Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 37: Guru Jadi Gila


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


“Silakan, Gusti Ratu. Jangan menyentuh mustika itu tanpa tenaga sakti, sebab akan berbahaya.”


Itulah pesan Pendekar Tongkat Roda saat memberikan Mustika Dewi Kenanga kepada Alma Fatara di makam Abang Ayu.


Maka, ketika Ketua Perguruan Bulan Emas Wulan Kencana meredakan tenaga dalam atau tenaga saktinya saat memegang mustika itu, dia langsung terserang oleh kesaktian benda tersebut.


Alma Fatara sendiri tidak mengalami hal serupa karena sejak awal ia memegang pusaka itu dengan tangan berbekal tenaga sakti. Ia pun tidak sudi berbaik hati untuk memberi tahu kepada Wulan Kencana tentang peringatan Pendekar Tongkat Roda.


Aliran sinar-sinar jingga seperti aliran listrik berdaya ratusan ribu volt terus menyengat tubuh Wulan Kencana, tanpa bisa ia berbuat sesuatu.


Kesepuluh murid wanita pengawal Wulan Kencana yang berdiri di belakang, hanya bisa panik di tempat sambil menyebut-nyebut nama gurunya lebih dari tiga kali.


Termasuk para petinggi dan murid-murid perguruan yang ada di bawah sana. Mereka hanya tegang melihat apa yang terjadi di balkon lantai dua.


Hingga akhirnya, ada seorang pengawal setia yang berani berspekulasi. Ia nekat mencoba merebut Mustika Dewi Kenanga yang masih tergenggam di tangan kanan gurunya.


Zerzztt!


“Aaak …!” jerit murid wanita itu saat ia ikut terserang aliran sinar-sinar jingga yang keluar dari mustika.


Belum lagi tangannya menyentuh tangan gurunya, aliran sinar itu langsung menyerang, seolah mengandung magnet.


Maka terdengar kian ramailah suasana tegang itu oleh jerit kesaktian kedua wanita tersebut.


“Ratu Siluman! Apa yang kau lakukan terhadap guru kami?!” teriak marah Galak Gigi, pemuda bergigi tonggos yang berstatus sebagai Ketua Sayap Kiri Perguruan Bulan Emas. Ia selevel dengan Ringgi yang baru saja gugur.


“Tidak ada yang aku lakukan. Aku hanya memberi apa yang dia mau. Setelahnya, itu urusan guru kalian dengan Telur Gelap,” jawab Alma Fatara enteng.


“Guru menjadi tua!” teriak seorang murid Bulan Emas tiba-tiba, memecah ketegangan.


Mereka sama-sama bisa melihat satu proses yang mengerikan bagi seorang pemuja kecantikan. Seorang Wulan Kencana yang berfisik muda dan cantik jelita, secara perlahan berproses menjadi tua dengan kulit yang berubah kendur dan keriput, rambut berubah dari hitam menjadi uban.


Tek! Tek!


Setelah sekian menit terjadi proses yang mengerikan dan membuat jantung berdebar-debar seperti menunggu kelahiran anak pertama, akhirnya aliran sinar jingga yang menyengat berhenti.


Mustika Dewi Kenanga jatuh ke lantai dari tangan Wulan Kencana, kemudian bergulir jatuh ke bawah, ke tanah kering depan pintu lantai satu.


“Hahahak …!” Alma Fatara tertawa terbahak sendiri di saat semuanya terperangah. “Sepertinya tidak akan ada pertarungan dua wantia cantik!”


Bluk!


Murid wanita yang tersengat mustika bersama Wulan Kencana tumbang dalam kondisi tanpa nyawa. Kulit tubuhnya memerah dan mengalami luka bakar seratus persen. Ada asap tipis yang keluar.


Berbeda dengan Wulan Kencana yang masih berdiri dan bernapas. Namun, kini dia telah menjadi seorang nenek-nenek yang mengikuti usia sebenarnya.

__ADS_1


“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?” ucapnya seperti orang linglung sambil memperhatikan kulit tangannya yang benar-benar berubah menjadi tipis, kendor dan keriput.


Wulan Kencana pun meraba wajahnya.


“Aaa!” jeritnya kencang saat jari-jari tangannya tidak merasakan adanya kemulusan atau kulit yang kencang. Lalu teriaknya kencang seperti orang depresi, “Apa yang terjadiii?!”


Wulan Kencana bahkan meraba dadanya yang juga berubah. Ia terkejut. Karena belum yakin, maka ia pun mengintip dua bukitnya sendiri.


“Kenapa jadi seperti ini?!” teriak Wulan Kencana seperti orang yang bingung, karena dia memang benar-benar bingung.


Wanita tua itu lalu berbalik menghadap kepada kesembilan pengawal wanitanya.


“Apa yang terjadi denganku?” tanyanya.


“Eee …. Anu, Guru …,” ucap murid-murid itu dengan ekspresi ragu, takut, dan sedih campur aduk seperti kolak kombinasi buat buka puasa.


“Jawab!” bentak Wulan Kencana keras dengan ekspresi yang begitu menakutkan karena marah.


Seketika kesembilan murid itu terkejut dan berubah gemetar karena baru kali ini guru mereka menunjukkan ekspresi mengerikan, lebih menakutkan dari penampakan jurig minta anak.


“Gu-gu-guru menjadi … menjadi tu-tu-tua!” jawab seorang murid tergagap dengan suara yang bergetar.


“Aaakrr …!” teriak Wulan Kencana begitu keras karena ia benar-benar murka. Kedua tangannya kemudian menghentak merentang ke kanan dan ke kiri.


Sress!


“Guru, jangan! Jangan!”


“Ampuni kami, Guru! Jangan lakukan!”


“Jangan hukum kami, Guru!”


Kesembilan murid wanita yang setia itu terkejut dan ketakutan melihat ekspresi yang kental dengan aura ingin membunuh. Dari kesembilan murid itu, ada yang turun berlutut, ada yang mundur-mundur beberapa langkah, ada yang diam di tempat berdirinya.


Sementara seluruh murid Perguruan Bulan Emas dan para tamu dilanda ketegangan pula menyaksikan apa yang terjadi di atas balkon lantai dua.


Set set set …! Braks braks!


“Akk! Akk! Akk …!” jerit bersusulan dari kesembilan murid wanita itu begitu menyayat hati, saat kedua puluh piringan sinar emas itu dilesatkan oleh guru mereka.


Piringan-piringan sinar dari ilmu Sepuluh Purnama Kematian itu memenggal leher, menjebol dada, dan menjebol perut kesembilan wanita itu. Hanya sekejap saja. Bahkan dinding bangunan pun berjebolan dihantam piringan-piringan sinar emas yang kemudian musnah dengan sendirinya.


Terdiam hening seluruh murid Perguruan Bulan Emas, ketika menyaksikan guru mereka membantai semua pengawalnya yang selama ini sangat setia. Mereka seolah-olah tidak bisa berkata apa-apa. Sebagian dilanda gemetar, terlihat dari getaran bibir dan kedua kaki, tapi tidak ada rasa ingin pipis.


Hingga akhirnya, sejumlah murid wanita terdengar menangis terisak hingga histeris. Perasaan mereka benar-benar hancur menyaksikan guru yang selama ini mereka cintai dan hormati, tiba-tiba berbuat hal yang sangat kejam, tanpa kasih, dan tidak masuk akal.


“Apa yang terjadi dengan Guru. Hiks hiks hiks …!” ratap seorang murid wanita sambil duduk tersimpuh di tanah.

__ADS_1


“Sepertinya Guru telah menjadi gila,” ucap murid yang lain.


“Aku tidak mau tetap berada di perguruan ini jika murid yang setia saja Guru bunuh!”


“Sepertinya Guru sudah tidak mengenali kita lagi sebagai muridnya.”


“Guruuu … hiks hiks hiks! Guruuu …!”


“Ternyata Guru wanita yang sangat kejam.”


Itulah sejumlah kalimat-kalimat yang merespon perbuatan mengerikan Wulan Kencana.


“Mustika apa sebenarnya Telur Gelap itu, Gusti Ratu?” tanya Balito Duo Lido yang juga terkejut melihat apa yang dialami dan dilakukan oleh Wulan Kencana.


“Jika para pendekar sakti tahu kehebatan Mustika Dewi Kenanga itu, mereka pasti akan memburu benda itu. Tapi aku tidak tahu jika mustika tersebut bisa sejahat itu. Apakah karena begitu kejamnya mustika itu, sehingga Pendekar Tongkat Roda menamainya Telur Gelap, telur yang memberi kegelapan,” jawab Alma Fatara.


“Aku tidak mau tua! Aku harus tetap cantik! Aku tidak mau tuaaa!” teriak Wulan Kencana histeris sambil memandang liar ke sana dan ke sini, sementara jari-jarinya *******-***** rambut putihnya.


“Jadi, selama ini Wulan Kencana adalah nenek yang awet muda?” tanya Alma kepada Rereng Busa dan Balito Duo Lido.


“Benar. Ilmu awet muda itu dia curi dari adiknya,” jawab Rereng Busa.


“Di mana Telur Gelap? Di mana Telur Gelap? Aku harus memiliki seratus kesaktian hebat!” teriak Wulan Kencana seperti orang gila sambil mencari-cari sesuatu di lantai balkon di sekitar kakinya.


“Telur Gelap-nya jatuh ke bawah, Guru!” teriak seorang murid memberi tahu.


Terdiam Wulan Kencana mendengar itu, seperti ayam yang mendadak diam saat mendengar pezina disiksa malaikat di dalam kubur.


Selanjutnya dia cepat melongokkan kepalanya melihat ke bawah. Mustika Dewi Kenanga yang bercahaya, jelas langsung terlihat oleh nenek itu.


Wulan Kencana buru-buru melompat turun dari balkon dua ke bawah.


Set! Tap!


Namun, Wulan Kencana dibuat terkejut. Tiba-tiba mustika yang ada di depan kakinya melesat cepat dan mendarat dalam genggaman Alma Fatara. Ratu Siluman tidak mengalami apa-apa, karena benda itu ia pegang dengan tenaga sakti.


“Ergrr!” Wulan Kencana menatap tajam kepada Alma Fatara dan menggeram memperlihatkan gigi-giginya seperti binatang buas.


“Mustika ini terlalu berbahaya bagimu dan orang lain, Nek. Jadi lebih baik aku simpan dan kembalikan ke pemiliknya!” seru Alma Fatara sambil memasukkan Telur Gelap ke dalam kantung kain warna hitam.


“Jika kau tidak mau memberikan Telur Gelap, maka aku akan mengambil Bola Hitam darimu, Wanita Gilaaa!” teriak Wulan Kencana penuh kemarahan. “Hiaaakr!”


Sambil berteriak buas, wanita tua itu lalu melesat secepat kilat kepada Alma Fatara yang duduk di atas kuda. (RH)


 


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.

__ADS_1


__ADS_2