Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Dewa Gi 3: Guru Diusir


__ADS_3

*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*


 


“Hahaha!”


Semua murid Perguruan Bulan Emas, Perguruan Jari Hitam dan Pasukan Genggam Jagad yang berkumpul dan menunggu di Ruang Purnama, tiba-tiba mendengar suara tawa Alma Fatara, tetapi tidak terlihat wujudnya.


Dari arah pintu masuk ke ruangan berbatu itu muncul berjalan Rereng Busa, Balito Duo Lido, Riring Belanga, dan Cucum Mili. Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian. Namun, yang menjadi pertanyaan, di mana Alma Fatara alias Ratu Siluman, yang akan menjadi ratu bagi orang-orang Perguruan Bulan Emas.


Keempat pendekar senior itu lalu berhenti di posisi paling depan yang menghadap kepada singgasana batu yang memiliki tabir kain berwarna jingga.


“Hahaha!” Kembali terdengar tawa Alma Fatara, tapi kali ini dibarengi kemunculan bayangan wanita berambut panjang yang sudah duduk di singgasana batu, tempat yang biasa diduduki oleh Wulan Kencana.


Pada tirai jingga terlihat pula bayangan seorang lelaki berdiri tidak jauh di sisi kanan kursi batu besar.


Sezt!


Tiba-tiba sekelebatan sinar kuning tipis melengkung melesat memangkas semua kain tabir yang menutupi pemandangan. Kain-kain jingga yang terpotong berguguran dengan lemah gemulai berserakan di lantai dan tangga. Dengan demikian, para abdi dan calon abdi itu bisa melihat langsung keanggunan dan kejelitaan Alma Fatara.


Setelah agak terkejut dengan pemotongan itu, khalayak ramai segera fokus memandang kepada singgasana, yang terlihat terang oleh penerangan beberapa obor batu yang besar. Orang yang berdiri di sisi singgasana tidak lain adalah Mbah Hitam.


“Sembah hormat kepada Gusti Ratu Siluman!” teriak Anjengan tiba-tiba sambil hunuskan pedang agar terlihat lebih sakral.


“Sembah hormat kami, Gusti Ratu!” seru mereka semua serentak sambil menjura hormat kepada Alma Fatara.


“Hahaha!” Alma Fatara menyambut penghormatan massal itu dengan tawa bersahaja, meski dua ompongnya mengurangi wibawanya.


Alma Fatara melihat jumlah murid-murid Perguruan Bulan Emas jauh lebih banyak dari sebelumnya. Bahkan ada beberapa orang yang dihadirkan meski dalam kondisi sakit. Dua di antara mereka yang sakit adalah Silang Kanga dan Buto Renggut.


“Siapa kakek itu? Aku yakin dia memiliki kedudukan penting di perguruan ini,” tanya Alma Fatara.


“Beliau adalah guru kedua kami, Wakil Ketua Perguruan, namanya Silang Kanga,” jawab Kawal Rindu yang menjadi juru bicara sementara dari kelompok Perguruan Bulan Emas.


“Kenapa dia sampai menderita luka dalam separah itu?” tanya Alma Fatara lagi.


“Sebelum kedatangan Gusti Ratu, Guru bertarung dengan adik Guru Ketua yang gila,” jawab Kawal Rindu.


Kata “gila” membuat Alma Fatara dan para abdinya seketika teringat dengan wanita pingsan, yang mereka temukan di tengah jalan saat menuju perguruan.


“Jika dia adalah guru kedua kalian, berarti dia memiliki kesaktian yang juga tinggi,” kata Alma Fatara menyimpulkan. Ia lalu bertanya langsung kepada Silang Kanga, “Kakek Silang Kanga, jika seandainya saat ini kau tidak sakit, apakah kau akan tunduk atau melawanku? Jawab seolah kau sedang dalam kondisi sehat.”


“Hamba akan melawan!” jawab Silang Kanga mantap tapi lemah.


“Bagus. Aku tidak akan memaksamu untuk tunduk. Namun, kau harus menerima kenyataan bahwa perguruan ini sudah aku kuasai secara keseluruhan. Bagi yang tidak mau tunduk di bawah kepemimpinanku, maka hanya ada dua pilihan, pergi dengan aman dari perguruan ini atau mati secara ksatria di tanah ini. Namun, kau dalam kondisi sakit parah dan memilih tidak tunduk, maka aku akan mengusirmu setelah kondisimu sudah bisa melakukan perjalanan,” kata Alma Fatara memutuskan.


“Aku menganggap keputusan Gusti Ratu begitu bijak. Terima kasih, Gusti Ratu,” ucap Silang Kanga yang dalam kondisi terduduk pada sebuah kursi yang ditandu.

__ADS_1


“Aku akan ikut denganmu, Guru!” seru Buto Renggut.


Silang Kanga menengok kepada Buto Renggut lalu mengangguk mengiyakan.


“Baik, sebelum kalian semua mengucap sumpah setia pengabdian kepadaku, aku akan memberi satu kesempatan lagi kepada kalian. Bergeserlah kalian ke dekat guru kalian, jika memilih untuk memberontak terhadap kekuasaanku!” seru Alma Fatara.


Penawaran Alma Fatara itu justru membuat murid-murid Perguruan Bulan Emas bingung. Mereka saling pandang, seolah ingin melihat pilihan rekan-rekannya.


“Dan ingat, jika kalian mengabdi kepadaku, maka kemungkinan kalian akan menjadi target mangsa dari guru kalian di masa depan. Namun, aku juga akan menegaskan, jika satu orang saja abdiku dibunuh, maka aku yang akan memburu langsung pembunuh itu!” tegas Alma Fatara.


“Hamba tetap akan memegang pilihan pertama kami, Gusti Ratu!” ucap Kawal Rindu tanpa keraguan.


“Hamba juga, Gusti Ratu!” seru Galak Gigi.


“Kami juga, Gusti Ratu!” kata murid-murid yang lain.


Ada rasa sakit di dalam hati Silang Kanga melihat kenyataan pengkhianatan para murid-muridnya. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa dalam kondisi seperti itu.


Ternyata, ada beberapa murid yang berani memilih beda dengan berpindah posisi ke dekat Silang Kanga. Empat murid wanita muda dan seorang murid lelaki.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat hasil penyaringan tersebut. Lalu serunya, “Baik. Karena Kakek Silang Kanga memiliki beberapa pengikut yang sehat kondisinya, maka tidak ada alasan bagi kalian untuk tetap berada di sini. Galak Gigi, berikan mereka kuda agar bisa pergi jauh dari perguruan ini sekarang juga!”


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Galak Gigi patuh.


Galak Gigi segera pergi mengatur mengadaan kuda dengan memerintahkan anak buahnya. Saat itu juga, Silang Kanga merasa benar-benar dihinakan karena diusir dari perguruan yang telah ia besarkan bersama Wulan Kencana. Namun di sisi lain, ia juga merasa beruntung karena Ratu Siluman tidak memenjarakan atau membunuhnya.


Namun, sebelum Mbah Hitam mulai menuntun ucapan sumpahnya, tiba-tiba Arung Seto berteriak.


“Aku juga ingin mengabdi, Gusti Ratu!”


Terkejut Alma Fatara dan beberapa orang yang mendengar teriakan Arung Seto. Namun, hal itu membuat Kembang Bulan tersenyum senang.


“Tidak bisa, kau tertolak!” kata Alma Fatara. “Kedudukanmu masih sebagai perwira Kerajaan Singayam. Kau bisa dianggap sebagai pengkhianat oleh Kerajaan.”


“Jika Arung Seto lebih suka mengabdi kepadamu, aku bisa memberi alasan yang aman kepada Kerajaan Singayam,” kata Riring Belanga.


“Oh, baik. Aku setuju jika demikian,” kata Alma Fatara.


“Terima kasih, Gusti Panglima!” ucap Arung Seto seraya menjura hormat kepada Riring Belanga.


“Guru, apakah aku diizinkan juga untuk mengabdi kepada Ratu Siluman?” tanya Nining Pelangi kepada gurunya, agak berteriak.


Terkejut Rereng Busa dan murid-murid Jari Hitam lainnya.


“Kau diizinkan!” kata Riring Belanga. Ia tahu apa motif niat adiknya itu.


“Ya, kau diizinkan!” kata Rereng Busa.

__ADS_1


“Terima kasih, Guru, Kakak!” ucap Nining Pelangi sambil menjura hormat. Ia bergegas pergi berdiri bergabung bersama murid-murid Bulan Emas.


Beberapa murid Jari Hitam sebenarnya jadi tertarik bergabung pula setelah melihat Nining Pelangi mendapat izin, tetapi mereka ragu dan ada setengah rasa takut kepada guru dan kakak seperguruan mereka.


“Mulailah, Mbah Hitam!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Mbah Hitam dengan suara kakek-kakeknya.


Mbah Hitam lalu berseru kepada para calon abdi baru.


“Berlututlah dan ikuti kata-kataku!” perintah Mbah Hitam.


Para calon abdi itu lalu turun berlutut satu kaki.


“Disaksikan Dewa di langit!” seru Mbah Hitam.


“Disaksikan Dewa di langit!” ucap semua murid-murid Bulan Emas, plus Arung Seto dan Nining Pelangi, dengan lantang dan khidmat.


Ucapan lantang yang serentak itu membuat mereka yang belum bergabung merasa merinding, karena merasakan nuansa sakral yang kental.


“Disaksikan seluruh makhluk yang terlihat dan tidak terlihat!” seru Mbah Hitam lagi.


“Disaksikan seluruh makhluk yang terlihat dan tidak terlihat!”


“Aku bersumpah suci!”


“Aku bersumpah suci!”


“Akan mengabdikan nyawa dan raga kepada Ratu Siluman Ratu Dewi Dua Gigi!”


“Akan mengabdikan nyawa dan raga kepada Ratu Siluman Ratu Dewi Dua Gigi!”


“Sekarang bersujudlah!” perintah Mbah Hitam.


Maka Kawal Rindu dan rekan-rekannya bersujud.


“Aku terima sumpah suci kalian. Sekarang bangkitlah!” seru Alma Fatara.


Para abdi baru itu segera bangun berdiri.


“Selain para petinggi Perguruan Bulan Emas, kalian boleh pergi melanjutkan tugas-tugas kalian!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka serentak sambil menjura hormat. (RH)


 


__ADS_1


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2