Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 34: Rereng Busa Bebas


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


 


Rereng Busa dihadirkan dengan kondisi tubuh masih berbalut rantai-rantai besar dan kedua jari tangannya dibungkus kain hitam.


“Guru! Guru! Guru!” sebut Riring Belanga dan murid-murid Perguruan Jari Hitam bersahut-sahutan.


Rereng Busa dikawal oleh dua murid Perguruan Bulan Emas dan Balito Duo Lido. Rereng Busa hanya tersenyum kepada Alma Fatara dan murid-murid Jari Hitam.


“Wah, kurang sopan!” kata Alma Fatara.


“Kurang sopan!” teriak Cucum Mili dan Pasukan Genggam Jagad keras, kembali membuat murid-murid Bulan Emas tersentak kaget.


“Ayam kawin diam-diam, eh diam-diam enak-enak terus, ayam kawin, ayam kawin di bawah bokongku!” pekik Balito Duo Lido.


“Ku-ku-kurang so-so-sopan!” teriak Gagap Ayu tertinggal.


“Hahaha …!” Meledaklah tawa orang ramai di kedua kubu. Benar-benar kacau, tidak seperti dua kubu yang saling siap untuk bertempur.


“Wanita tidak punya hati. Mantan kekasih sendiri yang mencintai sepenuh kendi dan sedalam sumur cacing, tapi diperlakukan sehina ini!” gerutu Alma Fatara yang masih duduk di atas kudanya.


Terkejutlah banyak orang pada kedua kubu. Mereka tidak menyangka bahwa Wulan Kencana adalah mantan kekasih Rereng Busa. Mau tidak mau, di dalam hati mereka menilai Ketua Perguruan Bulan Emas itu adalah wanita yang “terlalu”, mengutip satu kata ikonik Raja Dangdut negeri masa depan.


Alma Fatara lalu bertanya kepada Anjengan dan rekan-rekannya, “Hei, kalau wanita tidak punya hati disebut apa? Ayo jawab!”


“Wanita mati!” jawab Anjengan.


“Bukan, bukan, dia itu masih hidup!” tolak Alma Fatara.


“Wanita tanpa kutang!” seru Juling Jitu.


“Hahahak …! Dasar penerus Iwak Ngasin. Kurang sopan!” maki Alma setelah dia tertawa terbahak bersama kaumnya.


“Kurang sopan!” maki mereka beramai-ramai terhadap Juling Jitu.


“Ku-ku-kurang so-so-sopan!” teriak Gagap Ayu yang fitrahnya memang terlambat.


“Wanita siluman, Gusti Ratu!” pekik Kembang Bulan. “Tidak punya hati, tapi hidup. Seperti siluman!”


“Ah, dasar cantik. Iya, wanita siluman,” kata Alma sepakat. Lalu teriaknya kepada Wulan Kencana di balkon lantai dua, “Dasar Wanita Siluman!”


“Dasar Wanita Siluman!” maki Cucum Mili dan Pasukan Genggam Jagad serentak. Kali ini murid-murid Jari Hitam ikut-ikutan.


“Bebek kawin pagi-pagi, eh bebek kawin aaah … aaah! Bebek kawin, kawin enak-enak!” latah Balito Duo Lido.


“Wa-wa-wanita Si-si-siluman!” pekik Gagap Ayu telat lagi.


“Hahaha …!”

__ADS_1


Suasana saat itu benar-benar kacau tapi meriah. Riring Belanga hanya geleng-geleng kepala menyaksikan dagelan dari Ratu Siluman dan pasukannya itu.


Sungguh, benar-benar murka Wulan Kencana menyaksikan dirinya dijadikan bahan dagelan para tamu itu. Wajah cantiknya memerah menahan amarah dan malu. Ingin sekali rasanya dia memerintahkan seluruh muridnya menyerang Alma Fatara dan rombongan berkudanya, tetapi ia masih punya satu kesabaran demi mendapatkan Telur Gelap.


“Wanita Siluman!” seru Alma Fatara kembali masuk ke tahap serius. “Lepaskan Kakek Rereng Busa, maka Telur Gelap ini aku lempar kepadamu!”


Alma Fatara kembali menunjukkan telur warna hitam di tangan kanannya.


“Kau bebas, Rereng!” seru Wulan Kencana dengan wajah dingin.


“Terima kasih, Kekasihku. Apakah ini artinya aku sudah membayar janjiku?” kata Rereng Busa sambil mendongak ke balkon lantai dua.


“Ya!” jawab Wulan Kencana.


Creng! Creng!


Balito Duo Lido lalu menghantamkan dua kali tongkatnya pada rantai di tubuh Rereng Busa. Semua rantai dengan mudahnya putus dan rontok ke tanah.


Nenek gemuk itu juga lalu membuka kain hitam yang membungkus jari-jari tangan Rereng Busa. Ketika kain yang membungkus tangan kanan terbuka, alangkah terkejutnya Balito Duo Lido. Wajah putihnya seketika memerah dengan sepasang mata yang juga memerah dan berair.


Ia memandang marah kepada Wulan Kencana. Alma Fatara, Riring Belanga dan rombongan belum melihat apa yang terjadi pada tangan kanan Rereng Busa, sebab mereka terlindungi oleh punggung Balito Duo Lido.


Dengan bibir yang gemetar dan gigi yang saling menekan kuat, Balito Duo Lido cepat membuka kain yang membungkus tangan kiri.


Ternyata sama, semua jari tangan Rereng Busa yang hitam warnanya telah tidak ada. Kesepuluh jari tangan Rereng Busa telah dipangkas habis dengan senjata tajam. Luka potongannya yang rapi telah kering.


“Wulan Kencanaaa!” teriak Balito Duo Lido begitu marah, sampai-sampai kunyahan sirih dalam mulutnya tersembur ke luar. “Kau benar-benar wanita siluman berhati iblis! Apa yang merasuki pikiranmu sehingga kau memotong kesepuluh jari Rereng Busa?!”


Terkejutlah Riring Belanga dan seluruh murid Jari Hitam mendengar teriakan Balito Duo Lido. Alma Fatara juga terkejut.


Sementara Wulan Kencana hanya diam dengan wajah berdarah dinginnya.


“Guruuu! Guruuu! Guruuu!” panggil murid-murid Jari Hitam histeris. Sebagian dari mereka bahkan menangis sedih mengetahui kondisi malang guru mereka.


“Tenang, Balito!” ucap Rereng Busa sambil menyentuh bahu kiri Balito Duo Lido dengan tangan tanpa jari-jarinya. “Masalah ini telah berakhir.”


“Tidak, masalah ini belum berakhir. Aku harus buat perhitungan kepada Wulan!” desis Balito Duo Lido.


“Biarkan Alma Fatara yang menyelesaikannya. Apa pun yang terjadi terhadap Wulan, aku akan mengikhlaskannya,” kata Rereng Busa lembut.


“Aku akan melihat, seperti apa akhirnya,” kata Balito Duo Lido pelan, tapi tatapannya tajam kepada wanita cantik di atas balkon.


Rereng Busa lalu berseru kepada murid-muridnya, “Kalian jangan mengkhawatirkan aku dan jangan menangisi aku. Aku baik-baik saja!”


Rereng Busa dan Balito Duo Lido lalu berekelebat terbang seperti burung, melewati atas kepala dua barisan murid-murid Bulan Emas. Kedua orang tua itu mendarat lembut di depan kuda Alma.


“Hormatku kepada Ratu Siluman Alma Fatara!” hormat Rereng Busa dengan sedikit merunduk. “Terima kasih sudah repot-repot membantu sedemikian besarnya.”


“Hahaha!” tawa Alma Fatara sambil turun dari kudanya. Ia kemudian balik menghormat kepada Rereng Busa. “Tidak aku sangka kita bertemu lagi dalam kondisi yang kurang baik, Kek.”

__ADS_1


“Setelah urusan ini selesai, aku akan mengajakmu dan rombonganmu makan bubur yang enak di Desa Julangangin,” kata Rereng Busa.


“Hahahak! Akan aku tagih nanti,” kata Alma penuh keakraban. “Baik, sudah waktunya orang tua menyingkir. Giliran urusan wanita cantik dan sama-sama wanita siluman digelar!”


“Aku percayakan semuanya kepadamu, Gusti Ratu,” ucap Rereng Busa.


Rereng Busa dan Balito lalu berjalan ke belakang. Rereng Busa segera disambut oleh Riring Belanga dan murid-murid lainnya.


“Ratu Siluman! Berikan Telur Gelap itu!” seru Wulan Kencana tidak sabar.


“Tunggu, tunggu! Aku harus naik ke kuda dulu agar bisa menandingi kecantikan, wibawa dan kesombonganmu!” seru Alma Fatara.


Alma Fatara lalu kembali naik ke atas punggung kudanya dengan tenang dan santai, seolah tidak ada orang yang sedang menunggu.


Alma Fatara kembali mengeluarkan telur kecil warna hitam.


“Tangkap telur ini!” seru Alma Fatara.


Set! Tap!


Telur berwarna hitam itu melesat tidak terlihat karena terlalu cepatnya. Namun, dengan sigap tapi lembut, jari-jari lentik tangan kanan Wulan Kencana menangkap benda itu. Telur itu tidak pecah sedikit pun.


Wulan Kencana lalu memperhatikan benda hitam yang kini ada di tangannya. Tiba-tiba keningnya mengeras dan mengerut, wajahnya memerah menahan amarah. Itu terjadi ketika jari jempolnya menggesek-gesek kulit telur itu. Ternyata warna hitam pada telur itu luntur dan melekat di kulit jarinya.


“Kurang ajaaar!” teriak Wulan Kencana keras penuh emosi kemarahan. Ia menatap tajam kepada Alma Fatara.


Cprak!


Jari-jari Wulan Kencana meremas telur hitam di tangannya. Telur itu seketika pecah dan mengeluarkan cairan lendir layaknya sebutir telur normal.


“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara yang diikuti oleh para abdinya. Mereka jelas-jelas menertawakan kondisi Wulan Kencana.


Sementara Riring Belanga dan murid-murid Perguruan Jari Hitam tidak tahu-menahu apa yang dilakukan Alma terhadap Wulan Kencana.


Adapun Rereng Busa dan Balito Duo Lido bisa menduga apa yang dilakukan wanita muda jahil itu.


Tidak ada seorang pun yang tahu seperti apa wujud Telur Gelap, kecuali empat orang, yaitu Pendekar Tongkat Roda selaku pemiliknya, Alma Fatara, Cucum Mili dan Mbah Hitam yang melihat ketika Telur Gelap diambil dan diserahkan kepada Alma. Jadi, baik Wulan Kencana yang sangat menginginkan Telur Gelap, Rereng Busa dan Balito Duo Lido, mereka sedikit pun tidak pernah tahu seperti apa wujud benda itu.


Otak jahil Alma Fatara muncul saat dalam perjalanan sebelum tiba di Desa Julangangin. Ia berinisiatif mengambil sebutir telur burung dan kemudian memoles kulitnya dengan pewarna hitam. Jangan tanya apa bahan pewarnanya.


“Tenaaang, Wulan Kencana! Hahaha!” seru Alma Fatara cepat, sebelum keadaan semakin kacau jika Wulan Kencana sudah menurunkan perintah menyerang.


Dada sekal Wulan Kencana sampai naik turun menahan kemarahan karena telah dipermainkan dan dipermalukan di depan murid-muridnya sendiri. Padahal tadi malam dia tidak bermimpi tertimpa buah semangka.


“Aku tidak akan ingkar janji. Aku akan memberikan Telur Gelap yang asli karena kau telah membebaskan Kakek Rereng Busa!” seru Alma sambil menunjukkan sekantung kain hitam. (RH)


 


__ADS_1


 


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2