
*Episode Terakhir (PITAK)*
Kedatangan Mbah Hitam dengan membawa sesosok mayat membuat Alma Fatara terpaksa menghentikan laju rombongannya.
Mayat pemuda pemanah diletakkan di tengah jalan yang diapit dua lahan berumput pendek. Alma Fatara turun dari kereta kudanya untuk memerhatikan mayat pemuda tersebut.
“Kakang Arung, keluarkan semua apa yang dia miliki di balik pakaiannya!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap Arung Seto bersemangat.
Pemuda tampan itu segera berjongkok memeriksa tubuh mayat orang yang berniat mencelakakan sang ratu.
Arung Seto mengeluarkan sekantung kecil uang. Selain itu tidak ada lagi. Bukan hanya di balik baju yang Arung Seto periksa, tetapi di dalam celana mayat pun dia periksa.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara melihat ulah Arung Seto.
“Kakang Arung, jika kau berniat memegang, cukup kau masukkan saja tanganmu ke dalam celanamu, Kakang!” hardik Anjengan.
“Ini perkara penting, semua tempat yang tersembunyi di dalam tubuh harus digeledah,” kilah Arung Seto.
“Hahaha!” Alma Fatara hanya tertawa. Lalu tanyanya kepada pasukannya, “Apakah di antara kalian ada yang mengenal orang ini? Atau mengenal ciri-cirinya?”
“Model pakaiannya aku pernah melihatnya dipakai oleh sejumlah orang di dalam acara Kerajaan Jintamani di sebuah pulau di laut selatan. Namun, aku tidak tahu mereka berasal dari mana,” kata Tengkorak Pedang Siluman.
“Jika demikian, ambil bajunya!” perintah Alma Fatara.
“Mama maaf, Gu-gu-gusti Ratu. Nanti ma-ma-mayatnya bisa te-te-te ….”
“Terbang?” tebak Anjengan memutus kata-kata Gagap Ayu.
“Bu-bu-bukaaan. Bisa te-te-telanjaaang!” teriak Gagap Ayu kepada Anjengan.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara dan yang lainnya. Sudah cukup lama tidak membuat Gagap Ayu kesal.
“Bukankah kau suka melihatnya jika telanjang?” tanya Alma Fatara.
“Hihihik! Gu-gu-gusti Ratu ta-ta-tahu saja,” ucap Gagap Ayu sambil tersenyum malu.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara. Lalu katanya, “Dia masih memakai baju dalam, Ayu. Apakah kau jatuh cinta kepada mayat?”
“Ti-ti-tidaaak!” bantah Gagap Ayu kencang.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan yang lainnya.
“Maaf, Gusti Ratu,” ucap Panglima Tampang Garang.
“Silakan, Panglima,” kata Alma Fatara.
__ADS_1
“Di busur dan anak panahnya ada tanda, Gusti Ratu. Itu menunjukkan tempat pembuat busur tersebut,” kata Tampang Garang.
“Coba kami lihat!” sahut Senyumi Awan dari sisi belakang.
“Berikan!” perintah Alma Fatara.
Sementara Arung Seto membuka baju luar si mayat, Tampang Garang mengambil busur dan anak panah yang tergeletak di sisi mayat, lalu memberikannya kepada Senyumi Awan dan rekan-rekannya.
Sebagai pendekar panah dan murid dari guru panah, tentunya murid-murid Kebo Puteh itu memiliki banyak pengetahuan tentang senjata panah.
Para personel Pasukan Sayap Panah Pelangi melihat ada ukiran bergelombang pada bagian lengan busur dan mata anak panahnya yang terbuat dari logam hitam.
“Jika tidak salah, busur dan anak panah ini buatan Negeri Karang Hijau. Bangsa negeri itu terkenal dengan kemahiran memanahnya,” kata Senyumi Awan.
“Benar. Guru pernah mengenalkan kami gambar-gambar yang merupakan lambang dari pembuat busur dan anak panah di berbagai negeri,” kata Janda Belia pula.
“Di mana letak Negeri Karang Hijau itu? Aku baru kali ini mendengarnya,” tanya Alma Fatara.
“Negeri Karang Hijau ada di lautan selatan, tapi lebih ke arah barat,” jawab Ratu Tengkorak.
Terdiamlah Alma Fatara. Kecerdasannya tidak menemukan garis temu antara dirinya dengan orang Negeri Karang Hijau.
“Jika benar pemuda ini adalah orang Negeri Karang Hijau, bagaimana mungkin ada orang di sana yang mendendam kepadaku? Padahal aku tidak pernah mengetahui tentang keberadaan negeri itu dan orang-orangnya,” kata Alma Fatara, yang entah ditujukan kepada siapa.
“Aku curiga ke masa lalu, Gusti Ratu. Jika orangtua Gusti Ratu ingin membunuh Gusti waktu bayi, pasti tidak perlu dibuang ke laut dengan harapan masih bisa hidup. Mungkin orang ini ada hubungannya dengan orang yang tidak menginginkan Gusti Ratu hidup sejak bayi,” ujar Ratu Siluman yang membuat Alma Fatara terkejut.
“Bagiku tidak jauh. Cerita yang baru aku dengar dari Gusti Ratu adalah cerita masa bayi yang dibuang ke laut. Gusti Ratu belum tahu sedikit pun siapa orangtua Gusti Ratu. Tiba-tiba orang ini muncul hendak membunuh dengan tanda yang berasal dari negeri seberang laut,” jawab Ratu Tengkorak.
“Jadi, ada kemungkinan aku berasal dari Negeri Karang Hijau, tetapi aku adalah anak yang tidak diinginkan oleh seseorang?” terka Alma Fatara.
“Itu hanya kemungkinan, Gusti Ratu. Namun, Gusti Ratu tetap harus tahu siapa pembuat gelang,” kata Ratu Tengkorak.
“Aku pernah ke Negeri Karang Hijau, tetapi model berpakaiannya tidak seperti ini,” timpal Tengkorak Pedang Siluman.
“Baiklah. Berarti masih menjadi misteri,” ucap Alma Fatara. Lalu perintahnya, “Kuburkan mayat orang ini. Bagaimanapun, ia adalah utusan yang melaksanakan tugasnya dengan baik.”
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Arung Seto patuh.
Selagi Pasukan Sayap Laba-Laba menguburkan mayat si pemuda asing, pasukan yang lain bersiap dan menunggu.
Setelah semua selesai, Pasukan Genggam Jagad kembali melanjutkan perjalanan dan memasuki lembah yang sejuk, meski sang surya cukup terik.
“Tong gentong-gentong, Kerajaan Siluman. Tong gentong-gentong, ratunya Ratu Siluman.”
Kungkang yang kini memegang tali kendali kereta kuda iseng berdendang santai.
“Ser beser-beser, cantiknya seperti apel. Ser beser-beser, saktinya seperti jengkol!” Betok dan Jungkrik jadi ikut bernyanyi Mars Gentong Beser, tetapi dengan nada yang rendah.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar nyanyian kusirnya itu.
__ADS_1
Namun kemudian, nyanyian itu menjadi ramai, ketika Lima Dewi Purnama dan Pasukan Sayap Panah Pelangi yang berjalan di depan kereta kuda ikut bernyanyi.
Tong gentong-gentong, Kerajaan Siluman!
Tong gentong-gentong, ratunya Ratu Siluman!
Ser beser-beser, cantiknya seperti apel!
Ser beser-beser, saktinya seperti jengkol!
Ujung-ujungnya, semua pun bernyanyi, kecuali Gagap Ayu. Dia harus ikhlas. Alma Fatara bernyanyi sebentar lalu hanya tersenyum-senyum bersama kedua nenek yang kini akrab dengannya.
Namun, nyanyian itu tidak lama. Ketika mereka melihat dari arah depan ada satu pasukan yang membawa bendera dan panji, nyayian Mars Gentong Beser berhenti.
Pasukan itu terdiri dari sekitar dua ratus prajurit berseragam prajurit kadipaten. Mereka membawa bendera kuning bergambar ayam jago berkokok warna hitam. Itu adalah bendera Kerajaan Singayam.
Sementara panji yang dibawa berwarna biru gelap bergambar pohon kelapa warna hitam. Itu adalah panji Kadipaten Gulangtara.
Bukan hanya pasukan prajurit yang berjalan kaki, tapi ada juga sepuluh lebih orang berpakaian pendekar. Kesepuluh non prajurit itu berkendara kuda.
Arah pasukan Kadipaten Gulangtara terlihat jelas, ke arah Pasukan Genggam Jagad.
Akhirnya, kedua pasukan saling berhenti ketika mereka bertemu dengan jarak pisah lima tombak.
Pasukan Kadipaten Gulangtara dipimpin oleh seorang lelaki bertubuh besar berotot keras. Ia berpakaian merah gelap berlapis-lapis, entah berapa lapis bajunya. Tapi bajunya tidak berlengan, memperlihatkan lengan perkasanya yang bertato kepala macan kumbang di kanan dan tato kalajengking di kiri. Pergelangan tangannya dibalut kain kuning. Di punggungnya ada golok besar yang hanya pantas untuk orang-orang berbadan besar. Lelaki berkulit hitam itu adalah Badak Ireng, tapi bukan bagian dari Keluarga Ireng.
“Siapa kalian?” seru Badak Ireng.
Mendengar pertanyaan itu, Panglima Besar Anjengan segera berteriak.
“Siapa kitaaa!”
“Pasukan Genggam Jagad!” teriak seluruh pasukan Alma Fatara.
“Hiiih!” pekik Badak Ireng terkejut sambil refleks menarik wajahnya ke belakang.
Ternyata Pasukan Genggam Jagad belum berhenti.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi.
“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad pula.
“Wik wik wik wik wik!”
“Wik wik wik wik wik! Hahaha …!”
Teriakan yel-yel itu berujung dengan tawa yang lepas tanpa beban utang. (RH)
__ADS_1