
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Sama seperti Pasukan Pertama pimpinan Arya Mungkara dan Pasukan Pertama pimpinan Arung Seto, Pasukan Pertama pimpinan Balingga yang melewati Kademangan Dulangwesi juga mengalami penyergapan dan pembantaian pasukan.
Setelah dalam perjalanannya menyempatkan diri memeriksa keadaan Demang Baremowo dan rakyatnya, pasukan itu melanjutkan perjalanan menuju Ibu Kota Balongan.
Namun, ketika di tengah jalan, ketika pasukan pimpinan Balingga dan Ujang Barendo tiba di antara dua tanah tinggi. Satu seperti bukit kecil berumput dengan kemiringan yang curam. Yang satu lagi tebing berbatu.
Jalan itu menjadi titik yang paling bagus bagi pasukan musuh untuk menyergap. Karenanya, ketika memasuki jalan seperti lorong tanpa atap itu, Balingga, Ujang Barendo dan para prajurit sering memandang ke sisi atas kedua puncak ketinggian.
Ternyata kekhawatiran mereka benar.
Awalnya tidak ada suara-suara atau tanda mencurigakan, hingga kemudian semua pasukan sudah berposisi di tengah-tengah jalan lorong.
“Wik wik wik wik wik!” Tiba-tiba terdengar lengkingan suara manusia, seperti memberi tanda, entah kepada siapa.
Bluduk bluduk! Bluduk bluduk!
Tiba-tiba dari atas bukit kecil muncul pasukan gelondongan kayu yang menggelinding ramai-ramai menargetkan barisan belakang pasukan.
“Cepat menghindaaar!” teriak Balingga.
Arah terbaik untuk menghindar adalah maju. Jika bergerak mundur, justru tetap akan terkejar oleh jatuhan gelondongan kayu-kayu besar tersebut.
“Lari majuuu!” teriak Ujang Barendo pula sambil menggebah lebih dulu kudanya.
Lima puluh pasukan kuda buru-buru menggebah kudanya melewati pasukan pejalan kaki yang berlari maju dengan panik.
Akhirnya yang terhantam dan terlindas kayu-kayu gelondongan adalah puluhan prajurit pejalan kaki yang mereka berebut lari ke depan.
Gludug gludug! Gluduk gludug!
Namun, belum selesai serangan dari kayu gelondongan, tiba-tiba dari atas tebing batu ada banyak batu-batu besar berjatuhan. Posisi jatuhnya lebih ke depan, seolah memang sudah menunggu pergerakan pasukan maju, baru longsoran batu itu jatuh.
__ADS_1
Banyak prajurit yang tertimpa batu, baik prajurit pejalan kaki, maupun prajurit berkuda. Jumlah batu yang jatuh dari atas tebing banyak jumlahnya. Setelah gelombang pertama berhenti, muncul lagi hujan batu gelombang kedua, lalu gelombang ketiga. Besar batunya yang paling kecil mungkin sebesar kepala.
Hujan batu itu membuat pasukan itu terbirit-birit berlari lebih ke depan sehingga keluar dari apitan dua ketinggian. Namun, mereka masuk ke titik penyergapan berikutnya, yaitu serangan dari balik semak belukar kanan dan kiri, sama seperti di jalan utara.
Set set set …!
Puluhan anak panah berlesatan dari dalam semak belukar kanan dan kiri, membantai Pasukan Pertama pimpinan Balingga. Pasukan itu kocar-kacir di tempat, karena bingung, seolah serangan panah datang dari mana saja.
Sama seperti penyergapan bajak laut di jalan utara dan jalan pinggir sungai, puncak serangannya adalah hujan bubuk racun.
Balingga dan Ujang Barendo hanya bisa syok melihat seluruh prajurit yang berada di bawah tanggung jawab mereka bertewasan.
Balingga dan Ujang Barendo tidak bisa berbuat banyak. Ketika hujan racun mulai turun dari atas, Ujang Barendo memberikan sesuatu kepada Balingga.
“Balingga, makan pil jengkol penawar racun ini!” kata Ujang Barendo.
Tanpa pikir panjang atau mengedepankan keraguan, Balingga menerima pil pemberian Ujang Barendo dan langsung memakannya. Selanjutnya mereka berkelebat cepat ke arah pulang, berusaha menyelamatkan diri dari hujan racun. Namun, mereka tetap terkena hujan racun.
Keduanya memang berhasil meninggalkan jalan lorong yang penuh batang kayu besar, batu-batu dan mayat-mayat, tetapi mereka berdua akhirnya tumbang di jalanan karena faktor racun.
Di masing-masing puncak ada tiga orang yang berdiri. Salah satunya adalah Rumput Laut, tangan kanan Ronggo Palung. Sementara di semak belukar, hanya ada dua orang bajak laut perempuan.
“Keong Racun! Apakah kau masih menyimpan racun untuk pasukan kedua?” tanya Rumput Laut dari seberang.
“Racun mautku sudah habis, tapi aku masih punya banyak racun gatal dan racun pembesar!” sahut lelaki besar yang membawa dua buah tas kulit selempangan yang menyilang. Karena dia anggota bajak laut yang mainannya racun, kemungkinan besar kedua tasnya berisi racun.
“Apa gunanya membuat gatal jika tidak mati? Racun pembesar apa yang kau maksud?” tanya Rumput Laut.
“Hahaha!” tawa Keong Racun dan kedua rekan yang bersamanya.
“Hei! Kenapa kalian tertawa, hah?! Kalian pikir pertanyaanku ada yang lucu?” bentak Rumput Laut. Meski badannya kecil karena kurus, tetapi kedudukannya sebagai tangan kanan sang ketua membuatnya disegani. Ia memang memiliki kesaktian yang lebih tinggi dibanding anggota kebanyakan.
“Racun pembesar itu untuk membesarkan anumu jika mau berlayar malam. Hahaha!” jelas Keong Racun.
“Hahahak!” Rumput Laut akhirnya malah tertawa. Lalu perintahnya, “Siapkan racun gatalmu, Keong Racun. Kita akan bakar kayu-kayu dan mayat prajurit Singayam itu.”
__ADS_1
“Baik, Calon Ketua!” teriak Keong Racun.
“Jangan macam-macam kau, Keong Racun. Jika sampai didengar Ketua, kau pasti akan memakan racunmu sendiri!” hardik lelaki gagah di samping Rumput Laut. Pemuda berambut gondrong keriting itu bersenjata panah dengan dua tabung bambu di punggungnya yang penuh berisi anak panah berbulu. Jika semua anak panah itu masing-masing memakan satu nyawa, maka tiga puluh prajurit bisa mati.
“Karang Genit! Apakah panah kalian masih ada?” tanya Rumput Laut berteriak kepada wanita di semak belukar.
“Kami masih punya empat tembakan!” teriak perempuan usia empat puluhan tahun berkulit hitam, berhidung pesek, bergigi pesek juga. Dialah Karang Genit, tapi kelakuannya tidak centil. Kecentilannya terlalu malu kepada kepesekannya. Ia bersenjata tombak besi yang runcingannya berbentuk gerigi.
“Bagus, kita tunggu pasukan berikutnya!” seru Rumput Laut.
Sementara itu, Pasukan Pamungkas pimpinan Putra Mahkota Pangeran Sugang Laksama dalam perjalanan menyusul Pasukan Pertama yang sudah binasa. Pangeran Sugang Laksama tidak tahu bahwa Pasukan Pertama sudah hancur.
Set! Ctar!
Tanpa ada awan mendung atau angin pengabar hujan, tiba-tiba satu benda kecil melesat dan jatuh tiga tombak di depan langkah kaki kuda Sugang Laksama.
Benda itu menghancurkan tanah hingga berlubang dan berasap.
Sang pangeran agak terkejut, tapi ia menyimpulkan bahwa serangan itu tidak bermaksud buruk, karena tidak langsung menargetkan dirinya atau prajuritnya.
Sugang Laksama dan seluruh prajurit cepat melemparkan pandangannya ke sisi kanan depan. Mereka melihat satu penampakan di atas sebatang pohon besar pinggir jalan.
Di atas dahan pohon ada berdiri seorang wanita berpakaian serba merah dan menutupi kepalanya dengan hijab model cadar. Jelasnya dia bukan hantu wanita Muslimah bercadar, tetapi seorang pendekar wanita bercadar. Hanya sepasang mata indahnya yang tampak. Dari warna kulit pada pangkal hidungnya menunjukkan bahwa wanita bercadar itu memiliki kulit wajah yang terang.
“Siapa kau, Nisanak Pendekar?” tanya Sugang Laksama dengan pembawaan yang tenang.
“Aku hanya ingin memberi tahu bahwa pasukan yang di depan telah mati semua!” jawab Wanita Cadar Merah, untuk sementara kita sebut saja namanya demikian.
“Apa?” sebut Sugang Laksama pelan tapi tegang.
Maka riuhlah pasukan itu oleh kasak-kusuk di antara mereka. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil menunggu up dari Om Rudi, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!
__ADS_1