
*Petaka Telaga Emas (Pete Emas)*
Berdasarkan apa yang sering mereka latih saat di perguruan, maka Juling Jitu yang paling depan. Sebab lawan yang mereka hadapi adalah siluman yang memiliki tubuh kebal, jadi mereka pun tidak mau main-main.
Seet! Blar!
Seet! Blar!
Belum lagi serangan keempat pendekar muda itu sampai kepada ketiga Siluman Ikan, ketiga makhluk itu lebih dulu melesatkan dua sinar merah kecil dari kedua matanya.
Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu sudah bersiap akan adanya serangan semacam itu, sehingga mereka dengan sigap mampu menghindar, membuat enam sinar merah yang melesat berakhir menyerang Alma dan warga.
“Jiaaa!” pekik Alma terkejut sambil meloncat ke udara lantaran dua sinar menyasar kepadanya. Pasir yang tadi ia duduki jadi meledak.
Empat sinar lainnya meledakkan tanah pasir pantai yang permukaannya menanjak. Untung tidak mengenai Ki Jolos dan warganya yang masih belum move on melihat aksi Alma dkk.
“Ayo menjauh, berbahaya. Siapa sayang istri dan anak, cepat menjauh. Yang dekat menjauh, yang jauh sembunyi!” teriak Alma seperti pedagang mainan anak.
Warga segera bergerak mundur, menjauhi arena pertarungan. Rekan mereka sesama warga yang sudah dibunuh, mereka angkut jasadnya.
Sress!
Juling Jitu yang lebih dulu melakukan serangan dengan cara melempar kedua tangannya ke depan, seperti melempar umpan ternak ayam kepada ketiga Siluman Ikan.
Muncul serbuk sinar-sinar kuning yang sangat kecil dan halus, sehingga seperti hamburan pasir berkilauan dalam jumlah banyak.
Sinar halus itu bergerak cepat dan menyiram wajah ketiga Siluman Ikan. Bukan hanya wajah, tetapi itu menyerang mata.
“Aaak! Akk! Akk!” jerit ketiga Siluman Ikan saat sinar-sinar halus itu menusuk mata dan memberikan rasa perih yang tinggi, padahal ketika serangan itu datang, ketiga Siluman Ikan sudah memejamkan mata, tetapi tetap saja bisa tembus karena dasarnya itu bukan pasir biasa, tapi ilmu Pasir Angin Senja.
“Rasakan kehebatan Ubur-Ubur Hijau!” teriak Anjengan sambil menghentakkan kedua tangannya.
Wuss!
Dari tangan dan badan Anjengan berlesatan sinar-sinar hijau bening berbentuk bola-bola kecil. Bola-bola sinar itu menempel di seluruh tubuh pemimpin Siluman Ikan yang sedang tidak bisa melihat karena kelilipan.
Pluk pluk pluk!
Ctar ctar ctar!
“Aaak …!” jerit pemimpin Siluman Ikan dengan sisik-sisik tebal yang berpentalan bersama daging-dagingnya.
__ADS_1
“Ombak Hitaaam! Jreng! Jreng!” teriak Iwak Ngasin sambil membanting kedua tangannya ke bawah.
Dari hentakan kedua tangan itu terbanting segaris sinar merah yang kemudian memantul membentuk seperti terkaman ombak raksasa. Sinar merah itu menerkam seorang Siluman Ikan, seperti ombak menerkam perahu nelayan.
Hasilnya, sosok Siluman Ikan tumbang begitu saja tanpa perlawanan dan proses reaksi. Siluman Ikan itu mati.
“Gi-gi-gilirankuuu!” teriak Gagap Ayu lalu melakukan gerakan tinju kilat berulang-ulang.
Buk buk buk …!
Kepal tinju Gagap Ayu tidak sampai menyentuh tubuh Siluman Ikan yang masih berjarak sedepa, tetapi tenaganya sampai dengan telak.
Tubuh Siluman Ikan terguncang-guncang dengan sisik-sisik tubuh berguguran dan pecah. Dari mulut Siluman Ikan keluar rintihan-rintihan plus darah yang sama-sama berwarna merah. Ternyata darah manusia dan siluman sama warna.
“Ti-ti-tinju terakhir!” teriak Gagap Ayu sambil menghantamkan tinju terakhirnya.
Bugk!
Tinju itu menghajar kepala samping kanan Siluman Ikan, membuatnya terlempar setombak lalu menghantam tanah pasir. Siluman Ikan kejang tiga kali lalu diam tidak bergerak. Hantaman pada kepalanya tadi telah membuat otaknya hancur di dalam. Tinju Karang Baja Gagap Ayu memang memiliki daya hantam yang tinggi, padahal tingkat tenaga dalamnya belum seberapa.
“Siapa kita?!” teriak Anjengan seperti komentator sepak bola di televisi kepiting terbang.
“Pendekar Sungai Darah Roh!” teriak keempat pendekar muda yang darah mudanya sedang mencari jati diri.
“Siluman Ikan mati semua!” teriak Sinjor girang bukan main.
“Hayeee!” sorak para warga Desa Rangitan pengganti kata “hore”. Mereka begitu gembira dan puas melihat ketiga Siluman Ikan yang selama ini meneror mereka telah mati.
“Hayeee!” sorak mereka ramai-ramai lagi, kali ini sambil berlari merentangkan tangan tanpa senjata, bermaksud memeluk keempat pemuda yang langsung mereka anggap pahlawan, bahkan menganggap sebagai menantu.
“Ki-ki-kita di-di-di …!” teriak Gagap Ayu, tetapi kalimatnya tidak sampai sempurna karena sejumlah bapak-bapak sudah kadung memeluknya beramai-ramai.
Demikian pula Iwak Ngasin, Juling Jitu dan Anjengan, mereka disergap ramai-ramai bermaksud memeluknya sebagai perayaan kemenangan. Mereka bingung, mau mereka serang, tapi warga itu bukan maksud menyerang. Mereka mau kabur, tapi tidak mau harga diri mereka jatuh.
Akhirnya Iwak Ngasin, Juling Jitu dan Gagap Ayu dipeluk ramai-ramai. Sementara Anjengan, tidak ada yang berhasil memeluknya, sebab semua yang menabraknya, harus terpental dan berjengkangan di pasir. Belum sempat memeluk, tapi sudah terhalang oleh lemak-lemak tubuh Anjengan.
“To-to-tolooong! Aku di-di-diperkosaaa!” teriak Gagap Ayu.
Alangkah terkejutnya para lelaki tua muda yang memeluki Gagap Ayu sampai lupa diri. Mereka disebut telah memperkosa. Sontak buru-buru mereka melepas pelukannya, bahka seorang kakek mendorong kedua dada Gagap Ayu, membuatnya jatuh terjengkang di pasir.
Ternyata bukan hanya mereka berempat yang menjadi sasaran pelukan massal, Alma juga menjadi target modus dari Sinjor, putra Ketua Desa.
__ADS_1
Clap!
Sebelum Sinjor memeluk, Alma tiba-tiba menghilang dari tempatnya, membuat Sinjor terdiam melongo karena sawan. Tiba-tiba Alma muncul begitu saja di belakang Sinjor.
Duk!
Dengan seenaknya Alma mendorong bokong Sinjor dengan ujung kaki kanannya, membuat pemuda tampan standar itu tersungkur mencium tanah pasir.
“Hahahak!” tawa Alma.
“Adduh! Siapa yang memencet telurkuuu!” teriak Iwak Ngasin menjerit.
Teriakan Iwak Ngasin juga membuat sejumlah lelaki desa itu terkejut dan buru-buru melepaskannya.
“Lepas! Lepas!” teriak Juling Jitu keras, yang memang memaksa warga itu melepaskan pelukannya.
Tawa para penduduk berubah jadi keterdiaman.
“Apa-apaan kalian ini?!” tanya Juling Jitu berteriak dengan mata mendelik lucu, karena juling.
“Siapa yang memencet telur angsaku? Ayo mengaku!” teriak Iwak Ngasin sambil mengerenyit dan satu tangannya memegangi telurnya yang masih tersimpan di balik celana.
Namun, semua warga itu terdiam, tidak ada yang menjawab atau mengaku.
“Aku te-te-ternodaaa!” ratap Gagap Ayu duduk menangis tanpa air mata.
“Hahahak …!” Alma Fatara hanya tertawa melihat nasib rekan-rekannya.
“Hahahak!” Anjengan juga tertawa terbahak-bahak.
“Bubar! Semua berkumpul di balai desa!” teriak Ki Jolos yang bingung melihat kekacauan itu.
Semua warga pun akhirnya membubarkan diri dari pantai, mereka beramai-ramai kembali ke permukiman mereka. Demikian pula Ki Jolos dan orang-orang terdekatnya. Mereka meninggalkan Alma dkk begitu saja tanpa pesan dan kesan.
Kejadian itu membuat Alma dan rekan-rekannya bingung dan saling pandang. Juling Jitu hanya menaikkan alisnya dan Iwak Ngasin hanya angkat bahu.
“Hahahak!” Akhirnya Alma tertawa memecah kebingungan mereka.
“Bagaimana ini, Alma? Mereka tidak menganggap jasa kita,” tanya Juling Jitu.
“Tenang. Pasti akan ada pasukan Siluman Ikan susulan jika ketiga Siluman Ikan itu tidak kembali. Kalian pasti lelah, istirahat dulu,” kata Alma lalu kembali duduk di tanah berpasir yang berantakan karena banyak jejak kaki.
__ADS_1
“Bagaimana dengan mayat Siluman Ikan itu?” tanya Iwak Ngasin sambil duduk di pasir pantai yang kering.
“Sementara biarkan dulu,” jawab Alma. (RH)