Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 20: Pertarungan Sahabat Lama


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


“Seraaang!” teriak lima belas centeng berseragam merah gelap bersenjata pedang terhunus. Mereka berlari beramai-ramai menyerang para centeng penjaga di halaman kediaman Raden Gondo Sego.


Serangan itu mengejutkan para centeng penjaga yang bersenjata celurit. Sontak mereka mencabut celurit dan menyambut serangan tiba-tiba tersebut.


Ting ting ting!


Peraduan logam pedang dan celurit terdengar nyaring berulang-ulang. Suara teriakan dan benturan senjata mengejutkan orang-orang di dalam rumah dan para centeng yang sedang beristirahat di markasnya.


Di saat para centeng penjaga terdesak mental dan kondisi, seekor kuda berlari masuk yang ditunggangi oleh Raden Runok Ulung. Lelaki tua itu lalu meninggalkan kudanya dengan cara berkelebat di udara.


Sess! Bluarr!


Saat berada di udara, Raden Runok Ulung menusukkan tongkatnya. Maka selarik sinar hijau melesat menghantam dan menghancurkan dinding rumah Raden Gondo Sego yang terbuat dari pasir dan batu.


Semua anggota keluarga yang berada di dalam rumah berlari keluar dan segera membaca kondisi yang terjadi. Salah satu orang yang keluar adalah Raden Gondo Sego.


“Runok Ulung!” desis Raden Gondo Sego gusar.


“Cepat pergi panggil Ragabidak pulang!” perintah Nyai Kandi di sisi lain kepada seorang centengnya.


Centeng itu cepat berlari pergi dan mengambil kuda.


“Seraaang!” teriak sejumlah centeng bercelurit yang muncul berlari dari arah markas centeng.


Wuss!


Raden Runok Ulung mengibaskan lengan kanannya, menciptakan angin keras yang melempar balik para centeng yang datang menyerang bergerombol.


Raden Gondo Sego menghentakkan kedua tangannya dengan jari-jari mengepal.


Wuuz! Sriss! Boom!


Dua sinar ungu samar berwujud kepalan tangan melesat cepat menyerang Raden Runok Ulung. Namun, Raden Runok Ulung cukup menggerakkan telapak tangan kanannya. Lapisan sinar hijau langsung muncul seperti perisai prajurit.


Satu dentuman keras terjadi ketika bayangan tinju menghantam lapisan sinar perisai. Pertemuan dua kesaktian itu membuat Raden Gondo Sego termundur setindak, sementara yang diserang tetap teguh di tempatnya.


Raden Gondo Sego lalu berteriak kepada tamu tidak diundangnya itu.


“Runok Ulung!”


Raden Runok Ulung menatap tajam kepada Raden Gondo Sego. Saling tatap penuh kemarahan terjadi di antara sahabat lama yang kini menjadi musuh bebuyutan itu.


“Sudah waktunya kau dan keluarga besarmu aku musnahkan dari muka bumi ini, Gondo Sego!” teriak Raden Runok Ulung sambil menunjuk dengan ujung tongkatnya yang lancip. “Kematian cucuku Jaran Telu harus menjadi tumbal terakhir bagi kalian!”


“Kau telah melanggar Garis Merah dengan datang menyerang ke rumahku, Runok Ulung!” tukas Raden Gondo Sego.

__ADS_1


“Pembunuhan kalian terhadap Jaran Telu membuat aturan Garis Merah tidak berlaku lagi!” tegas Raden Runok Ulung.


“Siapa yang membunuh Jaran Telu? Siapa yang membunuh cucumu? Kau jangan menuduh tanpa bukti, Runok Ulung!” balas Raden Gondo Sego.


“Tidak perlu bukti lagi untuk urusan ini. Hanya keluargamu yang membenci keluargaku, selain itu tidak ada. Kau bisa menggunakan siasat apa saja untuk membunuh semua keturunanku. Cukup Jaran Telu yang kalian bunuh. Aku tidak akan menunggu sampai semua keturunanku mati! Hiaaat!”


Raden Runok Ulung lalu berteriak keras seiring tubuhnya melesat cepat ke arah Raden Gondo Sego. Namun, sebelum serangan itu sampai kepada target, tiba-tiba ….


Seet! Tik! Tseb!


“Aaak!”


Tiba-tiba satu anak panah melesat dari samping. Sigap Raden Runok Ulung berhenti dan menangkis dengan tongkatnya, membuat anak panah itu berbelok melesat menancap di paha seorang centeng berpedang. Centeng bawahan Keluarga Raden Runok Ulung itu menjerit tinggi.


Raden Runok Ulung cepat melihat siapa yang memanahnya. Ternyata seorang pemuda tampan yang ia ketahui adalah putra bungsu musuhnya, yaitu Suriga. Ia pemuda yang sempat dikerjai oleh Alma Fatara sepulang dari berburu.


Bersama Suriga ada Keling dan Basgoro. Keduanya telah memegang senjata pedang.


“Tidak akan aku biarkan kau berbuat sewenang-wenang di kediamanku, Runok Ulung! Hiaaat!” teriak Raden Gondo Sego lalu maju dengan tangan kanan menggenggam keris.


Tang ting tang …!


Pertarungan keris melawan tongkat pun terjadi sengit. Meski usianya jauh lebih tua, tetapi Raden Runok Ulung masih gesit. Keduanya menerapkan taktik saling menyerang.


Sementara itu, para centeng bawaan Raden Runok Ulung berbalik terdesak, karena mereka kini kalah jumlah. Para centeng Keluarga Raden Gondo Sego sudah bermunculan semua. Sebagian sudah luka-luka dan berdarah-darah.


Setelah bertarung agak lama, pada akhirnya ujung tongkat Raden Runok Ulung berhasil merobek perut dan dada baju Raden Gondo Sego. Hal itu mengejutkan Raden Gondo Sego, membuatnya cepat mundur. Hal itu juga yang membuat Raden Runok Ulung kian bersemangat melanjutkan serangannya.


Namun, Raden Runok Ulung buru-buru berkelebat mundur sambil memasang ilmu perisainya berupa sinar hijau berwujud tameng perang.


Blar blar blar!


Kali ini yang menyerang Raden Runok Ulung adalah sekumpulan sinar merah berwujud lukisan singkat burung-burung kecil. Sinar-sinar itu menciptakan ledakan-ledakan keras di depan tubuh Raden Runok Ulung.


Hasilnya, Raden Runok Ulung terjengkang. Kondisi musuh yang terdesak seperti itu, cepat dimanfaatkan oleh Suriga. Ia kembali memanah.


Set! Tep!


Meski baru terjatuh, tetapi jari-jari tangan kiri Raden Runok Ulung sigap menangkap batang anak panah.


Set!


“Akk!”


Anak panah itu bisa dilesatkan balik menyerang Suriga dengan pengerahan tenaga dalam tinggi. Kecepatan lesatnya yang melebihi dari sebelumnya membuat Suriga terkejut dan gerak hindarnya tidak lebih cepat.


Tipis, sisi mata anak panah itu berhasil menyerempet pelipis Suriga, membuatnya menjerit tertahan.

__ADS_1


Sess! Bluar!


Raden Runok Ulung menusukkan ujung tongkatnya ke arah Raden Gondo Sego, melesatkan selarik sinar hijau.


Kesigapan Raden Gondo Sego dalam menghindar membuat sinar hijau itu justru menghancurkan tiang teras rumah. Ternyata, setelah menyerang Raden Gondo Sego, Raden Runok Ulung langsung melesat kepada Suriga dengan tongkat siap membunuh.


“Suriga, awas!” teriak Nyai Kandi memperingatkan putra bungsunya.


Namun, Keling dan Basgoro sebagai pengawal bergerak menghadang laju tubuh Raden Runok Ulung.


Tang tang! Set! Tsuk!


Pedang Keling dan Basgoro beradu dengan tongkat Raden Runok Ulung yang gerakannya lebih cepat. Memang pada dasarnya berbeda tingkat, dengan mudah Raden Runok Ulung membeset dada Basgoro dan menusuk lengan kiri Keling.


“Aaak! Akk!” jerit Keling dan Basgoro.


Sebelum Raden Runok Ulung melanjutkan serangannya kepada Suriga, tiba-tiba pendengarannya menangkap pergerakan bertenaga dalam tinggi dari arah belakang. Kakek bertongkat itu tersenyum samar. Telapak tangan kirinya ia letakkan di perut dan bersinar merah gelap seperti kobaran api versi sinar.


“Ayah tahan!” teriak Suriga memperingatkan ayahnya yang telah berkelebat dengan keris bersinar biru, mencoba membokong Raden Runok Ulung. Suriga tadi melihat senyum samar Raden Runok Ulung.


Namun, Raden Gondo Sego sudah kadung melesat di udara membokong sahabat lamanya.


Untuk mencegah hal buruk menimpa ayahnya, Suriga cepat melesatkan tinju sinar ungu seperti ilmu yang dimiliki ayahnya.


Wuzz! Sriss! Zozz!


Sambil berbalik menghentakkan tangan kirinya yang bersinar merah gelap, Raden Runok Ulung memasang ilmu perisainya untuk menangkal ilmu Tinju Ufuk yang dilepaskan oleh Suriga.


“Hah!” kejut Raden Gondo Sego yang sudah dekat dengan punggung musuhnya, ketika Raden Runok Ulung tiba-tiba berbalik sambil melepaskan sinar merah gelapnya, menyongsong tusukan keris yang bersinar biru.


Boom! Bruask!


“Hukh!” keluh Suriga saat bayangan tinju ungunya meledak mendentum, ketika menghantam ilmu perisai di belakang punggung Raden Runok Ulung. Ia harus terjajar tiga tindak dengan rasa sesak di dada.


Sementara itu, ledakan tenaga yang bersuara unik terjadi ketika sinar merah gelap Raden Runok Ulung dan ujung keris Raden Gondo Sego bertemu. Sinar merah gelap langsung pecah dan menyerang seluruh tubuh Raden Gondo Sego.


Tenaga sakti dari ilmu Api Sekejam Hati itu melempar tubuh Raden Gondo Sego ke belakang sejauh tiga tombak. Punggungnya menghantam tanah dengan keras sementara darah terlompat keluar dari dalam mulut.


“Kakang!” pekik Nyai Kandi cemas.


“Ayaaah!” teriak Suriga pula.


Raden Gondo Sego buru-buru bangkit berdiri. Namun, belum lagi ia berdiri dengan sempurna, ia jatuh terlutut dengan kaki kanan.


“Hoekh!” Raden Gondo Sego muntah darah kehitaman.


“Sudah waktunya kau mati, Gondo Sego!” teriak Raden Runok Ulung sambil mencabut keris yang terselip di perutnya. Ia mencabut Keris Lidah Malaikat miliknya.

__ADS_1


Raden Gondo Sego, istrinya dan putranya mendelik kian tegang. (RH)


__ADS_2