
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
“Kenapa kau menantang Gagap Ayu, Nining?” tanya Hakim Agung Balito Duo Lido dengan tegas.
“Aku mencintai Arung Seto, tetapi burung gagak yang gagap itu ….” Nining Pelangi menunjuk ke seberang Arung Seto. “Selalu dekat-dekat dan genit kepada Arung Seto!” jawab Nining Pelangi lugas.
“Aku ju-ju-juga me-me-mencintai Kakang Arung Se-se-se ….”
“Setaaan! Hahaha!” teriak Gede Angin tiba-tiba, lalu tertawa sendiri. Dia melanggar lagi larangan setelah kepalanya dipentung dengan tombak Penombak Manis.
Seet! Cplok!
Bdug!
Tiba-tiba satu benda melesat dan menghantam tepat wajah Gede Angin.
“Hahaha …!” Para hadirin tidak bisa menahan tawanya. Mereka masih sempat melihat wajah Gede Angin yang besar ditemploki oleh telur ayam yang pecah, sebelum akhirnya dia tumbang ke belakang seperti patung momumen yang dirobohkan.
Alma Fatara sebagai seorang ratu saat itu, pun tidak bisa menahan tawa terbahaknya.
“Kenapa Hakim Agung membawa telur saat memimpin sidang?” tanya Mbah Lawut kepada Rereng Busa, yang tidak bisa dijawab oleh Ketua Perguruan Jari Hitam itu.
“Siapa yang berani menyela persidangan ini lagi, aku beri tahu, aku masih punya telur mentah. Satu telur busuk!” seru Hakim Agung.
Kata-kata Balito Duo Lido kembali membuat suasana reda.
“Arung Seto, apakah kedua burung itu …. Eh, maksudku … apakah kedua gadis itu sudah pernah menyatakan cintanya kepadamu? Karena sahnya suatu hubungan ditentukan dari adanya akad oleh kedua belah pihak,” tanya Balito Duo Lido.
“Sebentar, Gusti Hakim, hamba kenang-kenang dulu dengan sebaik-baiknya,” kata Arung Seto.
“Jangan pakai lama!” tandas Balito Duo Lido.
Arung Seto pun terdiam termenung dengan kening yang berkerut, seolah ia sedang memikirkan satu beban yang sangat berat bagi anak cucunya.
“Ning nong, ning nong, ning nong ….”
Ada-ada saja yang muncul dalam sidang sengketa cinta itu. Seperti gerakan slow motion, pandangan mata para hadirin bergerak perlahan mencari sumber suara “ning nong”. Termasuk Alma Fatara dan Hakim Agung ikut mencari sumber suara “ning nong” yang seolah menghitung detik yang berjalan.
Ternyata sumber “ning nong” berasal dari mulut Suraya Kencani. Ketika semua mata tertuju pada Suraya Kencani, tiba-tiba suasana dikejutkan oleh bentakan Hakim Agung.
“Arung Seto!”
“Tidak, Gusti Agung!” jawab Arung Seto lantang.
“Apakah kau pernah menyatakan cinta kepada keduanya atau salah satu dari keduanya, atau tidak ada?” tanya Balito Duo Lido.
“Tidak ada!” jawab Arung Seto lantang lagi.
“Benarkah demikian, Nining Pelangi, Gagap Ayu?” Balito Duo Lido melempar pertanyaan kepada kedua gadis.
__ADS_1
“Benar, Gusti Hakim,” jawab Nining Pelangi dan Gagap Ayu lemah, seolah sudah kalah duluan sebelum berdebat.
“Arung Seto, sekarang ada dua wanita yang memperebutkan burungmu, eh salah ….”
“Hahaha …!” meledaklah tawa Alma Fatara dan para hadirin yang terhormat.
“Diam, diam, diam!” seru Hakim Agung. “Hakim Agung juga nenek-nenek, jadi wajar kalau salah.”
Balito Duo Lido lalu memperbaiki posisi duduknya, tapi tangan kanannya memegang sebutir telur. Melihat telur itu, semua hadirin jadi mensenyapkan suara tawanya.
“Arung Seto, sekarang ada dua wanita yang memperebutkan cintamu. Siapa yang kau pilih? Apakah Nining Pelangi, ataukah Gagap Ayu, ataukah kedua-duanya, atau tidak ada yang kau pilih, atau kau mau memilihku?”
“Hahaha!” tawa Alma Fatara.
“Hahaha …!” Tawa para hadirin pun mengikuti.
Mau tidak mau Balito Duo Lido harus menunggu suara tawa itu reda sendiri. Ia harus menanggung ulahnya yang mengeluarkan jok komedi.
Namun, tawa ramai itu tidak berkepanjangan karena para hadirin melihat ratu mereka mengangkat tangan kanannya.
“Siapa yang kau pilih, Arung Seto?” tanya Balito Duo Lido.
“Maafkan aku, Gusti Hakim. Aku tidak bisa menolak salah satu atau keduanya, karena aku tidak bisa menyakiti hati mereka,” jawab Arung Seto.
“Waaah!” desah sebagian orang yang memahami maksud dari jawaban Arung Seto.
“Aku bisa menangkap maksud dari jawabanmu, Arung Seto,” kata Balito Duo Lido. Ia lalu bertanya kepada kedua wanita, “Nining Pelangi, apakah kau bersedia berbagi cinta dengan Gagap Ayu?”
“Jika begitu, kau tidak bisa memenuhi syarat dari keinginan Arung Seto,” kata Hakim Agung menyimpulkan.
“Tidak tidak tidak, Gusti Hakim!” tolak Nining Pelangi cepat, ia jadi panik.
“Gagap Ayu, apakah kau bersedia berbagi cinta dengan Nining Pelangi?” tanya Balito Duo Lido.
“Aku be-be-bersedia, Gu-gu-gusti Hakim,” jawab Gagap Ayu.
Terkejutlah para kaum wanita mendengar jawaban Gagap Ayu. Rekan-rekan dekat Gagap Ayu tidak menyangka bahwa sahabatnya itu sudi berbagi cinta.
“Apakah kau yakin dengan jawabanmu, Ayu?” tanya Hakim Agung lagi.
“Ya-ya-yakin, Gu-gu-gusti Hakim. Ta-ta-tapi ….”
“Tapi apa?” kejar Balito Duo Lito.
“Aku ti-ti-tidak mau na-na-nanti aku mati dira-ra-racun oleh mama maduku. Jadi, aku de-de-dengan ba-ba-bangga me-me-menolak ci-ci-cinta Kakang Arung. Aku te-te-terlalu cantik untuk be-be-berebut satu bu-bu-burung,” ujar Gagap Ayu penuh perjuangan dan percaya diri yang tinggi.
Bukan hanya Gagap Ayu yang berjuang, para pendengar pun berjuang menunggu selesainya perjuangan Gagap Ayu berbicara.
“Berani-beraninya Ayu menolak orang ganteng. Jangan-jangan matanya juga jadi gagap,” kata Anjengan terkejut.
__ADS_1
“Wah, hebat Gagap Ayu. Dia jual mahal. Gagap Ayu harus dijual mahal kalau mau menikah nanti,” kata Geranda takjub.
“Gagap Ayu bisa jadi panutan bagiku,” ucap Alis Gaib pula bangga.
“Meski adikku menang dalam persidangan ini, dia tetap kalah,” kata Riring Belanga yang berdiri di sisi Brata Ala dan Rinai Serintik.
“Kenapa bisa seperti itu, Kakak Riring?” tanya Rinai Serintik.
“Jika Gagap Ayu mempertahankan keputusannya untuk berbagi cinta, maka Arung Seto akan menjadia miliknya dan Nining akan tersisi. Namun, Gagap Ayu memilih memagar kehormatannya dengan tidak menjadi wanita yang murahan. Tentunya ia merasa dirinya sanggup dengan mudah mendapat pemuda tampan yang lain,” tutur Riring Belanga.
“Baik, aku sudah bisa menyimpulkan. Apa pun yang aku putuskan bersifat mutlak dan harus dipatuhi. Kalian bertiga harus melaksanakan apa yang menjadi putusan Hakim Agung. Tanpa perlu aku jabarkan berbagai pertimbangannya, aku memutuskan bahwa satu, Arung Seto kini adalah kekasih dari Nining Pelangi.”
Tersenyum lebarlah Nining Pelangi, sementara Arung Seto dan Gagap Ayu hanya diam berwajah datar.
“Kedua, pemenang sesungguhnya dari kasus ini adalah Gagap Ayu!” seru Balito Duo Lido.
“Yeee!” sorak Anjengan dan anggota Pasukan Genggam Jagad lainnya.
“Ketiga, Nining Pelangi dan Gagap Ayu kini tidak bermusuhan karena kalian adalah satu saudara. Jika ada pertikaian kembali, maka akan dihukum dengan tegas!” seru Balito Duo Lido lagi. Dia lalu beralih kepada Alma Fatara, “Apakah ada yang Gusti Ratu beratkan?”
“Tidak ada. Aku puas dengan keputusan yang kau ambil, Nenek Balito,” jawab Alma Fatara.
“Terima kasih, Gusti Ratu,” ucap Hakim Agung. Ia kembali menghadap kepada forum dan berseru, “Persidangan sengketa cinta tiga burung ditutuuup!”
Pak!
Setelah berseru, Balito Duo Lido bertepuk sekali. Tepukan tangan yang mengandung tenaga dalam itu kembali mengejutkan orang-orang di ruangan itu.
Arung Seto, Nining Pelangi dan Gagap Ayu menjura hormat.
Nining Pelangi lalu bangkit dan menghampiri Arung Seto dengan senyum yang malu-malu. Arung Seto hanya menyikapi dengan senyum manis.
Gagap Ayu segera mendatangi Nining Pelangi, bukan untuk menampar, tetapi bermaksud berpelukan.
“Se-se-semoga kau ba-ba-bahagia, Nini Nining,” ucap Gagap Ayu.
“Terima kasih sudah mau mengalah untukku, Ayu,” ucap Nining Pelangi sambil menyambut pelukan Gagap Ayu.
“Aku ha-ha-harap kau ti-ti-tidak menyebutku gagak gagap la-la-lagi,” kata Gagap Ayu.
“Aku berjanji,” kata Nining Pelangi.
“Aku ti-ti-tidak akan me-me-menggoda Kakang Arung la-la-lagi,” tekad Gagap Ayu.
“Ayuuu!” panggil Anjengan yang datang berombongan dengan para sahabat anggota Pasukan Genggam Jagad.
Anjengan dan Alis Gaib meraih tubuh Gagap Ayu dan mengangkatnya laksana seorang pahlawan. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.