
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
Pagi datang dengan kecerahan bersama matahari yang menyilaukan muncul dari timur. Pagi-pagi warga Kadipaten Santun Pongah sudah giat beraktivitas. Ada yang ke kebun, ke sawah, ke sungai, ke rumah majikannya, berdagang, dll.
Sementar itu, Alma Fatara terlihat sedang bersantai-santai di sebuah tanah lapang di pusat Kademangan. Berbeda dengan keempat sahabatnya yang sedang berlatih sendiri-sendiri, karena mereka memiliki kesaktian yang berbeda-beda.
Mereka berlatih atas perintah Alma sebagai kakak seperguruan mereka.
Mereka berada di tempat itu sesuai hasil akhir dari perbincangan tadi malam di kediaman Raden Runok Ulung.
“Besok kerahkan seluruh centeng untuk mencari Kluwing dan Ki Bending, Nari!” perintah Raden Runok Ulung tadi malam.
“Baik, Kek,” ucap Narisantai patuh.
“Itu tidak perlu kau lakukan, Kek,” kata Alma. “Jadikan saja aku sebagai umpan.”
“Apa maksudmu, Alma?” tanya Raden Runok Ulung tidak mengerti.
“Kedua orang itu sudah meraasakan keberadaan Bola Hitam padaku. Tadi siang mereka sempat mengejarku, tetapi mereka kehilangan aku. Hahaha!” kata Alma.
“Maksudmu, mereka akan datang mencarimu demi Bola Hitam?” terka Narisantai.
“Kakak Cantik benar,” tandas Alma.
“Aku tidak akan lancang menjadikan seorang ratu sebagai umpan!” kata Raden Runok Ulung.
“Mereka orang sakti. Kakek hanya akan mengorbankan centeng-centeng untuk menghadapi mereka. Lebih baik langsung menghadapinya dengan orang yang sepadan. Apalagi Kakek sudah tidak terkalahkan dengan memegang Keris Pemuda Bulan. Biar aku dan rekan-rekanku yang menunggu besok pagi sebagai umpan. Pokoknya Kakek dan Kakak Cantik bersiap saja. Kami tidak akan ikut campur,” ujar Alma.
“Baiklah jika kau bersikeras,” kata Raden Runok Ulung setuju.
Setelah kesepakatan lisan itu, mereka pun santai sejenak untuk minum wedang. Hitung-hitung menghangatkan tubuh bagi Alma. Barulah Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu menyergap berbagai penganan yang dihidangkan. Berbeda dengan Mbah Hitam yang tidak makan dan minum.
Namun, baru saja mereka mengunyah, Alma Fatara sudah memutuskan untuk pulang, entah mau pulang ke mana karena mereka tidak punya rumah.
“Yang benar saja, Alma. Aku baru menelan tiga kali!” protes Juling Jitu.
“Kue di tanganku belum habis, Alma!” protes Anjengan juga. Tangannya memegang kue tiga buah sekaligus.
“Ti-ti-tidak asik!” gerutu Gagap Ayu.
“Tidak suka lihat kawan senang!” rutuk Iwak Ngasin pula.
__ADS_1
“Hahahak!” Alma hanya tertawa sambil bangkit dari duduknya.
“Dibungkuskan saja semua!” kata Raden Runok Ulung.
“Setuju!” seru Iwak Ngasin, Juling Jitu dan Anjengan bersamaan.
“Se-se-setuju!” seru Gagap Ayu terlambat.
“Terlambaaat!” sorak ketiga sahabat Gagap Ayu.
“Hahaha …!” tawa mereka riuh kecuali Alma, sampai-sampai orang-orang yang ada diteras terkejut dan menengok ke dalam.
“Berhenti tertawa!” hardik Alma. “Ini dalam suasana duka, tidak pantas tertawa!”
“Tadi kau juga tertawa sendiri!” balas Juling Jitu.
Akhirnya mereka meninggalkan kediaman Raden Runok Ulung dengan membawa besek anyaman bambu beberapa bungkus.
Pagi harinya, Alma memasang dirinya sebagai umpan. Di tempat santainya, tidak terlihat keberadaan Mbah Hitam. Alma memerintahkan Mbah Hitam untuk menghilang demi kedamaian dan kenyamanan bersama. Sejak Mbah Hitam berada di tengah-tengah mereka, Anjengan dan Gagap Ayu lebih seru bertengkarnya.
Di saat Alma Fatara sedang senang menjadi umpan, Narisantai pergi seorang diri menuju kediaman Raden Gondo Sego.
Namun, ketika Narisantai baru melihat atap rumah Raden Gondo Sego, tiba-tiba sejumlah kuda muncul berlari dan menghadang langkah Narisantai. Janda itu langsung mengenali salah satu penunggang kuda yang menghadang, yaitu Dugalara, putra tertua Raden Gondo Sego.
Dugalara bersama tiga orang lelaki penunggang kuda lainnya yang berpakaian merah-merah tapi gelap. Ketiganya menyandang senjata golok parang. Usia paling muda dari mereka adalah empat puluh tahun. Ketiganya adalah anak buah Rawe Sego yang diminta membantu keluarga Raden Gondo Sego.
“Mau ke mana kau, Narisantai?!” tanya Dugalara dengan membentak.
“Ke rumahmu,” jawab Narisantai singkat dan dingin.
“Kau ingin membuat masalah?!” tuding Dugalara.
“Jaga mulutmu, Dugalara!” kecam Narisantai. Emosi wanitanya jadi tersulut. “Aku datang untuk melenyapkan masalah!”
“Kau ingin melenyapkan keluargaku? Jangan berpikir kau bisa!” teriak Dugalara marah. Lalu perintahnya kepada ketiga lelaki yang bersamanya, “Serang!”
Serentak ketiga lelaki berpakaian merah gelap itu berlompatan dari punggung kudanya. Mereka langsung meloloskan golok dan menyerang Narisantai.
Set! Tang tang tang!
Narisantai langsung pula meloloskan pedangnya dan menangkis ketiga serangan parang. Pertarungan pun terjadi dengan seru. Ternyata, Narisantai terlihat masih terlalu tangguh bagi ketiga lelaki berparang itu.
__ADS_1
Melihat hal itu, Dugalara memutuskan masuk pula ke dalam pertarungan. Ia pun langsung meloloskan keris dari belakang pinggangnya.
Mendapati dirinya dikeroyok oleh empat lelaki sekaligus, Narisantai memilih untuk segera menuntaskan pertarungan salah paham itu.
Sets! Trin ting!
Bugk! Buk!
Ketika keempat pengeroyoknya dalam posisi berkuda-kuda di sekelilingnya. Narisantai cepat memainkan ilmu Pedang Berlari.
Narisantai melakukan gerakan berlari kencang berputar dengan pedang diayunkan memutar mengikuti iringan langkah kaki. Dari sabetan memutar itu ada garis sinar merah yang terlukis di udara.
Tebasan cepat itu memaksa keempat lelaki tersebut menangkis. Namun, para lelaki bisa merasakan kekuatan yang tidak biasa, sebab mereka sampai terdorong keras. Dua dari mereka sampai jatuh terpelanting.
“Jika kalian tidak mau berhenti, jangan salahkan aku jika ada yang mati oleh pedangku!” seru Narisantai. Lalu katanya kepada Dugalara, “Dugalara, aku datang untuk memberi tahu bahwa Keluarga Raden Runok Ulung menyatakan mengakhiri permusuhan dengan kalian!”
“Apa?” ucap Dugalara terkejut. “Apa maksudmu, Narisantai?”
“Sepertinya harus aku jelaskan dengan sejelas-jelasnya kepadamu. Tapi, lebih baik biarkan aku bicara langsung kepada ayahmu. Aku tidak mau menjelaskan dua kali,” tandas Narisantai.
“Mundur!” perintah Dugalara.
Maka keempat lelaki itu kembali ke kudanya. Mereka lalu pergi mengikuti Dugalara untuk sampai ke kediamannya.
Narisantai yang harus menahan amarahnya, kembali menyarungkan pedangnya. Ia melanjutkan tujuannya menuju kediaman Raden Gondo Sego.
Sementara itu, di pusat Kademangan, Alma Fatara yang sedang duduk di dahan sebuah pohon besar, melihat kedatangan dua orang yang ia curigai adalah Ki Bending dan Kluwing.
“Mangsa kita sudah datang!” kata Alma setengah berteriak kepada keempat sahabatnya.
Iwak Ngasin dan lainnya menghentikan aktivitasnya. Mereka segera mencari mangsa yang dimaksud oleh Alma. Akhirnya mereka itu melihat sosok seorang wanita kisaran separuh baya berpakaian kuning. Wanita itu berambut sebahu. Wanita itu tidak lain adalah Kluwing.
Orang yang bersama Kluwing adalah lelaki tua berjubah hijau gelap. Meski tua kakek itu tidak berkumis dan berjenggot, tetapi warna rambutnya hitam dan putih.
“Benar mereka orangnya, Alma?” tanya Anjengan.
“Benar. Mereka pasti akan ke mari,” jawab Alma.
Maka Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu lalu berdiri berderet pada satu garis. Mereka memandang kepada kedua orang yang berjalan ke arah mereka. Terlihat jelas bahwa mereka seolah menunggu kedatangan kedua orang itu.
Sementara itu, Alma Fatara tetap duduk di atas dahan, memantau dari atas. (RH)
__ADS_1