
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Setelah pertarungan dengan murid-murid Perguruan Bulan Emas, seluruh murid-murid Perguruan Jari Hitam berkumpul di sebuah rumah di tengah Desa Julangangin. Rumah itu sengaja disewa sebagai basis berkumpul.
Dengan tidak kembalinya Giling Saga dari menyusup ke Perguruan Bulan Emas, kumpulan itu kini dipimpin oleh Brata Ala. Sebelumnya, Yono dari kelompok jasa pemandu telah mengabarkan, jika Giling Saga tidak kembali sampai siang hari, maka mereka diperintahkan menyerang Perguruan Bulan Emas ketika semua murid Jari Hitam telah berkumpul.
Murid-murid Jari Hitam dari kelompok satu dan dua telah berkumpul, tinggal kelompok tiga yang belum sampai.
"Aku yakin, Perguruan Bulan Emas tidak akan menerima kekalahan mereka. Dalam waktu dekat, mereka akan menyerang kita dengan orang-orang yang lebih tangguh," kata Rinai Serintik.
"Seharusnya kita menyerang sebelum diserang," kata Kulung.
"Aku setuju itu. Sebelum kita diserang, lebih baik kita yang menyerang. Hanya masalahnya, rombongan Nining Pelangi mungkin akan tiba dalam sehari lagi. Ini sangat telat," kata Brata Ala.
"Kita tidak bisa menunggu Nining Pelangi. Kita harus menyerang sekarang juga," tandas Dendeng Pamungkas.
"Kau harus memutuskannya, Kakang Brata!" desak Jernih Mega.
"Baik, kita akan menyerang di waktu malam. Kita akan minta jasa pemandu dari Tikus Belukar untuk menunjukkan jalan," kata Brata Ala memutuskan. Lalu katanya lagi, "Teman-teman yang terluka tidak bisa ikut menyerang, termasuk Gelis Sibening, Dendeng."
"Baik," jawab Dendeng Pamungkas patuh. Ia lalu membelai kepala istrinya.
Gelis Sibening hanya mengangguk, tanda mengerti. Ia sadar bahwa jika dia memaksa ikut, justru akan membebani dan menyusahkan suaminya. Terbukti pada pertarungan tadi pagi, suaminya lebih cenderung bertahan demi melindunginya daripada menyerang lawan.
"Selama kami pergi menyerang, kalian yang tinggal menunggu di sini, jangan menonjolkan diri sebagai murid Jari Hitam. Musuh tidak akan mengenali kalian karena jari-jari tangan kalian masih normal," kata Brata Ala.
"Baik," sahut mereka yang kebagian tidak ikut menyerang.
Pada malam harinya, Brata Ala, Kulung, Dendeng Pamungkas, Taring Yoyong, Rinai Serintik, Jernih Mega, dan delapan murid Kelas Jari Hitam lainnya harus menunggu orang dari Tikus Belukar.
Yang mereka pikir bahwa Yono lagi yang akan datang menjadi penunjuk jalan menuju Perguruan Bulan Emas. Namun, ternyata dugaan mereka meleset ketika orang dari kelompok Tikus Belukar datang pada malam itu. Orang yang datang adalah seorang perempuan muda katai.
"Namaku adalah Klenting Bengi, istri dari Yono. Aku yang mendapat tugas untuk mengantar murid-murid Perguruan Jari Hitam pergi ke Perguruan Bulan Emas.
"Kenapa bukan suamimu yang mengambil pekerjaan ini?" tanya Jernih Mega.
__ADS_1
"Kakang Yono mendapat tugas mengantar orang lain ke Kuil Alam Digdaya," jawab Klenting Bengi.
"Tempat apa itu?" tanya Rinai Serintik penasaran. Sebab, sepertinya Yono pernah menyebut nama tempat itu pada awal pertemuan mereka.
"Tempat para pendekar mencari pusaka-pusaka dan kitab-kitab sakti," jawab Klenting Bengi.
"Tempat seperti itu ada?" tanya Dendeng Pamungkas cepat.
"Ada, tapi tidak mudah dan pastinya ada risikonya jika gagal keluar," jawab Klenting Bengi. "Baik. Sampai di mana kalian ingin aku antar?"
"Kau bisa mengantar kami sampai mana, Klenting?" Brata Ala balik bertanya.
"Aku bahkan bisa mengantar sampai ke dalam Perguruan Bulan Emas, sama seperti suamiku mengantar teman kalian yang katanya belum kembali itu. Ada lima titik pos penjagaan sebelum sampai ke perguruan. Tergantung kalian mau diantar sampai mana," jelas Klenting Bengi.
"Menurutku, lebih baik kita menyerang dari pos penjagaan pertama. Jika kita langsung menyerang masuk, kita berisiko terkepung. Itu bisa menutup jalan kita untuk mundur," kata Kulung.
"Benar. Kita harus mempertimbangkan pula untuk mengamankan diri. Jika gagal, kita harus memilkirkan cara lain," kata Rinai Serintik.
"Baik. Kami minta diantar sampai pos penjagaan pertama saja," kata Brata Ala kepada Klenting Bengi.
"Baik," ucap Brata Ala sepakat.
Maka, setelah menyelesaikan pembayaran jasa di muka, Klenting Bengi lalu memandu kelima belas murid Perguruan Jari Hitam untuk pergi menyerang Perguruan Bulan Emas. Mereka pergi dengan berjalan dan berlari, tanpa kuda.
Pergerakan malam mereka lakukan. Murid-murid Jari Hitam harus mengakui keahlian Klenting Bengi. Wanita katai itu bisa bergerak gesit di dalam kegelapan malam yang buta. Pasalnya, mereka bergerak tanpa penerangan, hanya mengandalkan suara dan cahaya langit malam. Ada banyak bintang di langit, tetapi tidak ada yang tahu, apakan sinar mereka di langit itu bisa menerangi bumi.
"Klenting, jangan terlalu cepat, kami tidak terbiasa!" seru Rinai Serintik suatu ketika saat dalam perjalanan menembus hutan.
"Baik!" sahut Klenting Bengi. Ia pun mengurangi kecepatan larinya di dalam kegelapan hutan yang berute sulit.
Berulang kali Brata Ala meminta untuk berhenti, hanya untuk mengecek kelengkapan jumlah personel mereka. Ternyata tidak ada yang hilang.
Setelah berlari selama satu setengah jam, Klenting Bengi berhenti tanpa diminta.
"Lihat di sana!" tunjuk Klenting Bengi ke arah jauh.
__ADS_1
Mereka pun bisa melihat beberapa nyala api suluh di kejauhan. Tidak terlihat keberadaan manusia karena jaraknya cukup jauh.
"Itu adalah pos pertama. Jumlah penjagaannya tidak banyak. Sangat mudah bagi kalian untuk melumpuhkannya," kata Klenting Bengi. "Baik. Tugasku selesai."
"Baik. Terima kasih, Klenting," ucap Brata Ala.
Klenting Bengi langsung bergerak pergi meninggalkan kelompok itu. Kini, pergerakan mereka tergantung dari perintah Brata Ala.
"Ingat, serangan cukup dua lawan satu jika jumlah mereka lebih kecil, yang lain diam. Ingat, satu gebrakan. Jika jumlah mereka lebih banyak, sergap bagian pinggiran," perintah Brata Ala saat briefing di dalam kegelapan.
"Hm!" gumam mereka pelan tanda mengiyakan.
"Ayo bergerak!" perintah Brata Ala setengah berbisik.
Brata Ala pun bergerak dan rekan-rekannya mengikuti. Mereka bergerak pelan demi menjaga kesenyapan. Sebab, mereka pun kesulitan melihat medan yang gulita.
Benar-benar mereka seperti Pasukan Khusus Biawak Rawa, mereka mendekati titik target tanpa warna dan tanpa suara. Beruntung bau-bau ketiak mereka tidak terlalu santer jangkauannya, sehingga enam orang yang berjaga di pos penjagaan tidak merasakan ada keanehan yang mendekat.
Pos penjagaan itu wujudnya seperti dua rumah-rumahan pos satpam kompleks perumahan, tetapi itu adalah kompleks hutan. Antara kedua rumah pos itu dihubungkan dua palang kayu panjang, sehingga seperti portal yang bisa dinaikturunkan.
Tidak berapa lama, tahu-tahu dua belas bayangan muncul perlahan di sekitar dua rumah pos penjagaan, tanpa dirasakan keberadaannya oleh enam lelaki berseragam kuning.
Kedua belas bayangan yang adalah murid-murid Jari Hitam itu diam bersembunyi dari keenam penjaga. Mereka menunggu tanda dari Brata Ala.
Pak!
Tiba-tiba terdengar suara satu tepuk tangan yang nyaring.
"Hiat!" seru Kulung dan rekan-rekan bersamaan sambil menyerang tiba-tiba enam orang lelaki berpakaian kuning.
Setelah terkejut mendengar suara satu tepukan nyaring, keenam penjaga pos itu kian terkejut saat muncul orang-orang yang tidak mereka kenal dan langsung menyerang melumpuhkan.
Ternyata, murid-murid Jari Hitam tidak menurunkan tangan maut kepada keenam penjaga itu. Mereka hanya melumpuhkan hingga korban menderita luka yang memaksanya tidak sadarkan diri.
Mereka sebelumnya telah sepakat, selagi pihak Perguruan Bulan Emas belum main bunuh, mereka pun akan menjaga untuk tidak membunuh selagi situasi bisa terkendali.
__ADS_1
Keenam penjaga yang berhasil mereka lumpuhkan lalu ditarik ke tempat yang tersembunyi. (RH)