
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
“Di mana Kakang Rawil dan Kakak Wangiwulan?” tanya Alma Fatara tiba-tiba kepada keempat sahabatnya. Ia muncul begitu saja, tahu-tahu berdiri di antara Anjengan dan Gagap Ayu yang sedang memanggang daging babi.
“Kodok beranak!” pekik Anjengan sampai terlompat dari duduknya.
“Gagap ca-ca-cantik!” pekik Gagap Ayu juga. Namun, Gagap Ayu memakinya setelah lompat, sehingga lompatnya pun tidak gagap.
“Hahahak!” tawa Alma terbahak melihat keterkejutan mereka, terutama mendengar makian Gagap Ayu. “Enak sekali kau kagetnya seperti itu, Ayu!”
“Itu artinya aku be-be-berhasil,” kata Gagap Ayu.
“Berhasil apa?”
“Be-be-berhasil menyempurnakan ke-ke-kecantikan diriku. Ja-ja-jadi aku ti-ti-tidak akan pernah lu-lu-lupa untuk memuji di-di-diriku, ji-jik ….”
“Kenapa kau jijik?” tanya Alma.
“Bu-bu-bukan itu maksudku. Ji-ji-jika sampai aku te-te-terkejut seperti ini,” ralat Gagap Ayu.
“Kau iseng sekali sampai muncul seperti setan. Pakai hitam-hitam pula. Masih untung kulitmu putih, jika hitam pula, sempurnalah kau menjadi Setan Gosong!” hardik Anjengan.
“Hahaha! Baru kali ini aku mendengar ada Setan Gosong!” kata Alma sambil tertawa. Lalu tanyanya lagi, “Di mana Kakang Rawil?”
“Baru saja pergi,” jawab Anjengan.
“Lalu, dua kekasih kalian ke mana?” tanya Alma.
“Membuang kenikmatan,” jawab Anjengan.
“Hihihi!” Gagap Ayu tertawa. Lalu katanya, “Ke-ke-kenikmatan aroma ne-ne-neraka.”
“Kau mau makan yang mana, Alma? Burung atau pisang? Dua-duanya nikmat,” tawar Anjengan.
“Kenapa bisa sama-sama nikmat?” tanya Alma.
“Ka-ka-kalau makan bu-bu-burung masuk ke mu-mu-mulut, ka-ka-kalau makan pi-pi-pisang ju-ju-juga masuk ke mu-mu-mulut.”
“Hahaha! Jangan membodohiku, Ayu. Makan burung atau pisang ya pasti masuk ke mulut. Makan kacang juga masuk ke mulut. Semua masuk ke mulut!”
“Ada yang ma-ma-makannya ti-ti-tidak masuk ke-ke-ke mulut.”
“Apa?”
“Ma-ma-makan tempat se-se-seperti dia,” kata Gagap Ayu sambil menunjuk Anjengan.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara.
“Minta diperkosa kau, hah?! Sini, biar aku kuliti bajumu!” bentak Anjengan sambil bergerak hendak meraih tubuh Gagap Ayu karena kesal.
“Hihihi!” tawa Gagap Ayu sambil berlari menjauh.
“Hei, sudah! Makanlah kalian, aku mau mengajak kalian bertarung malam ini!” seru Alma.
“Hah!” kejut Anjengan dan Gagap Ayu sambil bersamaan memandang kepada Alma.
“Untuk apa mengajak kami bertarung?” tanya Anjengan.
__ADS_1
“Ada lawan di Mata Air Pahit. Kita akan ke sana malam ini juga!”
“Oooh!” desah mereka berdua manggut-manggut.
“Ada apa, Alma?” tanya Juling Jitu yang tiba-tiba muncul dari dalam kegelapan hutan.
Iwak Ngasin menyusul muncul dari kegelapan.
“Ayo kita berangkat ke Mata Air Pahit!” ajak Alma Fatara.
“Hah! Gelap-gelap seperti ini?” tanya Iwak Ngasin terkejut.
“Ada lawan yang harus kita hadapi. Bawa obor!” tandas Alma.
“Tu-tu-tunggu! Tadi kau bi-bi-bilang makan dulu!” protes Gagap Ayu.
“Tidak jadi, kelamaan!” kata Alma.
“Ayo berangkat!” seru Anjengan pula yang sudah membawa sejumlah makanan pada tangan kanannya, sementara tangan kirinya sudah memegang obor dari kayu.
“Be-be-berangkaaat!” teriak Gagap Ayu pula sambil buru-buru mengambil makanan.
“Ayo ayo ayo!” kata Juling Jitu.
Tanpa komentar, Iwak Ngasin segera mengambil satu kayu dari api unggun.
Mereka pun pergi berlima menembus kegelapan malam menuju ke hulu.
“Kata Kakak Wangi, kau pergi ke rumahnya karena keluarga Kakang Rawil menyerang?” tanya Iwak Ngasin.
“Kalian tahu apa penyebab Raden Runok Ulung sampai menyerang kediaman Raden Gondo Sego?” tanya balik Alma.
“Bukan, karena kematian Kakang Tongkat Biru,” kata Alma.
Terkejutlah Iwak Ngasin, Anjengan dan Gagap Ayu.
“Maksudmu, kakaknya Kakang Rawil yang mengejar Juling Jitu mati? Kau bisa membunuhnya, Jitu?” tanya Iwak Ngasin.
“Bu-bu-bukan aku yang membunuhnya!” sangkal Juling Jitu cepat.
“Ja-ja-jangan mengejekku!” hardik Gagap Ayu.
“Aku tidak mengejekmu, aku terkejut!” bantah Juling Jitu sewot.
“Makanya waktu Kakang Tongkat Biru itu mati, aku mencegahmu untuk mendekati mayatnya dan jangan menceritakannya kepada Kakang Rawil, karena masalahnya bisa semakin runyam. Awalnya aku curiga bahwa keluarga Kakang Rawil akan menuduh kita sebagai pembunuhnya, tetapi mereka justru menuduh keluarga Kakak Wangi,” jelas Alma sambil terus berjalan menelusuri pinggiran sungai untuk menuju ke hulu.
“Lalu siapa yang membunuhnya, Alma?” tanya Anjengan.
“Bekas abdi perempuan Raden Runok Ulung. Sepertinya atas dasar dendam masa lalu. Aku sempat mengikuti sampai ke luar Kademangan, tetapi mereka bisa merasakan Bola Hitam-ku,” jawab Alma.
“Lalu bagaimana dengan kedua keluarga itu? Apakah mereka saling bunuh?” tanya Anjengan.
“Hanya saling melukai. Aku berhasil menghentikan mereka untuk sementara,” jawab Alma.
“Jadi, kalian tadi tidak sempat mencari di Mata Air Pahit?” tanya Juling Jitu.
“Tidak. Kami hanya mengintip bidadari-bidadari mandi di sana. Hahaha!” jawab Alma lalu tertawa terbahak.
“Bidadari?” sebut ulang Iwak Ngasin dan Juling Jitu bersamaan dengan cepat.
__ADS_1
“Hahahak! Kalian ingin mengintip juga?” tanya Alma sambil tertawa.
“Hehehe!” kedua pemuda itu hanya cengengesan.
“Tapi, kalian pasti tidak selera ketika melihat para bidadari itu tidak berpakaian, sebab mereka lelaki semua. Hahahak!” tawa Alma terpingkal-pingkal. “Mereka adalah Ragabidak, kakak dari Kakak Wangi dan centeng-centengnya. Mereka juga mencari Keris Pemuja Bulan. Tapi mereka gagal, ada ular sakti di mata air.”
“Ular sakti apa?” tanya Juling Jitu.
“Ya ular sakti. Makanya aku mengajak kalian,” kata Alma enteng.
“Maksudmu, kau mengajak kami agar kami yang menghadapi ular itu?” tanya Anjengan menyimpulkan.
“Iya. Nanti aku yang menyelam, kalian yang berjaga jika ularnya muncul. Aku beri tahu, ularnya tahan terhadap pukulan sakti, kalian harus mengeroyoknya,” kata Alma.
“Ke-ke-kenapa harus ma-ma-malam ini? Besok le-le-lebih ba-ba-baik, lebih te-te-terang,” tanya Gagap Ayu.
“Dugaanku, jika malam, pusakanya lebih mudah terlihat. Dan juga agar urusan permusuhan dua keluarga itu cepat selesai,” jawab Alma.
Tidak berapa lama, akhirnya mereka tiba di pinggir Air Mata Pahit yang besar. Kondisi di tempat itu gelap gulita, kecuali cahaya dua api obor yang mereka bawa.
“Mengerikan sekali,” ucap Iwak Ngasin sambil melihat ke sekeliling.
“Mencari gelap-gelap di danau sebesar ini?” ucap Anjengan pesimis.
“Pokoknya kalian waspadalah!” kata Alma Fatara lalu tahu-tahu sudah melompat ke air danau.
Jbur!
“Yah, main lompat saja!” gerutu Anjengan.
“Wadduh, ini benar-benar menegangkan,” keluh Juling Jitu.
“Lebih baik kita tambah jumlah obornya,” usul Iwak Ngasin.
Juling Jitu dan Gagap Ayu lalu bergerak untuk mengambil kayu guna dijadikan obor tambahan.
Sementara itu, di dalam kegelapan air, Alma Fatara mengerahkan ilmu Pukulan Bandar Emas, tetapi dibiarkan bercokol di tangan kirinya. Sinar emas menyilaukan membuat kegelapan di dalam air berubah menjadi terang. Keterangan itu bahkan terlihat jelas dari atas permukaan, sehingga keempat sahabat di atas bisa mengikuti titik keberadaan Alma.
Berbeda dengan semua manusia, kecuali dengan Wiwi Kunai, Alma memiliki kemampuan berenang secepat ikan. Saat itu Alma juga berenang cepat dalam upaya mencari tanda-tanda keberadaan benda pusaka.
Ternyata tidak mudah. Hingga Alma berenang selama lima belas menit, belum juga ada hasil apa pun. Di atas, keempat manusia hanya duduk dan berdiri terus memperhatikan ke dalam air.
“Alma semakin ke tengah,” komentar Juling Jitu.
Zezz!
Tiba-tiba keempat muda-mudi itu terkejut saat mendengar suara desisan yang keras, seperti suara desisan ular tapi seolah pakai speaker.
“Apa itu?!” pekik Anjengan tiba-tiba panik.
“Li-li-lihat itu!” tunjuk Iwak Ngasin tergagap sambil menunjuk ke tengah danau.
Sontak mereka semua memandang ke arah tunjukan Iwak Ngasin. Samar-samar mereka melihat bayangan hitam di dalam kegelapan di atas permukaan air danau. Mereka melihat bayangan hitam di dalam kegelapan.
“Hah! Itu u-u-ular!” sebut Gagap Ayu sambil menunjuk pula, ketika sepasang mata bayangan itu bersinar merah.
“Seraaang!” teriak Anjengan, tapi hanya berteriak.
“Itu jauh, Gendut!” kata Juling Jitu.
__ADS_1
Namun, belum selesai mereka berdebat, sosok ular bermata merah itu bergerak menukikkan kepalanya masuk ke dalam air, ke arah pusat cahaya emas yang menyilaukan di dasar danau. (RH)