Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
PITAK 8: Menyerang Gua Ular


__ADS_3

*Episode Terakhir (PITAK)* 


Jatuhnya Sembul Lawang kembali ke pinggir sungai membuatnya segera dikepung oleh belasan lelaki berpakaian cokelat bersenjata pedang.


Sementara di atas batu pada tebing, berdiri sosok Garap Jaran yang bergelar Si Golok Kuda.


Posisi Sembul Lawang seketika terpojok.


“Serang!” teriak Garap Jaran kepada pasukan berpedangnya.


Set set set!


Sembul Lawang justru lebih dulu melesatkan enam pisau terbangnya yang tidak bisa dihindari atau ditangkis oleh para pengeroyoknya. Sementara enam orang langsung tumbang oleh serangan pisau, yang lainnya serentak menyerang Sembul Lawang.


Pemuda yang sudah mencabut dua pisaunya sebagai senjata, berupaya melawan dan bertahan. Namun, sepuluh pedang melawan dua pisau jelaslah bukan peraduan yang seimbang.


Dalam waktu singkat Sembul Lawang terdesak parah.


Trak!


Dengan silangan kedua pisaunya yang kecil, Sembul Lawang menangkis dua tebasan pedang yang membacok dari atas menargetkan kepala.


Set! Set!


“Aaak!” jerit Sembul Lawang karena pada saat yang sama, dua pedang menebas punggungnya dari penyerang lain.


Sambil menahan sakit yang begitu perih pada punggungnya, Sembul Lawang melakukan putaran rendah dengan kedua tangan merentang.


Cras! Cras!


“Akk! Akk!” jerit dua lelaki berpedang saat perut mereka tersayat oleh ujung pisau pada kedua tangan Sembul Lawang.


Seet!


Sambil berkelebat keluar dari kurungan, Sembul Lawang melesatkan lima pisau terbangnya yang tersisa. Kelima pisau terbang itu diliputi sinar biru terang dan lesatannya melengkung, tidak trek lurus.


Trang!


Namun, tiba-tiba sosok Garap Jaran berkelebat cepat. Ia menggunakan golok hitamnya menebas pisau-pisau yang sedang melesat di udara. Dalam tebasan itu, hanya dua pisau yang dibuat gugur dalam kondisi patah dua.


Tseb tseb tseb!


“Akk! Akk! Akk!” jerit tiga orang lelaki berpedang saat dari belakang mereka ditikam oleh tiga pisau bersinar biru.


Akhirnya, mau tidak mau, Sembul Lawang bertarung tanpa senjata meladeni pengeroyokan itu. Ia mengandalkan ilmu kebal pada kedua tangannya sebagai senjata penangkis.


Dengan kedua tangannya yang membara biru, Sembul Lawang menangkis setiap tebasan dan tusukan pedang yang menyerangnya.


Di sisi lain, Garap Jaran mencabut dua pisau yang membunuh anak buahnya.

__ADS_1


Set set!


Dua pisau yang berlumur darah itu lalu ia lesatkan.


Bes bes! Tseb tseb!


“Aaak!” jerit seorang lelaki berpedang yang punggungnya ditembusi dua pisau terbang sekaligus.


“Akk!” jerit Sembul Lawang saat dua pisau terbang miliknya itu menancap pada kedua dadanya dengan dalam.


Begitu tingginya tenaga dalam dari lesatan kedua pisau terbang itu, sampai-sampai keduanya menembusi korban pertama lalu berlanjut ke dada Sembul Lawang.


Garap Jaran menumbalkan satu anak buahnya demi dengan mudah membunuh Sembul Lawang.


Setelah Sembul Lawang jatuh terjengkang di pasir sungai, tiga pedang langsung datang menyusul ke perut dan dadanya.


Sementara itu di tempat lain, Toronggo yang merupakan rekan setugasan Sembul Lawang, telah tiba di tempat Badak Ireng dan pasukannya menunggu.


“Lapor, Panglima! Di Gua Ular ada Si Golok Kuda dan pasukan berpedang!” lapor Toronggo.


“Berapa banyak mereka?” tanya Badak Ireng.


“Yang aku lihat mungkin dua puluhan orang berpedang. Aku tidak tahu apakah di dalam Gua Ular masih banyak pasukan berpedang atau tidak,” jawab Toronggo.


“Bakiwang, bagi dua pasukan. Seratus pasukan kau pimpin untuk menyerang langsung ke Gua Ular. Pasukanku akan berjaga di belakang. Beri tanda jika pasukan musuh lebih kuat!” perintah Badak Ireng.


“Baik, Panglima!” ucap Bakiwang, pendekar kepercayaan Badak Ireng.


“Lalu di mana Sembul Lawang?” tanya Badak Ireng kepada Toronggo.


“Dia terjebak. Mungkin sudah mati,” jawab Toronggo.


“Hia hia hia!”


Enam pendekar yang dipimpin oleh Bakiwang terdengar menggebah kudanya. Sementara itu, seratus prajurit kadipaten berlari di belakangnya.


Singkat cerita, pasukan itu tiba di atas tebing batu. Di sana, keenam kuda tidak mungkin bisa turun ke sungai. Dari atas sana mereka bisa melihat sejumlah mayat lelaki berseragam cokelat tergeletak tidak rapi.


Ada satu mayat yang mereka kenal, yaitu mayat Sembul Lawang yang bersimbah darah pada dada dan perutnya. Tidak terlihat ada orang hidup. Pendekar Si Golok Kuda yang tadi ada di tempat itu, juga tidak terlihat.


“Mereka pasti bersembunyi di dalam tambang,” kata Bakiwang kepada pendekar di sebelahnya, yaitu Songgor Getok.


Songgor Getok adalah seorang lelaki bertubuh kecil bersenjata ketapel yang terselip di perutnya. Peluru ketapelnya tersimpan di sebuah tabung bambu yang didesain khusus.


“Pasukan panah, siapkan panah api!” perintah Bakiwang.


“Baik,” jawab pendekar yang bernama Dunggatala, pendekar yang menyandang busur dan anak panah. Ia segera menyiapkan pasukan panah.


“Taring Lawak, pimpin tiga puluh prajurit langsung menyerang masuk ke dalam tambang, kita pusatkan pertarungan di dalam!” perintah Bakiwang kepada pendekar berambut keriting dan bersenjata pedang dan tameng yang dipasang di punggung, seperti Kura-Kura Ninja.

__ADS_1


“Baik,” jawab Taring Lawak.


“Barangsang dan kau, Jenala, susul serangan pertama dengan tiga puluh prajurit bertombak!” perintah Bakiwang pula.


“Baik!” jawab Barangsang dan Jenala bersamaan. Mereka dua lelaki berusia empat puluhan yang berbadan kekar dan bersenjata tombak.


“Pasukan panah sudah siap!” lapor Dunggatala kepada Bakiwang.


Bakiwang menjawab dengan kode gerakan tangan. Ia berkelebat lebih dulu turun menuju ke pinggir sungai depan mulut gua. Songgor Getok cepat menyusul, kemudian Dunggatala yang diikuti oleh pasukan panah menuruni bebatuan tebing. Kemudian menyusul pendekar dan pasukan yang mereka pimpin sesuai urutan taktik.


Keenam kuda ditinggalkan di atas.


Sebanyak lima belas prajurit panah segera berbaris di depan mulut gua yang lebar, yang dimasuki aliran air. Kondisi dalam gua gelap.


Dua orang yang menyalakan api segera membakar kain-kain berminyak yang dililitkan pada ujung anak panah. Sementara puluhan prajurit lainnya menumpuk di sisi yang tidak lurus dengan mulut gua.


“Panah!” perintah Dunggatala setelah anak panah sudah berapi semua dan sudah ditarik kencang.


Set set set …!


Kelima prajurit panah melepas anak panah berapinya ke dalam gua.


“Maju!” seru Taring Lawak kepada tiga puluh prajurit bawahannya. Ia berlari maju lebih dulu dengan pedang di tangan kanan dan tameng besar di tangan kiri.


Pasukan pedang bertameng segera berlari mengikutinya.


Sebanyak lima belas anak panah melesat jauh masuk ke dalam gua, memberi penerangan sekilas di dalam gua yang merupakan tempat penambangan emas.


Ternyata terlihat bahwa tidak ada keberadaan kelompok musuh yang berpakaian cokelat.


Seiring masuknya panah-panah api itu, Taring Lawak dan pasukannya berlari masuk lewat pinggiran aliran sungai.


Panah-panah berjatuhan di air sungai dan sekitarnya, membuat kondisi dalam gua kembali gelap. Meski demikian, Taring Lawak dan pasukannya masih bisa melihat suasana dalam gua, karena sudah beradaptasi dalam gelap yang tidak begitu gulita.


Taring Lawak memerintahkan separuh pasukannya agar menyeberangi sungai yang titik terdalamnya setinggi dada.


Cprak cprak! Tseb tseb!


“Akk! Akk!”


Ketika sebagian pasukan Taring Lawak turun ke air untuk menyeberang, tiba-tiba dari dalam air bertimbulan banyak orang berpedang yang langsung menyergap sebagian pasukan Taring Lawak.


Dua prajurit langsung tewas ditusuk pedang oleh para lelaki berpakaian cokelat.


Ternyata, orang yang muncul dari kedalaman air sungai berjumlah lebih dua puluh orang.


“Seraaang!” teriak Taring Lawak sambil melompat masuk ke dalam medan air.


“Barangsang, Jenala, serang langsung ke dalam tambang!” perintah Bakiwang yang bisa membaca peta pertarungan di tengah sungai.

__ADS_1


“Maju!” seru Barangsang dan Jenala bersamaan kepada tiga pulu prajurit bertombak dan bertameng. (RH)


__ADS_2