
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
“Jadi tujuan kami datang ke sini untuk meminta Telur Gelap yang katanya ada pada diri Abang Ayu, monyet kesayangan Kakek,” ujar Alma Fatara setelah menceritakan dasar hal yang membuat Alma dan rombongan jauh-jauh datang ke sungai pinggir Alas Kutu.
Di seberang sungai itu memang adalah hutan lebat di lereng utara Gunung Alasan.
“Hehehe! Abang Ayu sudah mati lima tahun yang lalu,” jawab Pendekar Tongkat Roda yang didahului dengan kekehannya.
“Apa?! Sudah mati?!” sebut Alma Fatara dan sebagian abdinya kompak karena begitu terkejutnya.
“Jika demikian, tidak ada Telur Gelap, berarti kita harus menerima kenyataan bahwa Kakek Rereng Busa sudah mati. Tugas kita sekarang adalah pergi ke Perguruan Bulan Emas untuk menyelamatkan murid-murid Perguruan Jari Hitam yang tersisa. Jika mereka semua sudah terlanjur mati semua, jiwa kependekaran kita telah bicara, Dewa dan Setan menjadi saksi perjuangan kita!” seru Alma Fatara kepada pasukannya laksana seorang pemimpin.
“Hidup Ratu Siluman!” teriak Anjengan menyambut seruan berapi-api Alma.
“Hidup Ratu Siluman!” teriak seluruh anggota Pasukan Genggam Jagad.
“Hahaha! Semangat sekali!” komen Pendekar Tongkat Roda.
“Tapi, sebelum kami pergi ke Bukit Tujuh Kepala, kami ingin tahu, kenapa Wulan Kencana begitu menginginkan Telur Gelap sampai tega meracuni, menyandera, mungkin membunuh bekas kekasih sendiri. Kakek Tongkat Roda pasti memiliki jawabannya,” ujar Alma.
“Ya, aku memiliki jawabannya. Namun, aku hanya bisa menceritakannya kepadamu, Gusti Ratu. Biarkan mereka membuat tempat bermalam, Gusti Ratu bisa ikut aku berbincang di istanaku,” kata Pendekar Tongkat Roda.
“Berkemahlah kalian semua!” perintah Alma Fatara kepada pasukannya.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka patuh dan kompak.
“Kau tidak usah mengikutiku, Mbah Hitam!” perintah Alma Fatara.
__ADS_1
“Baik, Gusti Ratu,” jawab Mbah Hitam.
Pendekar Tongkat Roda lalu berkelebat ke sungai dan berlari di atas permukaan air sungai. Alma Fatara segera mengikuti. Ia juga berlari ringan di atas permukaan air sungai. Keduanya menuju ke gubuk panggung di tengah-tengah sungai.
“Dengan usia yang masih sangat muda, Gusti Ratu bisa mempertahankan Bola Hitam tetap ada di tangan sampai sekarang,” kata Pendekar Tongkat Roda setelah mereka berdua mendarat di teras depan gubuk.
“Guruku telah percaya bahwa aku bisa menjaga Bola Hitam dari tangan dan hati yang kotor,” kata Alma.
Slap!
Gubuk yang awalnya gelap gulita, tiba-tiba bercahaya kuning terang. Cahaya itu bersumber dari setiap bambu yang menjadi bahan dasar dari gubuk tersebut.
Jika dipandang dari pinggir sungai, gubuk itu jadi terlihat begitu indah, terlebih air memantulkan cahayanya seperti emas.
Pendekar Tongkat Roda memperlakukan Alma Fatara layaknya seorang ratu sungguhan. Alma Fatara diberi bantal untuk tempat duduk. Setelah menghormat layaknya seorang abdi, si kakek botak lalu duduk bersila di hadapan Alma dengan sikap yang penuh hormat.
“Ceritakanlah, Kek!” perintah Alma Fatara.
“Itu berarti Telur Gelap yang adalah Mustika Dewi Kenanga itu memiliki keistimewaan yang sangat dahsyat? Dan Kakek pernah menceritakannya kepada Wulan Kencana, tapi tidak kepada Kakek Rereng Busa dan Nenek Balito Duo Lido?” terka Alma yang memang adalah gadis cerdas.
“Benar terkaan, Gusti Ratu. Aku menceritakan rahasia tentang Telur Gelap kepada Wulan Kencana ketika dia menjadi kekasihku, tapi aku tidak bercerita tentang Mustika Dewi Kenanga. Sedangkan kepada Rereng Busa dan Balito, aku hanya pernah memberi tahu bahwa penyakit di leher Abang Ayu namanya Telur Gelap. Namun, aku tidak tahu jika Rereng Busa tidak tahu tentang Telur Gelap. Mungkin dia lupa atau tidak menyimak perkataanku dulu. Aku pernah mengatakan kepada Wulan Kencana, Telur Gelap bisa membuat seseorang tidak akan mati, selama Telur Gelap bersemayam di jantungnya. Dan jika orang tersebut memiliki Jarum Kesaktian milik ayah dari Dewi Kenanga, maka orang tersebut bisa mewarisi seratus kesaktian senjata pusaka yang menjadi bahan Mustika. Namun, saat aku ceritakan rahasia itu, Wulan Kencana menganggapku bergurau ….”
“Kenapa?” tanya Alma memotong.
“Jikapun memiliki Telur Gelap di jantung, cara membunuhnya jelas dengan mengambil Telur Gelap dari jantung. Menurutnya itu tidak istimewa. Dan menurutnya, tidak mungkin jika Jarum Kesaktian milik orang yang sudah mati ratusan tahun lalu masih ada sampai sekarang. Apalagi itu adalah sebuah jarum, bukan pedang atau tombak yang fisiknya lebih besar. Jadi, memiliki Telur Gelap dan Jarum Kesaktian oleh satu orang adalah hal yang tidak mungkin. Jadi aku pun tidak akan tahu alasan Wulan Kencana menginginkan Telur Gelap,” kata Pendekar Tongkat Roda.
“Cerita ini sangat menarik. Beruntung, hanya Kakek dan Wulan Kencana yang tahu ceritanya. Jika cerita ini sampai tersebar di kalangan pendekar, pasti kau akan menjadi buruan dunia persilatan, Kek,” kata Alma.
“Benar, Gusti Ratu.”
__ADS_1
“Tapi aku yakin, Kek. Aku datang ke sini tidak sia-sia. Besok aku pergi, tentunya dengan membawa Telur Gelap. Hahaha!” ujar Alma Fatara lalu tertawa.
Keyakinan Alma itu membuat Pendekar Tongkat Roda tersenyum tipis, seolah membenarkan perkataan gadis berjubah hitam itu.
“Karena Telur Gelap hakikatnya adalah Mustika Dewi Kenanga, jadi, meski Abang Ayu telah menyatu dengan tanah, Telur Gelap tetap utuh sebagai sebuah mustika. Karena itu adalah milik Kakek, aku tidak akan memaksa harus mendapatkannya. Jika Kakek Tongkat Roda tidak memberikannya, maka aku tetap akan pergi berusaha menyelamatkan Kakek Rereng Busa. Namun aku yakin, Kakek Tongkat Roda masih memiliki hati, setidaknya Kakek memandang Kakek Rereng Busa sebagai seorang sahabat, bukan pesaing cinta di masa muda,” tutur Alma.
“Hahaha! Gusti Ratu memang cerdas,” puji Pendekar Tongkat Roda setelah tertawa rendah. “Besok pagi aku akan membawa Gusti Ratu ke makam Abang Ayu dan memberikan Mustika Dewi Kenanga untuk menebus Rereng Busa.”
“Nenek Balito pergi langsung untuk menolong Kakek Rereng Busa. Kenapa Kakek Tongkat Roda tidak pergi sendiri membawa mustika itu?” tanya Alma.
“Aku sangat mengenal watak Wulan Kencana. Kedatanganku untuk menolong atau membujuk Wulan Kencana hanya akan percuma. Justru kehadiranku bisa memperburuk keadaan. Mungkin lelaki yang paling dia benci sampai saat ini masih aku, Gusti Ratu. Aku akan percayakan Mustika Dewi Kenanga kepada Gusti Ratu. Jika Gusti Ratu menginginkan mustika itu setelah menyelesaikan masalah di Perguruan Bulan Emas, aku rida. Aku sangat yakin bahwa Gusti Ratu akan menjadi ratu di golongan putih,” kata Pendekar Tongkat Roda.
“Hahaha! Benda-benda pusaka tidak menjamin nyawa seseorang akan aman selamanya, Kek. Bola Hitam bagiku cukup,” kata Alma Fatara. “Jika memang bisa, Mustika Dewi Kenanga tetap akan aku kembalikan kepadamu.”
“Aku sangat senang mengetahui bahwa golongan putih dunia persilatan kini memiliki seorang Ratu Siluman berkesaktian tinggi, penerus Raja Tanpa Tahta,” kata Pendekar Tongkat Roda.
“Jika Kakek Tongkat Roda menginginkan kebenaran berjaya, kenapa tidak menjadi abdiku dan membantuku membangun kekuatan besar di dunia luas ini? Menjadi bagian dari Pasukan Genggam Jagad tidak akan merugikanmu, tapi justru akan mengangkatmu ke derajat yang tinggi,” tawar Alma Fatara.
“Hamba Pendekar Tongkat Roda, dengan penuh kerelaan, bersumpah setia menjadi abdi Gusti Ratu Siluman, Dewi Dua Gigi!” ucap Pendekar Tongkar Roda lantang sambil bersujud di hadapan Alma Fatara.
Keputusan Pendear Tongkat Roda itu cukup membuat Alma terkesiap.
“Kenapa begitu mudahnya kau menerima tawaranku, Kek?” tanya Alma Fatara, belum menerima sumpah setia si kakek.
“Ki Ramu Empedu telah banyak bercerita tentang Gusti Ratu. Dengan Pemancing Roh dan Pangeran Kumbang Genit sebagai guru Gusti Ratu, itu sangat memperkuat kedudukan Gusti Ratu di dunia persilatan. Ditambah Gusti Ratu memegang Bola Hitam dan memiliki rasa kepedulian yang tinggi kepada sesama pendekar yang sedang lemah,” jawab Pendekar Tongkat Roda cukup lengkap.
“Baiklah, Pendekar Tongkat Roda. Sumpah setiamu sebagai abdiku aku terima. Bangunlah!” perintah Alma dengan sikap dan nada suara berwibawa.
Pendekar Tongkat Roda segera bangkit duduk kembali.
__ADS_1
“Perintah pertamaku kepadamu adalah buatlah perguruan tongkat untuk membangun Pasukan Genggam Jagad. Satu tahun kemudian, aku ingin melihat hasilnya. Siluman Gagak Biru sudah menjadi abdiku. Bekerja samalah dengannya untuk membangun basis kekuatan Pasukan Genggam Jagad di sini. Nanti aku akan bicara kepada Dato Jari Sambilan tentang hal ini, karena kita berada di wilayah kekuasaan Perguruan Pisau Merah.”
“Baik, Gusti Ratu. (RH)