Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 22: Gerebek Dermaga


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


 


Sebenarnya Alma Fatara dan rekan-rekannya ingin tertawa lepas karena saking gembiranya, seolah mereka sedang beruntung menemukan sepasang kekasih sedang “ehem-ehem” di malam itu. Begitulah pikiran jahil mereka. Namun mereka sadar bahwa ada musuh, bahkan mereka yang sedang bercocok tanam di perahu diduga kuat adalah musuh.


Alangkah girangnya Iwak Ngasin cs saat Alma memberi tanda agar mereka berempat mengatasi dua orang berotak kakus di perahu. Kegirangan mereka terlihat dari senyum lebar mereka yang tanpa suara.


Tanpa menimbulkan suara, Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu bergerak bersama mengendap-endap. Sangat pelan mereka bergerak masuk ke dalam air sungai. Seperti pasukan khusus saja, mereka tidak masalah jika harus berbasah-basah ria.


Alma, Lingga Jati, Rewa Segili dan para prajurit diam menunggu di dalam kegelapan.


Dak dak dak …!


“Ah … ah … ah …!”


Suara peraduan dua pinggiran perahu terus terdengar. Suara ******* wanita di atas perahu juga secara bertahap semakin keras, seolah kenikmatannya tahan lama dan tahan hantam.


Setelah tidak melihat dua sosok yang sedang adu “anu” di atas perahu, tiba-tiba sosok lelaki terlihat bangkit dari tengkurapnya dan melakukan gerakan seperti sedang menunggang kambing. Namun, sosok lelaki berambut kribo itu hanya terlihat warna hitam saja karena gelap, posisinya membelakangi Alma dan rekan-rekan.


Sebenarnya Alma Fatara ingin tertawa terbahak melihat model rambut lelaki tidak berbaju di perahu. Namun, dia menahan tawanya dengan kuat.


“Aduh aduh aduh! Pintu ubur-uburku sudah terbuka!” kata si lelaki kribo bernada panik.


“Ah … ah …! Jangan cepat keluar! Katanya seperkasa badak!” bentak si wanita yang berada di posisi bawah si lelaki berambut kribo.


“Aduuuh! Sudah terlanjur naik ke ubun-ubun!” teriak si lelaki sambil semakin menggila menggebah.


“Apanya yang naik ke ubun-ubun?” tanya Iwak Ngasin yang tiba-tiba kepalanya dan kepala Juling Jitu, muncul di kanan perahu, melongok jelas apa yang sedang terjadi di dalam perahu.


“Hah!” pekik si lelaki berambut kribo terkejut bukan main, membuat gerakan berkudanya berhenti mendadak dan kenikmatannya gagal meraih bintang di surga. Seperti mati lampu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Itu sangat menyakitkan hati bagi seorang lelaki.


Jbur!


Tiba-tiba Iwak Ngasin dan Juling Jitu menjambak rambut kribo dengan galak, lalu menariknya jatuh ke dalam air sungai. Lelaki yang tidak berbaju dan tidak bercelana itu tertarik langsung masuk ke dalam air.


Di dalam air, lelaki kribo langsung meronta-ronta, tetapi ada dua pasang tangan yang kuat menahan kepalanya agar tetap tenggelam di dalam air.


Serangan yang tidak jelas itu membuat pasangann wanita juga terkejut dan panik. Ia buru-buru bangun dari terlentangnya, sehingga dia berdiri tanpa busana di atas perahu. Untung gelap.


“Hahahak!” Meledaklah tawa Alma. Dia tidak bisa menahan lagi tawanya melihat kejadian di atas perahu.


Pasalnya, perempuan telanjang itu bertubuh gemuk sebelas dua belas dengan Anjengan. Meski gelap, tetapi bentuk bayangannya terpola dengan jelas.


“Hihihi!” tawa Gagap Ayu yang juga tidak bisa menahan tawanya.

__ADS_1


Ia dan Anjengan sudah siap di sisi kiri perahu. Dengan gerakan yang cepat, Anjengan menyambar tangan wanita tersebut dan menariknya.


Jbur!


Tak ayal lagi, wanita gemuk itu oleng dan jatuh ke air sungai. Anjengan dan Gagap Ayu cepat bekerja di dalam air.


Alma Fatara mendadak menghentikan tawanya dan celingak-celinguk, mencari-cari jika ada musuh yang datang. Ternyata mereka beruntung, tidak ada anggota bajak laut di dekat tempat itu, kecuali dua orang pelaku cabul tadi.


Terdengar suara pergolakan di dalam air, karena ada upaya perlawanan dari pasangan bajak laut yang ditenggelamkan.


Alma Fatara dan yang lainnya harus menunggu untuk memastikan bahwa kedua korban mereka benar-benar mati di dalam air.


“Lutung tenaga badak sudah mati!” seru Iwak Ngasin.


Tidak berapa lama, Gagap Ayu juga bersuara.


“Ke-ke-kembarannya Anjengan su-su-sudah mati!” teriak Gagap Ayu pula.


Memang, ada mayat lelaki hitam dan wanita gemuk berlemak tanpa busana yang kini mengambang di permukaan air. Anjengan masih memegangi kaki mayat perempuan gemuk yang posisinya tengkurap di air.


“Itu apaan, Anjeng?” tanya Juling Jitu mau tertawa sambil menunjuk mayat si wanita.


“Dasar mata kakus!” hardik Anjengan sambil menyiram wajah Juling Jitu dengan air.


“Hahaha!” Juling Jitu dan Iwak Ngasin malah tertawa.


Alma Fatara telah berkelebat di udara dan mendarat di salah satu perahu.


“Untuk apa mayat bugil itu ditahan, biarkan hanyut!” kata Alma Fatara.


“Hahaha!” tawa mereka ramai-ramai.


Mayat kedua bajak laut yang wafat dalam kondisi “kenikmatan” itu lalu didorong ke tengah arus sungai. Keduanya pun terbawa arus.


Lingga Jati, Rewa Segili dan kesepuluh prajuritnya sudah bergerak naik ke dermaga, lalu pergi menaiki perahu. Ternyata hanya ada tiga belas perahu yang ditambatkan di dermaga itu. Semua perahu mereka naiki.


Sambil masih cekikikan karena mengingat dua mayat tadi, keempat sahabat Alma bergerak naik ke atas perahu dalam kondisi basah kuyup.


“Kenapa kalian terus tertawa?” tanya Anjengan yang lebih dulu berhenti tertawa.


“Me-me-melihat yang perempuan, se-se-seperti me-me-melihat Anjengan ti-ti-tidak pakai ba-ba-baju! Hihihi!” kata Gagap Ayu lalu melanjutkan tawanya.


“Hahahak!” tawa Iwak Ngasin dan Juling Jitu kembali mengeras. Alma pun ikut tertawa terbahak.


Namun, tiba-tiba ….

__ADS_1


“Woi woi woi! Berhenti kalian!” teriak seorang lelaki tiba-tiba sambil berlari di atas dermaga menuju ujung.


Lelaki berambut gondrong itu datang berlari kencang bersama satu rekannya yang sama-sama lelaki. Parang panjang mereka sudah terangkat tinggi-tinggi.


“Woi woi woi!” teriak mereka berdua.


Brakr!


Tiba-tiba saja tiang-tiang kaki dermaga berhancuran karena terkena tinju jarak jauh Gagap Ayu.


Bruksr! Jbur!


Kedua lelaki itu hanya bisa terkejut saat mereka tahu-tahu terjerembab masuk ke dalam air sungai.


“Kunyah habis!” teriak Iwak Ngasin berkomando sambil lebih dulu melompat kembali ke air, tepatnya di titik jatuh kedua anggota bajak laut itu.


Juling Jitu, Anjengan dan Gagap Ayu kompak ikut melompat dan jatuh di titik kehancuran dermaga. Pengeroyokan pun terjadi di sana.


“Hahaha!” Alma hanya tertawa melihat tindakan para sahabatnya. Lalu katanya kepada Lingga Jati, “Ayo, Paman, berangkat!”


Alma yang satu perahu dengan Lingga Jati melepas perahu lebih dulu dan bergerak mengikuti arus sungai. Kemudian menyusul perahu-perahu yang lain yang dibawa oleh Rewa Segili dan para prajuritnya.


“Hiaaa!” pekik Iwak Ngasin sambil muncul dari dalam air dengan parang tergenggam kuat di tangan kanannya. Rupanya dia berhasil merebut parang lawan di dalam air lalu membunuh.


Menyusul kemunculan dua mayat anggota bajak laut di permukaan.


“Sa-sa-sangat mudah,” sesumbar Gagap Ayu.


“Hah! Kita ditinggal!” pekik Juling Jitu saat sadar tinggal mereka yang berada di tempat itu.


“Alma kurang pendidikan!” maki Anjengan kesal.


Buru-buru mereka berenang ke perahu yang tinggal ada tiga buah. Anjengan dan Gagap Ayu berkongsi satu perahu.


Mereka segera menyusul Alma dan yang lainnya.


“Jaga suara!” seru Iwak Ngasin berpesan.


Mereka pun sepakat harus menjaga suara. (RH)


 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!

__ADS_1



__ADS_2