
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Sebuah rumah yang bagian belakangnya menyatu dengan tebing batu yang tidak begitu tinggi, sedang kedatangan tamu. Padahal, saat itu waktu subuh.
Ada sebuah kereta kuda terbuka yang parkir di depan rumah yang sederhana itu. Ada pula sebanyak dua belas lelaki berseragam biru gelap dan bersenjata pedang berdiri berjaga di sekitar depan rumah. Wajah mereka semua ditutup seperti ninja.
Di posisi sais kereta duduk seorang lelaki muda menjelang tua berpakaian merah gelap. Di punggungnya ada menyilang dua tombak pendek tapi berkepala trisula. Kepalanya diikat dengan kain merah terang. Perawakannya lebih cenderung seperti seorang pendekar daripada seorang kusir kereta.
Sementara itu, di dalam ruang tamu rumah tersebut, telah duduk Bandar Bumi dan putranya, Tenggak Telaga. Mereka duduk bersila di lantai menghadapi sebuah wadah mangkok yang menampung sebuah tengkorak kepala manusia. Dari dalam lubang-lubang tengkorak itu keluar asap berbau kemenyan, padahal tidak ada api atau bara di dalam mangkok.
Mereka berdua sedang menunggu.
Tidak berapa lama, dari balik tirai berjalan keluar seorang lelaki tua berjubah putih. Rambut panjangnya terurai putih semua. Alis putihnya panjang, kumisnya panjang dan jenggotnya panjang sedada. Orang tua itu tidak lain adalah Tengkorak Sabit Putih. Itulah kediamannya.
“Bagaimana perkembangan tugasmu di Bukit Selubung?” tanya Tengkorak Sabit Putih sambil dia turun duduk bersila di hadapan kedua tamunya yang memasang wajah penuh keraguan, seolah hidupnya tidak jelas.
“Aku hanya berhasil membunuh Golono, putra Demang Mahasugi. Selainnya gagal semua,” jawab Bandar Bumi dengan ekspresi kecewa.
“Boddoh! Tidak bisa diandalkan!” bentak Tengkorak Sabit Putih tiba-tiba marah, membuat Bandar Bumi dan putranya tersentak ke belakang karena terkejut, tapi tidak sampai terjengkang agar tidak lucu. “Apakah aku harus membunuh istri dan anakmu lebih dulu agar pekerjaanmu memuaskanku?”
“Ja-ja-jangan, Tetua!” pekik Bandar Bumi cepat dan tergagap. Ia buru-buru menjura hormat kepada Tengkorak Sabit Putih. “Mereka tidak bersalah, Tetua. Aku mengerjakan semua ini dengan semua kemampuan dan apa yang aku miliki. Istri dan anakku jangan Tetua sakiti!”
“Kekuatan bayaran Demang Mahasugi seharusnya cukup untuk menghancurkan Raja Tanpa Gerak,” kata Tengkorak Sabit Putih.
“Benar, tapi upaya adu domba kita digagalkan oleh orang yang bernama Ratu Siluman dan pasukannya ….”
“Apa? Ratu Siluman?” sebut ulang Tengkorak Sabit Putih terkejut, memotong kata-kata Bandar Bumi.
“Benar. Pada saat yang sama, Ratu Siluman dan pasukannya sedang berada di kediaman Raja Tanpa Gerak,” tandas Bandar Bumi.
“Keparat! Rupanya Raja Tanpa Gerak bersekutu dengan pembunuh Pedang Kilat!” desis Tengkorak Sabit Putih kepada dirinya sendiri. Kobaran api dendam seakan muncul di sepasang mata kakek itu.
“Tetua sudah mengenal Ratu Siluman?” tanya Bandar Bumi dengan nada ragu.
__ADS_1
“Dia adalah musuh Keluarga Tengkorak, karena dialah yang membunuh Tengkorak Pedang Kilat,” jawab Tengkorak Sabit Putih dengan napas agak memburu. “Jadi, Raja Tanpa Gerak sudah tahu bahwa orang dibalik upaya adu domba itu adalah aku?”
“Tidak seperti itu, Tetua. Aku rasa, Raja Tanpa Gerak hanya tahu bahwa aku dalang dari serangan terhadapnya. Dan … aku rasa Demang Mahasugi juga sudah tahu bahwa aku dalang yang membunuh putranya. Dua Setan Boneka yang bertujuan mengganggu kediaman Demang Mahasugi telah tertangkap. Demang Mahasugi membayar pendekar khusus untuk mengungkap Setan Boneka yang dikendalikan oleh Penguasa Jiwa. Karena itu, malam ini aku mengosongkan rumahku untuk menjebak para pendekar bayaran Demang Mahasugi,” tutur Bandar Bumi.
“Bukankah kau membayar Lima Pembunuh Gelap untuk membunuh Raja Tanpa Gerak?” tanya Tengkorak Sabit Putih.
“Benar, Tetua. Selain Raja Tanpa Gerak memang sakti, dia juga dibantu oleh Ratu Siluman. Ireng Keling dan Ireng Segaris tewas di tangan mereka,” tandas Bandar Bumi.
“Itu berarti usahaku untuk menperoleh Gelang Permaisuri Surga gagal. Namun, satu keberuntunganku, Ratu Siluman muncul sendiri di depan mataku. Bola Hitam adalah pusaka yang lebih layak dari Gelang Permaisuri Surga,” kata Tengkorak Sabit Putih seolah-olah bicara untuk dirinya sendiri. Lalu katanya lagi kepada Bandar Bumi, “Penguasa Jiwa memiliki ilmu Pasukan Mayat. Aku tahu, ilmunya hanya bekerja kepada mayat yang belum ditimbun oleh tanah. Perintahkan kepadanya untuk mengumpulkan mayat baru sebanyak-banyaknya!”
“Baik, Tetua,” ucap Bandar Bumi.
“Jika kau bisa membantu membunuh Ratu Siluman, aku akan bebaskan istri dan ibumu, Bandar Bumi,” ujar Tengkorak Sabit Putih.
“Kenapa hanya istri dan ibuku? Apakah putriku masih akan kau tahan, Tetua?” tanya Bandar Bumi bernada protes.
“Karena aku masih membutuhkan jasamu. Hahaha!” jawab Tengkorak Sabit Putih lalu tertawa pendek dengan tatapan tajam menusuk kepada Bandar Bumi.
“Kenapa Tetua tidak memanfaatkan jasa Demang Sungkara?” tanya Bandar Bumi.
“Memanfaatkan Demang Sungkara sangat berisiko, karena dia adalah keluarga dekat Adipati Abirmeta. Mengganggu Demang Sungkara sama saja memberontak melawan pemerintah. Berbeda dengan Demang Mahasugi. Dia mati pun, Adipati Abirmeta tidak akan peduli,” jelas Tengkorak Sabit Putih. “Sekarang kembalilah. Bunuh Ratu Siluman dan Demang Mahasugi!”
“Sudah aku katakan, aku tidak akan membunuh Demang Mahasugi. Itu sama saja melawan pemerintah!” tandas Bandar Bumi.
“Kau sudah terlanjur membunuh putranya. Kau pikir Demang Mahasugi akan membiarkanmu hidup. Jika kau tidak membunuhnya, maka kau yang akan dibunuh secepatnya,” tandas Tengkorak Sabit Putih.
“Kenapa bukan Tetua yang turun langsung membunuhnya? Itu akan lebih cepat dan mudah,” kata Bandar Bumi.
“Tidak semudah yang kau pikirkan. Di sisinya ada Putri Cicir Wunga,” kata Tengkorak Sabit Putih.
“Itu berarti sama saja aku tinggal menunggu mati,” kata Bandar Bumi lesu.
“Itu urusanmu,” kata Tengkorak Sabit Putih lalu bangkit berdiri. Lalu katanya lagi, “Tugasmu tidak akan berat, karena Keluarga Tengkorak akan segera turun tangan untuk membunuh Ratu Siluman. Aku akan melihat sejauh mana perananmu terlibat dalam kematian Ratu Siluman.”
__ADS_1
Tengkorak Sabit Putih lalu melangkah masuk ke dalam. Dia tidak akan keluar lagi untuk menemui Bandar Bumi dan Tenggak Telaga. Maka tidak ada pilihan bagi Bandar Bumi selain pulang.
“Kita pulang, Ayah?” tanya Tenggak Telaga yang sejak tadi tidak betah di rumah itu.
“Iya. Tapi kita harus tinggal di rumah pamanmu. Rumah kita sudah tidak aman. Perintahkan orang untuk menyampaikan pesan kepada Penguasa Jiwa, agar mereka berdua mengumpulkan pasukan mayat,” kata Bandar Bumi.
“Baik, Ayah,” ucap Tenggak Telaga patuh.
Sementara itu, pada saat yang sama di halaman rumah Bandar Bumi, pendekar sakti yang bernama Garok Bodong dan Dewi Kipas Murka berhadapan dengan tiga anggota Lima Pembunuh Gelap, yakni Ireng Cadas, Ireng Kemilau dan Ireng Gempita.
Selain itu, kedua pendekar sakti itu dikepung oleh pasukan berpakaian biru gelap dan bertopeng kain. Pedang-pedang mereka sudah siap serang, tinggal menunggu perintah pemimpinnya yang tidak jelas yang mana.
Ada lebih dari dua puluh mayat yang bergelimpangan di halaman rumah Bandar Bumi itu. Mereka mayat para pendekar bayaran Demang Mahasugi dan anggota pasukan bertopeng.
“Ireng-Ireng, kalian mengenal kami berdua. Mereka semua ini bukanlah masalah bagi kami berdua. Dan aku ragu jika kalian bertiga bisa melawan kami berdua. Aku tahu, kalian dalam kondisi terluka,” ujar Garok Bodong.
“Hihihi!” tawa Dewi Kipas Murka. “Kami hanya mau membunuh Bandar Bumi. Tinggal katakan, di mana dia sekarang?”
“Lagipula, apa untungnya membela orang itu? Lebih baik kau beralih tuan, Demang Mahasugi lebih bisa membayarmu,” kata Garok Bodong lagi.
“Kami masih belum menerima separuh bayaran kami,” kata Ireng Cadas.
“Hahaha! Belum menerima bayaran penuh, tetapi dua anggotamu sudah tidak terlihat. Apakah mereka sudah mati?” tanya Dewi Kipas Murka.
“Bukan urusanmu!” sentak Ireng Gempita.
“Hihihi!” tawa Dewi Kipas Murka melengking.
“Biarkan saja kedua orang ini, jika kalian tidak ingin mati cepat!” seru Ireng Cadas kepada pasukan bertopeng yang mengepung.
“Mundur!” teriak salah seorang lelaki bertopeng yang merupakan pemimpin pasukan berpedang itu.
Pasukan bertopeng serentak menyarungkan pedangnya, lalu bergerak serentak pergi meninggalkan kedua orang yang mereka kepung. Mereka pergi melompati pagar kayu lalu menghilang di kegelapan subuh.
__ADS_1
“Kami tidak tahu ke mana Bandar Bumi dan keluarganya, kalian cari sendiri,” kata Ireng Cadas. Dia lebih dulu berjalan pergi meninggalkan tempat bermayat itu.
Tanpa senyum kecut, apalagi senyum manis, Ireng Kemilau dan Ireng Gempita juga melangkah pergi meninggalkan Garok Bodong dan Dewi Kipas Murka. (RH)