
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Setelah melakukan pertemuan pagi dengan seluruh murid Perguruan Jari Hitam, Riring Belanga sebagai murid tertinggi Rereng Busa memutuskan, penyerbuan ke Perguruan Bulan Emas dihentikan.
Riring Belanga juga memutuskan, dia bersama Balito Duo Lido, Brata Ala, dan Nining Pelangi yang akan pergi bertemu dan bernegosiasi ke Perguruan Bulan Emas. Murid lainnya harus menunggu hasil dari pertemuan di Perguruan Bulan Emas.
Brata Ala akan menjadi penunjuk jalan. Adapun Balito Duo Lido, dia pernah datang ke Perguruan Bulan Emas, tetapi itu sudah sangat lama, jadi dia sudah agak-agak lupa.
“Bagaimana dengan Kakang Dendeng, Kakak Riring?” tanya Gelis Sibening pada akhir-akhir pertemuan.
“Kau memiliki hubungan apa dengan Dendeng Pamungkas?” tanya Riring Belanga. Ia memang tidak mengenal Gelis Sibening. Saat terakhir ia meninggalkan Perguruan, Gelis Sibening belum masuk sebagai murid Jari Hitam.
“A-aku istrinya, Kakak Seperguruan,” jawab Gelis Sibening.
Riring Belanga yang memiliki karakter mahal senyum itu terdiam sejenak sambil memandangi Gelis Sibening. Tadi malam dia sudah mendengar laporan Brata Ala tentang Dendeng Pamungkas yang ada kemungkinan telah tewas.
“Ada kemungkinan dia tertangkap. Aku akan berusaha meminta pembebasan mereka kepada Ketua Perguruan Bulan Emas,” jawab Riring Belanga akhirnya.
Gelis Sibening hanya mengangguk dengan warna muka yang menyiratkan rasa cemas. Jernih Mega yang duduk di sisi Gelis Sibening hanya mengusap-usap punggung wanita cantik itu agar merasa lebih tenang.
“Lalu aku bagaimana, Gusti Panglima?” tanya Arung Seto kepada Riring Belanga.
“Kau di sini saja. Kau tidak punya urusan di Perguruan Bulan Emas. Tunggulah kedatangan Alma Fatara, mungkin tidak akan lama lagi dia datang,” jawab Riring Belanga.
“Alma akan datang?” tanya Rinai Serintik bernada girang.
“Alma akan datang!” ucap murid yang lain memberi tahu rekan-rekannya, padahal sama-sama dengar.
Suasana mendadak berubah gembira, seolah ada harapan besar di depan. Riring Belanga merasa cukup terkejut melihat reaksi para adik seperguruannya ketika mendengar nama Alma Fatara disebut.
Akhirnya, berangkatlah Riring Belanga, Balito Duo Lido, Brata Ala, dan Nining Pelangi menuju Perguruan Bulan Emas. Mereka menunggang kuda karena mereka bermaksud datang terang-terangan sebagai tamu.
Meski keberangkatan kali ini bukan malam, tetapi Brata Ala hapal rute yang ditempuhnya tadi malam.
__ADS_1
Di pos pertama penjagaan wilayah kekuasaan Perguruan Bulan Emas, rombongan Riring Belanga harus berhenti. Pos itu telah diisi oleh murid-murid Bulan Emas. Kali ini jumlahnya naik menjadi sepuluh penjaga.
“Sampaikan kepada ketua kalian, aku Riring Belanga, Panglima Pamungkas Kerajaan Singayam ingin bertemu!” seru Riring Belanga kepada penjaga pos satu.
Para murid penjaga itu sejenak saling pandang sesamanya. Sebab, mereka melihat Riring Belanga tidak berpakaian sebagai seorang perwira kerajaan dan jari-jari tangannya hitam semua, bahkan mengilap seolah terbuat dari logam. Jari-jari tangan Riring Belanga adalah tanda bahwa ia sudah mencapai tingkat tertinggi di Perguruan Jari Hitam, yaitu Kelas Jari Emas Hitam. Selain dia, masih ada dua murid lain yang di tingkat itu.
“Jika kalian ragu, ini adalah lencana kepanglimaanku di Kerajaan Singayam!” tandas Riring Belanga sambil menunjukkan selempeng emas bercetak gambar kepala singa.
“Baik, kami minta Gusti Panglima menunggu di sini!” kata pemimpin para penjaga itu.
“Eh eh! Sampaikan juga, Gusti Panglima datang bersama Balito Duo Lido!” seru si nenek gemuk cepat.
“Baik!” ucap pemimpin penjaga itu.
Pemimpin penjaga itu sendiri yang langsung pergi menuju perguruannya dengan menunggang kuda.
Maka menunggulah Riring Belanga dan rombongan. Cukup lama mereka menunggu.
Setelah satu setengah jam, dari arah ujung jalan menuju Perguruan muncul berlari empat ekor kuda. Mereka berlari cukup kencang untuk sampai di pos satu. Salah satu penunggang itu adalah pemimpin prajurit jaga tadi.
Adapun tiga orang lainnya adalah Ketua Sayap Kanan Perguruan Bulan Emas yang bernama Ringgi dan kedua tangan kanannya, yaitu Kanan Satu dan Kanan Dua.
“Siapa yang mengaku sebagai Panglima Pamungkas Kerajaan Singayam?” tanya Ringgi dengan ekspresi yang dingin.
“Aku!” jawab Riring Belanga sambil menunjukkan lencana pangkatnya. “Aku salah satu dari Sepuluh Panglima Pamungkas Kerajaan Singayam. Aku juga salah satu murid tertinggi Perguruan Jari Hitam!”
“Sembah hormat kami, Gusti Panglima!” ucap Ringgi sambil menjura hormat dari atas kudanya.
Kanan Satu dan Kanan Dua juga menjura hormat. Pandangan Ringgi terpaku sejenak pada tangan kanan Brata Ala yang dibalut perban tebal. Ringgi bisa menerka bahwa itu luka jari-jari yang terpotong.
“Aku bernama Ringgi, Ketua Sayap Kanan Perguruan Bulan Emas. Aku ditugaskan untuk menjemput Gusti Panglima. Namun, mohon maaf, Gusti Panglima. Aku harus tahu dulu maksud dari kedatangan Gusti Panglima dan Tetua Balito Duo Lido,” ujar Ringgi.
“Aku ingin memberi tahu tentang apa yang diminta oleh gurumu!” tandas Riring Belanga.
Ringgi mengangguk sekali. Ia lalu memandang kepada Balito Duo Lido.
__ADS_1
“Hehehe!” kekeh Balito Duo Lido. “Aku ini sahabat gurumu. Tanpa kau izinkan aku masuk pun, aku bisa masuk dengan bebas!”
Balito Duo Lido lalu turun dari kudanya.
“Dasar gadis angkuh!” rutuk Balito Duo Lido.
Beng!
Tiba-tiba tubuh gemuk Balito Duo Lido mencelat tinggi lagi jauh ke angkasa, melewati pos dan atas pepohonan yang banyak tumbuh di sekitar. Nenek gemuk itu lalu menghilang di kejauhan, di balik pepohonan kawasan tersebut. Itu benar-benar lompatan super yang mengejutkan semua orang yang ada.
Ringgi jadi bingung bersikap.
“Mari ikut aku, Gusti Panglima!” kata Ringgi akhirnya. Ia lalu memutar balik kudanya lalu menggebahnya dengan kencang menuju arah perguruan.
Riring Belanga, Brata Ala dan Nining Pelangi segera menggebah pula kudanya. Mereka meninggalkan kuda milik Balito Duo Lido.
Dengan lari kuda yang cepat, cepat pula mereka tiba di pos dua, pos yang tadi malam menjadi korban penyergapan Brata Ala dan rekan-rekan. Rombongan itu tidak perlu berhenti, karena jauh-jauh jarak, pagar penutup jalan sudah digeser membuka akses. Para penjaga di pos itu hanya menjura hormat ketika rombongan itu melintas cepat.
Ketika rombongan kuda lewat di satu area yang pada sisi kanan dan kiri jalan terlihat agak berantakan, Brata Ala secara tiba-tiba menghentikan kudanya. Ia yakin di situlah dia di sergap tadi malam oleh penyerang yang tidak terlihat. Ia memerhatikan area itu, seolah mencoba mencari sesuatu di balik sejumlah pohon yang tumbang.
“Brata Ala, apa yang kau lakukan?!” teriak Nining Pelangi sambil menahan lari kudanya.
Ringgi dan kedua pengawalnya, serta Riring Belanga, hanya menengok ke belakang melihat apa yang dilakukan Brata Ala. Kuda-kuda mereka tetap berlari menjauh.
Brata Ala akhirnya kembali melarikan kudanya mengejar rombongan. Demikian pula dengan Nining Pelangi. Kuda keduanya berlari berdampingan.
“Apa yang kau lakukan barusan?” tanya Nining Pelangi.
“Di tempat itu tadi malam kami diserang secara gila,” kata Brata Ala. “Aku curiga bahwa mayat Dendeng Pamungkas masih ada di sekitar tempat itu.”
“Tapi sepertinya kita harus tahu dulu kejelasan hasil dari pertemuan ini,” kata Nining Pelangi. “Setelah itu baru kita bisa mencari Dendeng Pamungkas dan Giling Saga.”
“Ya, sepertinya harus demikian,” kata Brata Ala. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.