
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Tubuh Gagap Ayu yang diselimuti sinar biru gelap melayang di udara. Pose tubuhnya tidak seperti waktu pertama dia kerasukan ilmu Mata Raja Elang, yang melayang seperti sedang digantung oleh dedemit. Kali ini, Gagap Ayu seperti berdiri di udara, bukan seperti digantung.
“Se-se-sekalian aku mencoba ke-ke-kesaktian ba-ba-baru!” kata Gagap Ayu.
Nining Pelangi yang akan menjadi target, telah bersiap menghindar atau menangkis.
Sresb!
“Wow!” kejut kebanyakan penonton ketika tiba-tiba di punggung Gagap Ayu muncul sayap burung raksasa yang membentang lebar, tapi berbahan sinar merah.
Penampakan sayap itu adalah yang pertama dilihat oleh rekan-rekan Gagap Ayu, termasuk Cucum Mili. Sebelumnya Gagap Ayu tidak pernah menunjukkan sayap sinar seperti itu.
Melihat hal luar biasa seperti itu, Anjengan yang baru datang bersama Arung Seto dan yang lainnya cepat bertindak.
“Gagap Ayu! Kau bisa melukai saudara sendiri!” teriak Anjengan.
Jleg!
Anjengan melompat tinggi di udara lalu mendarat keras di atas panggung.
“Ingat! Satu saudara, satu darah, satu kehormatan, satu kejayaan dan satu lelaki!” kata Anjengan dengan membentak Gagap Ayu dan Nining Pelangi. Lalu katanya dengan keras kepada Gagap Ayu, “Ayu, turun!”
Gagap Ayu tidak membantah. Dia bergerak turun dan mendarat tanpa suara di lantai panggung. Sinar yang menyelimuti tubuhnya lenyap seketika. Itu artinya Gagap Ayu sudah tidak berbahaya.
“Jika kalian mencintai lelaki yang sama, lebih baik saling berbagi daripada saling merusak!” kata Anjengan lagi.
“Jika kalian bertarung hanya untuk meributkan lelaki, lebih baik hentikan pertarungan kalian!” kata Cucum Mili pula. Lalu ucapnya kepada dirinya sendiri, “Bikin aku kangen saja.”
Ketiga wanita itu jadi memandang kepada Cucum Mili yang kemudian berkelebat lembut di udara, laksana burung tanpa pasangan dengan warna merahnya yang indah. Gerakan terbang Cucum Mili yang begitu menjiwai perasaan rindunya saat itu, membuat kaum batangan terpana melihat kecantikan yang jarang-jarang melintas.
“Burung pejantannya datang!” teriak Geranda bersikap seru.
Plok plok plok …!
Kedatangan Arung Seto membuat orang ramai bertepuk tangan dengan semarak, seolah-olah sedang menyambut kedatangan sang pangeran cinta yang memang tampan. Jika dibolehkan, mungkin semua wanita sudi berebut memperebutkan cinta, hati dan wajah Arung Seto.
Ada yang tampan seperti Mbah Hitam, tapi suaranya mengerikan. Ada Giling Saga, tapi sudah dinikmati oleh Guling Nikmat. Ada Juling Jitu, tapi sudah terlanjur punya si pesek manis.
Arung Seto lalu bergegas berkelebat ke atas panggung. Nining Pelangi dan Gagap Ayu menatap tajam kepada sang pujaan jantung, tapi di dalam hati mereka berbunga-bunga seperti tersirami hujan duit.
“Kenapa kalian bertarung? Apakah kalian bertarung memperebutkanku?” tanya Arung Seto dengan wajah cemas.
“Tidak!” jawab Nining Pelangi dan Gagap Ayu kompak tanpa ada yang gagap.
Terkesiap Arung Seto jadi kecele. Rasa sakitnya bukan lagi di hati, tapi di jempol kaki.
__ADS_1
“Hahahak …!” tawa Anjengan mendengar sikap kedua wanita cantik itu.
Tawa Anjengan membuat Nining Pelangi dan Gagap Ayu tersenyum menahan tawa.
Tiba-tiba seorang wanita berpakaian kuning datang berkelebat di udara dan mendarat lembut di lantai panggung.
“Gagap Ayu dan Nining Pelangi diperintahkan menghadap Gusti Ratu di Ruang Purnama,” ujar wanita separuh baya yang adalah Kawal Rindu.
“Hah, akhirnya!” kata Anjengan seraya tersenyum gemas.
“Kau juga, Arung Seto!” kata Kawal Rindu.
“Hahaha!” tawa Anjengan menertawakan Arung Seto.
Sementara Nining Pelangi dan Gagap Ayu hanya cemberut.
Singkat cerita.
Di Ruang Purnama sudah ramai. Posisi Arung Seto berlutut di antara Nining Pelangi dan Gagap Ayu yang juga berlutut menghadap ke arah singgasana batu Ratu Siluman.
Sementara massa yang penasaran dengan jalan cerita cinta dua burung betina dan satu burung jantan, berdiri berkumpul di area agak belakang. Hanya ada beberapa petinggi yang hadir menyaksikan sidang sengketa cinta itu.
Alma Fatara telah duduk di tahta batunya. Hari ini ia berpenampilan serba hitam sebagaimana biasa. Ia tetap dikawal oleh Mbah Hitam dan empat murid wanita utama.
Hadir pula si cantik jelita Suraya Kencani bersama Mbah Lawut dan Rereng Busa.
Ada pemandangan lain, yaitu Balito Duo Lido yang duduk sendiri di posisi yang agak tinggi di sisi kanan tangga yang menuju ke tahta.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Balito Duo Lido.
Khalayak jadi bertanya-tanya di dalam kepala, apa yang akan dilakukan oleh Balito Duo Lido.
“Dengarkan semua!” seru Balito Duo Lido agak keras, membuat suasana diam hening, tanpa ada yang berani bersuara. Kali ini mulut si nenek tidak dipenuhi oleh kunyahan daun sirih. Lalu serunya lagi, “Siapa pun anggota Pasukan Genggam Jagad atau warga Kerajaan Siluman yang berselisih dengan anggota atau warga lainnya, maka akan disidang agar tidak terjadi pelanggaran terhadap pedoman satu saudara, satu darah, satu kehormatan, dan satu kejayaan. Kalian semua paham?”
“Paham!” jawab serentak semua abdi.
“Saat ini aku dinobatkan sebagai Hakim Agung Kerajaan Siluman. Wewenangku berlaku terhadap semua abdi di dalam Kerajaan Siluman. Saat ini, aku akan mengadili sengketa cinta antara Arung Seto, Nining Pelangi dan Gagap Ayu,” kata Balito Duo Lido. Lalu serunya dengan keras, “Sidaaang dimulai!”
Paak!
“Aak!” pekik terkejut sejumlah wanita saat Balito Duo Lido tiba-tiba bertepuk sekali.
Suara tepukan itu terdengar begitu kencang karena mengandung tenaga dalam. Bukan saja para wanita yang terkejut, kaum lelaki juga hampir dibuat jantungan.
“Arung Seto, Nining Pelangi, Gagap Ayu, apakah kalian bersedia diadili?” tanya Balito Duo Lido.
“Hamba siap, Gusti!” jawab Arung Seto dan Nining Pelangi.
“Ha-ha-hamba siap, Gu-gu-gusti!” jawab Gagap Ayu terlambat.
__ADS_1
“Hihihi …!” tawa Suraya Kencani mendengar kegagapan Gagap Ayu.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara, bukan menertawakan Gagap Ayu, tetapi karena Suraya Kencani menertawakan Gagap Ayu.
“Siapa yang memulai perkelahian?” tanya Balito Duo Lido kepada ketiga tersangka.
“Nini Nining, Gu-gu-gusti!” jawab Gagap Ayu.
“Apakah benar, Nining?” tanya Balito Duo Lido.
“Be-be-benar, Gusti,” jawab Nining Pelangi tergagap.
“Hahaha! Nining ketularan gagap!” teriak Gede Angin tiba-tiba sambil tertawa menunjuk kepada Nining Pelangi.
“Hahaha …!” tertawa riuhlah rakyat Kerajaan Siluman, mengacaukan suasana sakral dari persidangan tersebut.
“Tenaaang!” seru Balito Duo Lido.
Mereka yang tertawa kembali tenang. Sementara Gede Angin tersenyum-senyum sambil memandang kepada rekan-rekannya bergantian. Ia begitu antusias mengikuti persidangan itu.
“Nining Pelangi, jelaskan alasanmu mengajak Gagap Ayu bertarung!” perintah Balito Duo Lido.
“Ini cerita dua burung betina yang rebutan satu burung jantan, Gusti! Hahaha!” teriak Gede Angin lagi lalu tertawa sendiri dengan suara besarnya.
Alma Fatara, Hakim Balito dan yang lainnya jadi memandang kepada Gede Angin.
Tak!
“Adduh!” pekik Gede Angin saat kepalanya dipukul oleh Penombak Manis dengan tombaknya.
“Yang menyuruhmu bicara siapa? Ini persidangan, jangan asal bicara jika tidak diminta!” bentak Penombak Manis.
“I-i-iya!” ucap Gede Angin dengan wajah mengerenyit sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.
“Gede Angin ketularan gagap! Hahahak!” pekik Anjengan tiba-tiba lalu tertawa.
“Hahaha …!” tawa hadirin ramai-ramai.
Suasana pun kembali kacau.
“Hahahak!” Ternyata Alma Fatara juga tertawa mendengar lelucon di lantai bawah.
“Diam!” bentak Balito Duo Lido keras dan mengandung tenaga dalam.
Seketika hening. Suara tawa itu seolah pindah ke alam sebelah. Alma pun berhenti mendadak mendengar bentakan Hakim Agung. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.