Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Flashback 7: Bajak Laut Bawa Pangeran


__ADS_3

Berbondong-bondonglah kelompok Bajak Laut Kepiting Batu menceburkan diri ke dalam sungai pagi itu, hitung-hitung mandi. Mereka menyelam ke dasar untuk mencari Bola Hitam.


Sebagai orang-orang laut, semuanya pandai berenang dan menyelam. Meski arus di tengah sungai agak deras, itu bukan masalah bagi mereka.


Sang pangeran, Sugang Laksama, dan sahabatnya yang bernama Jura Paksa juga ikut berjibaku di dalam air.


Setelah agak lama mencari, mereka tidak menuai hasil apa pun kecuali basah dan napas yang megap-megap.


“Cari lebih ke hilir, pusakanya pasti terbawa arus!” teriak Cucum Mili.


Maka semua orang berenang lebih maju ke hilir lalu menyelam di berbagai titik. Mereka tetap semangat empat lima, artinya empat tambah lima sama dengan sembilan, nomor tunggal terbesar dalam bilangan bulat.


Namun, hingga matahari mencapai puncaknya, mereka tidak juga mendapatkan hasil, selain ikan yang iseng-iseng mereka tangkap.


“Kurang sopan!” maki Cucum Mili.


“Kurang sopan!” maki seluruh anak buah Bajak Laut Kepiting Batu pula, yang entah ditujukan kepada siapa.


“Kita pasti dikerjai oleh wanita pemancing masalah itu!” tukas Cucum Mili.


“Sudahlah,” ucap Sugang Laksama pelan, akhirnya menyerah. “Benar juga yang dikatakan oleh Pemancing Roh, tidak seharusnya kita memaksakan diri untuk menguasai pusaka itu, kita sudah memiliki pusaka masing-masing. Jika memang kita mau sakti mandraguna, kita harus lebih banyak menimba ilmu.”


“Aku mau berhenti memburu pusaka itu, tetapi kau harus menikah denganku sebagai gantinya!” kata Cucum Mili.


“Apa boleh buat. Aku menolak pun kau pasti terus memburuku. Daripada namaku tercemar oleh fitnahmu,” kata Sugang Laksama.


“Aku tidak masalah jika kau terpaksa menikah denganku, asalkan aku mendapat seorang pangeran. Tapi ingat, kau tidak boleh melarikan diri, atau kau akan bernasib seperti Raja Tanpa Tahta, yaitu mati diracun!” ancam Cucum Mili.


“Iya iya iya!” ucap Sugang Laksama sambil merangkul bahu Cucum Mili mengajaknya berenang ke tepian.


“Eh, apa-apaan kau merangkulku?!” hardik Cucum Mili sambil menepis tangan Sugang Laksama.


“Tadi malam kau minta tidur bersama, sekarang, dipeluk sedikit saja marah!” kata Sugang Laksama.


“Jika semalam, karena tidak ada orang lain. Tapi di sini, ada banyak anak buahku. Nanti mereka berpikir ketuanya mata kerajinan!” kilah Cucum Mili.


“Mata keranjaaang, Ketua! Hahaha …!” sahut para bajak laut beramai-ramai meralat ketuanya, lalu tertawa berjemaah.


“Huh!” Cucum Milih hanya mendengus mendengar tingkah para anak buahnya.


“Apakah kalian menemukannya?” tanya seorang wanita bercaping dari tanah pinggir sungai. Ia adalah Wiwi Kunai yang datang bersama Alma Fatara.


Alma Fatara sudah mengenakan baju baru berwarna merah terang, mengikuti selera Wiwi Kunai yang suka warna-warna cerah.

__ADS_1


“Pemancing Roh!” seru Cucum Mili yang emosinya jadi tersulut kembali dengan kedatangan kedua wanita beda usia itu.


“Kenapa lagi, Cucum?” tanya Wiwi Kunai.


“Kau pasti membohongi kami. Kau pasti tidak pernah membuang Bola Hitam ke sungai ini!” tukas Cucum Mili.


“Dasar perempuan cucut!” maki Wiwi Kunai.


“Hahaha …!” tawa Alma Fatara terbahak seperti bapak-bapak karena mendengar sebutan perempuan cucut. Ia pikir hanya dirinya yang menjadi tempat sebutan “Anak Cucut”, ternyata Wiwi Kunai juga menyebut ketua bajak laut itu dengan cucut.


“Kurang sopan!” maki Cucum Mili marah karena ditertawakan oleh Alma.


“Kurang sopan!” maki para bajak laut itu mengikuti pemimpinnya.


“Hahahak …!” Alma kian kencang dan panjang tertawa sendirian. “Bibi, lebih baik kita pulang, daripada aku tidak bisa berhenti tertawa. Hahaha!”


Wiwi Kunai lalu memungut sebuah batu lalu melemparkannya ke tengah sungai.


Plung!


“Seperti itu caranya aku melempar pusaka itu ke tengah sungai. Kalian bisa bayangkan sendiri kelanjutannya seperti apa. Tapi aku melemparnya dari tempatku memancing, bukan dari sini,” kata Wiwi Kunai.


Tanpa kata-kata perpisahan, Wiwi Kunai melangkah pergi. Sementara Alma segera mengikuti sambil tertawa-tawa pelan. Ia membawa kail pancingan.


“Ayo cari lagi! Siapa yang menemukannya akan aku beri sekantong uang!” teriak Cucum Mili.


Mereka kembali berlomba-lomba menyelam dan mencari lebih jauh ke hilir.


Karena pencarian kali ini beriming-iming hadiah, Cucum Mili memilih tidak ikut mencari. Ia justru berpacaran dengan Sugang Laksama di pinggir sungai dengan kondisi yang kuyup. Lekuk-lekuk tubuh Cucum Mili bahkan tercetak jelas.


Pasangan itu mulai semakin akrab dan luwes dalam berkomunikasi. Terkadang tawa canda menghiasi kebersamaan mereka.


Sementara itu, Jura Paksa hanya hempaskan napas melihat sahabatnya sudah terjerat oleh jala cinta Ratu Kepiting.


“Bakal masalah besar kalau Gusti Prabu tahu,” ucap Jura Paksa lirih kepada dirinya sendiri.


Untung tak kunjung dapat, rugi pun tak bisa disebut. Hasil pencarian di tengah sungai benar-benar berbuah kenihilan.


Akhirnya, Cucum Mili memutuskan pulang kembali ke kapal yang bersauh di Pantai Parasemiris. Pendekar Pedang Dedemit diwajibkan ikut melaut, karena tujuh hari kemudian ia harus menikah dengan Cucum Mili di tengah samudera.


Jura Paksa tidak ikut, dia memilih pulang kembali ke Istana, karena ia adalah putra Penasihat Raja.


Sebelumnya dalam perjalanan pulang ke pantai, Sugang Laksama menitip pesan rahasia kepada Jura Paksa.

__ADS_1


“Kau pulanglah. Sampaikan kepada ayahku bahwa aku diculik oleh Bajak Laut Kepiting Batu. Ini untuk menggagalkan pernikahanku!” perintah Sugang Laksama.


“Baik,” ucap Jura Paksa patuh.


Meski mereka bersahabat, tapi untuk status, Sugang Laksama adalah junjungan Jura Paksa.


Pada hari-hari menjelang pernikahan, Bajak Laut Kepiting Batu terus berpesta ria di tengah lautan. Mereka bahkan menyewa tim penghibur dari darat selama tujuh hari tujuh malam. Kelompok penghibur itu terdiri dari para wanita penari, sinden dan pemain musik gamelan.


Yang unik dari kelompok bajak laut ini adalah dilarangnya main perempuan sampai ke tahap bersetubuh. Itu pantangan di tengah laut yang mereka yakini, kecuali yang melakukannya adalah suami istri. Jika ingin main perempuan, para anggota bajak laut akan pergi ke darat dan akan menyewa secara resmi, yaitu wanita-wanita pedagang kenikmatan.


Agar lebih meriah, kapal besar itupun diberi hiasan-hiasan bernuansa laut, seperti tirai kerang, hiasan jala, hiasan tambang, bendera-bendera kecil warna-warni, dan lainnya. Kamar pengantin pun dihias layaknya benar-benar kamar pengantin.


Namun, setengah hari menjelang akad nikah, dimana para anggota bajak laut sudah mengenakan pakaian terbaiknya, tiba-tiba mereka disergap oleh armada perang.


“Ada musuuuh …!” teriak seorang bajak laut yang berdiri di atas tiang kapal, tugasnya memang memantau kejauhan.


Maka hebohlah seluruh penumpang kapal. Mereka berkeluaran untuk melihat siapa musuh yang datang.


“Pasang bendera putih! Ini hari pernikahan, tidak ada perang!” teriak Udang Karang mengikuti perintah Cucum Mili.


Sebanyak sepuluh kapal besar, bahkan lebih besar dari kapal Bajak Laut Kepiting Batu, bergerak cepat datang mendekat.


“Itu armada perang Kerajaan Singayam!” teriak seorang bajak laut yang mengenali gambar bendera setiap kapal yang sama, yaitu gambar kepala ayam jago sedang berkokok warna hitam di kain berwarna kuning.


Terkejutlah Cucum Mili mendengar bahwa armada yang mendatangi mereka adalah armada kerajaan calon mertuanya. Ia dan Sugang Laksama segera keluar dari kamar dan melihat ke laut.


Sepuluh kapal perang yang penuh oleh muatan para prajurit siap tempur bergerak membuka formasi, bertujuan mengepung kapal Bajak Laut Kepiting Batu.


Armada itu dipimping langsung oleh Laksamana Parorot, Panglima Perang Laut Kerajaan Singayam.


Singkat cerita, armada itu bertujuan membebaskan Pangeran Laksama Wijaya Ranu, nama asli Sugang Laksama, dari sekapan bajak laut.


Cucum Mili dan Sugang Laksama mencoba menjelaskan bahwa sang pangeran bukan diculik, tapi akan menikah. Namun, Cucum Mili dan calon suaminya tidak bisa meyakinkan Laksamana Parorot untuk percaya.


“Jika Pangeran tidak dilepas, maka saat ini juga kapal kalian akan ditenggelamkan bersama orang-orangnya!”


Itulah ancaman Laksamana Parorot.


Akhirnya, dengan berat hati dan sedih hati, Cucum Mili memilih melepas Sugang Laksama yang sudah sangat dicintainya. Jika ia memaksa untuk melawan, hanya kematian dan kehancuran yang akan mereka dapat. Satu kapal lawan sepuluh kapal. Empat puluh orang bajak laut lawan ribuan prajurit. Jelas hasilnya sudah pasti terbaca.


Ketika armada kapal perang itu bergerak pulang, Cucum Mili hanya bisa merasakan kehancuran hati. Ia menangis sendiri di dalam kamar pengantinnya yang batal diisi oleh seorang suami.


Sementara di kapal induk Armada Perang Kerajaan Singayam, Sugang Laksama tampak begitu gembira.

__ADS_1


“Akhirnya aku bebas dari para bajak laut itu. Aku memang bahagia bersama Ratu Kepiting, tetapi aku lebih bahagia jika bebas. Hahaha!” kata Sugang Laksama kepada Jura Paksa yang juga ikut dalam armada itu. 


Selanjutnya, kembali ke masa kini, di mana Alma Fatara yang sudah gadis perawan belia berdiri berhadapan dengan Cucum Mili yang kembali naik ke darat. Mereka berdiri berhadapan, menghidupkan kembali kenangan empat tahun yang lalu. (RH)


__ADS_2