
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
“Hua hua hua!” teriak puluhan anggota Bajak Laut Kepiting Batu yang keluar dari halaman rumah.
Dipimpin oleh Udang Karang, pasukan bajak laut itu menghadang kedatangan Alma Fatara dan keempat sahabatnya.
“Berhenti kau, Anak Setan!” teriak Udang Karang dengan wajah yang marah, sepertinya dia mendendam kepada Alma.
“Hahahak!” tawa Alma.
“Hahahak …!” balas tertawa para anggota bajak laut yang baru pertama melihat keompongan Alma.
“Diam! Diam!” teriak Udang Karang kepada para anak buahnya.
Para bajak laut terdiam hening dan tegang.
“Bersiap untuk bertarung!” teriak Iwak Ngasin yang berdiri di belakang Alma.
“Heah!” hentak Juling Jitu, Anjengan dan Gagap Ayu sambil memasang kuda-kuda di belakang Alma.
“Hua hua hua!” teriak para bajak laut pula tidak mau kalah gertak. Mereka serentak menghentakkan satu kakinya ke bumi, sementara berbagai senjata teracung memamerkan diri.
“Untuk apa kau datang ke mari?!” tanya Udang Karang.
“Ini adalah kediaman Demang Baremowo, aku mau ke sini!” sahut Alma menjawab. “Sekarang aku yang bertanya, jawab dengan benar. Jika jawabanmu salah, kau tidak akan naik kelas!”
“Hahaha …!” tawa para bajak laut.
“Diam kalian semua! Kita ini Bajak Laut!” bentak Udang Karang kepada rekan-rekannya.
“Kakang, apa yang kalian lakukan di sini? Tempat kalian bukan di sini. Kenapa kalian gentayangan di darat?” tanya Alma.
“Kademangan ini sudah kami kuasai!” jawab Udang Karang.
“Lalu di mana Demang Baremowo dan Nyi Bungkir?”
“Kami penjarakan!”
“Kalian harus membebaskan mereka dan kalian harus kembali ke laut. Ini bukan alam kalian!”
“Hei, kami bukan arwah gentayangan! Tidak sopan!” gusar Udang Karang.
“Tidak sopan!” bentak para bajak laut ramai-ramai.
“Hahahak …!” Alma dan keempat sahabatnya justru tertawa terbahak-bahak melihat gaya para bajak laut.
“Jika kalian tidak membebaskan Demang Baremowo dan Nyi Bungkir, jangan salahkan jika Kakang ….” Alma Fatara menunjuk langsung kepada Udang Karang. Lalu lanjutnya, “Aku bunuh!”
“Aku tidak percaya kau bisa melakukannya!” sahut Udang Karang. Lalu teriaknya kepada seluruh pasukannyanya, “Sebutkan siapa kita!”
__ADS_1
“Bajak Laut Kepiting Batu!” teriak seluruh anggota bajak laut.
“Di mana kita hidup?” teriak Udang Karang lagi seperti seorang koordinator suporter sepak bola.
“Di laut!” teriak bajak laut lainnya berjemaah.
“Di mana kita makan?”
“Di laut!”
“Di mana kita buat anak?”
“Di laut!”
“Di mana kita mati?”
“Di laut!”
“Bersiaplah bertempur!”
“Hua hua hua!”
Setelah itu, seluruh anggota bajak laut bersiap dengan memasang kuda-kuda dan berbagai senjatanya. Senjata jarak jauh semodel panah, katapel, hingga tembakan ikan, siap dilepas, tinggal menunggu satu perintah lagi.
“Hahahak …!” Alma Fatara justru tertawa terbahak-bahak di saat keempat sahabatnya di belakang tegang, karena merasa tertekan oleh atmosfir yang diciptakan oleh para bajak laut itu.
Sementara itu di dalam rumah.
Sekeluarnya, Mutiara Laut Hitam lalu berkelebat dan hinggap di atas pagar, sehingga posisinya lebih menjulang dibanding rekan-rekannya.
“Ada monyeeet!” teriak Alma tiba-tiba sambil menunjuk kepada Mutiara Laut Hitam yang berkulit terlalu hitam.
Alangkah terkejut dan marahnya Mutiara Laut Hitam disebut monyet.
“Hahahak …!” tawa Alma dan keempat sahabatnya terpingkal-pingkal. Saking lucunya menurut mereka, mereka sampai memegangi perutnya.
“Perlu diberi pelajaran!” desis Mutiara Laut Hitam lalu melempar satu kapak mininya.
Set!
Kapak mini itu melesat cepat berputar seperti baling-baling menyerang Alma yang sedang tenggelam dalam tawanya. Dalam perjalanannya, putaran kapak itu berubah bersinar biru.
Beng!
Namun, satu tinju jarak jauh dari Gagap Ayu yang sigap membuat kapak terpental liar dan justru menancap di batang pohon kelapa.
“Baik, kalian sudah menyerang!” teriak Alma yang terpaksa menghentikan tawanya lebih awal. Lalu teriaknya, “Mbah Hitam!”
Teriakan Alma itu membuat Udang Karang dan pasukannya terdiam tegang, sementara mata mereka liar memandang ke sekitar, karena keempat sahabat Alma juga memandang ke sekitar, seolah-olah sedang mencari seseorang. Tindakan Iwak Ngasin cs itu membuat Udang Karang dan rekan-rekannya menduga ada musuh yang bersembunyi dan akan menyergap.
__ADS_1
Tik tik tik!
Itu bukan bunyi hujan jatuh ke atas genteng, tetapi bunyi detik berjalan. Setelah sepuluh detik tidak ada serangan atau hal aneh terjadi, Udang Karang dan lainnya mengendurkan kesiagaan.
“Anak Setan kurang sopan! Beraninya mempermainkan kelompok Bajak Laut Kepiting Batu!” cerca Udang Karang gusar bukan main.
Wuss!
“Ulaaar!” teriak seorang anggota bajak laut yang pertama melihat pergerakan benda hitam panjang dari belakang barisan mereka.
Buk buk buk!
Belum habis rasa terkejut dan belum sempat mereka melihat sosok ular yang dimaksud, tahu-tahu belasan anggota bajak laut berpentalan saat tubuh mereka terhantam sosok hitam panjang dan keras.
“Akk! Akh! Akk!” jerit para anggota bajak laut yang terpental, karena mereka kemudian berjatuhan dengan keras.
“Ular! Ular! Ular!” teriak sejumlah bajak laut yang tidak terkena, tetapi sudah melihat serangan seekor ular hitam lagi besar.
Mereka cepat berlompatan secara acak seperti kumpulan kodok yang terkejut.
“Aaak! Tolooong!” teriak Udang Karang menjerit kesakitan.
Tubuh Udang Karang sudah terangkat ke udara dengan kondisi tubuh dan kedua tangan terlilit kencang oleh badan ular, seolah ingin meremukkan tulang-tulang dalam tubuh. Sementara kepala ular besar diam tenang satu tombak di atas kepala Udang Karang, tetapi sorot matanya begitu tajam memandangi para bajak laut.
“Udang Karang!” teriak para bajak laut terkejut melihat kondisi Udang Karang yang bertubuh kekar, tapi tidak berdaya dalam lilitan ular besar yang menyerang dari belakang.
“Jika ada yang menyerang, maka Kakang Udang Karung ini aka dimakan oleh sahabatku!” seru Alma sambil berjalan mendekati sosok ular jelmaan Mbah Hitam.
“Lepaskan aku, Anak Setaaan!” teriak Udang Karang.
“Tidak sopan!” bentak Alma kepada Udang Karang.
“Tidak sopan!” bentak keempat sahabat Alma pula.
“Hahaha!” Hal itu justru membuat Alma tertawa. Lalu katanya kepada Udang Karang, “Aku tidak masalah kau sebut Anak Setan. Hahaha! Tapi, Mbah Hitam akan melepaskanmu jika kalian membebaskan Demang Baremowo dan Nyi Bungkir.”
“Keputusan ada di tangan Ketua Ratu Kepiting!” jawab Udang Karang dengan berteriak, karena dia memang kesakitan.
“Cepat tanyakan kepada Kakak Cucum, apakah dia memilih membunuh Kakang Udang Karung atau membebaskan Demang dan istrinya!” seru Alma kepada semua.
“Aku akan menanyakan kepada Ketua, jangan kau bunuh dulu Udang Karung!” seru Mutiara Laut Hitam.
“Kenapa kau juga menyebutku Karung, Hitaaam?!” teriak Udang Karang, tapi Mutiara Laut Hitam cuek.
Baru saja Mutiara Laut Hitam hendak pergi, dari arah belakang mereka muncul Bulak Balok bersama seorang wanita separuh baya berjubah merah gelap, tapi penampilannya terkesan asal. Ia membawa senjata berupa celurit dan sebuah tas kulit tebal. Wanita berambut sebahu itulah yang bernama Dukun Sirip, tabib dalam kelompok Bajak Laut Kepiting Batu.
Dukun Sirip dan Bulak Balok yang pulang dari warung kopi, sambil berlalu hanya memandangi ular hitam yang berdiri dengan mengangkat tubuh Udang Karang. Ada ekspresi ngeri di seringai wajah mereka.
“Dukun Sirip, cepat obati Ketua!” seru Mutiara Laut Hitam sambil bergegas pergi mendampingi Dukun Sirip.
__ADS_1
Sementara itu, Alma dan keempat sahabatnya, termasuk Mbah Hitam, harus menunggu. Di sisi satunya, para anggota bajak laut tegang bersiaga. (RH)