Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 5: Sepotong Petunjuk


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


“Hahaha …!” Malaikat Serba Tahu tertawa terbahak sambil menunjuk Alma Fatara yang terkejut mendengar kata-katanya.


Sementara Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu yang mengenal Alma sejak kecil, juga ikut terkejut mendengar kata-kata si ganteng cebol itu.


Sambil terus tertawa, Malaikat Serba Tahu menepuk kecil leher kanan kambing hitamnya. Kambing bernama Cantik itu bergerak berputar arah ke kanan.


“Eh eh eh! Mau ke mana kau, Paman Ganteng?” seru Alma cepat karena melihat Malaikat Serba Tahu hendak pergi. Ia buru-buru menjalankan kudanya dan menghalangi jalan Cantik.


“Kenapa? Gadis nakal sepertimu tidak membutuhkan apa-apa dariku yang kau tertawakan!” ketus Malaikat Serba Tahu dengan wajah merengut jual mahal.


“Hahaha!” tawa Alma melihat ambekan Malaikat Serba Tahu. Lalu katanya bersahabat, “Tidak ada salahnya jika kita berkenalan, saling beri tahu nama, saling tukar cerita, saling tukar tunggangan pun tidak masalah.”


“Tidak perlu berkenalan. Aku sudah tahu siapa kalian semua,” kata Malaikat Serba Tahu. “Minggir, jangan halangi jalanku!”


“Paman Ganteng, kau tidak lihat aku begitu cantik dan menggembirakan hati. Jika kau tahu aku cicit Resi Putih Jiwa, berarti kau juga tahu siapa ayah dan ibuku?” tanya Alma langsung sambil tersenyum semanis gula, menduga bahwa Malaikat Serba Tahu akan luluh jika diberi gula-gula.


“Aku tidak tahu siapa ayah dan ibumu. Minggir, minggir!” jawab Malaikat Serba Tahu.


“Jawaban Paman tidak masuk akal. Aku tidak akan membiarkan Paman lewat jika tidak memberi jawaban yang sebenarnya Paman tahu!” tandas Alma Fatara.


“Dasar gadis nakal!” maki Malaikat Serba Tahu.


“Tidak mungkin Paman tahu siapa kakek buyutku tanpa tahu siapa ayah dan ibuku!” tukas Alma.


“Alma, jangan membuat kegantenganku rusak oleh tuntutanmu itu!” kata Malaikat Serba Tahu sambil dengan lembut menyentuh rambutnya, seolah khawatir jika tatanan rambutnya berantakan. “Aku tidak tahu siapa ayah dan ibumu. Aku hanya tahu bahwa kau cicit dari Resi Putih Jiwa.”


“Kata-kata Paman sangat tidak masuk akal. Aku bisa kesurupan jika harus percaya begitu saja. Bagaimana mungkin Paman bisa tahu siapa kakek buyutku tanpa tahu aku anak siapa atau cucu siapa? Paman saja tahu siapa namaku,” debat Alma.


“Tapi aku hanya tahu siapa kakek buyutmu, tidak tahu siapa ayah ibumu!” tegas Malaikat Serba Tahu.


“Tidak mungkin, Paman, tidak mungkin. Paman harusnya mengatakan, kau adalah cicit dari Resi Putih Jiwa karena cucunya yang bernama si anu adalah ayahmu, atau si ani adalah ibumu. Seharusnya seperti itu, Paman Ganteeeng!” kata Alma seraya memendam kekesalan.


“Hahaha! Terima kasih karena sudah mengakui aku sebagai orang ganteng,” ucap Malaikat Serba Tahu malah tertawa. Ketegangan antara mereka berdua seketika cair.

__ADS_1


“Ayolah, Paman. Apakah kecantikanku tidak bisa merayu Paman untuk berbuat baik? Beri tahu aku nama ayah dan ibuku. Atau, Paman ceritakan siapa sebenarnya ayah dan ibuku, di mana mereka berada,” rayu Alma.


“Alma Fatara …” sebut Malaikat Serba Tahu setelah ia menarik napas sepanjang sedotan.


Tatapan lelaki cebol yang sebenarnya berusia tua itu, kini lebih lembut kepada Alma yang posisinya lebih tinggi di atas kuda.


“Aku paham dan sangat mengerti tentang begitu besarnya keinginanmu untuk tahu siapa ayah dan ibumu. Kesaktianku hanya memberitahukan kepadaku bahwa kau adalah cicit dari Resi Putih Jiwa. Dan aku pun hanya tahu bahwa gelang kakimu itu ….”


Malaikat Serba Tahu menunjuk gelang emas tebal di kaki kanan Alma yang selama dua tahun ini ia kenakan.


“Gelang kakimu itu yang akan menjadi penuntun kepada siapa orangtuamu. Jika dalam perjalanan dua tahun lalu kau batal bertemu dengan orang yang mengerti tentang gelang itu, maka dalam perjalanan kali ini, kau akan tahu. Namun, kau harus bersabar, kau ditakdirkan bukan hanya untuk ayah dan ibumu saja, tapi juga ditakdirkan untuk orang banyak.”


Alma Fatara dibuat terkesiap karena lelaki cebol yang belum ia tahu jati dirinya itu juga tahu tentang gelang kakinya, termasuk perjalanan pertamanya di dunia persilatan dua tahun lalu.


“Bolehkah aku tahu siapa sebenarnya Paman Ganteng?” tanya Alma Fatara melembut dan serius. Ia yakin bahwa orang berkambing itu adalah tokoh sakti tingkat tinggi yang ternama.


“Hahaha! Tidak perlu aku beri tahu, tapi nanti kau akan tahu hari ini juga. Jika aku beri tahu, bisa-bisa kalian semua tidak akan membiarkan aku pergi dengan kambingku. Aku hanya akan memberi petunjuk. Di depan sana ….”


Malaikat Serba Tahu menunjuk ke ujung jalan.


Terkejut Alma Fatara mendengar nama Telur Gelap disebut.


“Paman tahu tentang Telur Gelap?” tanya Alma cepat yang menarik perhatian Riring Belanga dan yang lainnya.


“Aku tidak tahu benda apa itu. Apakah telur binatang atau telur manusia. Aku hanya tahu bahwa orang yang aku sebut tadi tahu tentang benda itu,” jawab Malaikat Serba Tahu yang membuat Alma kecewa lagi.


“Baiklah, Paman. Aku sangat menghargai kebaikanmu. Aku tidak mungkin pula memaksamu. Terima kasih, Paman Ganteng,” ucap Alma Fatara akhirnya mengalah.


Alma lalu menggeser posisi kudanya agar tidak benar-benar menghalangi Cantik untuk berjalan maju.


“Alma, lebih baik kita tangkap dan paksa dia bicara!” teriak Juling Jitu tiba-tiba dari punggung kudanya. “Hiat!”


Tiba-tiba Juling Jitu, yang tidak mendengarkan secara lengkap dialog antara Alma dan Malaikat Serba Tahu, melompat dari atas kudanya dan berlari di udara. Kedua tangannya merentang hendak menyergap punggung Malaikat Serba Tahu dari belakang.


Tiba-tiba saja Cantik berlari kencang, membuat Juling Jitu mendarat di tanah dengan bokong terlebih dulu.


Duk!

__ADS_1


“Jiaaak!” pekik Juling Jitu kesakitan bukan main, sambil buru-buru guling kanan-kiri bolak-balik dan mengusap-usap bokongnya dengan ritme cepat.


“Hahahak …!” tawa Alma Fatara dan rekan-rekan melihat pahala yang dituai Juling Jitu.


“Hahaha …!” tawa Malaikat Serba Tahu dengan Cantik terus berlari kencang, membuatnya terguncang-guncang.


“Kembang Bulaaan, tolong akuuu!” rintih Juling Jitu yang membuat Kembang Bulan terkejut.


“Dasar, lelaki otak lendir! Sini, biar aku yang menolongmu!” kata Anjengan kesal kepada Juling Jitu yang benar-benar kesakitan.


Anjengan melompat turun lalu membantu Juling Jitu untuk berdiri, tetapi satu tangannya mer*mas-r*mas bokong pemuda itu.


“Hei hei hei, Anjengan! Aww! Kenapa kau mer*mas-r*mas halaman belakangku?” teriak Juling Jitu sambil berontak menjauhi Anjengan.


“Hahahak …!” tawa terbahak Alma dan yang lainnya melihat perbuatan Anjengan.


Alma lalu menggebah kembali kudanya. Yang lain juga ikut menjalankan kudanya. Juling Jitu dan Anjengan buru-buru naik ke kudanya masing-masing.


“Awas, aku akan membalasmu, Anjengan!” ancam Juling Jitu.


“Coba saja, jika kau mau mati dalam pelukan panasku!” tantang Anjengan.


“Hahaha!” tawa Iwak Ngasin, Gagap Ayu dan Kembang Bulan.


“Bibi Riring, Kakak Putri, sebagai pendekar yang lebih tua, apakah kalian tidak mengenal pendekar cebol itu?” tanya Alma sambil berkuda santai.


“Pilihan katamu buruk, Alma. Kenapa harus ‘pendekar yang lebih tua’, bukan ‘pendekar yang lebih berpengalaman’?” kata Cucum Mili.


“Hahaha!” tawa Alma singkat.


“Aku tidak mengenalnya dan tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya,” jawab Riring Belanga.


“Apa lagi aku yang selalu di samudera,” jawab Cucum Mili pula.


“Dia tadi menyebut Telur Gelap,” kata Riring Belanga.


“Iya, tapi katanya, kesaktiannya hanya memberi tahu tentang orang yang tahu Telur Gelap. Kita akan menemukannya hari ini,” kata Alma Fatara. (RH)

__ADS_1


__ADS_2