Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Dewa Gi 30: Nasib Murid Jerat Gluduk


__ADS_3

*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*


 


Blar blar blar …!


Ada yang belum terceritakan ketika puluhan ledakan terjadi tiba-tiba, yang meruntuhkan sebagian panggung arena dan tribun penonton.


Agar tidak ikut jatuh, Alma Fatara, Mbah Hitam, Putri Angin Merah, Kebo Pute, Lelaki Tombak Petir, dan Hantu Tiga Anak melompat serentak ke tempat lain. Sementara Perkasa Rengkah, Jerat Gluduk dan Galah Larut tetap bertahan di panggung karena lantai yang mereka pijak tidak termasuk yang runtuh ke bawah.


Namun, kondisi kacau ini membuat keenam kakek penguasa bukit menjadi seperti kawanan kakek domba yang disergap segerombolan harimau lapar.


Pada saat ledakan massal itu terjadi, Suraya Kencani langsung melesat seperti peluru menabrak tubuh Perkasa Rengkah di atas panggung. Saat menabrak itu, pada tangan kanan Suraya Kencani ada sinar merah sebulat telur ayam yang digenggam. Sinar merah itu dihantamkan kepada tubuh depan kakek gagah itu.


Perkasa Rengkah yang tidak tahu akan menjadi target Suraya Kencani, terkejut dan langsung memasang ilmu perisainya berwujud sinar merah berbentuk baju zirah yang keren.


Brass!


Namun, hantaman sinar merah Suraya Kencani membuat tubuh gagah Perkasa Rengkah terlempar ke luar panggung arena. Meski demikian, Perkasa Rengkah bisa mendarat dengan gagah di tanah belakang panggung.


“Babi Setan sudah mati, kini giliranmu, Sapi Setan!” teriak Suraya Kencani penuh dendam lalu melesat kembali memburu Perkasa Rengkah yang telah bersiap diri.


Pada saat yang sama, Rereng Busa juga melesat seperti menghilang memilih lawan. Penguasa bukit yang dia pilih adalah Jerat Gluduk.


Bukk!


“Hukh!” keluh Jerat Gluduk.


Dia yang fokus memerhatikan kehancuran karena ledakan massal yang diciptakan oleh para muridnya, tidak bisa melihat kedatangan serangan Rereng Busa. Tahu-tahu terjangan kaki Rereng Busa sudah mendarat keras di dadanya, membuatnya terjengkang keras ke tepian panggung yang masih utuh separuh.


Pada saat yang sama, Lelaki Tombak Petir yang melompat dari panggung yang runtuh oleh ledakan, mendadak terpental jauh menuju ke area dekat sungai. Hal itu terjadi karena tubuhnya ditabrak oleh lesatan tubuh Balito Duo Lido saat sedang mengangkasa.


Pada saat yang sama, Putri Angin Merah alias Cucum Mili melesatkan satu butir benda, ketika ia melompat dari runtuhnya tempat ia berpijak.


Ctar!


Sebutir kelereng itu melesat menyerang Galah Larut yang berdiri di panggung. Galah Larut bisa cepat bergerak mundur, membuat tempatnya berpijak meledak kecil dan meninggalkan lubang pada lantai kayu yang tebal itu.


Pada saat yang sama, Mbah Hitam yang sama-sama melompat dari runtuhnya sebagian panggung, mengiringi lompatan Hantu Tiga Anak ke udara. Mbah Hitam memepet gerakan tubuh Hantu Tiga Anak sambil melancarkan tendangan beruntun yang cepat kepada hantu itu, maksudnya manusia yang bernama Hantu itu.


Dadak dadak!


Dengan kedua tangan mengandung tenaga dalam tinggi, Hantu Tiga Anak menangkis agresi kaki di udara itu. Hasilnya mengejutkan. Hantu Tiga Anak jadi terdorong ke belakang, terlempar dari orbit lompatannya. Namun, ia bisa mendarat kokoh di tanah dekat taman belakang perguruan.


Pada saat yang sama pula, Kebo Pute yang melompat tinggi meninggalkan panggung yang runtuh, dibuat terkejut dengan kemunculan sosok cantik yang tiba-tiba begitu dekat di depannya, saat dia sedang on air.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa sosok cantik itu memperlihatkan dua gigi ompongnya. “Tahan Tinju Melukai Hati!”


Kebo Putih ingin tertawa karena disuguhkan penampakan kocak dari Alma Fatara, tetapi tawa itu harus ia pending karena Alma Fatara telah melancarkan hujan tinju.


Bubuk bubuk!


Agresi tinju itu menghantam dada Kebo Pute empat kali dalam hanya satu detik.


Ketika empat tinju itu tahu-tahu sudah mendarat di dadanya, Kebo Pute sudah bersiap menjerit karena dia menduga pasti bahwa hati di dalam dadanya pasti akan terluka. Namun, dia hanya terkejut. Empat tinju itu ternyata tidak memberi sakit yang berarti, apalagi sampai menjebol dadanya.


“Hahaha …!” tawa Alma Fatara ketika melihat reaksi wajah si kakek yang suka tertawa itu. Jika Kebo Pute suka tertawa, maka kini ia menghadapi wanita yang tertawanya lebih doyan.


Alma Fatara turun hinggap ke sebatang dahan pohon yang tumbuh di area itu. Sementara Kebo Pute turun dengan apik di atas sebongkah batu yang ada tidak jauh dari area panggung arena.


Di barisan bawah, pertempuran terjadi tidak kalah rusuhnya, sudah seperti tawuran anak sekolah yang pikiran masa depannya hanya sebatas hari itu. Namun pastinya, tawuran antar geng ini jauh lebih keren.


Panglima Pasukan Genggam Jagad Anjengan duet dengan si pemuda kaya Geranda. Keduanya mengeroyok seorang murid Galah Larut yang ganteng tapi agak tua. Mungkin masalah umur tidak jadi masalah asalkan ganteng.


Anjengan dan Geranda bahu-membahu dengan serunya karena mereka selalu saling meneriaki memberi peringatan. Meski mereka berdua, tapi lawan mereka bukan toples-toples. Murid Galah Larut itu memiliki kesaktian yang nyaris selevel dengan gurunya, namanya Layang Putu. Ia pendekar spesialis kaki atau tendangan. Kedua tangannya malah lebih banyak pasif, mungkin tangannya pemalu.


Sedangkan murid Galah Larut satunya yang juga ganteng tapi tua, harus berhadapan dengan lawan kelas berat, yaitu Kawal Rindu. Sebenarnya, keduanya cocok di pelaminan, tapi jalan dan tujuan hidup berkata lain, memaksa mereka harus adu kekuatan di medan tarung sungguhan.


Di sisi lain, Penombak Manis justru dikeroyok oleh dua ahli tombak perempuan anggota Kelompok Tombak Petir. Menurut data di atas daun lontar, level kesaktian Penombak Manis cukup jauh di bawah dua lawannya yang juga pendekar tombak. Akan sangat berbahaya jika dia harus melawan dua pendekar tombak itu sendirian.


Sementara itu, murid-murid Perguruan Bukit Dua yang jadi biang kerok kerusuhan harus mengalami mimpi buruk. Mereka diserang puluhan piringan terbang tajam seperti serangan puluhan serangga.


Jika piringan terbang itu hanya sebatas piringan logam, mungkin tidak begitu berbahaya bagi murid-murid Jerat Gluduk. Namun, yang membuat mereka cemas dari atas sampai bawah adalah piringan yang bersinar kuning.


Parahnya lagi, pemanah jitu Tampang Garang turut menargetkan murid-murid Perguruan Bukit Dua dari jauh.


Set set! Tseb!


“Aakk!”


Ketika Aliang Bowo melompat bersalto di udara menghindari serangan dua piringan terbang, tiba-tiba dari arah yang tidak terduga melesat sebatang anak panah dan mengenai pemuda tampan itu.


Aliang Bowo menjerit dengan tubuh yang jatuh ke tanah. Sebatang anak panah telah tersemat di paha kirinya.


“Kakang Aliang!” pekik Desah Rindang terkejut saat mendengar dan melihat kondisi pemuda yang dicintainya.


Set set! Ces ces!


Namun, belum lagi ia bergerak pergi kepada Aliang Bowo, dua piringan terbang tanpa sinar datang menyerangnya. Sambil bergerak menghindar, Desah Rindang melepaskan dua jaring sinar biru seperti senjata Spiderman, yang menangkap kedua piringan logam sehingga gugur ke tanah.


Set set set …!

__ADS_1


Namun selepas itu, enam piringan bersinar kuning menyerang secara bersamaan menyergap Desah Rindang dari berbagai arah. Jika hanya dua atau tiga yang menyerang bersamaan, Desah Rindang masih bisa bergaya. Namun, serangan ini membuat panik seperti ibu muda sudah pecah ketuban.


Desah Rindang bergerak secepat mungkin berusaha menghindar, sambil ia melepaskan jala sinar menjerat dua piringan yang datang.


Seeet!


“Aaak!” jerit Desah Rindang panjang.


Berbeda dengan piringan logam yang tanpa sinar, piringan yang bersinar kuning tidak jatuh ketika dijerat jala sinar, tetapi terus melesat dan membuat Desah Rindang panik dengan melompat berguling di udara.


Namun, piringan bersinar kuning yang lain, yang tidak terjangkau oleh perhatian mata si gadis, menyayat punggung di saat tubuh itu berputar di udara, memberi sayatan yang panjang dari pinggang hingga punggung.


Desah Rindang pun roboh dengan luka sayatan yang besar itu. Badan belakangnya langsung bersimbah darah.


“Desah Rindaaang!” teriak Aliang Bowo cukup histeris.


Dia yang masih berusaha menghadapi agresi piringan-piringan terbang itu, buru-buru berlari terpincang ke tempat Desah Rindang tergeletak kesaktian.


Set set!


“Ak! Ak!” pekik Desah Rindang lagi saat dua piringan bersinar kuning kembali memangsanya.


Dia masih selamat dan hanya kedua batang tangannya yang menjadi korban. Kedua piringan bersinar kuning itu mengincar leher Desah Rindang, tetapi dia cepat melindungi lehernya dengan kedua batang tangannya. Mau tidak mau, dua sayatan dalam menyayat tangan gadis cantik itu.


“Desah Rin … aak!” teriak Aliang Bowo yang berubah jeritan dengan tubuh langsung tersungkur, setelah satu anak panah tiba-tiba menusuk betis kanannya.


Aliang Bowo tersungkur hanya sejangkauan dari tubuh Desah Rindang. Dalam kondisi kedua kaki sudah terpanah, Aliang Bowo buru-buru merayap dan memeluk tubuh Desah Rindang.


Melihat keadaan murid-murid Perguruan Bukit Dua, Jongkol Pedih pun berkomentar.


“Jika murid-murid Jerat Gluduk itu tidak menyerah, mereka akan mati semua,” kata Jongkol Pedih.


“Benar,” sahut Setan Gagah sepakat.


“Kami menyeraaah!” teriak Aliang Bowo keras sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberi tanda agar Galak Gigi dan pasukannya tidak menyerang mereka lagi.


Jerat Gluduk yang sedang sibuk bertarung melawan Rereng Busa, terkejut mendengar teriakan Aliang Bowo. Namun apa hendak dikata, nyatanya, murid-muridnya memang kalah jumlah dan kalah senjata.


Teriakan Aliang Bowo itu membuat murid-murid Jerat Gluduk buru-buru menyerah juga. Mereka memang merasa tidak sanggup menghadapi keadaan yang mematikan itu. Tujuh rekan mereka sudah terkapar tanpa nyawa karena terluka sayatan atau terkena panah pada bagian vital.


“Hentikan!” seru Galak Gigi kepada pasukannya. Serangan mereka berhenti khusus bagi murid-murid Perguruan Bukit Dua. (RH)



YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.

__ADS_1


__ADS_2