
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Nyaris semua orang yang melihat insiden serangan rahasia terhadap Alma Fatara itu terkejut. Halusnya Benang Darah Dewa, membuat mereka tidak dapat melihat apa yang menghentikan keris mini di depan leher Alma. Mereka hanya menyangka bahwa Alma menghentikannya dengan kekuatan tenaga sakti matanya.
Terlebih bagi seorang lelaki separuh baya berpakaian gombrong warna merah gelap. Lelaki berkulit putih terang itu menutup kepalanya dengan blangkon warna hitam. Sabuk tebalnya berwarna kuning berlapis-lapis. Dialah orang yang menyerang Alma Fatara dengan keris mini tanpa gagang. Ia kini berdiri di tengah jalan.
Set! Tek!
Menggunakan Benang Darah Dewa, Alma melesatkan keris mini di depan lehernya ke samping kanan, membuat keris itu menancap di tembok batu salah satu lapak. Keris itu menancap hingga masuk tenggelam ke dalam dinding. Ada asap tipis yang keluar dari senjata itu.
“Semuda itu sudah memiliki kesaktian mata yang tinggi,” kata seorang pendekar lelaki kepada rekannya.
“Siapa sebenarnya gadis cantik jelita itu?” tanya rekannya pula yang tidak mungkin mendapat jawaban.
“Apa yang membuat pendekar-pendekar sakti bersikap seperti mengincarnya?”
“Sepertinya akan terjadi pertarungan.”
“Orang yang membuat onar di pasar ini akan diringkus oleh Prajurit Kedamaian. Lihat saja!”
Benar kata pendekar kelas menengah itu, lelaki penyerang Alma segera mendapat mengepungan oleh orang-orang berseragam merah dengan senjata pisau merah siap dilesatkan di tangan.
“Pendekar Keris Peri!” seru seseorang dengan keras sambil datang kepada orang berblangkon yang sedang dikepung. Lelaki bertubuh kekar berusia separuh baya itu menunjukkan wajah yang marah. Ia bernama Jenggot Sejari, Kepala Prajurit Kedamaian di Pasar Tulang.
Jenggot Sejari yang tidak berjenggot itu datang bersama dua orang lelaki berseragam merah pula.
“Pendekar Keris Peri, kau melanggar aturan di Pasar Tulang ini!” hardik Jenggot Sejari kepada lelaki berblangkon. “Kau harus ikut kami!”
Sementara itu di sisi lain di sela-sela keramaian Pasar Tulang, dua orang wanita cantik berbeda usia cukup jauh, sedang berbisik-bisik sambil fokus memperhatikan keributan yang tercipta.
“Ibunda, Kakang Geranda ada bersama rombongan Ratu Siluman!” ucap gadis cantik yang adalah Surken, putri Adipati Dodo Ladoyo. Wanita lebih dewasa yang tidak kalah cantik darinya, tidak lain adalah ibunya yang bernama Nyai Wening Sukma.
__ADS_1
“Anak itu benar-benar sudah melupakan keluarganya, tapi ikut dengan Ratu Siluman mungkin lebih baik untuk membentuk dirinya daripada menjadi raja judi di Kadipaten,” kata Nyai Wening Sukma.
Keduanya berdiri cukup terlindungi dari pandangan Alma dan rombongannya yang masih duduk di atas kuda-kudanya.
“Apa yang akan terjadi di sini, Ibunda?” tanya Surken yang saat ini mengenakan pakaian biru terang. Ia membawa pedang kesayangannya.
“Di Pasar Tulang ini dilarang keras menyerang seseorang. Jika tidak dilarang, akan selalu ada pertarungan di sini, karena banyak pendekar yang datang ke tempat ini mencari sesuatu. Para pendekar yang bermusuhan sering tanpa sengaja bertemu di sini,” jelas Nyai Wening.
“Jika tidak boleh menyerang, lalu kenapa pendekar itu tetap nekat menyerang?” tanya Surken.
“Pendekar Keris Peri bukan pendekar kemarin pagi. Dia tahu aturan di Pasar Tulang. Menurut aturan, dia harus dengan suka rela membiarkan dirinya ditangkap oleh Prajurit Kedamaian dan membayar denda tinggi. Tapi sepertinya Pendekar Keris Peri akan menggunakan kesempatan yang bernama Tantangan Bertaruh Nyawa,” jelas Nyai Wening Sukma.
“Apa itu, Ibunda?” tanya Surken terus penasaran.
“Kau lihat kendi biru yang ada di dinding atas sebelah kiri?” tanya sang ibu.
“Iya,” jawab Surken sambil mengangguk.
Tiba-tiba pendekar berblangkon yang bernama Pendekar Keris Peri melesatkan satu keris mininya ke sisi kiri atas. Kerisnya itu melesat serong ke atas dan menghancurkan kendi berwarna biru yang digantung di sisi atas tebing.
Terkejutlah sebagian warga pasar melihat tindakan Pendekar Keris Peri, termasuk Jenggot Sejari dan anak buahnya. Sementara Alma Fatara dan rombongannya memilih menunggu dan menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebenarnya Alma Fatara mengenal siapa adanya Prajurit Kedamaian itu, tetapi dia sengaja diam.
Para Prajurit Kedamaian yang awalnya mengepung Pendekar Keris Peri, serentak mengendurkan kuda-kudanya dan bergerak mundur agak menjauh, memberi ruang bagi Pendekar Keris Peri.
Kegiatan operasional dan transaksi di Pasar Tulang itu mutlak terhenti dengan terciptanya ketegangan tersebut.
“Kau sadar apa yang kau pilih, Pendekar Keris?” tanya Jenggot Sejari.
“Ya, jika aku kalah dalam Tantangan Bertaruh Nyawa, nyawa dan ragaku milik Penguasa Pasar Tulang, pusaka dan hartaku milik lawan tarungku!” jawab Pendekar Keris Peri lantang, benar-benar seperti seorang pendekar berjiwa pendekar.
“Baik. Siapa pendekar yang ingin kau tantang?” tanya Jenggot Sejari.
“Gadis cantik berjubah hitam itu!” jawab Pendekar Keris Peri sambil menunjuk lurus kepada Alma Fatara yang hanya tersenyum samar dengan maksud yang misteri.
__ADS_1
Jenggot Sejari dan kedua pengawalnya berbalik lalu berjalan beberapa tombak mendatangi Alma Fatara. Ia berhenti dua tombak di depan kuda Alma.
“Nisanak, siapa pun kau adanya, kalian telah masuk ke Pasar Tulang. Seluruh peraturan di pasar ini wajib berlaku kepada kalian juga,” ujar Jenggot Sejari dengan gaya berwibawa sebagai Kepala Prajurit Kedamaian di tempat itu. Mungkin bisa disebut dia adalah orang nomor tiga di Pasar Tulang.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara datar dan bersikap santai. “Katakan, apa yang harus aku lakukan berdasarkan aturan Pasar Tulang!”
“Pendekar Keris Peri telah memilih Tantangan Bertaruh Nyawa dengan memecahkan kendi biru di atas dinding. Orang yang ditantang adalah dirimu. Aturan Tantangan Bertaruh Nyawa adalah pertarungan satu lawan satu di Arena Tulang. Pertarungan boleh sampai mati atau memaafkan lawan. Jika penantang kalah, maka nyawa dan raganya akan menjadi milik Pasar Tulang, tapi harta uang, senjata dan pusaka akan menjadi milik pendekar yang ditantang. Jika penantang menang, dia boleh membunuh atau tidak pendekar yang ditantang setelah apa yang diinginkannya tercapai. Tidak ada alasan bagi pendekar yang ditantang untuk menolak tantangan. Apakah kau paham, Nisanak?” jelas Jenggot Sejari.
“Aku paham dan aku menerima tantangan Pendekar Keris Peri!” tandas Alma.
“Perkenalkan siapa kau adanya!” tanya Jenggot Sejari.
“Aku Alma Fatara yang berjuluk Dewi Dua Gigi. Aku adalah Ratu Siluman yang memimpin Pasukan Genggam Jagad!” seru Alma Fatara agak keras, sebab ia berkepentingan untuk mengiklankan identitas baru kelompoknya.
Terdengar riuhlah para pendekar mendengar nama itu. Pasalnya, dalam dua tahun terakhir, nama Alma Fatara yang berjuluk Dewi Dua Gigi tapi memiliki keompongan dua gigi depan atasnya, menjadi salah satu bahan pembicaraan utama di kalangan para pendekar, terutama di level tinggi.
Ada beberapa faktor yang membuat Alma Fatara menjadi buah bibir sejak dua tahun lalu. Faktor pertama karena dia membawa-bawa pusaka Bola Hitam yang pasti menjadikannya buruan bagi para pendekar sakti. Faktor kedua, dia menjadi aktris utama yang membantu Kerajaan Jintamani menumpas pemberontakan Senopati Gending Suro.
Faktor ketiga, Alma adalah murid dua tokoh sakti, yaitu Wiwi Kunai yang ternama dengan julukan Pemancing Roh dan Garudi Malaya yang berjuluk Pangeran Kumbang Genit. Dan faktor keempat, ketika Alma muncul sebagai pendekar sakti di dunia persilatan, usianya masih enam belas tahun, yang artinya masih terlalu muda untuk menyandang status sakti.
“Ingat baik-baik namaku, aku tidak mau ada pertanyaan dua kali untuk itu!” seru Alma lagi.
“Apa yang kau inginkan dari Ratu Siluman, Pendekar Keris Peri?” tanya Jenggot Sejari yang beralih memandang kepada calon lawan Alma.
“Bola Hitam!” tegas Pendekar Keris Peri.
Jawaban Pendekar Keris Peri kembali membuat riuh suasana pasar, lebih riuh dari suasana arisan tante-tante girang. Para pendekar kelas atas sudah tidak terkejut, karena mereka bisa merasakan aura sakti Bola Hitam pada diri Alma. Adapun para pendekar kelas menengah ke bawah, mereka banyak tahu tentang legenda Bola Hitam, tapi banyak yang tidak pernah melihat kesaktiannya dan tidak bisa merasakan auranya.
“Ratu Siluman, apakah kau benar memiliki Bola Hitam?” tanya Jenggot Sejari untuk mempertegas keberadaan pusaka itu, meski ia pun bisa merasakan dengan jelas aura sakti Bola Hitam.
“Benar. Bola Hitam ada padaku,” tegas Alma.
“Pasar Tulang ditutup sementara!” teriak Jenggot Sejari. (RH)
__ADS_1