
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Rombongan Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara kembali melanjutkan perjalanan berkuda mereka setelah semuanya siap.
Mereka berkuda dengan selalu penuh semangat dan keceriaan. Belik Ludah ikut menumpang dengan Tampang Garang.
Ternyata ada yang berpenampilan baru, yaitu Penombak Manis dan Juling Jitu. Pasangan pengantin baru itu belum berhenti menciptakan sensasi.
Jika Penombak Manis menutupi wajahnya dengan lilitan kain kuning, kecuali sepasang matanya, maka Juling Jitu melumuri seluruh kulit wajahnya dengan bedak warna hijau, termasuk kulit tangannya. Sebenarnya termasuk kulit badannya yang berbaju. Bedak dari bahan dedaunan itu adalah obat racikan Belik Ludah untuk pasangan pengantin sebagai obat gatal-gatal dan bentol-bentol. Obat masker hijau itu bisa membuat bekas bentol-bentol tidak berbekas hitam jika sudah sembuh.
Untuk perkara pusaka yang tegang, Juling Jitu sudah selesai, meski ada kekecewaan yang dirasakan oleh Penombak Manis. Sebab, wanita pesek manis itu lebih suka dengan pusaka yang tadi malam, bukan yang pagi ini.
“Dewi Dua Gigi!”
Tiba-tiba Alma Fatara dan rombongannya dikejutkan oleh satu teriakan lelaki tua yang menggema keras di angkasa. Nadanya terkesan menunjukkan kemarahan. Namun, tidak terlihat satu orang lain pun di daerah yang mereka lalui itu.
“Waspada!” teriak Alma Fatara keras sambil terus memacu kencang kudanya.
Pasukan Genggam Jagad jadi tegang. Mereka berkuda sambil mengitarkan pandangannya ke berbagai arah, bahkan ke langit dan atas pepohonan yang mereka lalui. Dari cara orang tua itu mentrasfer suaranya ke alam, mereka sadar bahwa sedang berurusan dengan seorang sakti.
“Apakah Kakek ada perlu denganku?!” tanya Alma berteriak kepada alam, sambil terus berkuda.
“Aku menginginkan nyawamu, Bocah Ompong!” gema suara kakek itu.
“Hahahak …!” Alma Fatara bukannya takut, ia justru tertawa terbahak mendengar dirinya disebut Bocah Ompong. “Apakah dendam atau Bola Hitam?!”
“Dendam!” jawab suara menggema yang seolah mengikuti lari perjalanan rombongan itu.
“Sebutkan nama kerabatmu agar aku tidak mati penasaran, Kek!” seru Alma.
“Pengemis Batok Bolong!” jawab suara itu.
“Jika demikian, tidak perlu basa basi lagi, Pengemis Kaya!” seru Alma yang kemudian langsung menyebut nama orang pemilik suara itu.
“Hahaha …! Rupanya kau sudah siap aku datangi!” teriak suara itu yang didahului dengan tawa yang sangat keras, sampai-sampai Anjengan dan rekan-rekan mengerenyit karena gendang telinga mereka terasa sakit.
Bruasr! Boom!
Tiba-tiba dari arah langit muncul bola sinar kuning berekor, lebih besar dari kepala gajah. Bola sinar itu menukik menghantam tanah jalanan, tepat tidak jauh dari depan kuda Alma Fatara.
Ledakan hebat tercipta. Semua kuda yang sedang berlari maju dengan kencang, seketika menabrak tenaga ledak yang kuat. Semua kuda terlempar balik jatuh bersama penunggangnya masing-masing.
Namun berbeda dengan Alma Fatara, kudanya memang terpental, tetapi dia bertahan di udara dengan tubuh yang dilindungi oleh dinding sinar ungu bening.
Kejap berikutnya, di sisi depan telah tercipta kubangan tanah yang besar seperti kawah.
Di bibir kubangan itu, tepat di sebelah seberang, telah berdiri sesosok kakek berjubah biru dekil dengan tongkat hitam yang memiliki lekukan tidak teratur. Kakek itu berambut putih gondrong tapi awut-awutan dan berdebu. Dialah Pengemis Kaya.
Sebelumnya, Pendekar Tongkat Roda sudah mengingatkan Alma bahwa tokoh sakti bernama Pengemis Kaya sedang mencari-cari Dewi Dua Gigi. Pengemis Kaya ingin membalas kematian adiknya yang bernama Pengemis Batok Bolong.
Sebelum melanjutkan urusan dendam Pengemis Kaya kepada Alma, sejenak kisah ini beralih ke dua tahun yang lalu dalam kenangan. Pengemis Batok Bolong adalah tokoh penting yang membuat Alma Fatara jadi memiliki julukan Dewi Dua Gigi.
Pertarungan antara Alma dengan Pengemis Batok Bolong terjadi setelah pengemis itu berhasil mengalahkan Genggam Sekam, pemuda tampan yang berjuluk Pendekar Tongkat Berat. Pertarungan saat itu terjadi di sisi barat Gunug Alasan.
Wusss!
__ADS_1
Tiba-tiba Alma Fatara telah melepaskan ilmu angin Sedot Tiup yang menghempas tubuh Pengemis Batok Bolong di udara. Orang tua itu jatuh bergulingan cukup jauh di depan.
Namun, seperti orang yang tidak kenal rasa sakit, Pengemis Batok Bolong cepat bangun berdiri dan menatap buas kepada Alma Fatara.
“Bagaimana, Kek?” tanya Alma Fatara yang sudah berdiri beberapa tombak di hadapan Pengemis Batok Bolong.
“Jangan remehkan orang terluka, Alma. Hehehe!” kata Pengemis Batok Bolong.
“Itu artinya Kakek memilih lanjut,” kata Alma menyimpulkan.
Sess!
Pengemis Batok Bolong merentangkan kedua tangannya dengan jari-jari menegang seperti cakaran. Yang mengejutkan, kini di depan si kakek melayang lebih dua puluh batok, tetapi lebih seperti mangkok sinar merah.
Wesss!
Pengemis Batok Bolong lalu mengayunkan kedua tangannya mengarahkan sinar-sinar merah berwujud mangkok batok itu. Puluhan sinar itu melesat cepat ke samping lalu berbelok berputar menyerang Alma dari samping.
“Almaaa!” teriak rekan-rekan Alma terkejut melihat serangan massal itu.
Jujur, Alma Fatara cukup bingung untuk menghadapi serangan itu karena ia tidak memiliki ilmu perisai. Saat itu, Alma belum memiliki ilmu perisai Tameng Balas Nyawa.
Mau tidak mau, Alma hanya bisa melompat sedemikian rupa demi menghindari sinar-sinar panas itu.
Blar! Blar!
Dags! Dags!
Bahkan Alma terpaksa mengadu dengan dua Pukulan Bandar Emas di udara yang menciptakan ledakan tenaga, membuat Pengemis Batok Bolong terjengkang.
Namun, dua sinar merah ada juga yang menghantam tubuh Alma dengan telak. Satu sinar menghantam perut dan satu lagi menghantam wajah.
Pengemis Batok Bolong yang lukanya kian tambah parah, segera bangkit.
Duk!
Setelah bisa berdiri, Pengemis Batok Bolong mendadak jatuh berlutut kaki kiri karena kakinya tidak kuat menahan tubuhnya. Pengemis Batok Bolong cepat mengatur pernapasannya dan mengolah tenaga dalamnya.
“Amal!” teriak Ayu Wicara cemas saat Alma tidak segera muncul lagi dari dalam rerumputan. Ayu Wicara adalah sahabat Alma yang punya penyakit lidah suka salah kata.
“Alma! Alma!” teriak Debur Angkara dan Garam Sakti dengan wajah tegang dari atas pedati dan kudanya.
Sementara itu, Pengemis Batok Bolong sudah bisa berdiri lagi. Ia juga menatap tajam ke arah area ilalang tempat Alma Fatara tadi jatuh, ia menunggu jika-jika ada serangan tiba-tiba dari balik ilalang yang tinggi atau mungkin telah terjadi sesuatu terhadap Alma.
Buru-buru Debur Angkara berlari menerabas ilalang yang setinggi dada.
Srek!
Namun, sebelum lelaki besar berotot tidak berbaju itu sampai ke titik tempat Alma jatuh, tiba-tiba dari titik itu melesat sosok hitam ke depan Pengemis Batok Bolong.
Sess! Ctar!
Seset! Seset!
Alma yang melompat ke hadapan Pengemis Batok Bolong ternyata langsung melempar sebuah bola hitam dengan gaya lemparan bowling. Bola hitam yang adalah Bola Hitam itu melesat ke depan dan menggesek tanah, menciptakan ledakan nyaring. Dari ledakan itu berlesatan sinar-sinar biru berekor yang menyerang Pengemis Batok Bolong ramai-ramai.
“Mati aku!” pekik Pengemis Batok Bolong terkejut bukan main sambil berkelebat secepat mungkin. Ia pun melindungi dirinya dengan ilmu perisai. Ia benar-benar tidak menyangka jika Alma akan menggunakan Bola Hitam.
__ADS_1
Namun akhirnya, Pengemis Batok Bolong hanya bisa mendelik dan ternganga tanpa jeritan, ketika tiga sinar biru berhasil memotong-motong tubuhnya menjadi empat bagian. Hebatnya, sinar-sinar itu tidak terhalang oleh ilmu perisai sang pengemis.
Dengan demikian, tidak ada alasan bagi Pengemis Batok Bolong untuk bertahan hidup. Pengemis Batok Bolong telah berakhir dan menjadi korban dari senjata yang ia dambakan sendiri, yaitu Bola Hitam.
“Kak Alma menang!” teriak Ning Ana sumringah, gadis kecil yang ikut bersama Alma.
Alma berdiri terdiam. Ia segera menyimpan kembali Bola Hitam dengan cara memisahkannya menjadi dua bagian benda kotak berwarna biru terang itu.
Alma kemudian memegang bibirnya yang belepotan oleh darah. Ia menyekanya dengan kain jubahnya sehingga bersih dari darah.
“Alma!” panggil rekan-rekan Alma sambil berlari kecil menghampiri.
Alma berbalik sambil tersenyum lebar. Maka tampaklah gigi Alma yang berwarna merah oleh darah.
“Alma, gigimu hilang!” teriak Garam Sakti terkejut.
“Iya, Amal. Gigimu belang!” pekik Ayu Wicara pula.
“Hilang, bukan belang, Ayu. Memangnya harimau!” ralat Debur Angkara.
“Ini bejana!” kata Ayu Wicara serius.
“Bejana apa?” tanya Ning Ana yang juga sudah bergabung.
“Bukan bejana, tapi beja …. Eh, bencana maksudku!” ralat Ayu Wicara.
“Hahaha!” tawa Alma.
“Kau masih bisa tertawa, Alma?” tanya Debur Angkara heran.
“Memangnya kenapa?” tanya Alma.
“Kau sedang mendapat musibah besar. Seharusnya kau menangis sederas-derasnya air mata. Gigi depanmu kini hilang dua biji. Itu akan membuatmu jelek, Alma!” jelas Debur Angkara berapi-api.
“Ada apa kalian ramai sekali?” tanya Magar Kepang yang datang dengan langkah terpincang, masih terpengaruh oleh sakit pada bokongnya.
“Lihatlah gigi Alma, Ki!” kata Magar Kepang.
Alma lalu membuka bibirnya yang bengkak, memperlihatkan giginya yang saling merapat. Terlihat jelas, dua gigi depan atas Alma hilang alias bolong.
“Hahaha …!” tawa Magar Kepang terbahak. Lalu katanya, “Aku sarankan, ketika di depan lelaki tampan, kau jangan tertawa. Hahaha!”
Mereka hanya memandangi Magar Kepang dengan tatapan kesal. Sebab, bagi mereka Alma sedang ditimpa musibah, tetapi Magar Kepang justru tertawa.
“Bibir Amal juga bengkok,” kata Ayu Wicara.
“Bengkaaak!” ralat Debur Angkara dan Garam Sakti bersamaan, memberi kesan lucu.
“Hahaha! Uhhuk uhhuk!” tawa Alma lalu terbatuk-batuk karena pengaruh luka dalamnya yang bertambah parah.
Alma masih beruntung karena ilmu batok-batok sinar merah Pengemis Batok Bolong bersifat panas, sehingga ketika satu sinar mangkok menghantam wajahnya, tepatnya di bagian mulut, Alma hanya menderita luka hantaman tanpa terbakar wajahnya. Akhirnya dua gigi depan atas Alma tanggal dan bibirnya menjadi bengkak. Jika bibir bengkak bisa mengempis, tetapi gigi tanggal tidak bisa dipasang ulang.
“Sudahlah, masih untung hilang gigi daripada hilang nyawa,” kata Alma lalu tersenyum lebar, kembali memperlihatkan gusi ompongnya yang masih mengeluarkan darah. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.