Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 26: Pasukan Genggam Jagad


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


Tiba-tiba Anjengan yang kudanya berlari agak di depan, memelankan kudanya agar sejajar dengan kuda Iwak Ngasin.


“Iwak, Iwak!” panggil Anjengan.


“Ada apa?” tanya Iwak Ngasin yang wajahnya masih menyisakan bengkak-bengkak manja.


“Lihat di depan sana, ada dua gadis desa!” tunjuk Anjengan sambil menunjuk ke depan. Memang Anjengan sudah melihat keberadaan dua gadis desa yang sedang berjalan jauh di depan sana dan akan mereka lalui sebentar lagi.


Kedua gadis desa itu berjalan kaki searah sambil menggendong bakul berisi sayuran dan hasil kebun. Meski mereka membelakangi, tetapi sudah terlihat cantik dengan rambut yang disanggul dan memperlihatkan belakang lehernya yang berkulit putih serta bokongnya yang padat.


Iwak Ngasin memandang belakang kedua wanita desa itu sejenak.


“Bagaimana jika keduanya seganas putri Adipati?” tanya Iwak Ngasin dengan wajah yang merengut.


“Hahahak!” tawa Anjengan.


“Iwak, li-li-lihat! Ca-ca-cantik-cantik!” teriak Gagap Ayu sambil menunjuk kedua gadis desa ketika rombongan kuda pimpinan Alma Fatara berlari melewati mereka.


Meski menolak, tapi jiwa keranjang lalat Iwak Ngasin tetap menggodanya untuk mengetahui secantik apa paras kedua gadis desa yang mereka lewati itu.


Namun, ternyata bukan hanya Iwak Ngasin yang penasaran untuk melihat paras kedua gadis desa yang sedang berjalan itu, tapi semua ikut menengok untuk melihat.


Mengetahui ada rombongan berkuda yang akan lewat dari belakang, kedua gadis desa tersebut memilih berhenti sejenak dan melihat siapa yang lewat.


Alangkah terkejutnya kedua gadis desa tersebut, karena semua penunggang kuda itu berlalu sambil menengok memandang mereka berdua. Alma Fatara dan sebagian besar rombongan tersenyum. Meski sebenarnya Alma dan rombongan tersenyum dan tertawa bukan kepada kedua gadis itu, tetapi keduanya menyangka bahwa senyum-senyum manis para pengendara itu teruntuk mereka. Keduanya pun tersenyum tersipu malu.


“Cuuuiiit!” Juling Jitu sampai bersiul kencang menggunakan jarinya di lidah.


Memang faktanya, kedua gadis desa itu cantik-cantik. Jika tidak dalam kondisi mengibakan, mungkin Iwak Ngasin akan menunjukkan mata keranjangnya.


Sebenarnya tawa Alma dan rekan-rekan yang lainnya ditujukan kepada Iwak Ngasin.


Akhirnya rombongan Alma Fatara berlalu begitu saja meninggalkan kedua gadis itu.


“Gusti Ratu, kedua gadis itu bukan wanita manusia!” kata Mbah Hitam yang berlari di sisi kuda Alma Fatara.


“Hah!” kejut Alma Fatara sambil mengerem mendadak kudanya.


Cucum Mili dan Kembang Bulan buru-buru sedikit membelokkan kudanya agar tidak terjadi tabrak bokong kuda. Para anggota yang terkejut massal juga segera mengerem kuda-kuda mereka.


Alma Fatara melemparkan pandangannya jauh ke belakang, mencari keberadaan kedua gadis desa tadi. Namun, kedua gadis desa yang mereka lewati tadi sudah tidak terlihat. Padahal jalan yang mereka lalui lurus, tidak menikung.

__ADS_1


Karena Alma melihat ke belakang, yang lain pun turut melihat ke belakang.


“Kenapa, Gusti Ratu?” tanya Cucum Mili.


“Jika kedua gadis itu bukan manusia, aku ingin menangkapnya,” jawab Alma Fatara.


“Loh, kok hilang? Seharusnya mereka masih ada, karena baru saja kita lewati,” kata Juling Jitu.


“Karena mereka bukan manusia,” kata tandas Alma.


“Hah!” kejut Juling Jitu, Anjengan dan rekan-rekan sederajat.


“Untuk apa menangkap mereka?” tanya Cucum Mili.


“Untuk calon istri Iwak Ngasin. Hahaha!” jawab Alma lalu tertawa.


“Hahaha!” tawa mereka ramai-ramai di saat Iwak Ngasin terkejut.


“Kau benar-benar ingin menikahkanku dengan dedemit wanita, Alma?” tanya Iwak Ngasin.


“Eh, Iwak, kita sudah sepakat menyebut Alma dengan sebutan Gusti Ratu!” kata Anjengan mengingatkan.


“Kau benar-benar ingin menikahkanku dengan dedemit wanita, Gusti Ratu?” tanya Iwak Ngasin lagi.


“Hahahak!” tawa mereka beramai-ramai, membuat Iwak Ngasin hanya tersenyum kecut.


“Akan aku pastikan memilihkanmu istri yang terbaik bagimu, Iwak. Jangan sedih!” kata Alma Fatara. Lalu teriaknya, “Lanjutkan perjalanan! Heah heah!”


“Heah heah!”


Rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan.


Sejak meninggalkan Kadipaten Guruput, Alma dan rombongan sudah berkuda selama dua hari tanpa ada kendala berarti dalam perjalanan. Mereka sebenarnya sudah melihat keberadaan Gunung Alasan yang menjulang tinggi. Namun, menurut keterangan orang yang mereka tanya, letak Alas Kutu masih membutuhkan perjalan berkuda dua hari lagi, itupun jika mereka tidak mampir beristirahat.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Alma Fatara dan rombongan akhirnya tiba di sebuah pertigaan jalan. Alma Fatara memutuskan berhenti yang kemudian diikuti oleh rekan-rekannya.


“Ada yang tahu kita harus lewat jalan yang mana?” tanya Alma Fatara.


Tidak ada yang langsung menjawab. Mereka lebih memilih mengamati dua jalan yang berbeda arah. Satu jalan serong ke kanan dan satu jalan serong ke kiri. Jika ke kanan, jalan lebih tertutup oleh apitan dua hutan jati tapi batangnya kurus-kurus, seperti sedang masa paceklik di tengah hijaunya alam. Adapun jalan ke arah kiri lebih cenderung cerah, karena menuju ke daerah separuh gersang.


Saat ini, mereka masih berposisi di sisi timur Gunung Alasan. Mereka masih harus memutari seperempat lereng untuk sampai di sisi utara gunung.


“Hamba tidak tahu, Gusti Ratu,” jawab Mbah Hitam agak telat.


“Bagaimana, Kakak Putri?” tanya Alma Fatara yang sudah terbiasa menyebut Cucum Mili dengan nama “Kakak Putri”.

__ADS_1


“Lebih baik kita menunggu ada orang lewat. Sambil membiarkan kuda merumput dan istirahat sejenak,” kata Cucum Mili.


“Istirahat sejenak!” perintah Alma Fatara.


Mereka pun berturunan dari punggung kuda dan membiarkan kuda-kuda mereka merumput.


“Gusti Ratu, sebenarnya julukanmu apa? Ratu Siluman Ikan, atau Dewi Dua Gigi, atau Ratu Dewi Dua Gigi?” tanya Anjengan yang datang tanpa menghormat, meski ia menyebut Alma “Gusti Ratu”.


“Hahaha!” Alma Fatara hanya tertawa mendengar pertanyaan Anjengan.


“Be-be-betul, Gu-gu-gusti Ratu!” dukung Gagap Ayu yang mengikuti Anjengan. “Se-se-seperti Ratu Ke-ke-kepiting. Na-na-nama ke-ke-kelompoknya Bajak La-la-laut Ke-ke-kepiting Batu.”


“Julukanku adalah Dewi Dua Gigi, tapi aku juga Ratu Siluman. Jika ada ratu atau raja siluman yang lain, aku akan menantangnya. Hahaha!” jawab Alma lalu tertawa. Lalu perintahnya, “Kumpulkan semua anggota, aku akan memberi kejelasan kepada kalian semua!”


Maka, dalam waktu singkat, Anjengan telah mengumpulkan semua anggota, agak menjauh dari jalan. Semuanya duduk bersila di depan Alma yang berdiri. Maka mulailah Alma berpidato tanpa salam.


“Para sahabatku. Aku tegaskan kepada kalian agar kalian benar-benar mengenalku. Aku Alma Fatara yang kedua orangtua kandungku aku sendiri belum tahu. Perjalanan ini adalah untuk mencari siapa sebenarnya kedua orangtuaku. Dan aku tidak akan pernah melupakan ayah dan ibu angkatku yang adalah ibu dan ayah kandung Anjengan. Jadi, perlu kalian ketahui, Anjengan adalah kakakku. Meski dia seperti itu, hormati dia ….”


“Hahahak!” tawa Anjengan bangga, karena namanya diangkat oleh Alma di depan rekan lainnya.


“Hihihi!” tawa Gagap Ayu sambil menepuk belakang kepala Anjengan.


“Julukanku adalah Dewi Dua Gigi dan aku adalah Ratu Siluman Ikan, tapi mulai sekarang aku menetapkan diriku sebagai Ratu Siluman, bukan hanya ratu bagi Siluman Ikan, tapi juga akan menjadi ratu bagi siluman yang lain. Mulai sekarang, aku akan menantang para siluman. Dengarkan itu, Mbah Hitam!” kata Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Mbah Hitam sambil menjura hormat.


“Ratu Siluman tidak membutuhkan sebuah istana dan tempat, tapi Ratu Siluman membutuhkan pasukan dan rakyat di setiap tempat. Itulah cita-citaku kelak. Maka, orang-orang yang mengabdi di bawah keratuanku aku beri nama Pasukan Genggam Jagad. Dan aku berjanji kepada kalian yang mengabdi dengan kesetiaan, akan menjadikan kalian sebagai pendekar-pendekar yang sakti!” kata Alma tegas.


“Hidup Ratu Siluman!” teriak Anjengan keras penuh semangat.


“Hidup Ratu Siluman!” teriak mereka semua, termasuk Mbah Hitam dan Cucum Mili tanpa terkecuali.


“Hidup Ratu Dewi Dua Gigi!” teriak Anjengan lagi yang kembali diikuti oleh yang lainnya.


“Hidup Ratu Dewi Dua Gigi!”


“Hidup Pasukan Genggam Jagad!”


“Hidup Pasukan Genggam Jagad!”


“Hahahak!” tawa Alma Fatara menyaksikan kesemangatan para sahabat sekaligus abdi-abdinya.


Tiba-tiba mereka mendengar suara seekor kuda yang berlari mendekat dari arah mereka semula datang.


“Hidup Ratu Siluman! Hidup Ratu Dewi Dua Gigi! Hidup Pasukan Genggam Jagad!” teriak lelaki penunggang kuda yang datang ke arah kelompok Alma. (RH)

__ADS_1


__ADS_2