
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Bukit Dua yang merupakan salah satu dari Bukit Tujuh Kepala adalah bukit terpendek. Di puncak bukit ini ada Perguruan Bukit Dua yang menjadi penguasa bukit.
Tidak seperti Perguruan Bulan Emas yang memiliki ratusan murid, Perguruan Bukit Dua hanya memiliki murid sebanyak dua puluh orang.
Sebagaimana biasa, perguruan ini memiliki jadwal latihan malam, seperti malam ini. Dua murid utama memimpin masing-masing sekelompok murid, yaitu kelompok murid tingkat atas dan kelompok murid tingkat menengah.
Setiap latihan tetap diawasi oleh sang guru, yaitu Jerat Gluduk. Ia adalah seorang pendekar tua berusia hampir tujuh puluh tahun dengan postur tubuh sedang. Kepalanya botak oleh kerontokan. Sebenarnya dia masih punya rambut, tetapi karena jarang, sekalian saja digundul tuntas, sekalian agar terlihat lebih muda. Ia mengenakan jubah warna putih dengan dalaman warna hitam, sebagai simbol bahwa dirinya lebih banyak memiliki sifat yang baik daripada yang buruk.
Perguruan Bukit Dua menjadikan ilmu jeratan sebagai kesaktian andalan karena Jerat Gluduk memang memiliki kehebatan di jenis itu.
Seperti biasa, Jerat Gluduk duduk di teras rumahnya yang posisinya satu tombak lebih tinggi dari tanah bukit. Ia duduk di kursi kayu dengan meja kayu di sisinya. Di atas meja ada minuman hangat, tapi sepertinya itu bukan kopi susu, dan sebakul kecil kacang kedelai rebus.
Seperti itulah gaya dan menu Jerat Gluduk jika mengawasi di malam hari, begitu santai jika sudah berteman kopi hitam dan kacang kedelai rebus.
Jleg!
Tiba-tiba suasana latihan yang tenang dan kusyuk dikejutkan oleh kedatangan seorang nenek berpakaian serba jingga. Langkah tertatih si nenek seolah menjadi ciri kondisinya.
Nenek yang tidak lain adalah Wulan Kencana itu, berjalan menuju rumah kayu panggung Jerat Gluduk. Melihat hal itu, kelompok murid tingkat atas yang berjumlah enam orang, menghentikan latihannya dan segera berlari menghadang si nenek.
“Berhenti, Nek!” seru murid utama yang melatih murid tingkat atas. Lelaki bertubuh tinggi kurus itu bernama Aliang Bowo.
“Herrkr!” Wulan Kencana menggereng-gereng marah, sampai-sampai darah di mulutnya muncrat. Ia lalu berkata marah, “Minggir kalian! Jangan membuatku marah!”
Jerat Gluduk yang sudah berdiri dari duduknya bisa membaca kondisi Wulan Kencana, meski cahaya obor tidak begitu memperjelas dirinya.
“Lanjutkan latihan kalian!” perintah Jerat Gluduk, terdengar jenis suaranya yang cempreng.
Maka, Aliang Bowo mengajak rekan-rekannya untuk kembali ke posisi latihnya.
“Siapa kau, Nisanak?” tanya Jerat Gluduk tidak mengenali wanita terkenal itu.
“Kau tidak mengenaliku, Jerat Gluduk?!” bentak Wulan Kencana kian marah, seolah ada energi besar dari bentakan itu yang menyerang jantungnya.
“A-a-aku ti-ti-tidak mengenalmu,” jawab Jerat Gluduk jadi tergagap.
“Aku Wulan Kencana, pendekar tersakti di Bukit Tujuh Kepala!” teriak si nenek keras.
__ADS_1
Terkejutlah Jerat Gluduk dan murid-murid perguruan itu. Murid-murid itu juga tahu bahwa orang yang bernama Wulan Kencana, Ketua Perguruan Bulan Emas, adalah perempuan muda yang begitu cantik, bukan nenek pemarah seperti itu.
Jerat Gluduk memutuskan turun dari terasnya dan memperhatikan wajah tamunya dengan lebih seksama. Wajah tua si nenek memang memiliki kemiripan dengan wajah muda Wulan Kencana. Setelah melihat ada kemiripan, barulah Jerat Gluduk percaya bahwa itu adalah Ketua Perguruan Bulan Emas.
“Wulan Kencana? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau jadi jelek seperti ini? Hahaha!” tanya Jerat Gluduk lalu tertawa.
“Jangan tertawa kau, Bajingan!” teriak Wulan Kencana sambil menghentakkan telapak tangan kirinya.
Refleks Jerat Gluduk juga menghentakkan lengan kanannya.
Beng!
Satu pertemuan dua tenaga dalam tanpa wujud terjadi di pertengahan jarak kedua orang tua itu.
“Hukrr!” Wulan Kencana terjajar satu tindak lalu menyemburkan darah.
Terkejut Jerat Gluduk melihat Wulan Kencana dengan begitu mudahnya muntah darah.
“Lukamu terlalu parah, Wulan!” kata Jerat Gluduk lalu cepat maju dan menangkap tubuh si nenek yang bergerak oleng hendak jatuh. “Ayo! Jangan marah-marah lagi, kau harus diobati!”
Jerat Gluduk lalu memapah Wulan Kencana.
“Desah Rindang!” panggil Jerat Gluduk.
Gadis cantik berambut ikal sebahu itu segera membantu memapah Wulan Kencana untuk naik ke rumah panggung. Dari dalam rumah kemudian muncul seorang wanita separuh baya yang adalah istri dari Jerat Gluduk.
“Dalam waktu sesaat saja, sesaat saja,” ucap Wulan Kencana kepada dirinya sendiri.
“Apa yang sesaat itu, Wulan?” tanya Jerat Gluduk.
“Ratu Siluman keparat! Wanita gila yang entah datang dari mana!” kata Wulan Kencana berteriak marah, membuat Desah Rindang dan istri Jerat Gluduk kebisingan karena dekat dengan telinga.
“Tapi apa yang terjadi?” tanya Jerat Gluduk yang belum mengerti arah perkataan marah-marah si nenek.
“Hanya sesaat saja aku dihancurkan oleh perempuan gila yang bernama Ratu Siluman,” jawab Wulan Kencana lebih jelas.
“Nanti saja ditanyakannya, Kakang,” kata istri Jerat Gluduk yang bernama Nyui.
Wulan Kencana lalu di bawa masuk ke dalam sebuah kamar.
“Nenek berbaring dulu di pembaringan ….”
__ADS_1
“Jangan menyebutku nenek-nenek!” bentak Wulan Kencana marah, memotong kata-kata Nyui, sampai istri Jerat Gluduk itu kaget. “Aku masih Ketua Perguruan Bulan Emas!”
“Iya, Ketua,” ucap Nyui menurut. “Ketua berbaring lebih dulu, nanti aku akan persiapkan diri untuk membantu meringankan luka Ketua.”
“Hmm!” gumam Wulan Kencana mengiyakan.
Mereka lalu meninggalkan Wulan Kencana berbaring di kamar itu. Desah Rindang ditugaskan untuk merebus air dan mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk mengobati Wulan Kencana. Sementara Nyui memilih menemani suaminya di teras yang melanjutkan mengawasi murid-muridnya berlatih.
“Ini perkara yang begitu besar, Kakang. Dalam waktu yang tiba-tiba, pendekar nomor satu di wilayah ini bisa jadi menyedihkan seperti itu,” kata Nyui.
“Wulan Kencana menyebut nama Ratu Siluman perempuan gila. Apakah orang yang membuatnya seperti itu bukan manusia? Jika iya, wajar saja jika Wulan Kencana jadi seperti itu. Tapi, kenapa dia tidak mati saja? Jika seperti ini, menyusahkan orang saja,” kata Jerat Gluduk.
“Husy, Kakang jangan bicara seperti itu. Jika Wulan Kencana mendengarnya, bisa lebih rumit perkaranya,” hardik sang istri.
“Aku benar-benar jadi penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi di Perguruan Bulan Emas. Aku yakin, jika Wulan Kencana tidak memiliki ilmu Raga Abadi, dia pasti sudah tewas oleh luka-lukanya. Sepertinya kekalahan membuatnya agak gila,” kata Jerat Gluduk.
“Kira-kira kapan Bandel Carok keluar dari Candi Alam Digdaya?” tanya Nyui.
“Tidak akan pernah ada orang yang bisa menghitung hari jika sudah masuk ke tempat keramat itu. Sebenarnya, kesaktian tinggi tidak menjamin seseorang bisa mendapatkan Kipas Raja Dunia dengan muda. Keberuntunganlah yang berbicara,” kata Jerat Gluduk.
“Apakah pusaka masa lalu itu bisa mengalahkan kehebatan Tiga Malaikat Kipas?” tanya Nyui.
“Pastinya, jika memang Kipas Raja Dunia bisa membawa tuannya menguasai dunia,” tandas Jerat Gluduk.
Sementara di lapangan, latihan murid-murid tingkat atas sudah selesai.
“Aliang Bowo!” panggil Jerat Gluduk.
Aliang Bowo segera berlari kecil datang ke depan teras.
“Iya, Guru?” tanya Aliang Bowo.
“Ajak satu murid untuk pergi sekarang juga ke Perguruan Bulan Emas. Cari tahu apa yang terjadi di sana!” perintah Jerat Gluduk.
“Baik, Guru. Aku ingin mengajak Desah Rindang bersamaku,” kata Aliang Bowo.
“Kau mau melaksanakan tugas atau mau berbulan madu sebelum menikah, hah?!” bentak Jerat Gluduk.
“Hahaha!” tawa Aliang Bowo pelan. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.