
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Selain para murid Perguruan Bulan Emas yang berlatih di bawah bimbingan Ketua Murid Menengah Janur Sawan, ada pula Kembang Bulan dan Arung Seto yang ikut berlatih. Namun, kakak adik itu berlatih berdua sendiri, tidak mengikuti gerakan-gerakan murid-murid Bulan Emas. Posisi mereka juga agak terpisah.
Di sudut lain, ada pula Panglima Pasukan Genggam Jagad yang terus berupaya meningkatkan tenaga dalamnya. Dalam beberapa hari belakangan, Anjengan memang fokus berlatih untuk meningkatkan tenaga dalamnya.
Di saat sedang serius-seriusnya berlatih, tiba-tiba ada seorang lelaki besar datang berlari tergesa-gesa.
“Arung Seto! Arung Seto!” panggil lelaki besar yang tidak lain adalah Gede Angin.
Bukan hanya Arung Seto dan Kembang Bulan yang terkejut seiring menghentikan gerakan latihan, murid-murid Bulan Emas juga jadi menghentikan latihannya. Demikian pula Anjengan. Sepasang matanya yang terpejam jadi melek sebelah.
“Ada apa, Gede?” tanya Arung Seto.
“Kau harus segera memisahkan dua burung betina yang sedang memperebutkan burung jantanmu!” kata Gede Angin berapi-api.
“Hah!” kejut Arung Seto karena Gede Angin menyebut “burung”.
Kembang Bulan juga terkejut, tapi bingung tidak mengerti. Entah bagaimana, tidak mengerti maksudnya tapi bisa terkejut. Mungkin dia latah mengikuti kakaknya.
“Apa yang kau maksud, Gede. Aku tidak mengerti,” tanya Arung Seto.
“Burung betina yang bernama Nining Pelangi dan Gagap Ayu sedang bertarung memperebutkanmu!” tandas Gede Angin. “Jika kau tidak memisahkan mereka, bisa-bisa salah satunya akan tewas!”
“Hah! Mereka bertarung memperebutkanku? Bukankah aku ada di sini? Apaku yang diperebutkan?” tanya Arung Seto lugu.
“Kata Kakang Gede, burung jantan Kakang yang diperebutkan. Hihihi!” kata Kembang Bulan lalu tertawa nyaring.
“Hahaha …!” tawa murid-murid Bulan Emas yang menyimak perbincangan mereka.
“Cepat, kau harus memisahkan mereka, Arung!” tandas Gede Angin.
“Kenapa bukan kalian saja yang memisahkan mereka?” tanya Arung Seto sewot lalu buru-buru berlari keluar dari tempat latihan.
Gede Angin dan Kembang Bulan segera mengikuti.
“Ayo kita lihat apa yang terjadi!” seru Janur Sawan kepada murid-murid latihnya.
“Ayo, ayo, ayo!” ucap para murid itu semangat.
Melihat bubarnya semua orang, mau tidak mau Anjengan juga menghentikan latihannya. Ia pun segera berlari mengikuti.
Namun, setibanya di luar area latihan, Arung Seto justru berhenti mendadak, membuat yang mengikuti juga berhenti mendadak. Murid-murid Bulan Emas menabrak rekan-rekannya.
“Hahaha!” tawa sebagian dari mereka.
“Di mana mereka bertarung?” tanya Arung Seto kepada Gede Angin.
“Di panggung pesta di belakang!” jawab Gede Angin.
Arung Seto segera berlari menuju ke area belakang perguruan.
“Bagaimana bisa mereka bertarung?” tanya Arung Seto lagi kepada Gede Angin.
“Seperti ini ceritanya ….”
Beberapa saat yang lalu, panggung besar yang tinggi karena ditopang tiang-tiang kayu yang tebal sudah selesai seratus persen.
__ADS_1
“Siapa yang mau menjajal panggung ini?” seru Cucum Mili kepada khalayak di lokasi yang akan menjadi tempat pesta besok.
“Aku menantang Gagap Ayu bertanding di atas panggung!” seru Nining Pelangi yang sedang bersama Rinai Serintik.
Gagap Ayu yang sedang bersama Penombak Manis, Alis Gaib, Geranda, dan Gede Angin, jadi terkejut mendengar tantangan itu.
“Bagaimana, Ayu? Apakah kau siap bertanding di panggung baru?” tanya Cucum Mili.
Semua orang memandang kepada Gagap Ayu.
“Ke-ke-kenapa kau me-me-menantangku?” tanya Gagap Ayu kepada Nining Pelangi.
“Aku hanya ingin mengukur kemampuanku. Sepertinya kau bisa menjadi lawanku yang seimbang,” kilah Nining Pelangi.
“Aku ti-ti-tidak mau!” tolak Gagap Ayu.
“Ternyata aku salah menilai. Kau ternyata seorang pengecut!” ejek Nining Pelangi.
“Jaga mulutmu, Nining!” hardik Penombak Manis marah sambil menunjuk wajah Nining Pelangi yang berjarak tiga tombak dari mereka. “Aku melihat wajahmu menunjukkan rasa cemburu!”
“Kau jangan sembarangan menuduh!” balas Nining Pelangi dengan mata mendelik pula.
“Aku memiliki Sisik Putri Samudera. Jadi aku bisa membaca wajah orang yang berniat licik sekalipun. Aku melihat rasa cemburu di wajahmu!” tandas Penombak Manis.
“Ke-ke-kenapa kau ce-ce-cemburu kepadaku? Apakah kau ce-ce-cemburu ka-ka-karena aku gagap?” tanya Gagap Ayu kepada Nining Pelangi.
“Hahaha …!” tawa rekan-rekan Gagap Ayu dan murid-murid Bulan Emas serta Jari Hitam yang ada di area itu.
Memerahlah wajah Nining Pelangi ditertawakan seperti itu. Ia tiba-tiba berkelebat naik ke atas panggung yang tingginya lebih tinggi dari kepala mereka.
“Ayu, Nining Pelangi sudah naik panggung. Jika kau tidak naik dan memenuhi tantangannya, namamu akan berubah jadi Gagap Layu,” kata Geranda mengompori.
“Ti-ti-tidak akan aku bi-bi-biarkan itu terjadi!” tegas Gagap Ayu. Lalu teriaknya, “Ja-ja-jangan la-la-lari!”
“Bertarung jangan sampai saling membahayakan!” kata Cucum Mili mengingatkan.
“Aku tidak akan membunuhnya, tapi hanya akan membuatnya merasa tidak pantas mendekati Arung Seto!” kata Nining Pelangi.
Terkejutlah sebagian orang mendengar kata-kata Nining Pelangi yang menyebut nama Arung Seto.
“Oooh, be-be-benar kata Mama Manis. Kau ce-ce-cemburu!” tukas Gagap Ayu.
“Jangan banyak bicara. Kita tunjukkan siapa yang lebih pantas berdampingan dengan Arung Seto. Hiaat!” seru Nining Pelangi lalu bergerak maju dengan jari-jari hitamnya.
Buk!
“Hukh!”
Belum lagi Nining Pelangi sampai kepada lawannya, Gagap Ayu telah membuat Nining terjajar sambil mengeluh memegangi perutnya yang terkena satu tinju jarak jauh.
“Ti-ti-tidak akan aku bi-bi-biarkan!” tegas Gagap Ayu dalam ketergagapannya.
Sementara itu di bawah, Geranda memainkan jiwa judinya.
“Ayo, jika kalian punya uang, jagokan pendekar wanita pilihan kalian!” teriak Geranda sambil berjalan ke depan-depan orang yang menonton pertarungan tersebut.
Sebagai murid-murid yang memiliki jadwal makan yang tetap di dalam perguruan, jarang di antara mereka yang memiliki uang saku. Namun, tetap ada yang memiliki uang untuk dijadikan modal taruhan.
“Aku bertaruh untuk Nining Pelangi!” seru seorang murid lelaki Perguruan Jari Hitam.
__ADS_1
“Ayo siapa lagi? Ayo ayo ayo!” teriak Geranda ramai sendiri.
“Aku pilih Gagap Ayu!” seru Alis Gaib sambil mengeluarkan kepengnya.
Beberapa murid Bulan Emas yang punya kepeng, segera mengeluarkan uangnya dan memasang taruhannya. Ternyata banyak yang bertaruh untuk Gagap Ayu.
“Gede Angin, cepat panggil Arung Seto untuk memisahkan mereka berdua. Jangan sampai Gusti Ratu datang sebelum pertarungan ini selesai!” kata Penombak Manis kepada Gede Angin.
“Baik!” ucap Gede Angin. Ia segera berlari pergi. Dia tahu di mana harus mencari Arung Seto.
Buk! Buk! Buk!
Setiap kali Nining Pelangi hendak bergerak maju, tinju jarak jauh Gagap Ayu lebih dulu menghantamnya, membuatnya harus terdorong. Pada tinju keempat, Nining Pelangi sampai terjengkang.
Masih untung, Gagap Ayu melepaskan tinju jarak jauhnya dengan tenaga yang terbatas, tidak sampai melukai murid Rereng Busa itu.
Namun, Nining Pelangi semakin marah karena ia merasa dipermalukan. Ia tidak berpikir, kenapa tenaga tinju jarak jauh Gagap Ayu tidak melukainya, hanya mendorong saja.
Wut wut wut!
Nining Pelangi tidak menyerah. Ia lebih bersiap menghadapi serangan jarak jauh Gagap Ayu. Terbukti, tiga tinju online Gagap Ayu bisa Nining Pelangi hindari berturut-turut sambil maju bertahap. Hingga akhirnya, Nining Pelangi bisa melompat maju dengan cepat mencapai posisi Gagap Ayu.
Gagap Ayu gesit meladeni pertarungan jarak dekat Nining Pelangi. Meski bertarung jarak dekat, tetapi tinju Gagap Ayu masih berfungsi.
Namun, pada dasarnya level Gagap Ayu ada di bawah Nining Pelangi. Gagap Ayu beru dua tahun berguru ilmu kesaktian, tetapi Nining Pelangi sudah lebih lima belas tahun. Karena itu, dalam waktu singkat, Gagap Ayu terdesak.
Gagap Ayu cepat terdesak karena ia tidak berani bentrok serangan dengan jari-jari hitam Nining Pelangi.
Babak! Dak!
Justru dua tendangan beruntun yang menghajar dada Gagap Ayu dan disusul satu kibasan kaki ke wajah. Gagap Ayu terbanting di lantai panggung.
“Arung Seto adalah kekasihku, jangan lagi kau mendekatinya, Gagap!” teriak Nining Pelangi dengan jari-jari yang kini membara merah.
Menyaksikan hal itu, sebagian penonton menjadi terkejut, terutama dari rekan-rekan Nining Pelangi sendiri sesama murid Jari Hitam.
“Apa yang ingin kau lakukan, Nining!” teriak Brata Ala.
“Jangan ada yang memisahkan kami!” teriak Nining Pelangi tanpa mengalihkan pandangan tajamnya kepada Gagap Ayu yang bergerak bangkit.
Gagap Ayu juga telah tersulut kemarahannya, karena ia menilai Nining Pelangi tidak main-main. Terlebih kini murid Rereng Busa itu sudah menyalakan jari-jari hitamnya.
“Se-se-sepertinya kau memang ingin be-be-bertarung sungguhan. Ba-ba-baik, akan aku be-be-beri!” kata Gagap Ayu serius.
Tiba-tiba Gagap Ayu melompat mundur. Ketika ia sudah memasang kuda-kuda, ia pun menghujani Nining Pelangi dengan Tinju Karang Baja-nya, tetapi dengan kekuatan separuh.
Beg beg beg …!
Nining Pelangi yang sudah memiliki cara menghadapi tinju jarak jauh Gagap Ayu, menangkis semua tinju jarak jauh itu dengan telapak tangan berbekal tenaga sakti yang tinggi.
Swess swess swess …!
Nining Pelangi benar-benar serius ingin melukai Gagap Ayu, terbukti dia melesatkan lima sinar biru kecil berekor.
Cepat Gagap Ayu melompat naik ke udara menghindari serangan yang bisa menjebol tubuhnya itu. Di udara, tubuh Gagap Ayu tiba-tiba bersinar biru gelap dan dililit oleh garis sinar hijau. Setelahnya, Gagap Ayu tidak turun lagi ke gelanggang, tetapi melayang mengerikan memandang kepada Nining Pelangi.
Rekan-rekan Gagap Ayu terkejut. Mereka tahu bahwa itu adalah ilmu baru Gagap Ayu yang diberikan oleh batu Mata Raja Elang. Nining Pelangi yang melihat hal itu, tiba-tiba merasa gentar juga. Ia bisa merasakan kuatnya aura dari kesaktian itu. Gagap Ayu bisa melayang saja, menunjukkan bahwa ilmu itu adalah kesaktian tingkat tinggi. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.