
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Usai hujan di malam itu, mereka lebih memilih membuat api unggun besar dari kayu-kayu basah yang luarnya dikupas, lalu bagian tengahnya yang kering dijadikan kayu bakar. Satu cara yang cukup bertele-tele untuk membuat api.
Pada akhirnya gua hanya berfungsi sebagai kandang kuda. Mereka memilih menghangatkan diri di sekitar api unggun besar di kondisi yang basah.
Di bawah dahan pohon besar yang berdiri tumbuh di dekat mereka, tiga anggota Bajak Laut Ombak Setan dalam kondisi digantung terbalik, sampai-sampai kutang Karang Genit dan Alis Kuning tersingkap karena ujung baju mereka terjuntai terbalik juga. Wajah mereka justru tertutupi oleh kain bajunya.
Adapun Mbah Hitam berjaga di bawah pohon dalam wujud melingkar sebagai seekor ular yang menakutkan.
Hingga akhirnya malam dingin itupun berlalu. Orang-orang itu lebih memilih tidur berserakan di tanah berbatu yang beratap langit dari pada tidur di dalam gua.
Ketika sang surya terbit di langit timur, sengatannya yang sayu tidak mampu mengusir hawa dingin. Terlihat mendung bergelayut tidak jauh dari sang surya. Tampaknya hujan sebentar lagi akan turun kembali.
Air sungai sudah jauh lebih rendah dari semalam. Juling Jitu dan Iwak Ngasin sudah beraktivitas pagi-pagi. Mereka memindahkan kuda-kuda dari dalam gua ke tanah yang memiliki rerumputan atau semak liar, agar sebelum mereka melanjutkan perjalanan, kuda-kuda itu sudah dalam kondisi bertenaga.
Gagap Ayu terlihat masih meringkuk di dalam pelukan Anjengan. Begitu menggemaskan, seperti anak kucing dan ibu kucing.
Sementara Mbah Hitam yang bertugas menjaga ketiga tawanan, tidak ada yang tahu apakah dia tidur atau terjaga. Adapun Cucum Mili terlihat tenang di balik cadar merahnya. Kembang Bulan sejak subuh sudah berlatih pernapasan di atas batu besar tengah sungai atas perintah Alma Fatara.
“Aak! Aak! Aak …!” jerit Karang Genit, Alis Kuning dan Kulit Jeruk tiba-tiba begitu kencang, seolah-seolah mereka mengalami sakit yang tersakit sejak mereka hidup di dunia.
Alma Fatara yang berdiri di bawah kepala mereka telah memberikan suntikan Benang Darah Dewa.
Jeritan mereka bertiga mengejutkan dan membangunkan semua orang yang tertidur.
Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu segera berlari berdatangan mendekati Alma Fatara.
Sementara Kembang Bulan memilih tetap di tempatnya untuk berlatih pernapasan. Ia tidak mau dianggap sebagai calon murid yang tidak taat.
Cucum Mili hanya memandangi dari tempatnya duduk dan Mbah Hitam bergeming melingkar di bawah pohon.
“Jangan bunuh kami, Pendekar!” ucap Karang Genit mengiba.
“Iya, jangan bunuh kami, Pendekar!” kata Kulit Jeruk pula.
“Jangan bunuh kami! Jangan bunuh kami!” mohon Alis Kuning.
Mereka tidak bisa melihat wajah Alma dan para sahabatnya karena wajah mereka tertutupi kain baju mereka yang menjuntai. Tangan mereka yang menjuntai seakan tidak punya tenaga untuk terangkat.
“Tidak adil jika kalian boleh membunuh banyak orang tidak bersalah lalu kalian tidak dibunuh,” kata Alma Fatara.
__ADS_1
“Ampuni kami, Pendekar. Kami menyesal!” kata Karang Genit.
“Nada bicaranya tidak meyakinkan, Alma,” kata Juling Jitu.
“Sudah kita telanjangi saja, lalu kuliti, Alma,” usul Iwak Ngasin.
“Dasar otak mesum kau, Iwak!” hardik Anjengan. “Dari kemarin pikiranmu selalu kotor!”
“Ti-ti-tidak, aku ti-ti-tidak bermaksud seperti itu!” bantah Iwak Ngasin tergagap.
“Kau ja-ja-jangan mengejekku, Iwak!” hardik Gagap Ayu pula.
“Siapa yang mengejekmu, Gagap?!” bentak Iwak Ngasin kesal kepada Gagap Ayu, sampai-sampai dia menyebut “Gagap”, bukan “Ayu” seperti biasanya. Lalu katanya kepada Anjengan, “Aku hanya ingin memberi hukuman yang pedas sebelum mereka kita bunuh.”
“Aku benar-benar menyesal, Pendekar. Aku tidak dustaaa! Haaa hiks hik hiks!” teriak Karang Genit histeris lalu tubuhnya terguncang-guncang benar-benar menangis.
“Jika kalian dibiarkan hidup, kalian pasti akan membunuh orang tidak bersalah lagi!” tukas Alma.
“Tidak tidak tidak! Aku tidak akan melakukannya lagi, asalkan aku dibiarkan hidup. Aku akan membunuh orang yang berdosa saja!” teriak Kulit Jeruk bernada begitu ketakutan.
“Benar, Pendekar. Ampuni kami. Kami akan mengabdi menjadi budakmu jika kau mengampuni kami! Jangan bunuh kami. Hiks hiks hiks!” rengek Alis Kuning pula ikut menangis.
“Baiklah, aku akan memberi kalian keringanan dengan cara mati yang cepat,” kata Alma.
“Jangan, Pendekar! Beri kami satu kesempatan!” teriak Alis Kuning pula.
“Kami sadar kami orang jahat dan banyak membunuh orang, tapi tolong beri kami satu saja kesempataaan! Huuu huuu …!” teriak Kulit Jeruk histeris sambil menangis seperti anak kecil.
“Kenapa penyesalan itu tidak muncul setelah kalian membunuh korban pertama kalian?” tanya Alma kepada ketiga tawanan tersebut. Lalu perintahnya kepada keempat sahabatnya, “Minggir kalian!”
Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu melangkah pergi menjauh dari bawah pohon itu.
Alma Fatara lalu berjalan meninggalkan ketiga tawanan yang tidak henti-hentinya berteriak memelas dan menangis. Suara mereka terdengar berisik karena begitu takutnya mati.
Alma berhenti tigak tombak dari bawah pohon lalu berbalik menghadap kepada para tawanan.
Suara teriakan, rengekan dan tangisan Karang Genit, Alis Kuning dan Kulit Jeruk sungguh memilukan hati. Namun, tampaknya Alma berhati keras menyikapi keganasan dan kekejaman Bajak Laut Ombak Setan.
Namun, sebelum Alma melakukan sesuatu untuk mengeksekusi ketiga anggota bajak laut itu, tiba-tiba Cucum Mili telah berkelebat di udara dan mendarat seperti burung dara di hadapan Alma.
“Alma,” sebut Cucum Mili lembut. “Dalam budaya kehidupan bajak laut, kami memiliki rasa persaudaraan yang tinggi. Aku tidak tega melihat mereka jika harus dieksekusi di depan mataku. Aku merasa mereka seperti anak buahku sendiri di dalam Bajak Laut Kepiting Batu. Apa lagi mereka sudah bertobat dan menyesal, meminta perlindungan kepadamu.”
“Jadi, Kakak Putri memilih mengampuni mereka, sementara kita tidak mengampuni satu pun dari mereka dua hari yang lalu?” tanya Alma Fatara dingin.
__ADS_1
“Waktu itu kita di medan perang, semua musuh harus mati. Namun ini, kita tidak sedang berperang. Mereka pun sudah bersumpah. Tolong bebaskan mereka, karena mereka sudah minta perlindungan kepadamu. Aku yang menjadi jaminan bagi mereka,” ujar Cucum Mili.
Mendengar perkataan Cucum Mili, Alma Fatara seketika teringat wejangan Ratu Warna Mekararum yang justru menjadi pedoman hidupnya.
“Jika ada orang yang benar-benar minta tolong kepadamu, maka tolonglah. Namun, kau harus tahu dulu cerita masalahnya, jangan sampai salah menolong,” kata Warna Mekararum sekitar dua tahun yang lalu kepada Alma.
“Baiklah, Kakak Putri. Aku pegang kata-kata Kakak. Aku ampuni mereka,” kata Alma memutuskan.
Sezt!
Alma Fatara lalu mengibaskan tangan kirinya. Satu sinar kuning tipis melengkung melesat memangkas pangkal dahan tempat ketiga tawanan itu digantung terbalik.
Bsruk!
Ketiga tawanan itu jatuh menghantam bumi dengan kepala terlebih dahulu, ditambah ditimpa dahan pohon.
“Akk! Akh! Akr!” erang ketiganya. Beruntung leher mereka tidak patah. Namun, kondisi mereka tetap dalam kondisi terluka fisik dan luka dalam.
Karang Genit dan Alis Kuning cepat berusaha bangun sambil menahan sakit. Mereka lebih dulu membenahi bajunya demi menutupi kutangnya.
“Kalian bertiga, berterimakasihlah kepada Ratu Dewi Dua Gigi!” perintah Cucum Mili kepada ketiganya.
Mendengar nama yang disebut Cucum Mili, ketiganya buru-buru bersujud ke arah Alma.
“Terima kasih, Gusti Ratu! Terima kasih sudah mengampuni kami!” ucap Kulit Jeruk sangat bersyukur.
“Terima kasih, Gusti Ratu!” ucap Karang Genit dan Alis Kuning pula, sambil menangis haru.
“Aku pegang janji-janji kalian tadi,” kata Alma berwibawa.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka bertiga sambil tetap bersujud menyentuh tanah.
“Kalian berempat, urus mereka bertiga sampai kondisinya memadai untuk melakukan perjalanan!” perintah Alma kepada para sahabatnya.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap Iwak Ngasin dkk kompak.
“Sepertinya aku benar-benar sudah menjadi ratu. Hahaha!” ucap Alma kepada Cucum Mili lalu berbalik pergi sambil tertawa santai.
“Apakah perlu aku carikan sebuah mahkota untuk sang ratu?” tanya Cucum Mili sambil berjalan mengiringi Alma yang sudah dianggapnya sebagai pemimpin itu.
“Aku ingat dengan pemilik Bola Hitam, Raja Tanpa Tahta. Biarkan aku menjadi ratu tanpa istana. Hahaha!” kata Alma yang suasana hatinya kembali santai dan suka tertawa.
“Biar aku yang mengurus yang pesek!” kata Iwak Ngasin bersemangat hendak mengurus Karang Genit yang berhidung pesek.
__ADS_1
“Eiit! Jangan cari perkara, Iwaaak!” kata Anjengan sambil menarik belakang baju Iwak Ngasin. Ia geregetan dengan sahabatnya yang satu itu. Entah kenapa, belakangan ini lelaki kurus itu terlalu mata keranjang. (RH)