
*Petaka Telaga Emas (Pete Emas)*
“Kejaaar!” teriak Panglima Siluman Ikan Nau Tartari marah.
Serentak para prajurit Siluman Ikan itu berbalik lalu semuanya berlari di atas permukaan air.
Ketika para Siluman Ikan melihat Alma Fatara di dalam air telaga, mereka semua terkejut, sebab Alma berenang cepat seperti ikan besar, bukan seperti manusia.
Setelah agak jauh, barulah mereka melompat seperti melompat ke dalam kolam renang. Mereka semua masuk terjun ke dalam air telaga.
Maka beramai-ramailah prajurit Siluman Ikan mengejar Alma Fatara. Pemandangan yang terlihat dari atas langit adalah seekor ikan hitam dikejar-kejar rombongan ikan berwarna perak.
Sementara Nau Tartari berdiri di atas permukaan air, seolah-olah air itu sekeras tanah. Ia memperhatikan gelombang-gelombang air yang tercipta karena Alma dan pasukan Siluman Ikan berenang tidak jauh dari permukaan.
Jbar!
Tiba-tiba Alma Fatara melompat tinggi keluar dari air dan naik ke udara.
Sess! Bresk!
Saat berada di udara itu, Alma melesatkan Bola Hitam menghantam permukaan air telaga.
Seketika itu juga, air permukaan telaga membeku lalu bekuannya menjalar meluas. Bahkan bekuannya mencapai posisi Nau Tartari.
Panglima Nau Tartari cepat melompat naik ke udara. Dari atas udara itu, ia bisa menyaksikan semua prajurit ikannya terjebak membeku di dalam lapisan es yang tebal.
Jleg!
Alma Fatara mendarat di lapisan es dengan tangan kanan memegang Bola Hitam, senjata saktinya. Sementara rambut dan pakaiannya basah kuyup. Di bawah kaki Alma ada Siluman Ikan yang tewas membeku dengan mata melotot dan mulut terbuka.
Nau Tartari benar-benar dibuat terkejut. Hanya sekali serang, semua prajurit Siluman Ikan pasukannya tewas membeku. Ia turun mendarat di bidang es yang luas mengapung di telaga, tidak jauh dari pantai.
Wuss!
Angin dingin menusuk untuk pertama kali berembus menerpa mereka semua yang ada di darat, sampai-sampai mereka menggigil dan memeluk tubuhnya sendiri. Mau peluk bini, tapi jauh.
Gagap Ayu langsung memeluk Anjengan. Juling Jitu juga langsung memeluk Iwak Ngasin.
“Apaan sih!” geram Iwak Ngasil sambil mendorong Juling Jitu sampai terjengkang di pasir.
“Hahaha!” tawa Anjengan dan Gagap Ayu.
“A-a-apa yang terjadi?” tanya Ki Jolos yang mendatangi Iwak Ngasin sambil memeluk tubuh tuanya seperti anak muda.
“Ma-ma-ma ….”
“Maling?” terka Anjengan sambil membebaskan dirinya dari pelukan Gagap Ayu.
“Bu-bu-bukaaan. Ma-ma-maksudnya Ki Jolos apa?” ralat Gagap Ayu dengan suara gemetar karena menahan dingin yang tiba-tiba.
“Alma bisa berdiri di atas air telaga,” kata Ki Jolos.
__ADS_1
Datang pula Sinjor, Jalu Segoro, Gendoro, Tergat, dan Aji Tungka bergabung bersama mereka. Semuanya memeluk tubuhnya sendiri-sendiri.
“Alma itu berdiri di atas lantai es,” kata Anjengan.
“Oooh!” desa para lelaki desa itu.
“Alma itu bisa membekukan air menjadi es. Jika Alma menghendaki, bisa saja ia ubah semua air telaga menjadi lantai es,” sesumbar Juling Jitu.
“Hah!” kejut mereka beramai-ramai.
“Sebenarnya Alma itu siapa? Apakah sama-sama Siluman Ikan atau manusia murni?” tanya Ki Jolos.
“Hahaha! Alma itu manusia yang cantik, tapi salah satu kesaktiannya adalah bisa berenang seperti ikan!” jelas Anjengan.
“Oooh!” desah Ki Jolos yang diikuti oleh putra dan warganya.
Seess!
Tubuh Alma Fatara melesat di atas bidang es menggunakan kedua kakinya seperti peseluncur es. Ketika ada bekuan yang berbentuk riakan air, Alma menjadikannya sebagai bahan untuk melakukan lompatan jauh di udara.
Alma bersalto di udara lalu mendarat keras di bidang es, dua tombak di depan Nau Tartari berdiri.
“Hahaha!” tawa Alma di depan Nau Tartari. “Aku tidak hanya sesumbar, Kakak Nau, tapi aku bisa membuktikan apa yang aku maksud. Kembalilah, sampaikan salamku kepada Raja Siluman Ikan. Aku akan datang menemuinya di dasar telaga!”
“Kita belum selesai, Alma!” teriak Nau Tartari murka.
Jegk! Pcrak!
Wess! Set set set!
Selanjutnya Nau Tartari mengibaskan tangan kanannya. Menciptakan angin keras yang melesatkan serpihan-serpihan kristal es yang naik mengudara.
Zing! Teng teng teng! Prak prak prak!
Belasan kristal es yang panjang-panjang dan runcing berlesatan mengenai lapisan sinar ungu ilmu dari Tameng Balas Nyawa. Kristal-kristal es itu terpantulkan dan melesat balik menyerang Nau Tartari.
Namun, es-es itu berhancuran ketika membentur sisik-sisik tebal Nau Tartari.
“Sepertinya Kakak Nau tidak mau menyerah!” seru Alma Fatara lalu melesat maju dengan sangat cepat.
Tuk!
Tahu-tahu telunjuk tangan kanan Alma yang telah bersinar ungu menyilaukan mata, telah menusuk titik diafragma Nau Tartari.
Panglima Siluman Ikan itu tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Tusukan jari telunjuk bersinar ungu itu membuatnya diam, diam karena Nau Tartari sudah mati saat itu juga.
Itulah kehebatan salah satu ilmu tertinggi Alma Fatara yang bernama Telunjuk Roh Malaikat. Sekali sentuh, maka nyawa lawan bisa langsung melayang. Kecepatannya pun tidak tanggung-tanggung saat menyerang, sampai-sampai lawan tidak memiliki kesempatan menghindar.
Nau Tartari tumbang ke bidang es tanpa nyawa lagi.
“Alma menang! Alma menang!” teriak Sinjor begitu gembira. Sambil berjingkrak-jingkrak memberi tahu warga yang menonton dari jauh.
“Hayeee! Hayeee!” sorak warga desa saling seru-seruan karena gembira. Sampai-sampai mereka berpelukan haru seperti tim sepak bola yang baru mencetak gol malam-malam.
__ADS_1
“Hahahak!” tawa Alma melihat kegembiraan Ki Jolos dan warganya di darat sana.
“Almaaa!” teriak Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu sambil berlari bersamaan menuju air.
Perlu diketahui bahwa bidang es yang kini dipijak oleh Alma tidak sampai ke pantai, jadi keempat sahabatnya harus melewati air untuk sampai ke lahan es.
Keempat pemuda itu melompat berlari di udara. Anjengan adalah orang yang paling pendek jarak lompatannya.
Jbur jbur jbur!
“Aaak!” jerit keempatnya bersamaan saat mereka semua masuk ke dalam air. Mereka langsung berhenti dan berendam setinggi dada.
“Almaaa!” teriak Anjengan sambil menggigil hebat.
“Mana air panaaas!” teriak Juling Jitu dengan suara yang bergetar menggigil.
“Di-di-dingiiin!” teriak Gagap Ayu.
Sementara Iwak Ngasin diam, seolah otaknya sudah membeku duluan.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma melihat derita keempat sahabatnya. “Seharusnya kalian membawa tungku dan kayu bakar sebelum masuk ke air.
Sambil tertawa panjang, Alma berkelebat lalu berlari di atas permukaan air untuk sampai ke pantai.
“Ki Jolos! Siapkan kuali besar, kita akan rebus Anjengan! Hahaha!” teriak Alma sambil berjalan menuju permukiman.
“Kutil Keong! Dia pikir aku kepiting hamil!” maki Anjengan gusar sambil berjalan dalam air menuju darat.
Mereka berempat lalu berjalan untuk keluar dari air sambil memeluk diri sendiri.
“Buatkan api besar, Ki. Kita perlu kehangatan!” ujar Alma setibanya di hadapan Ki Jolos.
“Aku juga bisa memberi kehangatan, Alma,” kata Sinjor dengan suara bergetar hebat karena menahan udara dingin, padahal matahari masih panas.
“Hahaha! Anjengan memang sangat butuh kehangatan,” kata Alma tertawa.
“Kalau Anjengan, a-a-aku harus berpikir u-u-ulang,” kata Sinjor jadi tergagap.
“Kenapa kau jadi gagap seperti itu, Sinjor?” tanya Aji Tungka.
“A-a-aku tambah kedinginan,” jawab Sinjor.
“Hahaha!” tawa mereka.
“Mana Wuwul?” tanya Alma.
“Kami ikat di tiang kakus,” jawab Jalu Segoro. (RH)
***********
Jangan lupa bantu dukung juga Chat Story Author yang berjudul "Alur Cinta Si Om Genit" dengan like dan komenmu. Biar Om Rudi senang dan tambah semangat untuk berkarya.
__ADS_1