Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
PITAK 20: Korban Selamat


__ADS_3

*Episode Terakhir (PITAK)* 


Kondisi dalam Gua Ular sudah terang karena obor-obor batu telah dinyalakan. Gua itu cukup dalam. Ada lorong yang tidak sejalur dengan arus air sungai. Ternyata di dalam sana ada ruang besar yang merupakan hasil bentukan dari penggalian bebatuan yang mengandung emas.


Suasananya sangat bernuansa tambang. Ada bagian-bagian dinding yang menjadi spot utama dari penghancuran untuk diambil batu-batunya. Ada pula sejumlah titik yang dijadikan penumpukan bebatuan.


Ada pula sejumlah gerobak beroda dan alat pikul yang biasa digunakan untuk mengangkut bebatuan yang masih bercampur emas mentah. Alat-alat seperti martil besar dan linggis terlihat berserakan tidak beraturan karena ketika tempat itu diserang, para prajurit sedang dalam kondisi bekerja, yang kemudian mayat-mayat mereka dibuang ke aliran sungai.


Sebagai pemimpin baru yang menguasai tambang emas Gua Ular, Wulan Kencana pun masuk untuk melihat suasana kondisi dalam tambang.


Sementara pasukan lelaki berseragam cokelat bekerja membuang puluhan mayat ke dalam sungai dan membiarkannya mengalir menuju hilir.


Air sungai itu mengalir menabrak dinding batu, membuat arus harus bergerak mendorong lewat lubang yang ada di bawah dinding batu. Air itu kemudian keluar di bawah tebing dan terus mengalir menuju hilir, yang akan melalui sejumlah pedesaan yang masih berada di dalam wilayah Kadipaten Gulangtara.


Untuk memperlancar pembuangan mayat dan supaya tidak terjadi penyumbatan arus di lubang bawah dinding gua, beberapa lelaki bermodal bambu panjang mendorong tubuh mayat agar tenggelam masuk ke dalam lubang arus. Mungkin hanya di Gua Ular ada pekerjaan seperti itu.


Pembuangan puluhan mayat prajurit, lelaki berseragam cokelat dan mayat-mayat hangus jelas mencemari sungai sepanjang hilir. Ada mayat yang terus hanyut terbawa arus, ada yang tersangkut di bebatuan sungai dan tidak ada yang sedang menikmati liburan di akhir pekan.


Banyaknya mayat baru yang terbawa arus mengejutkan Pasukan Sayap Laba-Laba dari Pasukan Genggam Jagad. Mereka yang berpisah dari pasukan utama telah sampai di sungai, tempat mereka tadi pagi juga menemukan banyak mayat prajurit.


Namun, kali ini jumlah mayat lebih banyak dan lebih beragam.


Berdasarkan keterangan Badak Ireng tentang Gua Ular dan aliran sungai yang melewatinya, juga berbekal penemuan mayat-mayat tadi pagi di bagian hilirnya, Alma Fatara memerintahkan Panglima Arung Seto untuk membawa pasukannya memeriksa hilir sungai yang ada di arah belakang Gua Ular.


“Bagaimana ini, Panglima?” tanya Juling Jitu kepada Arung Seto, mewakili rekan-rekan pendekar lainnya.


“Periksa saja setiap mayat yang ditemukan, mungkin ada mayat yang pura-pura hidup!” perintah Arung Seto.


“Hahaha!” tawa Juling Jitu dan rekan-rekannya.


“Jangan tertawa, aku serius!” hardik Arung Seto.


“Hahaha …!” Bukannya terdiam, Juling Jitu dan yang lainnya justru tertawa kian panjang.


“Orang lain yang makan, apakah kita yang harus kebagian ampasnya? Ayo, periksa sampai ke hulu!” tandas Arung Seto.


“Ayo, ayo, ayo!” teriak Juling Jitu kepada rekan-rekannya. Sambil menyandang panji pasukan di punggungnya, dia segera melompat-lompat di bebatuan sungai dan mulai memeriksa mayat di sungai satu per satu,

__ADS_1


Anggota pasukan yang lain segera bekerja melaksanakan perintah. Mereka memeriksa mayat-mayat yang tersebar.


Arung Seto bukanlah panglima berkarakter mandor. Ia juga ikut turun kaki mengecek mayat-mayat tersebut.


“Aku menemukan mayat wanita cantik!” teriak Kolong Wowo dari pinggiran sungai yang posisinya cukup jauh dari rekan-rekannya. “Mayatnya masih hidup!”


“Jangan macam-macam kau, Kolong Wowo!” teriak Aliang Bowo kepada adik seperguruannya itu. “Kau jangan bernafsu kepada mayat!”


“Ini masih hidup. Susunya masih segar!” teriak Kolong Wowo.


Melebar mata Aliang Bowo mendengar kata “susu segar”. Ternyata bukan hanya Aliang Bowo yang bertindak seperti kucing mendengar suara cicitan anak tikus, beberapa pendekar dari pasukan itu bereaksi sama.


Kentara sekali jiwa lelaki yang mata keranjang masih mendominasi karakter para pendekar anggota Pasukan Sayap Laba-Laba. Sebagian dari mereka serentak berkelebatan menuju ke posisi Kolong Wowo berada untuk melihat, apakah benar dia menemukan “susu segar”.


Setibanya di sana, tujuh pendekar lelaki yang sudah tiba jadi berdiri diam melihat sesosok wanita berjubah putih dan berpinjung merah. Pusat perhatian mereka jelas langsung tertuju pada pinjung yang menutupi sebagian dada cantik wanita dewasa berkuku hijau itu. Wanita itu dalam kondisi mata terbuka, tapi wajahnya meringis menahan rasa sakit yang tinggi.


“Ini Cantik Kuku Hijau. Kalian berani melecehkannya?” kata Kalang Kabut menantang rekan-rekannya.


Sebagian besar dari mereka mengenal pendekar wanita yang bernama Cantik Kuku Hijau, kecuali Juling Jitu.


“Wanita yang suka mencakar mati pendekar lelaki,” jawab Aliang Bowo.


“Apa yang kalian tonton?” tanya Gempar Gendut sambil mendarat di atas batu besar, tepat di belakang Kalang Kabut.


Buk!


“Akk!” jerit Kalang Kabut terkejut saat punggungnya ditabrak perut besar Gempar Gendut.


Semua juga terkejut, pasalnya Kalang Kabut tidak bisa menolak jatuh ke depan, tepatnya ke bawah, di mana Cantik Kuku Hijau terbaring.


Puk!


Agar wajahnya tidak tersungkur ke bebatuan, refleks tangan kekar Kalang Kabut mencari landasan untuk menahan tubuhnya. Karena bercampur kaget dan bingung, akhirnya tangan kanannya yang ragu mendarat di dada cantik wanita itu.


“Haaah!” Justru rekan-rekan Kalang Kabut yang menarik napas panjang lewat mulut lantaran mereka terkejut tidak percaya.


“Kalang Kabut, kau melecehkannya!” seru Tengkorak Telur Bebek.

__ADS_1


“Aaa!” erang Cantik Kuku Hijau, tanpa berbuat sesuatu untuk segera menyingkirkan tangan Kalang Kabut. Itu bukan erangan karena menikmati, tetapi erangan karena kesakitan.


Kalang Kabut yang sejenak terpaku karena terlalu syok, akhirnya buru-buru menarik tangannya.


“Hahaha!” tawa Gempar Gendut yang telah mendorong Kalang Kabut dengan perutnya.


“Ma-ma-maafkan aku, Cantik!” ucap Kalang Kabut dengan wajah memerah dan berkeringat karena merasa bersalah.


“Kalian ini apa-apaan?!” hardik Arung Seto yang datang belakangan. Meski itu adalah pemandangan yang indah, sebagai panglima dia harus jaga gambar diri. “Wanita itu jelas-jelas terluka parah, kalian justru hanya memandanginya. Ayo bantu aku mengangkatnya!”


Arung Suto lalu lebih dulu berinisiatif berjongkok di sisi bahu Cantik Kuku Hijau. Ia menyusupkan tangan kanannya ke belakang leher si wanita dan tangan kiri ke bawah punggung. Mau tidak mau, wajah Arung Suto berhadapan langsung dengan dua sembulan itu. Namun, dia berlagak sibuk mengatur anak buahnya dan terkesan abai dengan keindahan yang hanya sejengkal dari hidungnya.


“Ayo cepat bantu angkat, sepertinya tulangnya patah!” sahut Tengkorak Telur Bebek yang bisa membaca kondisi Cantik Kuku Hijau.


Buru-buru Kolong Wowo ambil peran untuk mengangkat pinggang dan bokong Cantik Kuku Hijau. Sementara Kudapaksa segera mengambil bagian betisnya.


“Aku di sebelah mana?” tanya Juling Jitu yang sudah kadung mendekat, tapi tidak kebagian ruang untuk ikut mengangkat.


“Jitu, lebih baik kau tidak ikutan. Kau sudah beristri!” teriak Aliang Bowo.


“Hahaha!” tawa rekan-rekan.


“Aku hanya berusaha untuk membantu,” kilah Juling Jitu.


Arung Seto, Kolong Wowo dan Kudapaksa bergerak serentak mengangkat tubuh Cantik Kuku Hijau. Wanita itu hanya menjerit-jerit halus, menahan kuat rasa sakit pada beberapa tulang dalam tubuhnya yang patah.


“Woi! Di sini ada satu lagi!” teriak Kura Pana di posisi yang lain.


Mereka yang tidak sedang mengangkat tubuh Cantik Kuku Hijau, segera berlompatan dan berkelebat menuju ke posisi Kura Pana.


“Sialan, aku kira wanita juga!” maki Setoro Beksi saat melihat apa yang telah ditemukan oleh Kura Pana.


“Mengecewakan!” ucap Segara.


“Hahaha …!” tawa terbahak dan panjang Kura Pana.


Yang Kura Pana temukan adalah sesosok lelaki bertubuh kecil. Orang itu tidak lain adalah Songgor Getok, salah satu pendekar bawahan Badak Ireng yang berhasil lolos dari kematian di Gua Ular. Kondisinya masih bernyawa, tetapi ia pun menderita luka parah. (RH)

__ADS_1


__ADS_2