Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 17: Adipati Bermain Air


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


“Appa?!” pekik Adipati Dodo Ladoyo terkejut, bersama terkejutnya keempat guru tongkat dan pejabat kadipaten lainnya.


Laporan Komandan Gegap Rawu benar-benar satu kejutan. Sang Adipati seketika dilanda kebingungan.


“Ratu siapa orang itu?” tanya Adipati Dodo Ladoyo.


“Hamba tidak tahu, Gusti,” jawab Gegap Rawu.


“Aaah, dasar prajurit bebek!” maki Adipati Dodo Ladoyo seketika berubah sikap. Ia yang awalnya bingung, jadi tersenyum sinis. “Kau telah dikerjai oleh orang-orang itu!”


“Sepertinya seperti itu, Gusti,” kata Pengemis Tongkat Bencana mendukung dugaan Adipati.


Perkataan sang adipati membuat Gegap Rawu terkejut. Ia jadi ragu, mana yang benar.


“Mereka semua berpenampilan pendekar, tidak ada tanda-tanda mereka orang kerajaan. Bahkan tanda bahwa mereka seorang bangsawan pun tidak ada,” ujar guru tongkat berjubah hitam. Kakek berhidung besar dan berjenggot itu memegang tongkat berwujud lekukan tubuh ular berwarna hijau. Kepala tongkatnya berwujud kepala ular dengan juluran lidah bercabang. Dia bernama Satria Tongkat Ular, guru dari Perguruan Tongkat Ular.


“Jika begitu, kita beri pukulan dahsyat biar Bola Hitam itu langsung beralih tangan,” usul kakek bertubuh jangkung dan berjubah kuning. Kakek berambut gondrong tapi nyaris botak itu bertongkat tebal warna merah gelap. Ia bernama Ki Rusuh, Ketua Perguruan Tongkat Dua.


“Ayo, apa lagi yang Gusti Adipati tunggu!” desak Ketua Perguruan Tongkat Putih yang usianya lebih muda dari ketiga guru lainnya. Namanya Dempak Debar. Ia membawa tongkat rotan berwarna putih, tetapi perwujudan tongkatnya lebih bagus dibandingkan tongkat murid-muridnya.


Adipati Dodo Ladoyo sejenak memandang keempat tetua pendekar tongkat itu. Mereka mengangguk kepada sang adipati, menunjukkan dukungan penuh mereka.


“Gegap Rawu, kepung orang-orang itu!” perintah Adipati Dodo Ladoyo.


“Baik, Gusti Adipati!” ucap Gegap Rawu patuh sambil menjura hormat.


Saking semangatnya demi menebus ketololannya, Komandan Gegap Rawu sampai memilih melompat turun tanpa lewat tangga.


Slip! Brack!


Apes bagi Gegap Rawu, dia justru terpeleset oleh tanah berlumpur yang licin. Ia jatuh terduduk dengan keras.


“Hahahak …!” tawa para penonton dan pendekar.


Adipati Dodo Ladoyo hanya geleng-geleng kepala.


Wajib menahan malu, Gegap Rawu segera bangkit dengan menyembunyikan rasa sakitnya.


“Semua pasukan!” teriak Gegap Rawu keras, seolah sedang menuju perang besar.


Maka, para prajurit Pasukan Keamanan Kadipaten segera berkumpul satu, membentuk pasukan dengan jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya.


Hal itu seketika membuat para warga Ibu Kota menjadi bertanya-tanya dan ramai kasak-kusuk penuh kekusutan.


“Agung Rupo, pertandingan hari ini ditunda. Lanjutkan besok!” perintah Adipati Dodo Ladoyo kepada pembawa acara.


“Baik, Gusti Adipati,” ucap Agung Rupo.


Agung Rupo lalu berkelebat di udara dengan payung yang sudah dikuncup karena hujan sudah berhenti turun. Ia mendarat di tengah-tengah arena yang basah. Beruntung dia tidak terpeleset.


“Yeee!” para penonton kembali bersorak girang, menduga bahwa pertandingan akan dilanjutkan lagi.


“Para hadirin, sekalian! Para pendekar peserta dan penonton yang aku cintai setinggi leher, dengan sangat berat hati aku umumkan, pertandingan hari ini dicukupkan sampai di sini. Ditunda. Pertandingan akan dilanjutkan lagi besok pagi!” teriak Agung Rupo.


“Yaaah!” sorak kecewa para penonton dan peserta.

__ADS_1


Riuhlah mereka saling bertanya yang tidak langsung terjawab. Mereka pun jadi penasaran, terlebih melihat pergerakan pasukan yang tidak wajar.


Mereka juga melihat sang adipati bergerak menuruni tribun atas dengan dikawal sejumlah prajurit unggulan. Para ketua perguruan juga bergerak turun dan berjalan di belakang sang adipati.


Para guru itu kemudian memberi kode kepada para muridnya yang berdudukan di tangga tribun. Murid-murid perguruan yang bersenjata tongkat itu segera bergabung.


Jalan becek membuat sang adipati disediakan seekor kuda. Sementara para guru yang diikuti oleh para muridnya masing-masing, harus rela berjalan berbecek ria.


Pergerakan besar itu membuat warga yang suka menonton keributan, jadi heboh. Mereka bisa langsung menduga ada hal besar akan terjadi, terlebih Pasukan Keamanan Kadipaten dan para pendekar menuju ke kedai makan tempat para pendekar asing sedang berada.


Gegap Rawu dan pasukannya akhirnya tiba di depan kedai makan tempat Alma Fatara dan rombongannya makan.


“Kepung!” perintah Gegap Rawu kepada pasukannya.


Pasukan Keamanan Kadipaten segera bergerak menyebar mengepung posisi kedai, membuat pemilik kedai makan dan para pelayannya cemas. Khusus pasukan panah berderet di halaman depan, melapisi pasukan bertombak.


“Kenapa sepi?” membatin Gegap Rawu heran.


Gegap Rawu dan pasukannya hanya mendapati Alma Fatara dan Cucum Mili yang berada di dalam kedai. Semua anggota rombongan Alma raib entah ke mana.


Alma Fatara dan Cucum Mili bersikap santai dalam kondisi sedang menyelesaikan makannya.


Set! Puk!


“Uhg!” keluh Gegap Rawu sampai jatuh terjengkang. Lemparan tulang ayam ke wajahnya begitu cepat, sampai-sampai dia tidak kuasa untuk menghindar atau menangkis.


Gegap Rawu bangkit dengan wajah merah kelam dan merah darah, karena hidungnya patah.


“Hahahak …!” tawa terbahak Alma melihat hasil timpukan Cucum Mili. “Tidak terbayang jika kau menimpukku seperti itu, bisa-bisa gigiku copot dua lagi. Hahahak!”


Ingin rasanya Gegap Rawu menyerbu masuk, tetapi Adipati hanya memerintahkan sebatas mengepung.


“Kenapa mereka hanya dua orang?” tanya Adipati Dodo Ladoyo.


“Aku tidak tahu, Gusti Adipati,” jawab Gegap Rawu.


“Bodoh!” maki Adipati Dodo Ladoyo.


Set!


Tiba-tiba sebuah tulang ayam melesat dari dalam kedai makan yang dilempar oleh Cucum Mili. Namun, Adipa Dodo Ladoyo bisa mengelak dangan memiringkan tubuh atasnya.


“Keparat sungguh terlalu!” maki Adipati Dodo Ladoyo.


“Wajar jika adipati itu bisa menghindar, kesaktiannya saja bisa merasakan keberadaan Bola Hitam,” kata Alma Fatara kepada Cucum Mili.


“Nisanak yang mengaku ratu, keluar!” teriak Adipati Dodo Ladoyo.


“Kurang sopan!” teriak Cucum Mili sambil berdiri dari duduknya.


Cucum Mili lalu menunjuk langsung Adipati Dodo Ladoyo yang duduk di atas kudanya.


“Kau! Kelancanganmu ini akan menjadi kehancuran kedudukanmu, Adipati!” teriak Cucum Mili.


Gertakan Cucum Mili membuat Adipati Dodo Ladoyo diterpa keraguan. Namun, ia kemudian tetap mencoba memilih keyakinannya bahwa kedua wanita itu adalah pendekar persilatan yang hanya menggertak belaka.


“Kalian tidak lain adalah pendekar pendusta! Keluar!” teriak Adipati Dodo Ladoyo, karena dasarnya dia pun belum berani menyerbu ke dalam. Ketenangan yang ditunjukkan oleh gadis cantik berjubah hitam yang diyakini pemilik Bola Hitam, seperti air tenang yang dihuni banyak buaya.


Alma Fatara kemudian menenggak minumannya, yang menjadi proses terakhir dari aktivitas makannya.

__ADS_1


Alma lalu mengelap bibirnya dengan ujung jubahnya yang masih basah. Ia kemudian menengok ke luar dan menatap sang adipati. Dengan ekspresi wajah yang dingin, Alma berdiri lalu melangkah meninggalkan mejanya. Cucum Mili mengikuti.


Alma Fatara berhenti tepat di ambang pintu didampingi oleh Cucum Mili di sisi kanannya. Terpukaulah para lelaki itu menyaksikan kejelitaan Alma Fatara dan keanggunan Putri Angin Merah yang misterius.


“Siapa namamu, Adipati?” tanya Alma santai sambil menunjuk sang adipati di atas kuda.


“Hahaha!” Adipati Dodo Ladoyo justru tertawa mendengar pertanyaan Alma. “Di seluruh wilayah Kerajaan Singayam hanya ada satu raja dan satu permaisuri. Aku mengenal Gusti Prabu Manggala Pasa dan siapa permaisurinya. Siapa kau yang berani mengaku sebagai seorang ratu? Bahkan kau tidak tahu siapa nama penguasa Kadipaten Garuput.”


“Hahaha!” tawa Alma.


“Hahahak …!” tawa para prajurit dan pendekar ketika melihat keompongan Alma Fatara.


Alma tidak merasa terusik dengan tawa mereka.


“Kau jangan bermain air, Adipati. Aku memang bukan ratu Kerajaan Singayam, tapi aku adalah Ratu Siluman!” kata Alma Fatara.


“Hah!” terkejutlah Adipati Dodo Ladoyo dan pasukannya.


Berdebarlah jantung sang adipati dan keempat ketua tongkat.


“Kau tinggal sebut, Adipati Anu ….”


“Namaku Adipati Dodo Ladoyo!” sergah Adipati Dodo Ladoyo memotong perkataan Alma.


“Hahaha! Kau tinggal sebut, Adipati Dodo, siapa orang yang harus menjadi korban untuk membuktikan bahwa aku Ratu Siluman!” kata Alma. “Aku tidak akan keberatan jika istri dan putrimu yang akan menjadi korban terlebih dahulu.”


Terbeliaklah Adipati Dodo Ladoyo mendengar perkataan Alma Fatara.


Cucum Mili lalu melempar sesuatu ke langit.


Ctar!


Ledakan nyaring yang terjadi di udara membuat orang-orang itu terkejut dan refleks merunduk, khawatir jika kepala mereka tahu-tahu terkena sesuatu.


“Ayahandaaa!”


Tiba-tiba samar-samar terdengar satu teriakan seorang perempuan dari kejauhan.


Adipati Dodo Ladoyo dan para pendekar cepat melemparkan pandangan jauh ke belakang. Mereka melihat ke arah tribun.


Mereka melihat seorang wanita muda berpakaian kuning secantik telur rebus yang dibelah, dalam kondisi digantung di atap tribun.


“Putriku!” teriak Adipati Dodo Ladoyo kian terkejut.


Namun, mereka tidak melihat putri Adipati Dodo Ladoyo yang satu lagi.


Set!


Ihhikh!


Tiba-tiba satu anak panah yang lolos dari perhatian tahu-tahu telah menancap di dada kuda Adipati Dodo Ladoyo. Anak panah itu berasal dari atas atap kedai makan yang dilepaskan oleh Tampang Garang, yang sejak tadi bersembunyi di sana.


Tak ayal lagi, kuda tunggangan sang adipati meringkik keras dengan mengangkat tinggi kedua kaki depannya, melempar tubuh lelaki gemuk itu ke tanah becek. Si kuda lalu berlari pergi seperti kesetanan.


“Hahahak …!” tawa Alma Fatara bersama tawa para pendekar. Sementara para prajurit tidak ada yang berani menertawakan junjungan mereka.


“Jangan tertawaaa!” teriak Adipati Dodo Ladoyo murka bukan main karena menahan sakit dan malu yang lebih menyakitkan.


Para pendekar itupun berhenti tertawa.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Alma dan Cucum Mili berkepanjangan. (RH)


__ADS_2