Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 24: Pertempuran Pecah


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)* 


“Seraaang!” teriak Alis Darah sangat keras.


“Seraaang!” teriak banyak orang bertopeng kain biru dari arah kanan dan kiri jalan di kaki bukit.


Mendengar teriakan pertama, Panglima Besar Anjengan juga langsung berteriak komando untuk pasukannya.


“Pasukaaan! Tempuuur!” teriak Anjengan sambil mengangkat tinggi-tinggi pedang pusakanya.


“Pasukan Sayap Laba-Laba, tunjukkan bahwa kita adalah laki-laki!” teriak Panglima Arung Seto sambil cabut pedang juga.


“Pasukan Sayap Pelangi, jangan tunjukkan bahwa kalian adalah perempuan lemah!” teriak Panglima Nining Pelangi yang langsung menyalakan bara di sepuluh jari-jari hitamnya.


“Hiaaat …!” teriak para pendekar ramai-ramai meninggalkan kuda-kudanya dan menyambut serangan puluhan lelaki bertopeng kain biru.


Alma Fatara, Ineng Santi, Kembang Bulan, dan Lima Dewi Purnama pimpinan Gagap Ayu masih duduk di atas kudanya. Untuk sementara, mereka belum turun tangan.


Aliang Bowo dan mantan murid-murid Jerat Gluduk, laki-laki dan perempuan, langsung memainkan kesaktian ilmu-ilmu jeratnya. Mereka menyambut serangan permainan pedang musuh cukup dengan kegesitan, lalu menempelkan telapak tangannya pada anggota tubuh lawan. Setelah itu, mereka mundur dengan tenang.


Ctar ctar ctar …!


“Akk! Ak! Ak …!”


Anggota-anggota tubuh yang sudah mendapat sentuhan gratis dari tangan-tangan mantan murid Perguruan Bukit Dua, berledakan nyaring merusak kulit dan daging, bahkan tulang. Para lelaki berpedang yang anggota tubuhnya meledak, mereka berjeritan kesakitan. Pada umumnya, korban ilmu Jerat Ledak-Ledak tidak langsung mati, kecuali yang meledak adalah anggota tubuh yang vital.


Ternyata ada satu pemilik ilmu Jerat Ledak-Ledak yang iseng menempelkan tangannya pada depan celana lawan. Pada akhirnya, ledakan yang terjadi mencederai kehormatan. Orang itu adalah Kudapaksa.


Alis Gaib bertarung dengan penuh semangat. Dia mau merasakan sensasi bertarung menggunakan senjata kelas atas, yaitu Pedang Siluman Hijau.


Untuk kualitas fisik, Pedang Siluman Hijau hampir sama dengan Pedang Macan Setan milik Anjengan. Pedang biasa seperti pedang milik Pasukan Pedang Biru harus terima nasib, berpatahan ketika beradu dengan dua pedang pusaka tersebut.


Namun, Alis Gaib belum menguasai cara mengeluarkan kesaktian pedang barunya.


Panglima Cucum Mili bertarung dengan mudah, tidak banyak bergerak seperti emak-emak sedang hamil. Wanita bercadar merah itu nyaris tidak berpindah kaki. Hanya tangannya yang bermain. Pedang yang belum dihunus menjadi tameng dan senjata.


Di sisi lain, pedang yang datang menyerang Panglima Nining Pelangi harus patah ketika beradu dengan jari-jari tangan yang membara. Lawan yang datang pun berjeritan karena ditusuk jari-jari yang membara.


Gendis dan Lilis Kelimis sudah bisa bertarung dengan sengit menggunakan tombaknya. Lukanya sudah tidak begitu masalah karena pengobatan Belik Ludah tergolong mujarab. Kelas mereka masih terlalu tinggi bagi para anggota Pasukan Pedang Biru. Mereka berdua tidak sungkan membunuh.


Sementara itu, Murai Ranum dan Roro Wiro cukup bertarung dengan tangan kosong, mengandalkan pukulan dan tendangan.


Arung Seto bertarung hebat pula. Ia masih tangguh bagi lawan-lawannya. Tangan kanan memainkan pedang dan tangan kiri mengandalkan ilmu setrum.


Kalang Kabut bertarung seperti orang mengamuk. Bertarung massal seperti ini adalah kedoyanannya. Tinju-tinjunya ternyata bisa beradu dengan tajamnya pedang tanpa melukai kulitnya.


“Hahaha! Ayo maju mendekat, Manis. Ke mari, ke mari, biar aku cium dengan tinjuku!”


Bak bak buk …!


Setelah memanggil lawannya seperti memanggil kucing, Kalang Kabut lalu menghujani lawannya dengan tinju yang cepat dan bergaya.


“Hahaha!” tawa Kalang Kabut sambil sesekali mengusap rambutnya.

__ADS_1


Set set set …!


Juling Jitu pun semakin berkelas dengan senjata-senjata beracunnya yang berupa keris-keris mini, keris-keris yang selalu dipungutnya kembali setelah dilesatkan. Ia tidak mau banyak menggunakan jarum beracunnya, karena itu sulit dipungut jika sudah dilesatkan.


Beda lagi gaya bertarung yang ditunjukkan oleh Geranda. Bendahara Kerajaan Siluman itu tidak turun dari punggung kudanya yang banyak uang. Banyaknya uang yang keluar karena pertaruhan kemarin, tidak membuatnya kehabisan uang. Kepeng menjadi senjata barunya tanpa harus repot-repot memukul, menendang atau menangkis.


Set!


“Akh!”


Set!


“Akh!”


Set!


“Akh!”


Geranda dengan tenang melesatkan kepengnya satu per satu kepada musuh yang datang mendekati kudanya. Kepeng-kepeng itu melesat masuk ke dalam daging orang yang terkena, menimbulkan luka yang menyakitkan, tapi tidak membunuh.


Penombak Manis tetap menjadi petarung yang tidak tersentuh karena dengan mudah bisa membaca arah gerakan lawan. Justru senjata tombaknya dengan mudah mengenai lawan, tidak pernah meleset. Lagi-lagi itu karena kesaktian Sisik Putri Samudera yang ada di keningnya.


Paling berbeda adalah Gede Angin. Dia bertarung dengan gaya berbeda. Anak raksasa itu mencabut satu pohon petai sebesar pergelangan tangannya. Batang pohon itu ia jadikan sebagai senjata yang memiliki jangkauan lebih panjang.


“Hiaaat!” teriak dua lelaki berpedang yang berlari kepada Gede Angin.


Namun, keduanya harus terjengkang ketika mereka disosor oleh ranting dan dedaunan pohon petai.


Ketika mereka hendak bangkit, keduanya terlempar jauh usai dihantam sabetan batang pohon yang sangat kuat.


“Huahaha!” tawa Gede Angin seperti anak raksasa.


Di sisi lain, Begar dan Nuri Glatik bertarung bahu-membahu bersama tiga rekan pendekar lainnya.


Yang paling panik dalam pertempuran itu adalah trio gendut. Betok, Kungkang dan Jungkrik panik bukan karena menjadi target serangan, tetapi karena mencemaskan para kuda yang ditinggal. Mereka takut jika-jika kuda-kuda yang panik jadi setres dan kemudian pingsan atau kabur tanpa pamit.


“Kangkung, cepat ikat kuda-kudanya sebelum mereka lari!” teriak Jungkrik panik.


“Woi, duda-duda! Eh ealah. Woi, kuda-kuda, jangan pergi tanpa demit! Eh eala, tanpa pamit maksud Kakang Sayang!” teriak Kungkang kepada para kuda-kuda yang panik karena berada di tengah-tengah pertempuran.


“Kangkung! Cepooot! Ayyah, kok jadi latah?” teriak Betok sambil menarik tali dua ekor kuda. Lalu teriaknya lagi kepada Kungkang, “Cepaaat!”


“Iya iya iya!” sahut Kungkang.


Set! Tseb!


“Akh!” jerit seorang lelaki bertopeng yang berlari datang kepada Kungkang, saat dia tahu-tahu tertembus anak panah dan jatuh tersungkur di dekat kaki Kungkang.


“Jiaaak!” pekik Kungkang sangat terkejut dan spontan terlompat seperti kucing dikejutkan tikus bertopeng.


Dia segera melemparkan pandangan ke arah sumber anak panah datang. Dilihatnya di atas dahan sebatang pohon, ada seorang wanita muda cantik berpanah yang tersenyum lebar sambil melambaikan tangan kepadanya. Wanita itu tidak lain adalah Serintik, Anggota Pasukan Sayap Panah Pelangi.


Kungkang langsung merasakan jantungnya tersiram embun pagi yang sejuk. Ia pun jadi tersenyum dengan pandangan yang berhalusinasi.

__ADS_1


“Oh kekasih hamilku. Eh ealah, kekasih hatiku. Hihihik!” ucap Kungkang lalu cekikikan sendiri seperti orang mendadak dangdut. Hayya! Kok mendadak dangdut? Mendadak kasmaran maksudnya.


“Kangkung, awas di belakangmu!” teriak Jungkrik terkejut sambil menunjuk ke belakang Kungkang.


Kungkang terkejut dan cepat menengok ke belakang.


“Jiaaak!” pekik Kungkang lebih terkejut lagi karena ada pedang sudah terangkat tinggi siap menebas ubun-ubunnya.


Set! Tseb!


“Akk!” jerit lelaki bertopeng dengan pedang tertahan di atas, saat satu anak panah tahu-tahu menembus batang lehernya dari belakang.


“Akk!” jerit Kungkang panjang seolah dia juga terkena tusukan anak panah. Setelah tersadar, Kungkang buru-buru membekap mulutnya sendiri. Ia cepat melihat ke arah datangnya anak panah.


Di atas pohon yang lain, seorang wanita muda lagi cantik melambai tangan kepada Kungkang sambil tertawa cekikikan seperti kuntilanak. Dia adalah Bening Hati, Anggota Pasukan Sayap Panah Pelangi.


“Oh, calon istri tuaku,” ucap Kungkang dengan wajah seperti orang mabuk air tajin. “Eh ealah, calon istri keduaku maksudku. Hihihik!”


“Kangkung! Ikat kudanya. Ikat kudanya!” teriak Betok kesal melihat tingkah Kungkang yang kegenitan.


“Suap! Eh, siap!” teriak Kungkang patuh.


Seperti sekumpulan cacing tanah masuk ke dalam kurungan ayam yang lapar. Seperti itulah nasib Pasukan Pedang Biru saat menyerbu Pasukang Genggam Jagad. Pasukan Pedang Biru dengan cepat bertumbangan satu demi satu menjemput maut.


Posisi Pasukan Sayap Panah Pelangi yang mengurung pusat pertempuran dari jarak jauh, membuat mereka dengan mudah memanahi anggota Pasukan Pedang Biru seperti semudah memetik buah cabai dan tomat.


“Bayang Putih, apa yang harus kita lakukan? Ini seperti bunuh diri. Pasukan Pedang Biru pasti habis,” kata Tengkorak Telur Bebek tegang. Mereka berdua memang tidak langsung terjun ke dalam pertempuran.


“Tapi kita akan jadi pecundang jika tidak turun bertempur,” kata Tengkorak Bayang Putih.


“Seraaang!”


Tiba-tiba terdengar suara teriakan komando yang keras dari ujung jalan kaki bukit.


“Seraaang!” teriak banyak orang sambil muncul berlari dari ujung jalan. Jumlah mereka puluhan. Anggap saja ada lima puluh orang bertopeng kain biru.


Kelompok baru dari Pasukan Pedang Biru itu berlari kencang di tanah dan di udara menuju masuk ke pertempuran. Kemunculan mereka cukup mengejutkan Alma Fatara dan pasukannya. Namun, itu masih belum menjadi masalah.


Rombongan itu akan bertemu langsung dengan Ratu Siluman dan pengawalnya.


“Bertarung sampai mati!” teriak Alis Biru, Ketua Pasukan Pedang Biru, mengomandoi pasukannya yang baru terjun.


“Ayo kita juga turun!” ajak Tengkorak Bayang Putih.


Kedua pemuda itu segera keluar dari persembunyiannya dan berkelebat di udara masuk ke dalam pertempuran.


Set! Teb!


Tengkorak Telur Bebek langsung disambut oleh lesatan sebatang tombak bagus. Alangkah terkejutnya Tengkorak Telur Bebek, tetapi dia masih bisa mengelak, membuat tombak tersebut menancap di batang pohon.


Setelah itu, giliran yang punya tombak datang berkelebat menyerang Tengkorak Telur Bebek, yaitu Penombak Manis.


“Hai Tampan!” sapa Murai Ranum yang muncul menghadang Tengkorak Bayang Putih dengan senyum dan tatapan menggodanya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2