
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Mau tidak mau, Alma Fatara harus singgah di sebuah desa terpencil di kaki sebuah bukit. Ia harus mengobati luka dalamnya, buah dari pertarungannya melawan Pengemis Kaya.
Namun, sebelum mengobati dirinya, Alma Fatara lebih dulu harus mengobati Pengemis Kaya karena kondisi nyawanya mendesak untuk diselamatkan.
Pengemis Kaya setuju untuk melakukan “jual beli pengabdian”. Alma Fatara menyebutnya demikian, yaitu menukar hidup dengan pengabdian. Alma menjual penyelamatan nyawa dengan mengobati Pengemis Kaya, sementara si kakek membayar dengan hidup mengabdi.
Dengan dituntun oleh Mbah Hitam, Pengemis Kaya pun bersumpah setia kepada Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara.
Saat ini, Alma Fatara sedang melakukan pertemuan empat mata dengan Pengemis Kaya di sebuah rumah sewa. Mbah Hitam pun hadir di rumah itu, hanya ia duduk berjaga di ruang lain, tetapi ia bisa melihat pertemuan itu dari jarak yang agak jauh.
“Aku bercita-cita membangun sebuah Kerajaan Siluman yang sangat luas, tapi tanpa kerajaan dan wilayah. Kakek Kaya mengerti maksudku?” ujar Alma Fatara.
“Tidak, Gusti Ratu,” jawab Pengemis Kaya yang sudah sehat seratus persen.
“Seperti ini. Aku ingin di setiap wilayah, di sana ada Pasukan Genggam Jagad, ada rakyat pengabdiku. Kerajaan boleh milik Prabu Manggala Pasa atau milik raja-raja yang lain, wilayah mana pun boleh menjadi milik kerajaan-kerajaan, tetapi di setiap wilayah itu ada Pasukan Genggam Jagad yang hanya tunduk kepada perintahku. Jadi nanti, di darat, laut, pulau-pulau, bahkan alam siluman, di sana ada Pasukan Genggam Jagad yang tersebar. Namun, keberadaan Pasukan Genggam Jagad bukan sebagai kekuatan jahat, tetapi sebagai kekuatan yang disegani dan dihormati oleh kalangan jahat dan baik. Kita bukan sebagai kekuatan pengancam kekuasaan seorang penguasa dan pemimpin, tetapi baru akan berbahaya jika kita diusik dan dijahati. Jadi nanti Kerajaan Siluman itu ada, tapi hanya dikenal nama tanpa terlihat wujudnya. Wujudnya hanya akan terasa jika menjadi abdi dalam Kerajaan Siluman,” jelas Alma agak panjang. “Bagaimana, Kakek Kaya paham?”
“Hamba paham, Gusti Ratu,” jawab Pengemis Kaya.
“Sekarang aku ingin tahu tentang kelompok pendekar pengemis yang ada di dunia persilatan ini,” kata Alma.
“Selain hamba, masih ada sejumlah pendekar tua pengemis yang memiliki kesaktian tinggi, di antaranya Pengemis Dewa, Raja Pengemis, Pengemis Delapan Pelindung, Pengemis Tongkat Celaka, Pengemis Ratu Ratap, dan Gembel Cantik. Pengemis Tongkat Celaka, Pengemis Dewa dan Pengemis Ratu Ratap memiliki perguruan dan banyak murid. Masih ada beberapa pendekar pengemis muda yang hamba tidak begitu kenal nama-nama mereka,” jawab Pengemis Kaya.
“Pengemis Tongkat Celaka dan murid-muridnya sudah takluk kepadaku beberapa hari yang lalu, tapi mereka belum aku ajak untuk bergabung. Bagaimana jika Kakek Kaya aku tugaskan untuk membangun sebuah perguruan pendekar pengemis?”
“Dengan penuh ketaatan hamba akan melakukannya,” ucap Pengemis Kaya mantap.
__ADS_1
“Pendekar Tongkat Roda adalah salah satu abdiku,” kata Alma yang membuat sepasang mata tua Pengemis Kaya melebar karena terkejut. “Dia telah aku perintahkan membangun peguruan tongkat. Sama seperti Pendekar Tongkat Roda, aku tidak akan mengajakmu pergi berkelana bersama pasukanku yang ini. Silakan Kakek Kaya menjalani hidup Kakek seperti biasa, tetapi di sisi lain, bangunlah perguruan pengemis dengan Kakek Kaya sebagai guru dan ketuanya. Aku mengangkat Kakek Kaya sebagai Panglima Sayap Pengemis Pasukan Genggam Jagad.”
“Terima kasih atas kepercayaan Gusti Ratu kepada hamba,” ucap Pengemis Kaya sambil menjura hormat.
“Aku tidak akan mencarimu hingga satu tahun kemudian. Namun, jika Kakek Kaya dalam kondisi memerlukan bantuan, jangan sungkan cari aku,” kata Alma.
“Baik, Gusti Ratu.”
“Aku harus segera melanjutkan perjalanan untuk sampai ke Perguruan Bulan Emas. Aku berharap ada kabar gembira yang Kakek Kaya kirimkan kepadaku tentang perkembangan perguruan pengemis nantinya,” ujar Alma.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Pengemis Kaya. Lalu katanya, “Jika Gusti Ratu ingin ke Bukit Tujuh Kepala, setelah keluar dari desa ini, lebih baik Gusti Ratu mengikuti jalan pinggir jurang ketika sampai di pertigaan hutan bambu. Sebelum senja Gusti bisa tiba di Desa Julangangin lalu melanjutkan perjalanan ke Perguruan Bulan Emas.”
“Terima kasih, Kek,” ucap Alma Fatara.
Maka perjalanan Alma Fatara pun berlanjut bersama pasukannya. Pengemis Kaya melepas rombongan junjungannya menuju wilayah Bukit Tujuh Kepala, yang sudah terlihat dari desa itu.
Alma Fatara mengikuti arahan dari Pengemis Kaya, yaitu mengikuti jalan pinggir jurang. Jalan itu cukup ekstrem jika dilalui dengan berkuda, sehingga mereka harus berhati-hati. Mereka harus membentuk satu barisan mengular agar tidak berebut badan jalan dengan sesama rekan.
“Alma sudah datang! Alma sudah datang!” teriak seorang lelaki dari kejauhan.
Teriakan yang terdengar tidak kencang itu lantaran jauh, mengejutkan Alma Fatara. Teriakan itu menunjukkan bahwa ternyata kedatangan Alma Fatara ada yang menunggu.
Tiba-tiba dari arah atas ketinggian Desa Julangangin bermunculan banyak orang yang datang ke pinggir desa dengan setengah berlari. Orang-orang itu tidak lain adalah Rinai Serintik dan rekan-rekannya sesama murid Perguruan Jari Hitam.
Mereka sejenak berhenti untuk melihat dengan jelas rombongan berkuda yang keluar dari dalam hutan. Ternyata Alma Fatara masih dengan tampilan yang tidak berubah, yaitu dengan berjubah hitam. Yang berubah hanya orang-orang yang bersamanya.
“Iya, itu Alma!” teriak Rinai Serintik gembira.
__ADS_1
Rinai Serintik segera melompat turun tanpa lewat undakan tangga tanah lagi. Lalu ia berlari ke arah rombongan kuda yang telah berjalan perlahan. Murid-murid Jari Hitam yang lain juga segera berhamburan menyusul Rinai Serintik.
Memang, tidak semua murid Jari Hitam akrab dengan Alma Fatara, tapi mereka semua kenal. Alma Fatara sendiri hanya mengenal beberapa murid Jari Hitam saja. Salah duanya adalah Rinai Serintik dan Jernih Mega.
“Murid-murid Perguruan Jari Hitam,” sebut Alma Fatara sambil tersenyum lebar.
Alma Fatara lalu turun dari kudanya ketika Rinai Serintik dan Jernih Mega datang lebih dulu mendekat.
“Kakak Rinai, Kakak Jernih! Hahaha!” sebut Alma Fatara lalu tertawa. Ia lalu merentangkan tangannya.
“Alma, akhirnya kau datang! Hahaha!” kata Rinai Serintik sambil memeluk gadis jelita itu, lalu tertawa karena melihat keompongan yang terlihat lucu.
“Bagaimana bisa kalian menunggu kedatanganku?” tanya Alma Fatara heran setelah usai memeluk Jernih Mega.
Sementara murid-murid Jari Hitam lainnya sudah berkumpul di belakang kedua gadis di depan Alma.
“Kakak Seperguruan Riring Belanga sudah mengabarkan kedatanganmu, Alma,” jawab Jernih Mega.
“Alma!” panggil seorang lelaki tiba-tiba dengan kencang.
Lelaki yang datang dengan berlari kecil itu tidak lain adalah Arung Seto. Justru yang lebih terkejut adalah Kembang Bulan saat melihat kemunculan kakaknya.
“Ka-ka-kakang Arung Se-se-seto!” Yang memanggil Arung Seto justru Gagap Ayu. Ia tersenyum lebar sambil melambai, saat melihat kedatangan sang pemuda tampan idaman hati.
Panggilan Gagap Ayu mengejutkan Arung Seto, tetapi ia tetap tersenyum lebar dan balas melambai kepada gadis cantik bertubuh mungil itu.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat kecanggungan yang terjadi terhadap Arung Seto. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.