
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Arung Seto pada malam itu masih meluangkan waktu untuk berlatih bersama adiknya, Kembang Bulan. Di bawah penerangan dua obor, keduanya fokus berlatih gerakan-gerakan yang sudah mengembang dari gerakan dasar.
Ternyata, berlatihnya Kembang Bulan menjadi daya tarik bagi sejumlah lelaki untuk menontonnya.
Di saat Kembang Bulan berlatih, ada tiga lelaki yang duduk bersama pada satu batang pohon mati yang tergeletak di tanah. Ketiga lelaki itu adalah Kolong Wowo, Segara dan Setoro Beksi. Ketiganya mantan murid Jerat Gluduk yang kesaktiannya di bidang jerat-menjerat. Namun, mereka belum menguasai ilmu “Jerat Hati Kembang Bulan”, terlebih Arung Seto cukup ketat mendampingi adik cantiknya itu.
Blar!
Alangkah terkejutnya Kolong Wowo, Segara dan Setoro Beksi ketika tiba-tiba satu ledakan tanah terjadi di depan mereka bertiga. Ketiganya jatuh terjengkang ke belakang.
“Hahaha!” tawa Arung Seto dan Kembang Bulan melihat apa yang menimpa ketiga pemuda itu.
“Kembalilah ke peraduan kalian. Lebih baik kalian memimpikan Kembang Bulan daripada mengganggu konsentrasinya!” bentak Cucum Mili, orang yang melesatkan sebutir gundu bom di depan ketiga lelaki itu.
“Baik, Panglima!” ucap mereka patuh, tapi sambil tersenyum-senyum.
Kolong Wowo dan kedua rekannya segera pergi sambil saling menertawakan di antara mereka, mirip anak muda zaman sekarang yang suka menertawakan rekannya daripada menertawakan diri sendiri. Padahal ada pepatah yang berbunyi “Tertawailah dirimu sendiri sebelum ditertawai orang lain”.
“Kembang, coba, aku mau lihat perkembangan kuda-kudamu!” perintah Cucum Mili dengan nada yang tegas.
“Baik, Guru,” ucap Kembang Bulan patuh.
Ia lalu memposisikan kakinya membentuk kuda-kuda.
Cucum Mili berjalan mendekati Kembang Bulan yang diam dengan kuda-kudanya. Arung Seto hanya diam memerhatikan, sebab baru kali ini ia melihat wanita bercadar merah itu turun melatih Kembang Bulan.
Dak!
Tiba-tiba Cucum Mili menyepak satu kaki Kembang Bulan dengan kuat. Namun, Kembang Bulan hanya tersentak kecil. Kakinya yang disepak tidak bergeser dari posisinya.
“Bagus. Kuda-kudamu sudah kuat. Sekarang latih keseimbanganmu,” kata Cucum Mili.
Set!
Dengan gerakan yang cepat, Cucum Mili mencabut pedang pusakanya, lalu langsung dimasukkan kembali ke sarungnya.
Bug!
Sepotong kayu dahan pohon tahu-tahu jatuh nyaris menimpa kepala Arung Seto. Pemuda itu terkejut dan sontak melompat mundur. Dia mendongak ke atas, tapi di atas hanya ada dahan pohon yang lain, tapi tidak ada yang jatuh lagi.
“Tancapkan kayu itu!” perintah Cucum Mili kepada Arung Seto.
Arung Seto pun segera mengerjakan perintah itu. Salah satu ujung kayu ternyata runcing, memudahkan pemuda tampan itu menancapkannya.
“Berdirilah dengan hanya kaki kanan di atas kayu itu!” perintah Cucum Mili kepada Kembang Bulan. “Berdirilah jangan sampai jatuh. Hitung berapa lama kau bisa bertahan tanpa jatuh. Jika jatuh, ulangi lagi!”
“Baik, Guru,” ucap Kembang Bulan patuh dan bersemangat.
“Panglima Arung!” panggil seorang wanita cantik yang berdiri dua tombak dari Arung Seto. Wanita itu tidak lain adalah Jentik Melati. Ia melambaikan tangan memanggil Arung Seto sambil tersenyum manis, semanis jeratan susu kental kepada semut.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Arung Seto, tapi belum melangkah mendekat.
Cucum Mili hanya melirik sejenak kepada Jentik Melati yang masih keluyuran di tengah malam. Ia lalu kembali memerhatikan Kembang Bulan yang naik ke tonggak setinggi lutut.
“Kakang, bantu aku membenarkan pakaianku. Tali pakaian dalamku ada yang lepas di belakang, aku tidak bisa mengikatnya sendiri,” kata Jentik Melati sambil tersenyum malu-malu bebek.
Melebar mata Arung Seto. Pikirannya langsung menduga-duga dan bertanya-tanya. Tali pakaian dalam yang mana? Yang atas atau yang bawah?
“Kurang sopan!” bentak Cucum Mili kepada Jentik Melati sambil langsung menghadapkan wajahnya kepada wanita penyandang busur itu.
“Kurang sopan!” bentak Kembang Bulan pula, latah karena sudah sering menirukan prinsip lidah ketua bajak laut itu.
Terkejut Jentik Melati, lalu tertawa. Entah apa yang dia tertawakan, apakah kelucuan mendengar makian Cucum Mili dan Kembang Bulan, atau menertawakan tingkah genitnya sendiri kepada Arung Seto.
“Kembalilah, karena Panglima Nining Pelangi sudah pulang!” perintah Cucum Mili.
Jentik Melati segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Benar kata Panglima Laut Pasukan Genggam Jagad itu, tampak di kejauhan, rombongan Nining Pelangi sudah pulang. Mereka datang dengan mengusung sebuah tandu yang membawa sesosok tubuh.
“Siapa yang mereka bawa?” ucap Arung Seto lalu berlari ke arah kedatangan para utusan wanita itu.
Jentik Melati segera berkelebat mengikuti di belakang Arung Seto yang berlari.
“Tetap berdiri dengan satu kaki!” perintah Cucum Mili.
“Baik, Guru!” sahut Kembang Bulan.
Cucum Mili segera berkelebat terbang ke arah kedatangan Nining Pelangi dan rombongan.
“Siapa yang kalian bawa, Nining?” tanya Arung Seto yang memaksa kelima wanita itu berhenti berjalan.
“Kami membawa adik seperguruanku yang hilang saat menyerang Perguruan Bulan Emas,” jawab Nining Pelangi, menepis dugaan bernuansa cemburunya karena melihat kemunculan Jentik Melati di malam dini hari itu.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Cucum Mili.
“Terluka parah,” jawab Nining Pelangi. “Seorang pendekar telah menculiknya dan menjadikannya makhluk menyeramkan yang dikendalikan dari jauh.”
“Arung, apakah Belik Ludah sudah turun dari puncak?” tanya Cucum Mili kepada Arung Seto.
“Sudah,” jawab Arung Seto.
“Cepat bawa kepada Belik Ludah!” perintah Cucum Mili.
“Kalian bawalah saudaraku ini kepada Belik Ludah, aku akan menghadap kepada Gusti Ratu,” kata Nining Pelangi sambil menyerahkan pikulan tandunya kepada Arung Seto.
“Nining!” panggil Arung Seto sebelum kekasihnya itu melangkah pergi menuju tangga bukit. “Gusti Ratu berpesan agar semua laporan apa pun disampaikan nanti pagi saja, ketika Gusti Ratu turun.”
“Oh, baiklah,” ucap Nining Pelangi mengerti.
Keesokan paginya, seiring sang surya pagi terbit, Alma Fatara turun dari puncak bukit. Ratu Siluman itu dikawal oleh tujuh wanita cantik, yaitu Lima Dewi Purnama pimpinan Gagap Ayu, Ineng Santi dan Anjengan.
Meski berbeda sendiri, mau tidak mau Anjengan harus ikhlas ikut jumlah mayoritas dan harus mau disebut “cantik”.
Pagi itu, mereka pun dikumpulkan dalam satu lingkaran besar berlapis yang semuanya menghadap kepada Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara.
__ADS_1
Keriuhan tercipta sebelum apel pagi itu dimulai. Suara riuh yang dihiasi tawa-tawa gembira, bersumber dari barisan kaum batangan. Mereka heboh dan banyak tingkah berjemaah, mencoba menarik perhatian Ineng Santi yang berdiri berdampingan dengan sang ratu.
Kehadiran Ineng Santi ibarat sebutir mutiara yang bercahaya terang di antara para mutiara yang bercahaya redup. Kecantikannya dan jenis warna kulitnya yang berkualitas berbeda, membuatnya terlihat begitu menonjol di antara para wanita cantik lainnya. Inilah yang membuat kaum batangan menggila tiba-tiba, seperti terkena virus kuda liar.
“Hei! Apa yang kalian riuhkan?!” teriak Kalang Kabut sambil mendelik kepada para lelaki yang kesaktiannya memang ada di bawahnya. “Seperti tidak pernah melihat wanita cantik saja!”
Terdiamlah kaum berkumis itu.
Setelah rekan-rekan sejenisnya menghening, Kalang Kabut lalu mengusap rambutnya dari depan ke belakang, seolah pagi itu dia sudah mandi.
Dak!
“Ak!” pekik tertahan Kalang Kabut saat satu bluluk kelapa sebesar jempol mengenai dahinya.
“Aku kira kau berbeda, sehingga membuatku hampir jatuh hati, tetapi ternyata otak lelaki semuanya satu indukan!” seru Bayu Semilir, salah satu wanita cantiknya Pasukan Sayap Panah Pelangi. Ia wanita cantik yang agak tomboy, tapi tidak seekstrem Roro Wiro.
“Hahahak …!” Meledaklah tawa Alma Fatara dan kaum kumisan lainnya menertawai Kalang Kabut.
Mulai saat itu, Ineng Santi pun menjadi idola baru kaum batangan di dalam Pasukan Genggam Jagad. Gadis cantik yang murah senyum itupun hanya bisa berbahagia karena menjadi bunga pujaan para kumbang berekor belang.
“Pasukaaan …!” teriak Anjengan panjang dan keras, tiba-tiba memangkas habis seluruh tawa yang sedang berlangsung. “Siapa kitaaa?”
Teriakan Anjengan sebagai Panglima Besar Pasukan Genggam Jagad disambut dengan keheningan dan kebingungan. Mereka bingung harus menjawab apa teriakan panglima bertubuh besar itu.
Karena teriakannya tidak mendapat sambutan, Anjengan menghempaskan napas kekecewaan.
“Payah!” keluhnya.
“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa sendiri melihat kondisi kikuk itu.
“Dengarkan! Jika aku bertanya kepada kalian, ‘siapa kita?’, kalian jawab dengan kalimat ‘Pasukan Genggam Jagad’. Tidak peduli kalian pasukan laut atau pasukan sayap pelangi, sayap laba-laba, sayap burung ataukah sayap-sayap patah, semuanya jawab ‘Pasukan Genggam Jagad’. Mengerti?!” seru Anjengan.
“Mengerti, Panglima Besar!” jawab mereka semua serentak, terdengar hingga menggetarkan jantung-jantung mereka sendiri.
“Bagus. Aku akan coba, apakah kalian benar-benar paham atau hanya paham masalah kecantikan!” seru Anjengan.
Wanita berjuluk Dewi Laut itu lalu menarik napas panjang, sehingga perut dan dadanya terlihat mengembang.
“Pasukaaan! Siapa kitaaa!” teriak Anjengan.
“Pasukan Genggam Jagad!” jawab mereka semua serentak, bahkan Alma Fatara ikut berteriak.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi menambahkan, mengadopsi teriakan Bajak Laut Kepiting Batu.
“Hua hua hua!” teriak mereka serentak lagi, terdengar begitu ramai sampai membahana ke puncak Bukit Selubung.
“Wik wik wik wik wik!” teriak Anjengan lagi mengadopsi teriakan kode Bajak Laut Ombak Setan.
“Wik wik wik wik wik!” teriak semuanya lagi.
“Hahahak …!”
Ujung-ujungnya mereka tertawa ramai terbahak-bahak, seolah-olah besok tidak jadi kiamat. (RH)
__ADS_1