
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
Narisantai menatap Alma Fatara yang cantik jelita tapi terkesan horor dengan pakaian serba hitam, rambut terjuntai lurus seperti kuntilanak cantik, dan masih ada sisa basah.
Narisantai juga memandang wajah-wajah sahabat Alma, termasuk sosok tampan berpakaian serba hitam pula.
“Apa maksud kalian datang ke mari malam-malam seperti ini?” tanya Narisantai akhirnya.
“Sesuai janjiku, aku ingin mengembalikan Keris Pemuja Bulan kepada pemiliknya,” jawab Alma Fatara seraya tersenyum.
“Hebat sekali. Bagaimana bisa kau dalam waktu semalam sudah bisa menemukan pusaka yang selama puluhan tahun tidak bisa ditemukan?” ucap Narisantai tidak percaya.
“Hahaha!” tawa Alma pelan.
Alma ingin tertawa kencang seperti biasa, tetapi ia tidak mau mengganggu ritual duka keluarga itu.
“Biar gigiku ompong, tetapi aku adalah gadis cantik yang beruntung. Aku ditolong oleh sahabatku yang tampan, jadi aku bisa dengan mudah menemukan Keris Pemuja Bulan,” ujar Alma.
“Bisa kau tunjukkan keris itu?” pinta Narisantai.
“Aku hanya akan memberikannya kepada Raden Runok Ulung,” tegas Alma Fatara.
“Alma, kenapa kita tidak memberikannya besok pagi saja, biar ktia bisa istirahat,” sahut Iwak Ngasin tiba-tiba menyela obrolan dua wanita jelita itu.
“Lebih cepat selesai maka lebih cepat damai, Iwak,” jawab Alma Fatara.
“Jika begitu, tunggu kakekku selesai,” kata Narisantai.
“Kami akan menunggu di sini,” kata Alma.
Narisantai lalu berbalik pergi meninggalkan Alma dkk. Setibanya di teras, terlihat Narisantai berbisik kepada ibunya, Raden Ayu Rungki. Setelah itu, Raden Ayu Rungki mengajak seorang wanita cantik yang wajahnya terlihat sembab karena usai menangis berkepanjangan. Wanita itu adalah janda dari mendiang Jaran Telu, namanya Semurai. Ibu dan menantu itu lalu pergi masuk ke dalam rumah.
Dalam acara ritual duka itu, tidak terlihat keberadaan Raden Bagus Penjogo. Ia berada di dalam kamar, menanggung luka dalam yang parah.
Setelah menunggu selama lima belas menit, akhirnya Raden Runok Ulung mengakhiri tembang dukanya.
Narisantai segera maju dan berbisik kepada kakeknya. Setelah itu, Raden Runok Ulung memandang ke arah gerbang pagar.
Raden Runok Ulung kemudian bangkit dan berjalan menuju gerbang pagar. Ia juga menggunakan tongkat lancipnya sebagai formalitas usia tuanya. Narisantai mengawal kakeknya.
Sementara musik gamelan terus dimainkan dengan irama kesedihan.
“Mari masuk, Alma!” ajak Raden Runok Ulung ramah, disertai dengan senyum. Ia sudah diberi tahu tentang Keris Pemuja Bulan.
Alma dan rombongan mengikuti Raden Runok Ulung dan Narisantai.
Sementara acara nembang duka atas kematian Jaran Telu terus berlangsung, Alma Fatara dan rekan-rekannya dibawa ke dalam rumah, di sebuah ruangan cukup luas dan berpenerangan delapan dian sekaligus.
__ADS_1
Ternyata di ruangan itu sudah tergelar selembar tikar daun pandan. Di atas tikar itu tersaji sejumlah panganan ringan dan wedang panas.
“Silakan, silakan!” ucap Raden Runok Ulung sambil duduk lebih dulu.
Mereka pun duduk lesehan. Ada Semurai yang bekerja menuangkan wedang ke gelas-gelas tanah liat yang bagus.
“Ini adalah Semurai, istri dari Jaran Telu yang meninggal,” ujar Raden Runok Ulung memperkenalkan Semurai.
Semurai hanya tersenyum sambil menganggukkan wajahnya kepada para tamunya bergantian.
“Jangan lama-lama berduka, Kak. Hidup tidak akan hancur tanpa suami dan bahagia terkadang datang silih berganti,” kata Alma Fatara mencoba memberi kalimat penghibur kepada Semurai.
“Iya. Terima kasih,” ucap Semurai seraya tersenyum. Sekilas bahkan ia bertemu pandang dengan Mbah Hitam yang berwajah dingin. “Silakan dinikmati suguhannya. Aku permisi.”
Para tamu hanya mengangguk. Semurai lalu beringsut mundur kemudian bangkit berdiri dan pergi.
“Sepertinya kami disambut dengan baik malam ini,” kata Alma.
“Tentu aku dan keluargaku akan menyambut dengan penuh gembira jika kalian datang untuk menyerahkan Keris Pemuja Bulan. Aku dan keluargaku akan menganggapmu sebagai pahlawan besar kami, karena itu akan mengembalikan kehormatan kami,” ujar Raden Runok Ulung.
“Sungguh keberuntungan bagiku, Kek. Aku bisa mendapatkan keris ini dalam semalam saja, padahal kalian melalui puluhan tahun tanpa hasil,” kata Alma.
“Sepertinya kue yang ini enak, Ayu,” kata Anjengan kepada Gagap Ayu sambil memajukan tubuhnya dengan tangan mengulur untuk meraih kue kukusan. Ia tidak mengindahkan apa yang sedang dibicarakan oleh Alma dan Raden Runok Ulung.
Tus!
Yang terjadi adalah Alma mengeluarkan satu ujung Benang Darah Dewa yang melesat menusuk tangan Anjengan.
“Alma, kebiasaan main tusuk-tusuk pakai Benang Darah Dewa!” bentak Anjengan.
“Jaga sikapmu. Kita sedang bertamu di kediaman bangsawan. Apalagi kau sudah makan banyak tadi di hutan!” semprot Alma.
“Memangnya kenapa jika rumah bangsawan? Bukankah kau juga seorang ratu?” dumel Anjengan dengan suara yang lirih dan wajah merengut.
Cukup melebar sepasang mata Raden Runok Ulung dan Narisantai mendengar Anjengan menyebut kata “ratu”.
“Apakah Nak Alma adalah seorang ratu?” tanya Raden Runok Ulung serius, bernada hati-hati.
“Hahahak!” tawa Alma. “Aku hanya seorang ratu siluman yang tidak punya istana dan pasukan. Hahaha!”
“Oooh!” desah Raden Runok Ulung sambil manggut-manggut.
“Tapi aku adalah manusia biasa, Kek. Hanya orang ganteng ini yang siluman,” kata Alma lalu menepuk bahu Mbah Hitam yang duduk tidak jauh di sisi kirinya.
Perkataan Alma itu membuat Raden Rok Ulung dan Narisantai menatap Mbah Hitam lebih seksama. Mbah Hitam tetap menampilkan ekspresi yang dingin.
“Terima kasih atas jamuanmu, Kek, meski kalian sedang berduka. Aku tidak akan berlama-lama. Aku akan menyerahkan keris milik Kakek,” ujar Alma Fatara. Ia lalu meraih benda di balik jubahnya yang masih basah.
Alma Fatara menunjukkan keris biru yang ia timang di kedua telapak tangannya. Keris itu memancarkan cahaya biru redup. Cahaya dian yang cukup terang membuat cahayanya tidak begitu kuat.
__ADS_1
Terlihat Raden Runok Ulung dan Narisantai terkesiap, seolah membenarkan bahwa itulah keris pusaka yang telah lama hilang.
“Apakah benar ini Keris Pemuja Bulan, Kek?” tanya Alma untuk memastikan bahwa ia tidak salah dapat.
“Benar!” jawab Raden Runok Ulung cepat penuh sumringah.
“Aku sudah mendengar cerita tentang keris ini dari Kakang Rawil. Jadi aku sudah tahu siapa yang berhak menerimanya. Maka itu, aku langsung serahkan keris ini kepada Kakek. Namun, Kakek juga harus memenuhi janji untuk menghentikan permusuhan dengan Keluarga Raden Gondo Sego,” kata Alma.
“Baik, aku akan tepati janjiku,” tandas Raden Runok Ulung.
Alma Fatara lalu mengulurkan kedua tangannya yang menimang Keris Pemuja Bulan kepada Raden Runok Ulung. Dengan ekspresi tersenyum kecil tapi gembira, Raden Runok Ulung pun memajukan tubuhnya dan mengambil keris di tangan Alma.
Ketika keris itu diraih dan diangkat oleh kedua tangan tua Raden Runok Ulung, tidak terjadi apa-apa.
Clek!
Dan ketika Raden Runok Ulung menarik gagangnya sedikit, sehingga pangkal bilah keris tersingkap, tidak terjadi apa-apa pula. Tidak ada aliran listrik sinar berwarna biru sebagaimana yang sebelumnya menyetrum Alma.
“Kau sudah membuka keris ini sebelumnya, Alma,” kata Raden Runok Ulung.
“Pasti. Tapi, bagaimana Kakek yakin aku telah membukanya?” tanya Alma.
“Setiap satu putaran bulan purnama, orang pertama yang membuka keris ini akan dijalari sinar biru. Itu akan meningkatkan tenaga dalam. Karena kau sudah mendapatkan kekuatan bulan dari keris ini, maka aku harus menunggu satu purnama untuk mendapatkannya. Namun, karena keris ini sudah puluhan tahun tidak dibuka, maka kekuatan bulan yang masuk ke dalam tubuhmu mungkin sangat besar dan akan membentuk kesaktian tersendiri,” tutur Raden Runok Ulung.
“Hah!” kejut Alma pelan. “Maksud Kakek, mungkin aku akan punya ilmu baru dari kesaktian Keris Pemuja Bulan?”
Raden Runok Ulung memandang dengan kagum kepada keris yang sudah ia loloskan secara sempurna.
“Tapi itu menurut mendiang Prabu Rawe Bulak kepadaku. Aku sendiri belum pernah mendapatkan kekuatan Keris Pemuja Bulan yang tersimpan selama tahunan, apalagi sampai puluhan tahun. Jika bukan karena untuk mengembalikan kebangsawananku, mungkin aku akan memilih terus menyimpan keris ini demi mendapatkan kekuatan bulannya. Keris ini menyerap kekuatan dari bulan setiap malam di saat bulan terlihat, terlebih jika bulan purnama,” jelas Raden Runok Ulung.
“Hahaha! Aku memang gadis cantik yang beruntung,” ucap Alma memuji dirinya sendiri.
Raden Runok Ulung lalu kembali menyarungkan kerisnya.
“Biarkan aku yang datang langsung kepada Keluarga Raden Gondo Sego besok pagi, untuk menyatakan bahwa keluarga kita sudah menghentikan permusuhan dengan mereka,” ujar Narisantai.
Raden Runok Ulung mengangguk menyetujui rencana cucu cantiknya. Alma dan rekan-rekan tersenyum senang.
“Jika Kakek berkenan memberi tahu, apa kehebatan dari keris ini selain memberikan tenaga bulan?” tanya Alma.
“Pemegang Keris Pemuja Bulan membuat pemegangnya kebal terhadap seluruh kesaktian, kecuali ilmu dari kekuatan bulan itu sendiri. Hanya itu,” jawab Raden Runok Ulung.
“Ah, aku bisa menyimpulkan!” seru Iwak Ngasin tiba-tiba sambil tunjuk tangan seperti anak SD. “Keris itu akan membuat kita tidak terkalahkan, tetapi tidak menjadi yang tersakti.”
“Benar,” kata Raden Runok Ulung.
“Aku memang cerdas!” puji Iwak Ngasin.
“Hahahak!” Alma hanya tertawa sendiri ketika sahabatnya yang lain mencibir Iwak Ngasin. (RH)
__ADS_1