
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
“Awas racun!” teriak Arya Mungkara cepat. Posisinya yang berada di luar jalan, membuatnya cukup jauh dari jangkauan bubuk merah yang menghujani pasukannya itu.
“Jangan bernapas!” teriak Bandeng Prakas.
Wuss!
Bandeng Prakas cepat melepas angin pukulan ke atas untuk menjauhkan hujan racun tersebut.
“Munduuur!” teriak Arya Mungkara demi menyelamatkan pasukannya yang tersisa.
“Wik wik wik wik wik! Wik wik wik wik wik!”
Pada saat yang bersamaan pula, Kelabang Basah berteriak melengking memberi kode. Kode serupa juga kemudian disuarakan oleh Belalang Laut.
Arya Mungkara dan Bandeng Prakas tidak mengerti maksud lengkingan “wik wik” itu. Mereka dan pasukannya hanya dalam kondisi tegang.
Pasukan kuda yang lebih dulu bergerak melarikan diri. Namun yang mengejutkan, hanya sepuluh prajurit berkuda yang mampu bergerak, sisanya tumbang jatuh dari tunggangan karena lebih dulu menghirup udara beracun Kelabang Kering.
Prajurit pejalan kaki yang berlarian mencoba menyelamatkan diri, ada yang langsung jatuh di tempat, ada pula yang tumbang ketika mereka berlari atau berjalan lemah.
Arya Mungkara dan Bandeng Prakas hanya bisa terbelalak menyaksikan kematian para prajurit pasukannya. Sampai-sampai jalan itu tertutupi oleh mayat-mayat prajurit Kerajaan Singayam.
Mereka yang tewas oleh racun, kulit wajah dan tubuhnya memerah seperti kepiting rebus. Dari celah bibirnya keluar busa warna putih kemerahan seperti bercampur darah yang larut.
“Aaakrr!” teriak Arya Mungkara marah sambil melepaskan anak panah berulang-ulang membidik Kelabang Basah.
Set set set!
Dengan begitu gesit, pemuda bajak laut itu melompat dari satu dahan ke dahan pohon lain menghindari serangan panah yang mengikuti.
Namun, pada akhirnya Arya Mungkara kehabisan stok anak panah sebelum berhasil mengenai Kelabang Basah.
Sess! Bresk!
Mengetahui Arya Mungkara kehabisan amunisi, Kelabang Basah langsung berbalik dan melesatkan selengkungan sinar hijau samar.
Gesit Arya Mungkara melompat mundur sambil menyaksikan semak yang ditinggalkannya terbelah besar terkena ajian kesaktian Kelabang Basah.
Set! Tseb!
“Aaak!” jerit Kelabang Basah saat baru hendak melompat memburu Arya Mungkara.
Dari arah samping kiri melesat cepat satu anak panah dari Bandeng Prakas yang tidak diduga oleh Kelabang Basah. Anak panah itu menancap di lengan kekar Kelabang Basah tembus ke dada atas kiri.
Kelabang Basah sampai tergelincir jatuh dari atas pohon. Namun, ia bisa mendarat dengan kedua kaki dan satu tangan.
Sementara itu, Belalang Laut yang sedang membalut luka panahnya di lengan kiri, terkejut mendengar jeritan Kelabang Basah. Ia sudah mematahkan anak panah yang menancap dan mencabutnya.
Wuss!
Dengan tangan kanan memegang pedang, Belalang Laut lalu melesat terbang sambil menebaskan pedangnya kepada Bandeng Prakas.
Tas!
Bandeng Prakas yang terkejut hanya bisa menangkis dengan busurnya sambil melempar tubuhnya jatuh ke samping.
Sementara itu, Arya Mungkara berkelebat ke arah Kelabang Basah, setelah melihat lawannya itu jatuh terpanah.
__ADS_1
“Kau meremehkanku, Tikus Kerajaan!” teriak Kelabang Basah sambil berlari maju pula dengan telapak tangan kanan menghentak.
Wus! Zess!
Bruass!
Kelabang Basah melesatkan bayangan biru telapak tangan dan Arya Mungkara melesatkan sinar kuning berpijar. Di tengah jalan, kedua kesaktian itu bertemu. Hasilnya, bayangan biru telapak tangan menghancurkan sinar kuning.
Kemudian yang terjadi adalah Kelabang Basah terhentak berhenti. Sementara Arya Mungkara terlempar mundur sejauh dua tombak di semak belukar. Sudut sela bibirnya mengeluarkan garis merah yang mengalir.
Wuss! Brass!
Kelabang Basah seolah tidak mau memberi ruang rehat bagi Arya Mungkara. Ia kembali maju sambil melesatkan bayangan biru berwujud telapak tangan. Cepat Arya Mungkara melempar tubuhnya yang tidak siap ke tengah jalan. Ia berguling di dekat Bandeng Prakas yang sudah siap menerima serangan dari Belalang Laut.
Sementara semak belukar yang ditinggalkan oleh Arya Mungkara hancur berantakan bersama tanah-tanahnya.
Drap drap drap!
Tiba-tiba dari ujung jalan arah ke Ibu Kota Balongan terdengar suara lari kencang beberapa ekor kuda.
“Woi woi woi!” teriak orang-orang berkuda yang datang sebagai bantuan dari Bajak Laut Ombak Setan.
Tersenyumlah Kelabang Basah dan Belalang Laut, sebab bantuan telah datang. Rasa sakit pada luka mereka seolah hilang saat itu juga.
Kelabang Basah melompat dan mendarat di atas tumpukan mayat prajurit di tengah jalan. Belalang Laut berjalan dengan sorot mata tajam kepada kedua lawannya. Sementara pedangnya terhunus haus darah.
“Sepertinya kita akan mati di sini, Bandeng!” kata Arya Mungkara yang semakin tegang melihat kondisi mereka berdua yang terkepung.
“Aku tidak mau!” kata Bandeng Prakas.
“Woi woi woi!” teriak keempat penunggang kuda yang datang ke tempat itu.
Belum lagi keempat kuda itu benar-benar tiba, penunggang kuda yang bertubuh gendut tiba-tiba mencelat dari atas kudanya. Tubuh gendut berjubah hitam itu melambung lalu meluncur ke bawah.
Ketika kedua kaki kecil lelaki gendut itu mendarat begitu keras di tanah dekat posisi musuh, Arya Mungkara dan Bandeng Prakas terlempar ke udara di luar kendali mereka.
Set set! Duk duk!
Pada saat itu juga, dua benda bulat berwarna putih seperti bola, tapi bulatannya tidak rata, melesat cepat menghantam dada Arya Mungkara dan Bandeng Prakas.
Kedua pemimpin Pasukan Pertama itu terlempar jatuh berdebam di antara para mayat prajurit.
“Uhhuk!” secara bersamaan kedua pemuda tampan itu terbatuk darah, tetapi keduanya buru-buru bangkit.
Lelaki gendut berjenggot keriting merah berjalan ke depan Arya Mungkara dan Bandeng Prakas. Lelaki gendut itu dikenal dengan nama Si Kaki Mungil.
Sementara di belakang Si Kaki Mungil berdiri empat kuda, tiga di antaranya berpenunggang. Di belakang Arya Mungkara dan Bandeng Prakas berdiri Kelabang Basah dan Belalang Laut.
“Bunuh langsung saja, Kakang Mungil!” teriak pemuda kurus yang di kedua bahunya ada memikul batu putih seperti bola kasar sebesar kepala bayi. Dialah yang tadi melesatkan dua batu apung kepada Arya Mungkara dan Bandeng Prakas. Dia bernama Apung Darat.
“Bersiaplah, Bandeng!” bisik Arya Mungkara mengingatkan Bandeng Prakas.
Drap drap drap …!
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara lari kuda yang banyak dari kejauhan, tepatnya arah belakang Kelabang Basah dan Belalang Laut.
Kelabang Basah dan Belalang Laut cepat menengok ke belakang, begitupun Arya Mungkara dan Bandeng Prakas.
“Pasukan Pamungkas datang!” kata Arya Mungkara sumringah.
Dalam waktu singkat, sudah terlihat rombongan puluhan kuda yang berlari kencang menuju ke jalan yang penuh oleh mayat bergelimpangan. Debu jalanan membumbung tinggi di belakang rombongan kuda yang dipimpin oleh seorang wanita, yaitu Riring Belanga yang memiliki sepuluh jari tangan berwarna hitam pekat.
__ADS_1
“Bunuh semua bajak laut itu!” teriak Riring Belanga lantang dan mengintimidasi jiwa. “Jangan pedulikan mayat-mayat prajurit Singayam!”
“Bersiaaap!” teriak Kelabang Basah tegang, mengingatkan rekan-rekannya.
“Kelabang, gunakan racun Kelabang Kering milikmu!” kata Belalang Laut.
“Racunku sudah habis,” kata Kelabang Basah.
“Serang!” kata Arya Mungkara kepada Bandeng Prakas, mengajaknya menyerang Si Kaki Mungil bersama.
Arya Mungkara dan Bandeng Prakas lalu bersamaan menyerang si lelaki gendut. Pertempuran lanjutan pun dimulai dari mereka.
Tanpa ampun, puluhan kuda perang yang telah tiba berlari menginjak-injak mayat prajurit rekan mereka, karena memang jalan tertutupi oleh ratusan mayat secara acak.
“Tidak ada kata ampun bagi pemberotak!” teriak Riring Belanga lalu melesat terbang meninggalkan punggung kudanya. Kesepuluh jari tangan Riring Belanga terlihat mengeluarkan aliran listrik halus, menunjukkan bahwa jari-jari itu sangat berbahaya.
Riring Belanga justru mengincar barisan kuda bajak laut yang ada di belakang.
Pertarungan tiga lawan satu pun langsung terjadi.
“Mati sebagai bajak laut pun tidak menyesal!” teriak Belalang Laut lalu melesatkan satu bola sinar merah.
Suass! Bluar!
Bola sinar yang dilesatkan ke arah pasukan berkuda, menghancurkan satu kuda saja, yang kemudian hanya berimbas menjatuhkan dua ekor kuda lain.
Wess! Cras!
Belalang Laut melesat menerabas pasukan kuda yang ramai. Pedang tunggalnya langsung memakan satu korban. Namun selanjutnya, dia pun dikeroyok oleh sejumlah prajurit berkuda.
Puluhan para prajurit berkuda itu bergerak tanpa henti dan mengeroyok Kelabang Basah yang bertarung dengan mengamuk, seperti banteng patah hati.
Para prarjurit berkuda lain segera membantu mengeroyok Si Kaki Mungil dan juga membantu Komandan Riring Belanga.
Meski keenam anggota bajak laut itu adalah pendekar, pengeroyokan para prajurit berkuda membuat mereka kewalahan. Perbandingan jumlah terlalu timpang. Terlebih Komandan Riring Belanga berkesaktian tinggi.
Terbukti Apung Darat adalah musuh pertama yang tewas. Tidak tanggung-tanggung, Riring Belanga langsung mengerahkan ilmu Jari Gigit Nyawa.
Zrezrr!
“Aaak!” pekik Apung Darat dengan tubuh kejang saat begitu mudahnya sepuluh aliran listrik halus menjeratnya.
Selanjutnya, yang mati berikutnya adalah Belalang Laut. Meski ia bisa membunuh tujuh prajurit berkuda lebih dulu, tapi banyaknya serangan dari segala arah membuatnya tidak bisa menolak tusukan-tusukan pedang pada tubuh kurusnya. Meski tewas dalam kondisi belum menikah, tetapi setidaknya dia sudah pernah merasakan keperkasaan seorang lelaki.
Setelah membunuh Apung Darat, Riring Belanga langsung segera membantu pasukannya menghabisi anggota bajak laut yang lain.
Ternyata, kesaktian Si Kaki Mungil tidak begitu bertaji menghadapi pengeroyokan yang seperti kawanan singa mengeroyok seekor gajah.
“Seraaang!” tiba-tiba ratusan prajurit pejalan kaki berseragam hitam muncul dari kejauhan. Itu adalah Pasukan Pamungkas yang tertinggal di belakang.
Melihat kedatangan tujuh ratus pasukan itu, semakin putus asa Kelabang Basah dan ketiga rekannya yang sudah menderita banyak luka sabetan dan tusukan pedang.
Ketika pasukan semut itu tiba, kondisi sudah semakin kacau karena mereka juga bertempur di atas mayat-mayat.
Kelabang Basah dan ketiga rekannya akhirnya tumbang satu demi satu. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor" dan "Alur Cinta Si Om Gemit"!
__ADS_1