
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Waktunya berpesta!
Sejak pos penjagaan pertama, nuansa pesta sudah terlihat dengan adanya hiasan janur kuning yang selalu melengkung. Ada pula hiasan bunga-bunga dan kain warna-warni.
Murid-murid penjaga juga dituntut berpenampilan rapi, meski pakaian seragamnya yang itu-itu saja. Sebelum bertugas, wajib mandi lebih dulu agar terlihat lebih fresh.
Kesibukan yang padat terlihat di lingkungan Perguruan Bulan Emas. Sejak gerbang utama perguruan, di tengah-tengah, hingga memasuki area belakang perguruan yang menjadi pusat pesta, murid-murid perempuan yang muda-muda ditempatkan berbaris sebagai penyambut tamu. Kewajiban mereka di antaranya berdiri di tempat, menyapa santun dan tersenyum manis dengan takaran gula yang pas.
Di dapur umum, Ketua Juru Masak Rawina memimpin langsung kerja para koki. Koki andalan perguruan, yaitu Guling Nikmat, berduet dengan Mbah Lawut, tetapi Mbah Lawut hanya fokus pada satu menu, yaitu ayam panggang madu. Adapun menu lainnya tetap dipegang oleh Guling Nikmat dan anak buahnya.
Uniknya, di sana ada Giling Saga. Masih hangatnya rasa pengantin baru, membuat Giling Saga sulit jauh dari sang istri. Berjuang bersama sang istri adalah cara ampuh bagi Giling Saga untuk membangun dan memperkuat istana cintanya dengan Guling Nikmat.
Hiasan-hiasan janur, bebungaan dan kain warna-warni dipasang di sepanjang jalur tamu hingga di pusat pesta.
Panggung besar juga dihias pada bagian tiang-tiangnya dan pinggiran lantainya.
Kerja keras para murid Perguruan Bulan Emas dibantu murid-murid Perguruan Jari Hitam, berhasil membangun sebuah panggung lain yang tingginya sejajar dengan panggung arena. Selain panggung untuk duduknya para tamu, di kanan dan kirinya juga ada tribun untuk duduknya para murid.
Pesta itu lebih sakral daripada hari raya. Pada hari ini, semua orang tampil dengan penampilan terbaiknya. Terlebih murid-murid wanita, wajah mereka dicat habis demi tampil cantik memukau dan menggoda mata lelaki. Tidak perlu lelaki sampai terpikat, membuat para lelaki terpesona saja sudah cukup bagi kaum calon emak-emak itu. Hal itulah yang membuat beberapa tukang rias bekerja ekstra sibuk.
Untuk memeriahkan pesta peresmian pemimpin dan penguasa baru Perguruan Bulan Emas, bukan sekedar makanan dan jamuan lezat yang disajikan, tetapi ada juga pertunjukan yang akan digelar sepanjang pesta di atas panggung utama. Pertunjukan itu akan dipersembahkan oleh murid-murid Perguruan Bulan Emas dan Perguruan Jari Hitam yang sudah akur.
Kawal Rindu ditempatkan di gerbang utama sebagai petinggi perguruan pertama yang menyambut tamu undangan.
Bukan hanya keramahan, kemeriahan dan keindahan yang begitu diperhatikan, bidang keamanan pun sangat diutamakan.
Sehari sebelum hari pesta tiba, Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara lebih dulu melakukan rapat paripurna untuk mengecek kesiapan semua bagian.
Khusus keamanan, dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu keamanan luar perguruan dan keamanan dalam. Keamanan dalam dibagi dua, yaitu keamanan terlihat dan keamanan tidak terlihat. Ada pula keamanan khusus bagi para petinggi perguruan, khususnya keamanan bagi sang ratu.
Sebagai pemilik Sisik Putri Samudera, Penombak Manis didaulat sebagai pemimpin keamanan rahasia. Bersamanya ada Tampang Garang yang siap dengan panahnya. Galak Gigi memimpin keamanan terlihat di dalam lingkungan pesta. Anjengan, Gagap Ayu, Juling Jitu, Geranda, Gede Angin, Brata Ala dan rekan-rekannya mendapat tugas sebagai pengawal pribadi beberapa petinggi dan tetua. Sejumlah murid utama Bulan Emas juga ditugaskan sebagai pengawal pribadi dan pemimpin keamanan lainnya.
__ADS_1
Tamu undangan pertama yang datang adalah Ketua Perguruan Kaki Bayangan Galah Larut dan Lelaki Tombak Petir, Ketua Kelompok Tombak Petir.
Galah Larut datang bersama dua murid lelakinya yang tampan-tampan, tapi sudah agak tua-tua, usia di atas empat puluhan. Adapun Lelaki Tombak Petir datang bersama tiga orang pendekar lain, dua wanita dan satu lelaki.
Kelompok Tombak Petir bukan sebuah perguruan, jadi di antara anggotanya tidak ada guru dan murid. Mereka kumpulan sejumlah pendekar yang memiliki keahlian senjata yang sama, yaitu tombak. Lelaki Tombak Petir dan ketiga rekannya yang jauh lebih muda usianya, sama-sama membawa tombak yang berbeda model.
“Selamat datang di pesta peresmian pemimpin baru Perguruan Bulan Emas, Tetua Galah Larut dan Tetua Lelaki Tombak Petir!” sambut Kawal Rindu dengan ramah seraya tersenyum dan menghormat ala pendekar.
“Yayaya, lama tidak berkunjung ke mari. Perguruan ini semakin besar tampaknya,” kata Galah Larut balas tersenyum sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.
“Apa yang terjadi di sini benar-benar mengejutkan kami,” kata Lelaki Tombak Petir dengan wajah yang lebih datar. Ia dan anak buahnya juga memandang ke sekitar melihat-lihat.
“Antarkan para tamu ke pesta!” perintah Kawal Rindu kepada murid wanita yang berbaris cantik dan manis menyambut kedatangan tamu.
“Baik, Kepala!” ucap dua murid wanita yang ditunjuk oleh Kawal Rindu dengan pandangan mata.
Dua murid wanita nan cantik itu lalu mengajak para tamu untuk mengikuti mereka.
“Silakan, Tetua!” ucap salah satu dari keduanya.
Para tamu itu lalu mengikuti kedua wanita yang tubuhnya menyebarkan aroma harum yang lembut.
Di tengah perjalanan, mereka kembali melalui jalan yang kanan dan kirinya berbaris para wanita berseragam kuning. Para murid itu menjura hormat saat tamu lewat.
Perasaan para tamu itu berubah kian “wah” ketika tiba di area belakang perguruan. Mereka menyaksikan suasana yang indah, megah, dan ramai. Mereka kembali disambut oleh barisan murid perempuan yang menjura hormat serentak ketika mereka tiba.
Aroma makanan enak pun seketika menggerogoti lubang penciuman mereka.
“Kenapa ada aroma ayamnya Mbah Lawut di sini?” tanya Lelaki Tombak Petir.
“Mungkin orang tua itu mulai menerima pesanan untuk pesta,” jawab Galah Larut.
Setelah itu, mereka berhenti ketika seorang pendekar yang mereka kenal datang menyambut.
“Selamat datang di pesta sederhana ini, Galah Larut dan Lelaki Tombak Petir! Hahaha!” sapa Rereng Busa dengan akrab lalu tertawa seolah sedang menjamu sahabat yang lama tidak bertemu.
__ADS_1
“Rupanya kau ada di sini, Rereng Busa?” tanya Lelaki Tombak Petir terkejut.
“Hahaha! Apakah kau tidak mendengar kabar tentang diriku yang disandera?” tanya Rereng Busa yang didahului dengan tawa bersahabatnya.
“Ya aku dengar. Tapi aku tidak menyangka jika kau masih di sini,” tandas Lelaki Tombak Petir.
“Kenapa tangan hebatmu menjadi cacat seperti itu?” tanya Galah Larut yang melihat Rereng Busa sudah tidak berjari-jari tangan.
“Ini hadiah dari Wulan Kencana,” jawab Rereng Busa sambil tersenyum getir.
“Memang pantas disingkirkan wanita jahat itu. Apakah dia sudah mati?” tanya Galah Larut pura-pura tidak tahu.
“Terakhir aku melihatnya masih hidup. Tapi entah setelah dia terluka parah,” jawab Rereng Busa apa adanya. “Oh iya, mari, silakan, silakan!”
Rereng Busa mempersilakan para tamunya untuk terus berjalan bersamanya. Mereka menuju ke panggung tamu yang tangga kayunya berwujud papan panjang yang menanjak, dengan kemiringan yang mudah didaki.
“Hiat hiat!”
Sambil berjalan, mereka juga memandang ke atas panggung besar arena pertunjukan. Di atas panggung tengah tergelar satu pertunjukkan oleh murid-murid Perguruan Bulan Emas. Mereka menampilkan pertunjukan biasa, seperti sedang latihan. Namun, dalam pertunjukan sederhana itu, mereka lebih mengedepankan kekompakan sehingga terlihat rapi dan indah ditonton.
Sementara itu, di atas ujung tribun yang sejajar dengan panggung tamu tapi berjauhan, terlihat berdiri Penombak Manis bersama Tampang Garang.
“Wajah dua tetua itu menunjukkan raut kelicikan yang kuat. Orang-orang yang bersamanya sangat kentara sedang mempelajari situasi,” kata Penombak Manis kepada Tampang Garang.
Posisi mereka yang jauh dari keramaian, membuat percakapan itu hanya mereka yang mendengar.
Di panggung tamu yang sudah tersedia jejeran kursi-kursi kehormatan, para tamu dipertemukan dan diperkenalkan kepada Riring Belanga sebagai tamu kehormatan dari Kerajaan Singayam. Hal itu cukup membuat kedua penguasa bukit itu terkejut dalam hati, meski mereka tertawa untuk mencairkan suasana.
Memang, Galah Larut dan Lelaki Tombak Petir belum mendapat cerita seperti yang didapat oleh Hantu Tiga Anak. Wajar jika mereka jadi kaget terpendam. (RH)
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.
__ADS_1