
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Pertarungan unik dan panjang terjadi antara Penombak Manis dengan dua anak buah wanita Lelaki Tombak Petir.
Lawan Penombak Manis yang pertama bernama Lilis Kelimis. Wanita berpakaian hitam itu bersenjatakan tombak besi hitam yang panjang. Wanita kedua bernama Gendis. Wanita berpakaian kuning itu bersenjata tombak bagus berbahan logam ringan warna emas berpadu dengan kayu yang lebih berat.
Dari segi level kesaktian, jelas Penombak Manis kalah tingkat. Awalnya ia hanya seorang anggota bajak laut yang hanya beralih jalan kepada tobat, mengabdi di jalan kebenaran. Tingkat tenaga dalamnya saja belum bertambah.
Namun, dengan memiliki Sisik Putri Samudera, ia memiliki kelebihan khusus dalam hal penglihatan. Ternyata itu bisa mendokrak dirinya kepada status yang lebih penting di dalam Pasukan Genggam Jagad.
Ketajaman penglihatan Penombak Manis membuat kedua lawannya jadi frustasi. Sebab, semua serangan, baik berupa pukulan atau tendangan maupun tombakan, tidak ada yang berhasil menyentuh Penombak Manis sedikit pun. Padahal, kecepatan gerak Lilis Kelimis dan Gendis lebih tinggi dibandingkan Penombak Manis.
Mata yang tajam membuat Penombak Manis bisa bergerak menghindar lebih dulu sebelum serangan itu sampai mengenainya. Jadi, ketika lawan baru memulai gerakan awal untuk menyerang, Penombak Manis sudah bisa membaca arah serangan.
Jadi, meskipun dikeroyok dan level kesaktiannya lebih rendah, Penombak Manis menjadi orang yang tidak tersentuh.
Namun meski demikian, itu tidak membuat istri Juling Jitu tersebut jadi unggul. Pasalnya, semua serangan yang dilakukan oleh Penombak Manis bisa dihindari, terlebih serangan yang dilakukannya hanya sedikit. Peluangnya untuk menyerang balik jarang ada.
Maka jadilah pertarungan itu pertarungan yang buntu. Pada akhirnya mereka hanya terengah-engah, terlebih Penombak Manis yang bekerja lebih ekstra demi menyelamatkan dirinya dari serangan.
Buk buk!
“Hugk! Hukh!” keluh Lilis Kelimis dan Gendis nyaris bersamaan, saat tahu-tahu mereka dihantam oleh satu tenaga dari sisi atas, membuat mereka berdua jatuh terduduk.
Mereka melihat seorang gadis terbang melayang di udara atas dengan tubuh diselimuti sinar biru. Ada sayap burung yang lebar berbahan sinar merah.
Serangan tinju jarak jauh yang dilepas oleh Gagap Ayu itu membuat kedua wanita bertombak terkejut.
Set! Tseb!
“Aaak!” jerit Lilis Kelimis saat tombak Penombak Manis melesat dan menancap tepat di telapak tangan kirinya.
Rupanya Penombak Manis cepat mengambil momentum dengan melemparkan tombaknya menyerang Lilis Kelimis.
Gendis cepat bangkit dan melempar tombaknya ke atas, menargetkan Gagap Ayu.
Blet!
Namun, dengan cepat sayap sinar merah kanan bergerak melindungi tubuh Gagap Ayu, membuat tombak itu terpental jatuh karena tidak bisa menembus sayap sinar.
“Hihihi! Ha-ha-habislah kau di ta-ta-tanganku!” tawa Gagap Ayu lalu berteriak.
Buk buk buk …!
__ADS_1
Setelah itu, Gagap Ayu melepaskan tinju jarak jauh dengan kecepatan mesin. Tinju pertama membuat Gendis kembali terjengkang. Menyusul dua tinju lagi menghajarnya, hingga akhirnya, Gendis berhasil memasang ilmu perisainya yang berwujud selingkaran sinar kuning. Tinju Gagap Ayu selanjutnya hanya menghantam dinding perisai di atas badan Gendis yang masih terlentang.
“Co-co-coba yang ini!” teriak Gagap Ayu lalu menutup serangannya dengan Tinju Karang Baja level tertinggi yang dimilikinya.
Bukk!
“Hukh!” keluh Gendis dengan tubuh melengkung dan mulut menyemburkan air ludah yang banyak. Ilmu perisainya masih kurang kokoh.
Sementara itu, Lilis Kelimis memilih mencabut tombak pendek yang memaku telapak tangan kirinya.
“Akk!” jerit tertahan Lilis Kelimis saat mencabut tombak di tangannya.
Ia lalu melesatkan tombak pendek itu ke arah Penombak Manis yang ternyata sudah memungut tombak emas milik Gendis.
Tak!
Dengan cekatan Penombak Manis menangkis tombakan Lilis Kelimis sehingga berbelok melesat ke tanah kosong.
Buk buk buk …!
Dari sisi atas, Gagap Ayu kembali membantu Penombak Manis dengan mengirimkan Tinju Karang Baja kepada Lilis Kelimis. Wanita yang sedang fokus kepada Penombak Manis itu, tidak bisa melakukan apa-apa saat dihantam tinju jarak jauh beruntun.
Gendis yang sudah bangkit kembali, telah menggenggam seberkas sinar biru di tangan kanannya.
Gendis melesatkan sinar birunya ke atas menyerang Gagap Ayu. Namun, sayap sinar merah Gagap Ayu bergerak cepat melindungi tubuh depan Gagap Ayu. Perlindungan itu membuat Gagap Ayu aman.
“Seraaang!” teriak Anjengan yang datang tiba-tiba.
“Hua hua hua!” teriak Juling Jitu, Geranda, Arung Seto, Alis Gaib, dan Gede Angin yang sudah menyelesaikan pertarungan mereka.
Alangkah terkejutnya Lilis Kelimis dan Gendis melihat serbuan itu di saat mereka tersudut.
Set! Tseb!
“Aaak!”
Geranda langsung melesatkan dua koin kepengnya. Lilis Kelimis tidak sempat menghindar ketika satu koin menembus paha kirinya, membuatnya jatuh terlutut. Sementara Gendis lincah mengelak dengan bergeser. Namun, ….
Bung!
Tahu-tahu satu tubuh besar berlemak menabrak Gendis yang bertubuh kurus langsung. Gendis sampai terlempar sejauh dua tombak.
“Kalian telah mengeroyok istri tersayangku. Rasakan ini akibatnya!” teriak Juling Jitu yang telah berkelebat di udara, di atas jatuhnya Gendis.
__ADS_1
Seset!
Teteb! Tseb!
“Akk!” jerit Gendis setelah dua keris mini berhasil dia hindari, tetapi satu keris mini lainnya berhasil menancap di lambungnya.
“Tahan, tahan!” seru Anjengan. “Jangan bunuh, mereka hanya murid!”
Anjengan dan rekan-rekan menghentikan serangannya.
Dag!
Seiring seruan berhenti itu, kaki besar Gede Angin telah berkelebat menyepak dagu Lilis Kelimis, membuat kepalanya jatuh ke tanah.
“Tahan, Gede!” seru Anjengan. “Jika mereka tidak menyerah, baru bunuh!”
Di sisi lain, salah satu murid Galah Larut yang masih hidup akhirnya menyerah dengan luka yang parah. Ia tidak bisa menghadapi ilmu Sepuluh Purnama Kematian. Ilmu kakinya tidak bisa berbuat banyak menghadapi Kawal Rindu, salah satu petinggi Perguruan Bulan Emas yang kesaktiannya paling dekat dengan kesaktian Wulan Kencana dan Silang Kanga.
Pada akhirnya, murid-murid para penguasa bukit takluk semua. Ada yang memilih menyerah dan ada yang memang takluk hingga tidak berdaya. Mereka yang masih tergolong bugar, harus diikat dan dibelenggu.
Maka, tinggal tersisa dua pertarungan yang juga mendekati hasil akhir, yaitu antara Mbah Hitam melawan Hantu Tiga Anak dan Balito Duo Lido melawan Lelaki Tombak Petir.
Kini, Hantu Tiga Anak mengeluarkan ilmu bayangannya yang bernama Tiga Anak Halus. Kini sosok Hantu Tiga Anak ada empat orang yang sama-sama terlihat nyata.
Mbah Hitam yang sejak tadi bertarung dalam wujud manusia, melesat maju menyerang. Namun, dalam lesatannya, dia tiba-tiba berubah wujud menjadi ular hitam besar.
Terkejut Hantu Tiga Anak melihat perubahan tersebut. Serangan kepala ular sudah menyerang satu sosok Hantu Tiga Anak, tetapi itu hanya bayangan yang kemudian hilang.
Wuss! Dak!
Namun seiring itu, ekor Mbah Hitam mengibas kencang membabat ketiga sosok lainnya. Begitu cepat ekor Mbah Hitam, sampai tidak satu pun ada yang menghindar. Dua sosok ambyar beitu saja ketika terkena kibasan ekor ular, tapi satunya lagi terlempar kencang menabrak pagar taman.
Ketika Mbah Hitam kembali mengejar keberadaan Hantu Tiga Anak, lawannya itu sudah mengeluarkan keris yang bersinar biru membara.
“Matilah kau, Siluman!” teriak Hantu Tiga Anak sambil melompat tinggi menghindari terkaman Mbah Hitam. Lompatannya membuatnya berada di atas kepala Mbah Hitam.
Tuk!
Hantu Tiga Anak menikam kepala ular Mbah Hitam. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.