Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 27: Hujan Racun


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


Melihat Belalang Laut melesat di angkasa seperti makhluk terbang, Bandeng Prakas cepat berkomando.


“Panah!” teriak Bandeng Prakas di dalam formasi lingkaran benteng perisai.


Set set set …!


“Akh! Akh! Akh …!”


Namun, baru saja prajurit panah di dalam lingkaran itu hendak melepas panahnya, lebih dulu dari sisi atas, dari balik rimbunnya dedaunan pepohonan, berlesatan puluhan anak panah menyerang.


Para prajurit pemilik tameng cepat menaikkan tamengnya melindungi dirinya. Namun, tetap saja ada lubang besar di sisi atas formasi itu. Para prajurit panah yang baru hendak membidik Belalang Laut, bertumbangan karena terkena panah lebih dulu.


Uniknya dari serangan panah atas pohon, senjata yang dipasang memiliki kecanggihan yang cukup tinggi, karena hanya dengan satu tarikan tali oleh Colong Larik, puluhan anak panah yang sudah dipasang di balik rerimbunan dedaunan, bisa lepas melesat sekaligus. Dan posisi anak-anak panah yang dibuat dari bahan kayu dan bilah-bilah bambu itu tidak terlihat kentara dari sisi bawah.


Korban di pihak Pasukan Pertama semakin banyak.


Beberapa prajurit penunggang kuda cepat mengejar arah pergerakan Belalang Laut. Mereka keluar dari jalan dan menerobos semak belukar.


Belalang Laut yang dalam kondisi ada panah pada perut sampingnya, berdiri waspada dengan dua pedang terhunus. Sambil menahan rasa sakit, ia menatap tajam kedatangan lima prajurit berkuda yang bersenjata pedang pula.


Sret! Sret!


Set set set …!


“Akh! Akh! Akh …!”


Secara bersamaan, Kelabang Basah dan Colong Larik menarik seutas tali di dekatnya. Tali itu telah ditata serapi mungkin yang menghubungkan dengan tuas kunci.


Maka, kembali hujan anak panah datang dari sisi atas, yang berlesatan dari balik dedaunan pohon. Namun kali ini, hujan panah itu datang dari dua sisi atas jalan yang saling berseberangan.


Kembali para prajurit berkuda dan pejalan kaki bertumbangan dalam jumlah besar.


Bandeng Prakas cepat berinisiatif meninggalkan posisi berlindungnya di dalam formasi, ia berkelebat ke sebuah pohon. Ia sama dengan Arya Mungkara, mengandalkan panah. Ia dan Arya Mungkara pernah menjadi rival memanah sebelum mengabdi di kemiliteran Kerajaan Singayam.


Semendaratnya di dahan pohon, Bandeng Prakas dengan cepat melihat keberadaan Colong Larik yang berdiri bersembunyi di balik batang pohon.


Set!


Sigap Bandeng Prakas melepaskan anak panahnya kepada Colong Larik.


Set! Bset! Sruak!


Sambil melompat gesit, Colong Larik melesatkan satu senjata piringan logam tipisnya. Namun, serangan itu tidak menargetkan Bandeng Prakas, melainkan dahan pohon yang ada di sisi atas kepalanya.


Senjata piringan itu memotong putus pangkal dahan dengan rapi, membuat dahan itu jatuh. Bandeng Prakas sigap berkelebat menghindari timpaan dahan besar tersebut, tapi sambil memanah pergerakan Colong Larik.


Set! Set!


Ternyata Colong Larik pada saat yang bersamaan juga melesatkan piringannya yang satu lagi, mengejar pergerakan tubuh Bandeng Prakas.


Set! Set!


“Ukh!” keluh Colong Larik saat mata panah Bandeng Prakas menggores dalam pelipis kanannya.


“Aak!” pekik tertahan Bandeng Prakas pula, ketika senjata piringan Colong Larik mengenai busur sekaligus lengan kanannya.


“Serang!” teriak Arya Mungkara sambil menunjuk posisi Colong Larik.


Maka, prajurit yang masih bugar segera beramai-ramai menyerbu posisi Colong Larik.


Set set!

__ADS_1


Colong Larik tangkas menangkap pulangnya dua piringan logamnya, lalu kembali melesatkannya kepada para prajurit yang datang dengan senjata pedang dan tombak.


“Aak! Akh! Akh …!” jerit para prajurit yang leher dan tubuhnya tersambar piringan hingga terluka dan tewas.


Namun, tidak semua prajurit yang terkena. Prajurit yang lolos langsung menyerang Colong Larik dengan tusukan tombak dan tebasan pedang.


Mau tidak mau, Colong Larik harus bertahan dan menghindar. Sampai-sampai ia tidak sempat untuk menangkap kembali dua piringannya yang melesat pulang. Dua piringan itu akhirnya jatuh ke dalam semak belukar.


Dalam waktu singkat, posisi Colong Larik sudah dikepung. Ketika ia ingin melompat menjauh, tidak ada peluang karena ia harus lebih fokus menghindari serangan senjata.


Bros! Bluar!


Di saat terdesak dan terkepung oleh puluhan prajurit, Colong Larik tiba-tiba menghantamkan satu gelombang tenaga sakti ke tanah. Satu ledakan hebat terjadi yang menghancurkan tanah jalanan dan mementalkan para prajurit yang ada di sisi depannya.


Meski banyak prajurit yang dibuat terpental dan tewas, para prajurit yang ada di belakang cepat menusukkan tombak. Sigap Colong Larik melompat naik ke udara menghindari tiga tusukan tombak.


Set! Tseb!


“Aaak!” jerit panjang Colong Larik saat tiba-tiba satu anak panah dari Arya Mungkara menusuk dadanya, ketika tubuhnya masih ada di udara.


Set set! Tsub!


Ketika tubuh Colong Larik jatuh, dua sabetan pedang prajurit langsung menyambutnya, ditutup dengan satu tusukan tombak di lehernya.


“Colong Lariiik!” teriak Belalang Laut histeris melihat kematian rekannya.


Kelabang Basah yang masih bersembunyi juga terkejut mengetahui kematian Colong Larik.


“Akan habis kalian semua! Woi woi woi!” teriak Belalang Laut sambil mengamuk seperti setan perempuan yang sedang terluka.


Pedangnya tidak mengenal jenis musuh, baik prajurit atau pun kuda tunggangan, semua dibabat mati.


Dari lima prajurit berkuda yang mengeroyok Belalang Laut, tersisa satu yang belum mati. Perempuan kurus itu tidak harus menghabisi semua dulu untuk kemudian melompat seperti belalang menerkam Bandeng Prakas.


Namun, Belalang Laut justru bisa membentengi dirinya dengan menusukkan pedangnya ke arah pukulan yang datang. Hal itu memaksa Bandeng Prakas menahan pukulannya dan balik melompat mundur.


“Seraaang!”


Baru saja Belalang Laut hendak memburu lawannya, serombongan prajurit bertombak datang berlari menyerangnya. Melihat gelombang serangan itu, Belalang Laut justru kian bersemangat dan beralih menyongsong para prajurit tersebut.


Tang tang! Cras cras!


Belalang Laut memainkan pedangnya menangkis tombak-tombak yang menusuk, lalu gesit merobeki perut para prajurit dengan sabetan dua pedangnya yang mengerikan. Terlihat Belalang Laut adalah sosok bajak laut perempuan yang tangguh, padahal perutnya sudah berdarah-darah oleh anak panah yang masih bertengger.


Sret sret!


Set set set …!


“Akk! Akk! Akk …!”


Kelabang Basah yang masih bersembunyi di atas pohon besar, menarik dua tali yang tersisa baginya. Maka, dari balik dedaunan berbagai pohon berlesatan puluhan anak panah ke arah bawah.


Pasukan berkuda dan pejalan kaki yang menyangka serangan anak panah sudah habis, dalam posisi lengah. Mereka hanya bisa terkejut ketika hujan anak panah datang.


Tak ayal lagi, puluhan prajurit kembali terkena anak panah. Belasan prajurit tewas dan lebih banyak yang hanya terluka.


Menyadari bahwa masih ada musuh yang bersembunyi, Arya Mungkara sebagai Kepala Pasukan Pertama cepat bertindak.


Arya Mungkara berkelebat masuk ke semak belukar sambil pandangannya mencari keberadaan musuh di atas pepohonan. Sementara anak panah sudah terpasang di busur.


Lima ekor kuda berlari kencang hendak menabrak Belalang Laut. Prajurit yang mengeroyoknya cepat menyingkir ketika lima kuda itu datang.


Tidak mau berisiko, Belalang Laut memilih melompat jauh seperti belalang terbang, melewati atas kelima kuda.

__ADS_1


“Panah!” teriak Bandeng Prakas.


Prajurit panah yang masih bisa bertempur langsung membidik pergerakan Belalang Laut, bersamaan dengan sekelompok prajurit lainnya datang berlari mengejar ke mana perempuan itu mendarat.


Suass! Bluar!


Belalang Laut melesatkan sebola sinar merah yang menghancurkan tanah di depan kaki para prajurit yang datang kepadanya, membuat para prajurit itu berpentalan dengan kedua kaki hancur.


Set set set …!


Tang ting tang ting! Tseb!


“Akk!”


Saat sibuk menangkisi hujan panah yang tidak begitu ramai, satu anak panah berhasil menusuk tembus lengan kiri Belalang Laut yang sedang terangkat bebas. Ia menjerit tertahan dengan pedang di tangan kirinya terlepas. Namun, ia masih berusaha bertahan dengan satu pedang di tangan.


Set! Teb!


Sementara itu, Arya Mungkara telah menemukan keberadaan Kelabang Basah. Panahnya langsung melesat ke atas satu pohon besar. Namun, lelaki gagah itu cepat melesat berkelebat pindah pohon, membuat panah Arya Mungkara hanya menancap di batang pohon.


“Kelabang Keriiing!” teriak Kelabang Basah tiba-tiba.


Mendengar teriakan itu, Belalang Laut yang masih kuat bertarung cepat melakukan lompatan belalangnya meninggalkan jalan yang menjadi medan tempur.


Set!


Bandeng Prakas yang telah berbekal busur baru cepat memanah lesatan tubuh Belalang Laut, tetapi tidak kena.


Set! Teb!


Kelabang Basah melesatkan tombak pendeknya ke sebatang pohon dan tepat menancap di dahan yang ada simpul tali kecilnya. Tali itu putus.


Setelahnya, tiba-tiba sebatang ujung dahan yang kondisinya melengkung oleh ikatan tali, jadi lepas mengayun dan melemparkan sebuah guci besar ke udara, tepatnya di atas jalan tempat pasukan kerajaan masih tersisah separuh jumlah.


Sess! Prakr!


Bruss!


Kelabang Basah melesatkan selengkungan sinar hijau samar yang memecahkan guci tertutup tersebut. Dari hancurnya guci bertebaran tepung merah yang tebal dan langsung menyebar. Tepung itu membuat udara berubah merah dan bergerak turun seperti kabut.


Arya Mungkara terkejut bukan main. Ia langsung menduga bahwa itu adalah bubuk racun.


“Awas racun!” teriak Arya Mungkara cepat. Posisinya yang berada di luar jalan membuatnya cukup jauh dari jangkauan bubuk merah itu.


“Jangan bernapas!” teriak Bandeng Prakas.


Wuss!


Bandeng Prakas cepat melepas angin pukulan ke atas untuk menjauhkan hujan racun tersebut.


“Munduuur!” teriak Arya Mungkara demi menyelamatkan pasukannya yang tersisa.


“Wik wik wik wik wik! Wik wik wik wik wik!”


Pada saat yang bersamaan pula, Kelabang Basah berteriak melengking memberi kode. Kode serupa juga kemudian disuarakan oleh Belalang Laut.


Arya Mungkara dan Bandeng Prakas tidak mengerti maksud lengkingan “wik wik” itu. Mereka dan pasukannya hanya dalam kondisi tegang. (RH)


 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!

__ADS_1



__ADS_2