tahu separah apa luka yang diberikan oleh Alma Fatara. Namun jelas, hal itu tidak mungkin bisa ia lakukan saat itu juga.


“Anak Cecurut Setan!” maki Ireng Gempita sambil meraba bokongnya.


“Hahahak!” Alma Fatara justru tertawa mendengar dirinya disebut demikian.


Wanita gemuk itu merasakan bokongnya basah. Itu bukan air ompol, tapi itu air darah.


“Bagaimana, Bibi? Apakah masih penasaran? Aku bisa lebih ganas dari Kakek Raja Tanpa Gerak,” tanya Alma Fatara.


“Bocah ini sangat mengerikan. Pembawaannya begitu tenang. Pantasnya dia menjadi Ketua Pembunuh Gelap,” batin Ireng Gempita sambil menatap tajam kepada sosok gelap yang wajahnya bercahaya putih.


“Jika kalian ingin membalas dendam atas kematian dua saudara kalian, lakukanlah di kemudian hari. Kalian semua sudah terluka. Terlalu konyol jika harus memaksakan diri,” kata Alma Fatara.

__ADS_1


“Baiklah. Kami mengaku kalah. Kami akan pergi!” sahut Ireng Cadas.


“Tapi, bisakah Paman menjelaskan, kenapa kalian ingin membunuh Raja Tanpa Gerak?” tanya Alma Fatara.


“Dengan kami mengaku dibayar oleh Demang Mahasugi, tentunya kalian bisa menerka apa maksud dari tujuan kami. Kami pun diminta merebut Gelang Permaisuri Surga jika berhasil membunuh Raja Tanpa Gerak,” jawab Ireng Cadas.


Terkesiaplah mata tua Raja Tanpa Gerak dan Ineng Santi mendengar pengakuan Ireng Cadas tersebut.


“Oooh, Rupanya ada kepiting di balik batu,” komentar Alma Fatara.


“Ayo kita pergi!” ajak Ireng Cadas kepada kedua rekan wanitanya.


Raja Tanpa Gerak dan yang lainnya tidak bertindak apa-apa ketika Ireng Cadas dan Ireng Kemilau balik kanan. Ireng Cadas memanggul mayat Ireng Segaris, sementara Ireng Kemilau memanggul mayat Ireng Keling.


“Suatu hari nanti aku akan membalasmu, Bocah!” ancam Ireng Gempita sambil menunjuk Alma Fatara.


“Aku akan menantikanmu, Bi,” sahut Alma Fatara sambil tersenyum manis, tapi pahit bagi Ireng Gempita.


“Huh!” dengus Ireng Gempita lalu berjalan dengan langkah yang agak dihentak-hentakkan menunjukkan kekesalannya. Untung bumi tidak terguncang karena langkah itu.


“Ak!” erang Raja Tanpa Gerak pelan tiba-tiba, setelah orang-orang itu pergi.


Erangan itu membuat Alma Fatara, Gagap Ayu dan Ineng Santi menengok memandang kepada Raja Tanpa Gerak.


“Kakek kenapa?” tanya Ineng Santi sambil cepat menghampiri kakaknya.


“Tidak apa-apakh!” jawab Raja Tanpa Gerak sambil menahan sakit. Ia melangkah sambil menyeret kaki kanannya yang mengalami keracunan, buah dari patokan ular milik Ireng Segaris.


Ineng Santi membantu kakeknya untuk sampai ke teras. Setibanya di teras, barulah cahaya obor memperjelas kondisi kaki kanan Raja Tanpa Gerak.


Ternyata kaki kanan Raja Tanpa Gerak sudah menghitam warna kulitnya dan membengkak seperti kaki badak.


“Kenapa sampai separah ini, Kek?” tanya Ineng Santi bernada agak mengomel.


“Aku telat menotok kakiku,” jawab Raja Tanpa Gerak.


“Kenapa telat?” tanya Ineng Santi lagi.


“Menjaga wibawaku di depan musuh,” jawab Raja Tanpa Gerak.


“Kakek ini!” rutuk Ineng Santi.


“Ayu, bawa naik Belik Ludah untuk mengobati Kakek!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Gagap Ayu patuh.


“Beruntung beruang tua itu, bisa lolos dia kali ini!” kata Anjengan yang datang dengan dumelan kesalnya.


Di sisinya berjalan Geranda sambil mengelus-elus punggung Anjengan.


“Sabaaar. Orang sabar itu disayang Dewa,” ucap Geranda mencoba menenangkan emosi Anjengan.


“Kakak, Semai Cinta dan yang lainnya sedang makan enak di belakang pondok Kakak Ineng. Pergilah ke sana, agar amarahmu reda,” kata Alma Fatara.


“Ba-ba-baik, Gusti Ratu.” Yang menjawab justru Geranda.


Bendahara Kerajaan Siluman itu lalu menggiring Anjengan pergi ke belakang rumah.


“Berarti benar, orang yang bernama Bandar Bumi berniat mengadu domba Kakek dengan Demang Mahasugi. Dan di balik itu, Bandar Bumi punya tujuan lain,” kata Alma Fatara.


“Jika Bandar Bumi menginginkan Gelang Permaisuri Surga, permasalahannya tidak sesederhana ini. Masih ada orang lain di balik orang yang bernama Bandar Bumi,” kata Raja Tanpa Gerak. (RH)

__ADS_1


__ADS_2