Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 38: Sandera Istri Adipati


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


Setelah mengalahkan hanya belasan anggota Bajak Laut Ombak Setan dengan mengorbankan ratusan nyawa prajurit, Pasukan Pamungkas pimpinan Pangeran Derajat Jiwa dan Riring Belanga melanjutkan perjalanan untuk masuk ke Ibu Kota Balongan.


Kedua pasukan besar itu tetap berada di dua jalan yang berbeda. Pasukan Riring Belanga di jalan utara dan pasukan Pageran Derajat Jiwa di jalan pinggir sungai.


Arya Mungkara dan Bandeng Prakas ikut bersama pasukan Riring Belanga. Keduanya sudah membalut luka yang mereka derita.


Sementara Arung Seto harus menjadi pincang karena luka sayatan pada betis kanannya. Untung Iwak Ngasin setia membantunya untuk naik kuda. Awalnya Gagap Ayu yang mau setia, tapi dengan dalih menjaga citra baik para Pendekar Sungai Darah Roh, Iwak Ngasin dan Anjengan melarang Gagap Ayu bertingkah genit.


Pangeran Derajat Jiwa memilih berjalan kaki dan berjalan bersama rombongan Alma. Ia mau berjalan karena dia tidak melihat keberadaan pemuda tampan bersuara tua yang membuatnya cemburu buta.


“Alma, apakah kau bisa mengalahkan ribuan prajurit Kerajaan Singayam seorang diri?” tanya Pangeran Derajat Jiwa yang memilih berjalan bersama rombongan Alma.


“Bisa,” jawab Alma sambil tersenyum.


“Bagaimana dengan lima ribu prajurit?” tanya Derajat Jiwa lagi.


“Bisa aku hadapi dan meraih kemenangan,” jawab Alma. Lalu tanyanya, “Apa yang Gusti Pangeran rencanakan kepadaku?”


“Aku ingin memaksamu takluk di hatiku,” jujur Derajat Jiwa.


“Hahahahak!” tawa terbahak Alma Fatara. “Urusan dunia begitu banyak dan luas, Gusti Pangeran, tapi kau hanya disibukkan urusan kawin. Dunia tidak seluas piring, masih banyak wanita yang lebih cantik dariku yang juga suka dengan perkawinan. Jika Gusti Pangeran hanya memandangkan mata kepadaku, itu sangat tidak baik bagi Gusti Pangeran.”


“Aku tidak peduli. Pokoknya, jika urusan bajak laut ini selesai, aku harus mendapat jawaban pasti darimu, Alma!” tandas Derajat Jiwa.


“Baik, dan Gusti Pangeran harus siap menerima jawaban pasti dari seorang ratu!” tandas Alma pula seraya tersenyum santai.


“Aku tidak percaya kau seorang ratu, Alma,” kata Derajat Jiwa.


“Hahaha!” Alma pun tertawa datar mendengar perkataan Derajat Jiwa. “Gusti Pangeran baru melihat satu abdiku si ular hitam. Aku tidak bisa membayangkan reaksi Gusti Pangeran jika melihat semua pasukanku. Hahaha!”


Alma Fatara tiba-tiba berlari santai lalu berkelebat maju jauh ke depan. Pasalnya, mereka memang sudah sampai di pintu masuk ke Ibu Kota Balongan.


Hal yang membuat Alma tiba-tiba maju adalah deretan potongan kepala manusia yang digantung di bawah sebuah dahan pohon. Ada sepuluh kepala laki-laki dan perempuan digantung. Sepertinya itu adalah potongan kepala mayat-mayat warga yang sudah mati beberapa hari yang lalu. Selain kondisinya yang sudah tidak segar tanpa darah, kepala-kepala itu juga sudah membusuk. Bisa tercium baunya yang mengorek-ngorek isi pangkal penciuman.


Meski tidak ada gapura atau tiang tanda bahwa itu adalah pintu masuk, dahan pohon yang melintang di atas jalan bisa dianggap sebagai gerbang masuk dari arah jalan sungai.


Lebih maju sedikit dari bawah dahan, ada seorang wanita separuh baya yang berdiri di atas sebuah meja kayu pendek, hanya setinggi betis. Wanita berkulit bersih dan berpakaian bangsawan itu dalam kondisi yang tidak rapi. Rambutnya terlihat agak berantakan. Sementara kedua tangannya diikat dengan tali.

__ADS_1


Masalahnya, di sisi wanita itu ada seorang wanita kurus tinggi berpakaian ala bajak laut. Dia berdiri menghadap ke wanita terikat dengan anak panah di busur siap dilepas ke kepala si wanita.


“Ibuuu!” teriak Arung Seto histeris saat mengenali siapa wanita yang siap dipanah itu.


Arung Seto cepat melompat turun dari kudanya.


“Akh!” jerit Arung Seto karena mendarat dengan kaki kanan yang memiliki luka sayatan nan dalam. Untung, Gagap Ayu sigap memegangi lengan Arung Seto sehingga tidak terjatuh.


Iwak Ngasin dan Anjengan merasa kecolongan. Gagap Ayu sudah terlanjur tampil setia dengan membantu Arung Seto berjalan pincang setengah berlari ke dekat Alma.


“Arung Setooo!” teriak wanita yang adalah Aning Sulasih, istri dari Adipati Adya Bangira. Ia pun histeris melihat kemunculan putranya. Namun, sedikit pun dia tidak berani bergerak.


“Jangan bunuh ibuku, Perempuan Setaaan!” teriak Arung Seto yang marah campur sedih. Namun, dia tidak mau bertindak ceroboh.


Sedikit saja pegangan jari wanita bajak laut bernama Bidik Bajing itu lepas, maka kepala Aning Sulasi bisa menjadi kepala tusuk.


Bugk!


Tiba-tiba satu sosok lelaki tinggi besar, lebih besar dari Si Keong Samudera, meluncur turun dari atas pohon dan mendarat dengan keras. Suara mendaratnya seolah-olah mengguncang tempat mereka semua berpijak, tetapi itu hanya “seolah-olah”. Dia bernama Si Kaki Pantai, salah satu anggota Bajak Laut Ombak Setan yang sulit dicari tandingannya. Ia menyandang senjata dua tombak panjang yang saling menyilang di punggungnya.


“Mundur semua sejauh mungkin!” teriak Si Kaki Pantai keras. “Jika dalam sepuluh hitungan kalian semua tidak mundur sejauh-jauhnya, maka istri Adipati kami bunuh!”


Perkataan Derajat Jiwa mengejutkan Alma Fatara dkk, Arung Seto dan Aning Sulasih sendiri.


“Pangeran! Apa yang kau katakan?!” teriak Arung Seto marah kepada Derajat Jiwa.


“Jika kau tidak terima, mengadulah kepada ayahku, Arung! Ratusan prajurit sudah mati agar pasukan bisa sampai di sini!” teriak Derajat Jiwa pula. Lalu tegasnya lagi, “Kita datang ke sini bukan untuk menyelamatkan sandera, tetapi untuk membasmi gerombolan bajak laut itu.”


“Satu!” teriak Si Kaki Pantai mulai menghitung.


Bidik Bajing tinggal menunggu hitungan sampai sepuluh, maka dia akan melepas anak panahnya.


“Dua!” teriak Si Kaki Pantai lagi.


“Pasukan panaaah!” teriak Derajat Jiwa.


Drap drap drap …!


Pasukan panah cepat bergerak maju dan membentuk formasi di belakang Alma Fatara dkk dan Arung Suto.

__ADS_1


“Tiga!” teriak Si Kaki Pantai lagi.


Arung Seto semakin panik tapi bingung harus berbuat apa, pasalnya pasukan panah sudah berformasi dengan anak panah dipasang di busur. Tinggal tunggu perintah maka anak panah yang ditarik di senar akan dilepas. Maka akan matilah ibunya.


Aning Sulasih terlihat semakin pucat dengan wajah berkeringat dingin. Ia sangat ketakutan tanpa berani bergerak. Sepasang kakinya di atas meja sudah gemetar.


Sementara yang lain mengalami ketegangan massal.


Hanya Alma yang tampak diam dengan serius sambil menatap tajam kepada Bidik Bajing.


“Empat!” teriak Si Kaki Pantai lagi.


Clap! Tuk!


“Hek!” erang tertahan Bidik Bajing.


“Aaak!” jerit melengking Aning Sulasih.


Wanita kurus tinggi anggota bajak laut yang bernama Bidik Bajing, tubuhnya melengkung tipis dengan mata melotot hendak keluar dan mulut menganga. Air liurnya sampai jatuh bergelayutan seperti air liur monster.


Tahu-tahu saja Alma sudah berdiri rapat dengan Bidik Bajing. Sementara telunjuk Alma yang bersinar ungu menyilaukan mata, tahu-tahu mendarat di titik diafragma Bidik Bajing. Alma telah membunuh Bidik Bajing denga ilmu Telunjuk Roh Malaikat.


Tidak ada yang bisa melihat pergerakan Alma dari posisinya di sebelah Arung Seto, tahu-tahu dia telah rapat dengan Bidik Bajing.


Namun, secepat apa pun Alma bergerak, tetap saja serangannya membuat pegangan jari Bidik Bajing pada ekor anak panah terlepas. Anak panah pun melesat ke kepala Aning Sulasih yang hanya berjarak satu tombak.


Setelah semua terkejut oleh serangan Alma yang tidak terlihat gerakannya, mereka kembali terkejut melihat nasib Aning Sulasih yang membuat jantung serasa ingin copot. Sampai-sampai Si Kaki Pantai berhenti menghitung dan berubah tegang.


Namun, anak panah Bidik Bajing yang sempat melesat terhenti di tengah jalan, hanya beberapa jengkal dari kepala Aning Selasih. Itu terjadi karena lesatan anak panah itu telah tertahan oleh ikatan Benang Darah Dewa milik Alma.


Orang-orang hanya melihat bahwa anak panah itu berhenti melesat dan melayang di udara.


Selamatlah Aning Selasih. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil menunggu up dari Om Rudi, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!


__ADS_1


__ADS_2