Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 16: Lepas Rindu


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


Alma Fatara dan Iwak Ngasin sudah tiba di pinggir Sungai Hijau. Mereka berdua harus menyeberang.


Alma berkelebat lalu berlari di atas permukaan air menyeberang. Iwak Ngasin terkejut karena ia tidak bisa melakukan hal seperti yang Alma lakukan.


“Alma! Aku bagaimana?” teriak Iwak Ngasin.


Alma yang baru mendarat di seberang sungai, membalikkan tubuhnya.


“Kau itu anak laut, tidak ada alasan jika tidak bisa berenang!” sahut Alma.


“Aaah, ada-ada saja!” rutuk Iwak Ngasin. Ia lalu celingak-celinguk mencari sesuatu di tanah.


“Ayo!” teriak Alma.


“Iya, tunggu!” sahut Iwak Ngasin.


Akhirnya Iwak Ngasin memungut sebatang bambu tua sepanjang setengah depa. Bambu ia lempar ke sungai. Iwak Ngasin lalu berkelebat ke tengah sungai. Kedua kakinya berhasil mendarat di batang bambu yang mengapung terbawa arus.


Ternyata Iwak Ngasin bisa membawa batang bambu itu berseluncur di atas air memotong sungai.


Jbuur!


“Hahahak …!” tawa Alma terbahak.


Apes bagi Iwak Ngasin, keseimbangannya kurang sempurna, memaksanya oleng dan terpeleset di atas bambu. Ia pun terjebur, memaksanya berenang. Tidak ada cara lain selain berenang ke seberang.


“Alma, kau jahat!” tukas Iwak Ngasin setibanya di pinggir, tidak jauh dari tempat Alma berdiri.


“Kenapa aku jahat?” tanya Alma heran.


“Kau sengaja menjatuhkan aku!” tuding Iwak Ngasin.


“Hahahak!” Alma tertawa terbahak. “Jika kau belum sanggup, akui saja, tidak usah pakai tuduh-tuduh. Itu artinya kau kurang berlatih.”


Alma Fatara pergi meninggalkan sahabatnya sambil tertawa-tawa. Iwak Ngasin naik ke darat dalam kondisi basah kuyup. Ia segera mengejar Alma.


“Alma, tapi kita belum menemukan Juling Jitu!” teriak Iwak Ngasin.


“Juling Jitu sudah ada di hutan,” kata Alma.


“Jika kau sudah bertemu Juling Jitu, kenapa tadi kau bertanya kepadaku?” protes Iwak Ngasin.


“Hahaha!” Alma hanya tertawa tanpa menjawab.


Mereka terus berjalan menuju hutan.


“Kami sudah menculik pemuda yang diseret kuda tadi. Aku sudah mengobatinya. Setelah mengobati kakak ini, barulah kita pergi menculik kekasih yang dihamili oleh Kakang Rawil untuk kita nikahkan,” ujar Alma.


“Memangnya kau tahu cara menikahkan orang?” tanya Iwak Ngasin.


“Tidak.”


“Dasar Ompong!” rutuk Iwak Ngasin yang justru membuat Alma tertawa.


Akhirnya mereka tiba di dalam hutan. Saat melihat keberadaan Juling Jitu di antara sahabat-sahabat wanitanya, Iwak Ngasin langsung berlari mendahului Alma dan mendapati Juling Jitu.


“Juling Jituuu!” teriak Iwak Ngasin setengah histeris.

__ADS_1


“Iwak Ngasiiin!” teriak Juling Jitu pula sambil berdiri dengan mata berkaca-kaca. Ia lalu berlari hendak menyambut Iwak Ngasin.


Benar-benar adegan romantis pertemuan dua orang sahabat yang ingin lepas rindu seperti adegan lagu cinta film Bollywood.


Buk!


“Hukh!”


Iwak Ngasin yang sudah merentangkan tangan hendak memeluk, harus mengeluh tertahan saat tiba-tiba Juling Jitu justru menendak perutnya.


“Hahahak!”


“Hihihi!”


Ketika Iwak Ngasin membungkuk kesakitan memegangi perutnya dengan wajah yang memerah, Alma, Anjengan dan Gagap Ayu malah tertawa. Sementara Rawil Sembalit hanya mendelik tidak mengerti apa yang terjadi.


“Kenapa kau justru menendangku?!” bentak Iwak Ngasin.


“Kau terlalu tega. Kau meninggalkan aku dikejar-kejar lelaki bertongkat itu, sedangkan kau bahagia menggondol gadis cantik!” jawab Juling Jitu yang kegembiraannya berubah kemarahan. Ia tadi gembira saat melihat Iwak Ngasin baik-baik saja, tapi kemudian berubah marah saat ingat Iwak Ngasin meninggalkannya.


“Jika aku bahagia, itu rezekiku. Tapi apakah kau tahu, aku justru kebingungan karena tidak bisa mengobatinya. Untung ada Ratu Siluman Ikan,” kata Iwak Ngasin dengan wajah merengut.


“Tapi syukurlah, kau ternyata baik-baik saja. Aku sampai tidak bisa tidur memikirkanmu,” kata Juling Jitu lalu memeluk tubuh basah Iwak Ngasin dengan satu tangan.


“Justru aku sangat mengkhawatirkanmu, Jitu,” kata Iwak Ngasin sambil menyodok kepala Juling Jitu.


“Kenapa kau basah seperti tikus tercebur?” tanya Juling Jitu.


“Alma menyuruhku berenang saat menyeberang,” jawab Iwak Ngasin.


“Hahahak!” tawa Alma melihat tingkah kedua sahabat itu.


“Siapa yang kau bawa, Alma?” tanya Rawil Sembalit. Ia curiga bahwa gadis yang dibawa oleh Alma adalah Wangiwulan, sebab terakhir mereka bermesraan, pakaian Wangiwulan seperti itu.


“Itu … itu seperti Wangiwulan kekasihku,” kata Rawil Sembalit dengan ekspresi cemas.


Rawil Sembali cepat menghampiri belakang Alma. Ia menyingkap rambut wanita yang dipanggul Alma. Saat wajah cantik Wangiwulan tersingkap sebagian, terkejutlah Rawil Sembalit.


“Wangiwulan sayangku!” sebut Rawil Sembalit berubah kian cemas. “Tolong cepat obati Wangiwulan, Alma!”


“Tenang, Kakang. Aku akan mengobatinya. Kakang Rawil jangan menangis,” kata Alma mencoba menenangkan.


“A-aku tidak menangis, aku hanya … hanya begitu cemas,” kata Rawil Sembalit.


Alma lalu menurunkan tubuh Wangiwulan ke rerumputan, tempat Rawil Sembalit tadi juga diobati. Dengan wajah kecemasannya, Rawil Sembalit mengusap wajah kekasihnya. Ia rapikan rambut Wangiwulan agar wajah cantiknya bisa bebas dari rambut.


Keempat teman Alma hanya diam menyaksikan kepanikan Rawil Sembalit. Sementara Iwak Ngasin harus menelan pil pahit. Tertutup sudah harapannya untuk mencintai gadis yang ternyata adalah kekasih Rawil Sembalit. Padahal jantung dan sesuatunya sudah sempat bergembira ria saat di bawah pohon tadi.


“Wangiwulan, bangunlah. Ini Kakang Rawil. Kakang berjanji akan mengajakmu memancing ikan lagi sambil berpelukan, sambil berciuman dengan ikan,” kata Rawil sambil memegang wajah Wangiwulan dan memandangnya dengan penuh kesyahduan.


“Tolong Kakang Rawil menjauh selama proses pengobatan,” kata Alma.


Dengan berat hati, Rawil Sembalit melepas Wangiwulan. Wajah tampannya begitu mendung, seakan ingin mencurahkan air mata karena tidak tega melihat kondisi wanita yang dicintainya.


Sementara itu, Alma mengeluarkan Bola Hitam yang berbentuk kotak dan berwarna biru terang. Kotak biru itu lalu dibelah dua, kemudian disusupkan ke bawah kepala Wangiwulan untuk dijadikan bantalan.


Mulailah Alma melakukan terapinya. Suasana hening untuk sementara.


Hingga akhirnya, Alma melepas Bola Hitam dan membiarkan pusakanya itu bekerja sendiri dalam mengobati Wangiwulan.

__ADS_1


“Siapa sebenarnya yang membuat kekasihku seperti ini?” tanya Rawil Sembalit kepada Alma.


“Siapa, Iwak?” Alma justru bertanya kepada Iwak Ngasin.


“Lelaki bertongkat biru,” jawab Iwak Ngasin.


Terkejut Rawil Sembalit mendengar itu.


“Maksudmu Kakang Jaran Telu?” tanya Rawil Sembalit untuk penegasan.


“Aku tidak tahu namanya, tapi dia yang bertongkat biru itu, yang muncul di jalanan bergaris merah,” tandas Iwak Ngasin.


“Kenapa Kakang Jaran begitu tega membuat Wangiwulan seperti ini?” ucap Rawil Sembalit, hatinya serasa ingin menangis.


“Tapi, kakakmu itu sud … akk!” kata Juling Jitu, tapi terputus oleh jeritannya sendiri.


Satu tenaga tanpa wujud tahu-tahu menyentil cuping telinga Juling Jitu. Serangan itu dilakukan oleh Alma Fatara.


“Diam, jangan katakan!” kata Alma memperingatkan Juling Jitu.


Hal itu membuat Iwak Ngasin, Anjengan dan Gagap Ayu jadi memandangi Juling Jitu.


“Biar aku yang mengatakannya nanti,” kata Alma lagi kepada Juling Jitu.


“Iya,” ucap Juling Jitu patuh.


“Kalian berdua menyembunyikan sesuatu,” tukas Anjengan.


“Iya. Pa-pa-padahal kita ini sa-sa-sa ….”


“Sapi?” terka Iwak Ngasin memotong perkataan Gagap Ayu.


“Hahaha!” tawa Alma sendirian.


“Sa-sa-sahabat!” tegas Gagap Ayu.


“Sambil menunggu Kakak Wangi sembuh, kalian pergilah mencari makanan dan minuman. Tidak usah pergi ke seberang, cari di dalam hutan ini saja. Nanti sore barulah kita pergi ke Mata Air Pahit,” kata Alma.


“Baik,” jawab Juling Jitu.


Keempat sahabat Alma lalu pergi untuk mencari sesuap makan seteguk minum. Tinggallah Alma bertiga bersama Rawil Sembalit dan Wangiwulan.


Setelah dua jam berlalu, Wangiwulan pun sehat wal afiat.


“Kakang Rawil!” sebut Wangiwulan setelah ia benar-benar merasa sehat.


“Wangiwulan!” sebut Rawil Sembali sambil merangsek maju dan langsung menghamburkan diri memeluk kekasihnya.


“Kakang!” sebut Wangiwulan pula sambil menyambut peluk Rawil Sembalit dengan pelukan yang begitu erat, seolah ingin melepaskan rindu karena lama terpisah oleh waktu, padahal belum sampai setengah hari mereka berpisah.


Begitu rindunya sepasang kekasih itu, sampai-sampai mereka berdua juga bercium-ciuman, seolah itu perkara yang sudah biasa mereka lakukan. Padahal di tempat itu masih ada Alma Fatara.


“Kalian benar-benar sepasang kekasih yang kurang aja!” maki Alma.


Rawil Sembalit dan Wangiwulan jadi terkejut dan tersadar. Buru-buru mereka berhenti, saling lepas bibir dan tangan. Mereka hanya bisa diam dan menunduk malu.


Sambil menunjukkan muka yang asam, Alma bergerak mengambil kembali Bola Hitam-nya.


“Pantas saja kalian dihukum, belum resmi menikah, tapi kalian sudah seperti suami istri. Aku mau cari makanan tambahan dulu, kalian bicarakanlah masa depan kalian. Saat aku kembali, kalian harus sudah punya rencana,” ujar Alma.

__ADS_1


“Baik,” ucap Rawil Sembalit patuh.


Alma Fatara lalu melangkah pergi meninggalkan sepasang kekasih itu. (RH)


__ADS_2